NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah di Bawah Pendar Lampu Kota

Derasnya hujan yang membasahi kaca mobil sport milik Varro tak mampu meredam riuh detak jantungku. Di dalam kabin yang hangat, tatapan cokelat gelap Varro menatapku seolah seluruh dunianya kini berpusat pada sepasang bola mataku.

Kehangatan telapak tangannya yang menangkup kedua pipiku perlahan menjalar, membakar habis rasa perih di lututku dan menyisakan desiran halus yang belum pernah kurasakan seumur hidup.

"Gisel," panggil Varro lirih, suaranya sarat akan emosi yang menggebu. "Gue gak bakal biarin Raka atau siapa pun dari geng Viper nyentuh lo lagi. Mulai besok, lo gak boleh ke mana-mana sendirian."

Aku menarik napas panjang, menatap mata indahnya dari jarak dekat. "Varro, gue appreciate banget perlindungan lo. Tapi gue juga punya kehidupan, gue harus kuliah, kerja di kafe, dan urus adik-adik gue. Lo gak bisa terus-terusan nempel sama gue kayak perangko."

Varro menyunggingkan senyuman konyolnya yang mendadak muncul di tengah ketegangan. Ia menurunkan tangannya dari pipiku, lalu mengusap puncak kepalaku pelan. "Siapa bilang gue yang bakal nempel? Gue punya puluhan anak Starlit yang siap ganti-gantian jaga lo dari kejauhan tanpa bikin lo risih, Gisel cantik."

"Tapi, Varro-"

"Gak ada tapi-tapi," potong Varro cepat seraya menyalakan mesin mobilnya. Raungan halus mesin V8 terdengar menenangkan di tengah gemuruh badai di luar. "Gue anter lo pulang sekarang. Motor lo biarin di parkiran kafe dulu, besok suruh Brandon yang urus."

Aku hanya bisa menghela napas pasrah. Berdebat dengan Varro ketika pria ini sudah dalam mode tegas dan protektif adalah hal yang sia-sia. Pria itu menginjak pedal gas, membawa mobilnya membelah malam Jakarta yang dingin menuju ke rumah sederhanaku.

Sementara itu, di sebuah gang sempit berjelaga tak jauh dari area pelataran parkir kampus...

Lampu jalanan yang remang-remang membiaskan bayangan tiga sosok pria yang terkapar di lantai beton yang basah. Marcel berdiri menyandar pada tiang listrik seraya mengusap jemarinya dengan tisu basah, sementara Brandon berdiri tegap dengan kacamata yang memantulkan pendar cahaya lampu.

Di hadapan mereka, seorang pria berbadan gempal, satu dari tiga anggota geng Viper yang dihajar Varro tadi merintih kesakitan seraya memegangi bahunya yang patah.

"Gue... gue gak bakal ngomong apa-apa sama kalian!" seru pria gempal itu terbatuk-batuk.

Marcel melangkah mendekat, melayangkan tatapan dingin yang jarang sekali ia perlihatkan di depan umum. Tidak ada lagi raut jahil atau candaan konyol pada wajah tampannya. "Lo mikir lo itu pahlawan, hah? Raka cuma manfaatin lo berdua buat tes ombak. Dia tahu Varro gak bakal tinggal diam kalau ceweknya diusik."

Brandon melangkah ke samping Marcel, menyilangkan tangan di dada. "Raka ada di mana sekarang?"

Pria gempal itu meludah ke samping, enggan menjawab. Namun Marcel menendang pelan ujung sepatu boot-nya ke arah lutut pria itu, membuatnya meringis makin keras.

"Gue gak suka buang-buang waktu," kata Marcel dingin. "Kasih tahu tempat Raka, atau malam ini juga geng Starlit bakal ratakan seluruh markas kecil Viper di Jakarta Selatan."

Pria itu gemetar hebat. Ia tahu betul reputasi geng Starlit jika sudah mengamuk. "Di... di bekas bengkel tua dekat stasiun lama. Raka kumpul sama anak-anak utama di sana malam ini..."

Brandon mengangguk pelan, merogoh ponsel dari saku jaketnya dan mengetik sebuah pesan cepat. "Bagus. Sekarang lo bertiga pergi sebelum anak-anak Starlit datang dan bikin luka lo makin parah."

Tanpa menunggu diperintah dua kali, tiga preman itu bersusah payah bangkit dan berlari pincang menghilang di kegelapan gang.

Marcel menghela napas panjang, merapikan kerah jaketnya seraya menoleh ke arah Brandon. "Raka beneran udah gila, Bran. Dia berani sentuh Gisel. Varro bisa ngamuk besar kalau tahu Raka ngerencanain hal yang lebih parah."

"Makanya kita gak boleh kasih tahu Varro dulu malam ini," jawab Brandon tenang namun penuh perhitungan. "Biarkan Varro fokus jaga Gisel. Soal Raka... biar kita yang urus pemetaan markasnya dulu."

Mobil sport Varro berhenti tepat di depan jalan masuk gang rumahku. Hujan deras kini telah mereda, menyisakan gerimis tipis dan aroma tanah basah yang menenangkan.

Aku melepaskan sabuk pengamanku, memandang Varro yang sedang menatap lurus ke arah rumahku dari dalam mobil.

"Gue turun dulu ya, Varro," ucapku pelan seraya meraih tas punggungku.

Varro menoleh, menatapku dengan binar mata yang hangat. "Tunggu sebentar."

Pria itu merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah ponsel pintar berlayar sentuh berwarna hitam yang masih sangat baru dan mulus. Ia menyodorkan ponsel itu ke hadapanku.

Aku mengerutkan dahi, menatap ponsel itu bingung. "Maksud lo apa? Ini ponsel siapa?"

"Ponsel lo," jawab Varro santai. "HP tua lo itu sinyalnya sering jelek dan baterainya cepet habis. HP ini udah gue pasang pelacak GPS khusus yang terhubung langsung ke ponsel gue dan anak-anak Starlit. Jadi kalau ada darurat, lo cuma perlu tekan tombol power tiga kali."

Aku membelalakkan mata, menolak cepat seraya mendorong ponsel itu kembali ke dadanya. "Gak mau, Varro! Ini kemewahan yang gak perlu. Uang sepuluh juta kemarin sama kalung berlian dari lo aja udah bikin gue merasa punya utang banyak banget sama lo. Gue gak mau terima HP mahal begini!"

Varro menahan tanganku, menatap mataku dengan raut wajah sangat serius tanpa ada sedikit pun niat memamerkan kekayaan.

"Gisel, ini bukan soal harta atau gengsi," kata Varro pelan, suaranya bergetar tipis. "Ini soal keselamatan lo. Kalau HP tua lo mati saat lo butuh bantuan... gue harus gimana? Gue gak bakal maafin diri gue sendiri kalau hal buruk terjadi sama lo cuma gara-gara masalah sinyal."

Kata-katanya seketika membungkam mulutku. Ketulusan di matanya membuat seluruh bantahan yang sudah kusiapkan di tenggorokan menguap begitu saja. Pria ini bener-bener tidak sedang pamer, ia benar-benar cemas dan takut akan keselamatanku.

Aku menghembuskan napas panjang, akhirnya mengalah dan menerima ponsel pintar itu dengan jemari gemetar. "Yaudah... gue terima. Tapi lo jangan aneh-aneh melacak hal pribadi gue, ya!"

Varro tersenyum lebar, sebuah senyuman lega yang membuat wajah tampannya terlihat ribuan kali lebih memikat. "Gue cuma lacak posisi lo demi keamanan, Gisel cantik. Kecuali kalau lo lagi kangen sama gue, baru gue datang."

"Geer banget lo!" sahutku membuang muka seraya menahan rona merah yang kembali membakar pipiku.

Aku membuka pintu mobil dan melangkah turun. Varro ikut turun dari mobil, mengawalku dengan payung hitam besar hingga ke depan pintu kayu rumahku. Sebelum aku memutar gagang pintu, Varro memegang bahuku lembut.

"Istirahat yang cukup, bersihin luka lo, dan jangan lupa pakai minyak hangat," pesannya lembut seraya menatapku lekat-lekat.

"Iya, Pangeran Varro. Lo juga langsung pulang ya, jangan balapan lagi hujan-hujanan begini," balasku menatap matanya.

"Siap, Calon Suami bakal nurut sama perintah lo," jawabnya jahil seraya mengedipkan sebelah matanya.

Aku memutar bola mata geli seraya mendorong pelan dadanya. "Sana pulang!"

Varro tertawa renyah, melambaikan tangannya lalu berjalan kembali menuju mobilnya. Aku berdiri di ambang pintu, memperhatikan mobil sport mewahnya melaju perlahan menembus remang malam hingga menghilang di belokan gang.

Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, aku mendapati Mama sedang duduk di ruang tamu seraya merajut kain. Mama mendongak, menyunggingkan senyum hangat yang sarat akan arti.

"Varro yang antar kamu pulang lagi, Nak?" tanya Mama lembut.

Aku mengangguk pelan seraya melepas sepatu ketsku. "Iya, Ma. Tadi di luar hujan deras banget."

Mama menatap ponsel baru di tanganku, lalu beralih menatap wajahku yang memerah. "Gisel... Mama tahu kamu anak yang mandiri dan punya harga diri tinggi. Tapi... Mama bisa melihat jelas kalau Varro itu pria yang sangat tulus sama kamu. Dia gak cuma sayang sama kamu, tapi dia juga sangat menjaga keselamatan kamu."

Aku mengelus permukaan ponsel baru di genggamanku, merasakan desiran hangat yang makin memenuhi rongga dadaku. "Gisel tahu, Ma..."

Di dalam kamarku yang sepi malam itu, aku merebahkan tubuhku di atas kasur, menatap celana jinsku yang robek dan ponsel baru di samping bantal. Bayangan wajah Varro saat menghajar preman yang menggangguku dan tatapan matanya saat mengobati lukaku terus berputar bagai rol film di dalam benakku.

Apakah gue... beneran udah jatuh cinta sama cowok arogan itu? tanyaku dalam hati.

Namun, di tempat lain di sudut kota yang gelap, sebuah ancaman baru sedang merayap perlahan dalam kegelapan.

Raka, ketua geng Viper, berdiri di tengah bengkel tua seraya memegang telepon genggamnya. Mendengar laporan dari anak buahnya yang babak belur, senyum kejam terukir di wajahnya yang dihiasi bekas luka.

"Jadi Varro beneran sangat peduli sama cewek itu?" gumam Raka dingin seraya mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Bagus... Kalau gitu, kita buat pertunjukan yang jauh lebih besar di kampus besok."

Bersambung……

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!