Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. penderitaan Nayla setelah menikah.
"Kenapa kamu masih di sini? Keluar sana! Aku masih berganti baju!" Pelayan muda berambut hitam sebahu itu tak bergeming. dia menggigit bibirnya genit, menatap penuh kagum ke arah tubuh tegap dan tinggi Ethan yang masih kerepotan memasang dasi di lehernya.
"Tuan Muda, izinkan saya bantu memasang dasinya ya."
"Tidak usah! Pergi sana!"
"Tapi sepertinya sulit begini pasang dasinya... biarkan saya bantu."
Ethan melirik tajam. Ia menatapnya dengan wajah mengancam hingga pelayan berusia dua puluh lima tahun itu pun akhirnya takut.
"Jika butuh bantuan, istriku yang akan melakukannya. Sana keluar! Jangan menggangguku!" Dengan wajah memerah, pelayan itu membungkuk dan buru-buru keluar setelah dibentak kesal oleh Ethan.
"Aish... dasar wanita! Ada-ada saja tingkahnya!" Pria itu menggeleng kesal, menyambar tas kerjanya, lalu berjalan keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan.
****
"Pagi Daddy, Mommy sayang."
Dia duduk di kursi meja makan setelah mencium pipi ibunya. Benar saja, istrinya sudah duduk dengan manis sembari menikmati sarapan paginya.
"Than, kau tidak mencium istrimu?"
"Iya, kok kalian diam saja?" Wajah Nayla terkejut mendengar pertanyaan ayah dan ibu mertuanya. Dia langsung menoleh ke samping, makin gugup saat Ethan tiba-tiba mengusap rambutnya dan mencium dahinya lembut.
"Tentu saja harus mencium istriku. Tapi tadi aku sudah puas mencium istriku di kamar, jadi kalian tidak perlu mengingatkan terus."
Wajah gadis itu langsung bersemu merah. Jawaban spontan Ethan membuat Yohana dan suaminya tertawa geli.
"Syukurlah jika kalian bisa berhubungan dengan baik. Semoga saja kita segera punya cucu ya," ujar Yohana.
Perkataan ibu mertuanya itu membuat Nayla meremas tangannya di bawah meja. Dia terkejut saat suaminya tiba-tiba menggenggam tangan lentik itu.
"Kalian membuat orang lain iri saja, hehe."
"Hahaha, ya ampun. Kami harap segera ada kabar baik. Ayah berangkat ke kantor dulu. Ethan, jangan lupa pertemuan dengan kolega kita yang harus kau hadiri nanti siang ya?"
"Baik, Daddy. Aku tahu." Pak Victor terlihat sangat senang. Dia menepuk bahu Ethan setelah menghabiskan kopinya, dan sang istri langsung mengantar suaminya menuju beranda depan rumah.
"Jangan sok mesra, tidak ada siapa-siapa sekarang," Nayla langsung menarik tangannya kesal, mengusap bibirnya dengan serbet dan hampir berdiri.
"Kau masih marah padaku?"
"Menurutmu? Sebutan apa yang paling pantas untukmu, Tuan Ethan? Suami sialan? Brengsek? Atau gila?"
"Kau~" Ethan berusaha meredam emosinya. Setidaknya Nayla sudah mau bicara padanya, meski itu berujung pertengkaran lagi.
"Aku mau ke kantor. Mungkin aku pulang malam nanti."
"Ya pergilah sana."
"Kau tidak mengantarku ke depan seperti Mommy tadi? Apa kau ingin Ibu heran melihatku keluar ke teras sendirian?"
"Cih, dasar pria licik~" Nayla menyambar tas laptop hitam milik suaminya, membawanya persis seperti ibu mertuanya tadi. Ethan yang tak membuang kesempatan langsung merangkul pinggang ramping Nayla.
"Aku berangkat dulu ya, Sayang. Aku mencintaimu.
Yohana tersenyum dari anak tangga, melihat anak dan menantunya berjalan menuju pintu dengan lengan Ethan yang melingkar mesra di pinggang Nayla. Wajah gadis itu bersemu merah karena Ethan tiba-tiba mengucapkan kata itu sefrontal itu, lalu mencium bibirnya tepat di depan pintu depan.
Mereka sukses menjadi tontonan gratis bagi ibunya dan para pelayan yang sedang membersihkan ruang depan, yang menatap dengan tatapan iri.
****
Grenny Cafe, Kemang Jakarta
Nayla duduk di salah satu kursi di dalam kafe itu, menghabiskan waktu sorenya untuk menghindari pertanyaan sang mertua soal bulan madu kemarin. Yohana rasanya lebih pantas menjadi petugas polisi ketimbang ibu mertua; daftar pertanyaannya sungguh tak habis-habis.
"Kalian jalan-jalan ke mana saja?"
"Kau betah di Hawai? Apa kalian berenang bersama dan berendam air hangat juga?"
"Jangan lupa lakukan hubungan suami istri dengan rutin. Mommy akan berikan resep mujarab juga agar kau bisa segera hamil."
"Ethan tidak berbuat aneh-aneh kan? Apa setiap malam dia minta jatah? Ah maaf, anakku itu sedikit berlebihan hormonnya, hehe~"
"Mommy akan beri resep agar kau cepat hamil, Nak. Dulu Mommy dan Daddy sering melakukannya dan langsung jadi Ethan, hehe."
Nayla menanggapi semua perkataan ibu mertuanya itu dengan wajah memanas, malu, gerah, dan juga kesal. Dia bingung harus menjawab apa, karena sejujurnya dia benci berada di situasi pernikahan seperti ini.
"Nayla, halo. Maaf aku sedikit terlambat."
Sahabatnya yang bernama Shela baru datang, langsung duduk di dekat Nayla. Mereka saling memeluk sebentar.
"Maaf ya, aku masih sibuk di kantor tadi, jadi aku langsung ke sini begitu kau telepon."
"Ini oleh-oleh untukmu dan Bang Marcus. Maaf juga aku memaksamu ke sini, Shela."
"Wah, terima kasih oleh-olehnya! Apa ini? Hehe, aku tidak menyangka kau ingat kami berdua."
"Iya, sama-sama. Kau kan sahabatku. Sampaikan salamku juga untuk Bang Marcus ya." Nayla menyodorkan dua kantong kertas berwarna berbeda namun sama besar. Wajahnya terlihat murung hingga Shela merasa curiga.
"Kamu tidak apa-apa? Kenapa denganmu? Apa terjadi sesuatu yang buruk?" Gadis cantik itu meremas roknya, menunduk dalam saat air mata mulai mengalir di pipi mulusnya.
"Jangan menangis, Nay. Katakan apa yang terjadi." Nayla menggeleng dan memeluk Shela yang menepuk-nepuk punggungnya lembut sambil berusaha menenangkan tangisnya.
"Hiks... aku benci dengan pernikahan ini. Aku tak tahan lagi, Shela. Hiks... aku ingin bercerai saja."
"Hah? Apa? Ya ampun, cerai? Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian?"
Dengan masih terisak, Nayla mulai bercerita, namun tidak menceritakan soal perjanjian mereka. Dia hanya menceritakan malam kelam itu, saat Ethan yang mabuk dan sewenang-wenang merenggut kesuciannya.
"Hiks... aku sering memimpikan memberikan hal yang paling berharga ini kepada suami yang kucintai. Tapi kenyataannya, aku malah menikah dengan pria brengsek yang tega memperkosaku."
"Jangan menangis, Bestie. Bang Ethan memang salah karena memaksamu. Seharusnya dia mengerti, apalagi kau bilang belum siap. Kenapa dia harus memaksa dan menyakiti istrinya?"
"Entahlah... aku tak tahan lagi. Selama ini aku hanya mengacuhkannya agar dia sadar akan kesalahannya." Nayla menunduk, sesekali mengusap air mata yang makin banyak jatuh, sementara sahabatnya terus menepuk punggungnya lembut.
"Jangan sedih lagi. Kau harus kuat dan bertahan, Nay. Bukankah semua ini demi keluargamu?"
"Seandainya aku bisa bertemu Kak Spider, aku akan memintanya mengajakku pergi jauh dari sini." Shela terkekeh kecil. Dia tahu cerita itu, karena hampir setiap hari Nayla bercerita soal cinta pertamanya. Sedikit menggelikan, karena Nayla hanya tahu nama penolongnya saat jatuh dari sepeda dulu adalah 'Kak Spider', nama yang diambil dari tokoh pahlawan kesukaannya waktu kecil. Namun Nayla masih menyimpan saputangan putih berinisial S.E. itu dengan rapi.