“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Haikal keluar dari ruang rawat ibunya dengan langkah berat.
Pintu kamar itu tertutup perlahan di belakangnya. Namun, suara batuk Rumi yang terdengar samar dari dalam seolah masih menggema di kepalanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Haikal merasa benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Ibunya sakit.
Perusahaannya terlilit utang bank.
Pembayaran cicilan mulai menunggak.
Dan Tiara...
Wanita yang dahulu selalu berada di sisinya kini telah menjadi istri orang lain.
Istri Permana.
Nama itu saja sudah cukup membuat dada Haikal terasa sesak.
Haikal mengusap wajahnya kasar. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan tatapan kosong.
Baru beberapa langkah, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berlari menghampirinya.
"Pak Haikal!"
Haikal menghentikan langkah.
Pria itu adalah Arman, salah satu orang yang paling dipercaya Haikal untuk mengurus operasional pabrik.
Wajah Arman terlihat panik. Napasnya bahkan masih terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Haikal.
Arman menyerahkan sebuah map cokelat.
"Ini laporan produksi bulan terakhir, Pak."
Haikal membuka map itu sambil berdiri.
"Permintaan produksi turun drastis."
Dahi Haikal langsung berkerut.
"Seberapa parah?"
"Pesanan dari beberapa pelanggan besar berkurang hampir setengahnya. Kalau kondisi ini terus berlangsung, pemasukan kita bulan depan tidak akan cukup untuk membayar seluruh biaya operasional."
Haikal terdiam.
"Termasuk gaji karyawan?"
Arman menelan ludah.
"Itulah masalah terbesarnya, Pak."
Haikal memejamkan mata.
Satu masalah belum selesai, masalah lain datang menghantam.
"Bagaimana dengan bahan baku?"
"Kita sudah mengurangi pembelian."
"Pengeluaran lain?"
"Sudah ditekan semaksimal mungkin."
Haikal menarik napas panjang.
"Kalau begitu..."
Ia menatap Arman.
"PHK saja."
Arman terkejut.
"PHK, Pak?"
"Karyawan baru yang masih kontrak."
"Tapi jumlahnya cukup banyak."
"Berapa?"
"Sekitar tiga puluh orang."
Haikal mengatupkan rahang.
"Putus kontraknya sesuai aturan. Kita tidak bisa mempertahankan semua orang kalau perusahaan sendiri hampir tidak mampu bertahan."
Arman terlihat ragu.
"Pak, mereka masih membutuhkan pekerjaan."
"Aku tahu."
Suara Haikal terdengar berat.
"Tapi kalau perusahaan bangkrut, bukan hanya tiga puluh orang yang kehilangan pekerjaan. Semua karyawan akan terkena dampaknya."
Arman menunduk.
"Baik, Pak."
Keduanya kembali berjalan.
Namun, baru beberapa langkah, perhatian Haikal tiba-tiba tertuju pada sebuah papan di ujung lorong.
RUANG OBSTETRI DAN GINEKOLOGI.
Langkahnya berhenti.
Tatapan Haikal terpaku pada tulisan itu.
Entah mengapa, sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur kembali muncul dalam pikirannya.
Ucapan Intan.
Bukan Tiara yang mandul.
Bagaimana kalau sebenarnya Haikal yang bermasalah?
Saat itu Haikal tidak mempercayainya.
Ia terlalu yakin dengan hasil pemeriksaan yang pernah diterimanya.
Dokter mengatakan Tiara tidak subur.
Karena itu ia menikah lagi dengan Intan.
Karena itu ia menceraikan Tiara.
Karena itu ia percaya semua penderitaan rumah tangganya terjadi akibat satu hal: Tiara tidak bisa memberinya keturunan.
Tetapi sekarang...
Untuk pertama kalinya, keraguan muncul.
Bagaimana kalau Intan benar?
Haikal menatap pintu ruang pemeriksaan itu dengan dada berdebar.
"Pak?"
Suara Arman membuatnya tersadar.
Haikal menoleh.
"Kau pergi dulu."
"Ke mana, Pak?"
"Ke pabrik. Urus masalah PHK itu."
Arman masih terlihat bingung.
"Bapak tidak ikut?"
"Aku menyusul."
"Baik, Pak."
Arman akhirnya pergi.
Setelah memastikan asistennya menjauh, Haikal berdiri sendirian di lorong.
Tangannya mengepal.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"
Beberapa menit kemudian, Haikal memberanikan diri masuk ke ruang pemeriksaan.
Ia menjalani konsultasi dan pemeriksaan kesuburan secara pribadi.
Tidak ada seorang pun yang tahu.
Tidak Arman.
Tidak Rumi.
Tidak pula Intan.
Setelah semua prosedur selesai, Haikal duduk sendirian di ruang tunggu.
Kakinya bergerak gelisah.
Jari-jarinya terus mengetuk paha.
Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Mungkin hasilnya normal.
Mungkin semua ini hanya ketakutan yang tidak perlu.
Namun pintu ruangan terbuka.
Seorang dokter keluar membawa hasil pemeriksaan.
"Pak Haikal?"
Haikal langsung berdiri.
"Iya, Dok."
"Silakan masuk."
Haikal mengikuti dokter ke dalam.
Dokter duduk di balik meja, membuka berkas pemeriksaan, lalu menatap Haikal dengan ekspresi serius.
"Ada yang perlu kami bicarakan mengenai hasil pemeriksaan Anda."
Jantung Haikal berdetak semakin cepat.
"Apa saya sakit, Dok?"
Dokter menggeleng perlahan.
"Bukan penyakit yang membahayakan kesehatan Anda secara umum."
Haikal menghela napas.
"Lalu?"
Dokter meletakkan hasil pemeriksaan di atas meja.
"Hasil analisis sperma menunjukkan tidak ditemukan sel sperma dalam sampel."
Haikal terdiam.
"Maksud dokter?"
"Kondisi ini disebut azoospermia."
Dunia Haikal seperti berhenti berputar.
Ia menatap kertas di hadapannya.
Matanya bergerak membaca angka dan istilah medis yang sebagian tidak ia mengerti.
"Jadi..."
Suaranya tercekat.
"Saya tidak punya sperma?"
Dokter menjelaskan dengan hati-hati.
"Dalam sampel yang diperiksa, tidak ditemukan spermatozoa. Kondisi ini disebut azoospermia. Untuk memastikan penyebabnya, biasanya diperlukan pemeriksaan lanjutan."
Haikal tidak menjawab.
Kepalanya mendadak terasa kosong.
Namun beberapa detik kemudian, semua kenangan justru menyerbu pikirannya.
Tiara.
Wajah Tiara ketika menerima hinaan dari ibunya.
Tiara yang menangis ketika ia meminta perceraian.
Tiara yang berkali-kali mengatakan bahwa ia tidak pernah menjalani pemeriksaan yang cukup.
Tiara yang akhirnya pergi dari rumah.
Dan dirinya sendiri...
Dirinya yang begitu yakin bahwa Tiara adalah penyebab semua masalah.
Haikal memegang kepalanya.
"Tidak mungkin..."
Dokter diam.
"Dok, mungkin hasilnya salah?"
"Kami memahami keterkejutan Anda. Karena itu pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis dan mencari penyebabnya."
Haikal menatap dokter dengan mata merah.
"Apakah kondisi seperti ini bisa membuat seorang pria sulit memiliki anak?"
Dokter mengangguk.
"Azoospermia memang dapat menyebabkan infertilitas pada pria, tetapi penyebab dan peluang penanganannya sangat bergantung pada jenis serta penyebabnya. Pemeriksaan lanjutan diperlukan."
Haikal kembali menatap hasil pemeriksaan.
Tangannya gemetar.
Tiba-tiba satu kalimat terngiang jelas di kepalanya.
Bukan Tiara yang mandul.
Dulu ia menganggapnya sebagai kebohongan.
Sekarang kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam kepalanya berkali-kali.
"Tiara, maafkan aku."