Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemandangan dari Kean
Semua sudah berkumpul di salah satu tempat makan pinggir pantai. Sengaja memang sebelum dibebaskan bermain di pantai, mereka makan siang bersama terlebih dahulu, selain untuk membahas agenda hari ini.
Semua sudah berkumpul terkecuali Jeviza dan teman-temannya yang belum terlihat.
"Itu, cewek Janu mana? Belum keliatan," ujar salah satu anggota BEM.
Hati Kean mencelos meski tidak disebutkan secara langsung, tetapi ia tahu siapa gadis yang dimaksud pacar Janu itu. Wajahnya tetap tenang, ia menatap Janu yang sudah beranjak dari duduknya, mengotak-atik ponselnya sebelum akhirnya pamit pergi.
"Bentar guys, gue cari dulu," ujar Janu pergi.
"Nyusahin," gumam Vio membuat Kaina yang duduk tidak jauh dari Vio menoleh. Lalu menggeleng.
Vio memang sangat kentara sekali tidak menyukai saudara jauh Kean itu. Mungkin karena sama-sama dari Jakarta seperti Kean, atau karena mereka satu rumah, bisa jadi juga karena paras dari adik tingkat satu itu yang cukup menonjol, tidak terlihat biasa saja, tetapi bisa menarik lawan jenis, salah satunya Janu yang terang-terangan mendekati adik tingkat mereka itu.
Kaina menoleh pada Kean, lalu menelan ludahnya pelan. "Ke, lo punya nomornya? Siapa tahu dia lagi dimana gitu," ujar Kaina membuat Kean terdiam.
Pesan yang terakhir kali Kean kirimkan saja belum dibalas oleh Jeviza. Jika ia mengirim pesan atau menelpon Jeviza, apakah tidak akam ada yang curiga? Mengingat Vio beberapa hari lalu melihat adegan dirinya dan Jeviza yang bisa dikatakan tidak biasa saja.
"Biarin aja, lagian udah dicari Janu, juga kan?" seloroh Vio sembari menatap selidik Kean.
Sudut bibir Vio tertarik ke atas melihat Kean yang tidak melakukan apa-apa untuk mencari keberadaan Jeviza. Itu berati usahanya beberapa waktu lalu tidak sia-sia. Puspa benar-benar memberi peringatan pada mereka sampai menjadi asing seperti sekarang.
Mampus, jadi adik tingkat aja gatel
Tidak lama Janu datang, bersama rombongan Jeviza. Semua yang berada di sana terdiam mengamati Jeviza dan teman-temannya.
Baju pantai mini sudah melekat di tubuh mereka, beruntungnya Janu tadi datang dan meminta mereka untuk menutupi dengan baju atau kain yang lebih besar, pasalnya belum ada yang berganti baju selain mereka berempat.
"Gue malu banget, Je," cicit Tevi membenarkan kain lilitnya.
"Tenang, Vi, lo nggak sendiri ada gue sama mereka," balas Jeviza melirik Naura dan Sisil, tangannya menggenggam Tevi untuk menenangkan gadis itu.
"Sorry kak, kita udah ganti baju duluan, jadi lama nunggunya," cicit Naura menatap kakak tingkatnya tidak enak.
"Nggak papa, ayo gabung, kita makan dulu."
Suara itu, suara halus yang terdengar begitu tenang seketika membuat Jeviza menoleh. Kaina terlihat sedang tersenyum manis, tidak menyalahkan mereka dan malah menyambut dengan hangat.
"Geseran dikit bro," ujar Janu memberi tempat untuk Jeviza dan teman-temannya.
Sampai mereka ikut duduk, Jeviza belum berani menatap ke arah Kean. Entah kenapa ia merasa seperti diawasi meski belum melihat secara langsung. Tenggorokannya terasa kering meski ia hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa.
Makan bersama berjalan dengan lancar, tidak ada lagi drama, yang ada hanya sesekali candaan dari mahasiswa lain. Jeviza mulai merasa nyaman, tidak setegang tadi ketika ikut berkumpul.
"Ke, kita bagi sekarang aja kelompoknya," ujar Kaina diangguki Kean.
"Kelompok apa?" tanya Naura dengan suara pelan.
Jeviza mengangkat kedua bahunya. Ia memang tidak tahu apa yang dimaksud oleh Kaina.
"Jadi guys, kita mau ngadain voly pantai, biar kalian nggak pada males, ada hadiahnya untuk yang menang tadi," ujar Kaina diangguki oleh beberapa dari mereka.
"Tapi panas banget ini kak," ujar salah satu gadis yang duduk tidak jauh dari Jeviza dan teman-temannya.
"Kita nggak maksa kok, nggak diwajibkan juga, tapi kalau bisa ya mending ikut buat rame-rame, lumayan lho hadiahnya," ujar Kaina memanas-manasi agar gadis yang tadi sempat mengeluh bersemangat untuk ikut.
"Kalau boleh tau, apa ya ka? hadiahnya?" tanya Sisil malu-malu.
"Rahasia dong, yang jelas nggak akan nyesel kalaupun harus panas-panasan," jelas Kaina dengan senyum.
"Yang nggak ikut angkat tangan," ujar Kaina.
Ada 2 orang gadis yang mengangkat tangan, salah satunya gadis tadi yang mengeluh panas.
"Oke, berati yang lain ikut semua ya?" ujar Kaina.
Jeviza ragu, ia sebenarnya tidak mahir bermain bola voly, ingin mengangkat tangan tetapi tiba-tiba nyalinya ciut, dipaksa ikut juga Jeviza tidak berminat sama sekali.
"Gue kak, gue juga nggak ikut deh," ujar Jeviza mengangkat tangannya.
Mendengar suara Jeviza. Kean yang tadi sibuk dengan laptop mendongak, menatap Jeviza dengan jarak mereka yang cukup jauh.
"Lo nggak ikut?" tanya Kaina mendapat gelengan kepala Jeviza.
"Gue nggak bisa voly kak," cicit Jeviza ragu.
"Gue ajari, Je," ujar Janu menapat sorakan dari yang lain.
"Gue juga kak."
"Gue juga nggak ikut."
Sisil dan Naura juga mengangkat tangan setelahnya. Tertinggal Tevi yang sepertinya tidak terprovokasi oleh tindakan ketiganya. Tevi suka voly, meski ada kaca mata yang membingkai wajahnya, tetapi ia pernah ikut tim voly ketika di SMA dulu, dan hadiah yang masih dirahasiakan itu sedikit menarik perhatian Tevi.
Terdengar helaan napas dari Kaina. Sebelum gadis itu mengangguk. "Oke, jadi lima orang yang nggak ikut ya?" ujarnya diangguki mereka yang tadi mengangkat tangan. "Iya, kak."
Pembagian kelompok mulai dibagi. Jeviza yang duduk di sebelah Tevi dan Sisil ikut menyimak meski tidak ikut bertanding.
Setelah semua selesai dan dibubarkan, mereka bersiap untuk pertandingan, sementara Jeviza dan teman-temannya bersiap untuk menjadi suporter saja.
"Ayo, Vi, semangat! Kita jadi suporter lo sama kak Kean," ujar Sisil terkikik.
"Panas gini, lo yakin, Vi?" tanya Jeviza diangguki Tevi.
"Aman, Je, panas bukan penghalang buat gue raih juara."
"Dih, mabok bis ya lo?" tanya Sisil menggelengkan kepalanya.
Mereka tertawa, lalu ikut serta kerumunan yang mulai menuju pantai untuk memulai pertandingan.
"Yang mau main dulu nggak papa guys, jangan jauh-jauh tapi ya?" teriak Janu diangguki beberapa anak yang mulai menyebar.
Sementara kelompok yang mulai akan bertanding berkumpul di area voly.
Jeviza dan teman-temannya duduk di karpet yang sudah mereka sewa. Ada payung besar yang melindungi mereka dari paparan sinar matahari.
Kamera yang dibawa Naura mulai mengambil beberapa gambar di sekitar mereka.
"Foto dulu nggak sih, kita?" ujarnya mengarahkan kamera pada wajah mereka berempat.
"Cis," ujarnya membidik gambar.
Beberapa gambar dengan gaya berbeda Naura ambil, lalu saat nama Tevi diteriaki dari arena voly membuat mereka menoleh.
"Lo, Vi, mau main," ujar Sisil diangguki Tevi.
"Doain gue ya, guys!" Tevi berdiri, mengambil napas panjang agar tidak gugup.
"Kita ikut, Tevi butuh dukungan kita," ujar Jeviza ikut beranjak.
Mereka melangkah menuju arena voly, tepat saat sudah mulai dekat, wajah mereka ternganga, langkahnya masih sama tetapi sorot mata mereka tidak terlepas dari tubuh seorang cowok yang terlihat setengah telanjang. Kaos putih yang sudah basah mencetak dengan jelas otot perut dan dadanya.
Kean berjalan dari arah berlawanan menuju ke arena voly dengan keadaan kaos putihnya sudah basah dan mencetak jelas bagian tubuh atasnya. Celana pendeknya juga tidak lepas dari air yang entah didapat dari mana, tetapi masih aman karena ia memakai celana pendek dengan bahan tebal. Tidak seperti bagian atasanya.
"Anjing, iman gue kuat enggak ya? Buat nggak lari ke kak Kean sekarang," umpat Naura mulai kehilangan fokus jalannya.
"Semanteb ini cuma diliatin doang? Mau banget pegang," seloroh Sisil.
Tidak hanya mereka berdua yang kepanasan, beberapa gadis yang berada di sana mulai menutup mulutnya disuguhkan pemandangan yang lebih indah dari pantai yang terbentang di depan. Salah satunya Kaina yang wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Kaina ingin mengalihkan pandangan matanya dari sosok Keandra, tetapi dadanya sudah mulai berdebar hanya dengan melihat sesuatu dari tubuh cowok itu yang seharusnya tidak ia lihat.
Dan, Jeviza
Jangan ditanya lagi. Perasaannya campur aduk, antara kesal, kecewa dan juga tidak rela, meski masih terhalang kaos, tetap saja otot perut Kean yang hanya bisa dilihat olehnya kini menjadi suguhan untuk gadis lain. Jeviza mendengus, dadanya naik turun tidak beraturan.
"Kean, anjir lo, malah kabur!" teriakan Gio dari belakang mulai terdengar.
...****************...
Kasi bintang 5 nya dong gengsss hehe..
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭
lanjut maljum😁