Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Awalnya aku tidak mau ikut campur soal ini, tapi tiba-tiba aku merasa akan sangat seru kalau Alen dan Raya tau bagaimana kelakuan ibu nya di belakang mereka," ucap Lilian sambil menatap layar ponsel nya dan membayangkan betapa bahagianya dia melihat keluarga Bayron hancur satu persatu. Tahap demi tahap.
Lilian sebenarnya sudah tau sejak lama soal laki-laki bernama Miko, karena pada saat ia masih menjadi istri Alen, ia pernah tanpa sengaja mengangkat panggilan telepon di ponsel Bu Sinta, saat itu tulisan yang ada di layar ponsel tersebut adalah "Miko ku sayang"
Benar-benar menjijikan bukan? Tapi karena tidak mau ikut campur Lilian pun melupakan nya begitu saja, tapi tidak dengan saat ini.
Sementara itu di kediaman keluarga Pratama.
"Aku pamit om," ucap Erlan kepada papa Ardan yang saat itu mereka sudah selesai mengobrol.
Erlan buru-buru meninggalkan rumah keluarga Pratama, karena masih ada hal lain yang mau dia kerjakan.
"Baiklah, hati-hati, jangan lupa datang Minggu depan ya, om mau mengadakan pesta penyambutan untuk Lilian sekaligus memperkenalkan dia ke semua orang secara resmi," ucap papa Ardan kepada Erlan.
Erlan terdiam mendengar ucapan papa Ardan barusan, seketika ide cemerlang mulai menghantui pikiran nya.
"Erlan, apa yang kau pikirkan?" tanya papa Ardan yang melihat Erlan melamun.
"ah iya, tidak ada, kalau begitu aku permisi om," ucap Erlan yang kemudian meninggalkan mansion Pratama dengan mobil nya.
"Anak itu, entah apa lagi yang dia pikirkan sekarang, benar-benar tidak bisa di tebak sama sekali," batin papa Ardan yang kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara itu di kediaman keluarga Bayron.
Alen baru saja tiba di rumah, harini dia benar-benar merasa sangat gundah setelah perusahaan Pratama menarik investasi itu, perusahaan nya kini berada di ambang kebangkrutan karna proyek besar yang sedang berjaga terancam gagal.
"Lilian! Buatkan aku kopi," ucap Alen sambil memijat alisnya, ia melempar tubuh lelahnya itu ke atas sofa.
"Kak, sepertinya kau sudah lupa kalau Lilian sudah meninggalkan mu," ucap Raya yang saat ini berada di hadapan Alen.
Alen mendongakkan kepala menatap adik perempuannya dengan tatapan tajam.
"Jangan bicara sembarangan Raya, dia hanya sedang marah padaku," jelas Alen dengan kening mengkerut.
"Astaga kak, sadar lah, ini sudah seminggu lebih dan sekarang dia sama sekali tidak kembali, dia juga sudah tidak memakai nomer lamanya," ucap Raya yang kemudian duduk di samping sang kakak.
"kau juga di blokir?" tanya Alen.
"Sepertinya bukan di blokir, dia mungkin sudah tidak menguntungkan kartu itu," jelas Raya lagi.
"Kali ini Lilian benar-benar sudah keterlaluan, menyebalkan sekali, lihat saja kalau dia kembali nanti, aku akan memberinya hukuman," ucap Alen sambil mengepalkan tangan.
"Kak, awalnya aku juga berfikir Lilian akan kembali, tapi sepertinya tidak akan untuk kali ini," ucap Raya yang sudah menemukan tong sampah itu.
"Apa maksud mu bicara seperti itu?" ungkap Alen dengan emosi yang hampir meluap.
"Huh, baiklah aku tidak akan mengatakan apapun lagi, tapi bisakah kau mengikuti ku sebentar?" tanya Raya dengan wajah pasrah.
"Kemana?"
"Sudah lah jngan banyak tanya, ikuti saja," ucap Raya. Ia berdiri dari duduknya dan kemudian berlalu pergi.
Alen yang lelah awalnya malas meladeni Raya, namun ia penasaran dan akhirnya memilih untuk berjalan pelan di belakangnya Raya.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di taman belakang rumah, Raya menghampiri tong sampah dan berhenti di sana.
"Kau mengajakku mengikuti mu hanya untuk melihat tong sampah ini?" ungkap Alen.
"Lihat-lihat dengan teliti, semua barang yang terbakar di sini adalah milik Lilian, termasuk seluruh foto pernikahan kalian," jelas Raya.
Deg ...
Jantung Alen seolah-olah berhenti berdetak dalam beberapa saat, tatapan nya kini tertuju ke dalam tong sampah tersebut.
"Ini yang aku temukan," ucap Raya lagi sambil menyerahkan foto yang enam puluh persen sudah di lahap api.
Dengan tangan gemetar Alen meraih foto tersebut, matanya terasa panas dan darahnya berdesir hebat. Seketika seluruh kenangan masalalu nya dengan Lilian semuanya terlihtas kembali di benaknya.
"Lilian, kenapa dia melakukan semua ini padaku?" ucap Alen berlutut di depan tong sampah.
Tak peduli lagi seberapa banyak abu yang mengotori tangan nya, Alen terus menerus mengais sampah tersebut dengan kedua tangan sambil menangis.
"Tidak, tidak mungkin dia benar-benar meninggalkan ku dan tidak kembali, tidak mungkin," ucap nya yang saat ini tidak bisa menerima kenyataan.
"Ada apa ini?" tanya Tasya yang baru tiba di sana setelah mendengar suara bising.
"Lilian membakar semua barang nya sebelum ia pergi," ucap Raya.
"Lilian! Tidak! Kenapa kau membakar semua kenangan kita!" ucap Alen frustasi.
"Mas Alen, tenang lah, tangan mu sudah kotor," ucap Tasya berusaha melerai kekacauan tersebut.
Namun dengan cepat Alen menepis Tasya, ia berdiri dan membawa tong sampah berisi abu tersebut masuk ke dalam rumah.
"Mas Alen," panggil Tasya.
Dia ingin mengikuti Alen, namun Raya segera menahan pergelangan tangan nya.
"Jangan, biarkan dia sendirian dulu, dia sangat terpukul, " ucap Raya yang sangat tau sperti apa Alen.
"Tapi Raya,"
"Sudahlah, kau tidak tau kan sebenarnya seberapa cinta kakaku dengan Lilian? Tapi dia tidak pernah menampakkan nya, aku lelah aku kau istirahat dulu," ucap Raya yang kemudian berlalu pergi.
"Sialan! Memang nya siapa yang peduli dia mencintai Lilian, posisi Lilian sekarang akulah yang akan menggantikan nya," ucap Tasya kesal lalu berjalan kembali ke dalam rumah.
Sementara itu, Alen membawa masuk semua abu itu ke dalam kamar, ia mulai mengotak-atik seluruh isi kamar berharap bada satu foto yang tertinggal, namun hasilnya nihil, semua hal yang bersangkutan dengan Lilian benar-benar sudah tidak ada di kamar tersebut.
****
punya nama. jadi bagus ,,,ehhh malah berhianat sekarang belum tau siapa Lilian
enakan,,,coba loe kelurahan anaknya abis lah nasib loe,,,,
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍