Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Angin malam berhembus sangat dingin menembus tulang di perbatasan barat Kota Awan Merah. Tembok batu setinggi sepuluh meter berdiri kokoh memisahkan peradaban manusia dari alam liar yang mematikan.
Di depan gerbang besi yang tertutup rapat, Yang Zhen berdiri bersandar santai sambil mengunyah sebatang rumput ilalang.
"Kau mau pindah rumah atau mau berburu, Hao?" tanya Yang Zhen sambil menunjuk tas punggung raksasa milik sahabatnya.
Wang Hao berdiri dengan kaki gemetar karena menahan beban tas yang hampir sebesar tubuhnya sendiri.
"Kau bilang kita akan masuk ke neraka malam ini." jawab Wang Hao dengan napas terengah-engah. "Jadi aku membawa wajan lipat, tenda tebal, dan stok daging asap untuk satu bulan penuh!"
Yang Zhen hanya bisa menepuk dahinya sendiri melihat kelakuan absurd dari pemuda gemuk tersebut.
"Kita akan pergi berburu, bukan piknik musim semi." tegur sebuah suara merdu namun sangat dingin dari arah belakang mereka.
Su Lin berjalan menghampiri mereka berdua dengan langkah ringan tanpa suara. Gadis jenius itu malam ini tidak mengenakan seragam akademi seperti biasanya.
Ia mengenakan pakaian tempur kulit berwarna hitam ketat yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut panjangnya diikat tinggi menyerupai ekor kuda, membuatnya terlihat sangat mematikan sekaligus anggun.
"Wah, Nona Su terlihat sangat berbahaya malam ini." puji Yang Zhen dengan nada genit yang sengaja dibuat-buat. "Jantungku hampir berhenti berdetak melihat penampilan barumu ini."
Wajah Su Lin seketika merona merah mendengar pujian terang-terangan dari guru bela diri bayangannya itu.
"Tutup mulut usilmu itu sebelum aku membekukannya." ancam Su Lin sambil memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa salah tingkah.
"Hahaha, kau terlalu galak untuk seorang calon istri, Nona Su." goda Yang Zhen yang semakin senang melihat reaksi gadis itu.
Tap tap tap.
Suara derap langkah kaki berat berbahan logam menghentikan perdebatan kecil mereka. Tuan Muda Chen Fei berjalan mendekat bersama lima orang prajurit elit lapis baja di belakangnya.
"Aku sangat menghargai ketepatan waktumu, Yang Zhen." sapa Chen Fei dengan nada berwibawa.
"Tentu saja, aku selalu datang tepat waktu untuk urusan pembagian harta karun." balas Yang Zhen santai sambil membuang ilalang dari mulutnya.
Seorang prajurit berwajah garang dengan codet di dagunya maju selangkah dan menatap Yang Zhen dengan tatapan meremehkan. Prajurit itu adalah Kapten Liu, orang kepercayaan Chen Fei di kemiliteran.
"Tuan Muda Chen, apakah Anda serius ingin membawa tiga bocah ingusan ini ke dalam hutan terlarang?" protes Kapten Liu dengan nada tidak senang. "Kita sedang menjalankan misi rahasia militer, bukan misi mengasuh anak."
"Mereka bukan sembarang bocah, Kapten Liu." jawab Chen Fei mencoba menenangkan. "Yang Zhen adalah pemandu kita untuk menemukan rute rahasia."
Kapten Liu mendengus kasar dan meludah ke tanah.
"Pemandu macam apa yang bahkan kultivasinya tidak mencapai Tingkat Enam?" ejek Kapten Liu sambil menunjuk dada Yang Zhen. "Satu cakaran monster tingkat menengah saja sudah cukup untuk mengoyak perutnya."
Alih-alih marah, Yang Zhen justru tersenyum lebar mendengar hinaan dari prajurit veteran tersebut.
"Menjaga anak-anak memang merepotkan, Kapten." ucap Yang Zhen dengan nada yang sangat tenang dan bersahabat. "Tapi itu masih lebih baik daripada menjaga pria dewasa yang bahkan tidak sadar bahwa mata pedangnya tumpul."
Kapten Liu langsung mengerutkan keningnya dan secara refleks menunduk untuk melihat pedang besar di pinggangnya.
"Kau merendam pedangmu dengan minyak ular berbisa untuk menambah daya mematikannya." lanjut Yang Zhen membongkar rahasia senjata prajurit itu. "Tapi kau lupa bahwa minyak ular bereaksi terhadap baja dingin dan membuat ketajamannya menurun drastis dalam tiga hari."
Mata Kapten Liu seketika terbelalak lebar. Ia mencabut sedikit pedangnya dan benar saja, bagian ujung bilahnya telah berubah menjadi kehitaman dan tumpul.
"Bagaimana... bagaimana kau bisa tahu resep rahasiaku rahasiaku?" gagap Kapten Liu tidak percaya.
"Seperti yang kubilang, asuhan anak-anak lebih baik daripada kebodohan." Yang Zhen mengangkat bahunya dengan santai. "Lain kali, campurkan minyak ular itu dengan getah pinus agar baja pedangmu tidak korosi."
Seluruh prajurit elit di belakang Chen Fei terdiam mematung mendengar analisis luar biasa dari seorang murid akademi. Chen Fei sendiri hanya tersenyum tipis, merasa pilihannya membawa Yang Zhen sama sekali tidak salah.
"Cukup sudah dengan perdebatan ini." potong Chen Fei tegas. "Buka gerbangnya sekarang, kita harus masuk sebelum kabut beracun semakin tebal."
Kriet.
Gerbang besi raksasa itu perlahan terbuka dengan suara decitan yang memekakkan telinga. Hawa dingin yang sangat pekat dan berbau busuk langsung menyerbu keluar dari dalam Hutan Kabut Kematian.
Pemandangan di balik gerbang itu sangat mengerikan. Pepohonan raksasa dengan dahan meliuk-liuk seperti tangan iblis berdiri rapat menyembunyikan cahaya bulan.
"Tetap berada di dalam formasi dan jangan ada yang menyalakan obor." perintah Chen Fei sambil menghunus pedangnya. "Cahaya api hanya akan menarik perhatian binatang buas."
Rombongan itu mulai melangkah masuk ke dalam lautan kabut abu-abu. Yang Zhen, Su Lin, dan Wang Hao diposisikan di bagian tengah formasi agar terlindungi dari segala arah.
"Udara di sini membuat dadaku sesak." bisik Wang Hao sambil menutupi hidungnya dengan kain basah.
"Gunakan Teknik Napas Angin Musim Dingin yang kuajarkan, Su Lin." perintah Yang Zhen dengan suara pelan. "Teknik itu bisa menyaring racun ringan di udara."
Su Lin menganggukkan kepalanya dan mulai mengatur ritme pernapasannya. Udara dingin seketika menyelimuti paru-parunya dan rasa sesak yang ia rasakan langsung menghilang.
"Teknik pernapasan ini benar-benar ajaib." batin Su Lin penuh kekaguman. "Pemahaman bela dirinya sungguh tidak bisa diukur oleh akal sehat."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak berbatu selama hampir satu jam tanpa kendala berarti. Namun Yang Zhen yang memiliki insting membunuh dari kehidupan sebelumnya tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Berhenti." perintah Yang Zhen memecah keheningan rombongan.
Kapten Liu menoleh dengan ekspresi kesal karena seorang bocah berani memberi perintah di medan perang.
"Ada apa lagi, Yang Zhen?" tanya Kapten Liu menahan amarah. "Radar spiritual kami tidak mendeteksi adanya pergerakan monster di radius lima ratus meter."
"Radar spiritual kalian itu sama butanya dengan kelelawar siang hari." jawab Yang Zhen santai. "Lihatlah lumut di pepohonan sebelah kanan kalian."
Chen Fei menyipitkan matanya dan menatap batang pohon besar di arah yang ditunjuk Yang Zhen. Lumut hijau di sana perlahan berubah warna menjadi ungu kehitaman seperti terkena siraman air keras.
"Itu adalah efek korosi dari racun mematikan." gumam Chen Fei yang mulai menyadari bahayanya.
Grrr.
Suara geraman rendah yang menggetarkan tanah tiba-tiba bergema dari balik kabut tebal di depan mereka. Belasan pasang mata berwarna merah menyala perlahan muncul dari kegelapan hutan.
"Formasi melingkar, bersiap bertempur!" teriak Chen Fei sambil mengangkat pedang besarnya.
Monster yang muncul dari balik kabut adalah kawanan Serigala Taring Racun. Binatang buas setinggi pinggang orang dewasa ini memiliki bulu hitam legam dan taring yang terus meneteskan cairan ungu mematikan.
"Serigala Taring Racun tingkat menengah." ucap Kapten Liu dengan wajah pucat pasi. "Bagaimana mereka bisa menyembunyikan aura mereka dari radar spiritual kita?"
"Karena mereka melumuri tubuh mereka dengan lumpur dari rawa kematian untuk menutupi aura spiritual." jawab Yang Zhen masih dengan sikap santai tangannya di dalam saku.