Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.
Kali ini, segalanya akan berbeda.
Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.
"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."
Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35 Suara Orang Mati
"Orang pertama yang menolak ramuan itu tidak pernah sampai ke wilayah timur."
Kalimat Harsa tinggal di pendopo Kadipaten Cendekia seperti asap yang tidak mau keluar.
Arjuna tidak bertanya lagi untuk beberapa saat. Di atas meja, kotak bukti berisi kain bayi dan catatan Candra Dewi tertutup rapat, tetapi semua orang seolah masih melihat lipatan kecil kain itu.
Anindya menatap wajah suaminya.
Ia pernah melihat Arjuna marah kepada Baskara, dingin kepada Kertanegara, tegas kepada Ratih. Namun kemarahan hari ini berbeda. Tidak bergerak ke luar. Tidak mencari musuh di depan mata. Ia turun ke dalam, menekan sesuatu yang lebih rapuh daripada dendam.
Eyang Maha memecah sunyi lebih dulu.
"Siapa yang menandatangani pemindahan tabib itu?"
Harsa membuka catatan kedua. "Perintah pemindahan memakai cap kantor dalam Puri Raja. Catatan pendamping ditulis oleh orang Emban Agung Darma. Tidak ada tanda tangan Baginda."
"Terlalu rapi," kata Anindya.
Harsa menoleh.
"Jika ingin menyembunyikan sesuatu, mereka tidak akan menulis nama Baginda," lanjut Anindya. "Mereka membuat semua berhenti pada Darma. Seperti Kertanegara yang dibuat berhenti sebelum menyentuh Baskara."
Arjuna akhirnya mengangkat mata.
Di sana, ada kilatan yang membuat Harsa langsung memahami arah pikirannya.
"Jangan tangkap Darma sekarang," kata Harsa cepat. "Jika kita menangkapnya tanpa titah raja, Baginda akan mengatakan Puri Timur menahan abdi pribadinya. Jika kita meminta titah raja, Darma akan hilang sebelum matahari turun."
"Aku tahu," kata Arjuna.
Tetapi suaranya membuat Anindya tidak yakin ia benar-benar ingin tahu.
Eyang Maha menatap cucunya lama. "Arjuna."
Hanya nama itu.
Tidak ada gelar. Tidak ada nasihat panjang.
Arjuna menutup mata.
"Aku tidak akan bergerak gegabah."
"Kau boleh marah," kata Eyang Maha. "Aku juga marah. Aku marah selama bertahun-tahun sampai marah itu menjadi tulang. Tapi orang yang membunuh Candra tidak hanya mencabut nyawa istri dan anak dalam kandungannya. Ia juga memastikan semua orang yang mencintainya bergerak tanpa bukti. Jangan beri dia hadiah itu."
Anindya menunduk.
Kalimat itu menghantam tepat ke inti perkara. Naradewa bukan hanya membunuh, jika dugaan mereka benar. Ia mengatur agar orang yang berduka tampak berbahaya, agar pertanyaan terdengar seperti pemberontakan, agar anak yang mencari ibunya bisa disebut durhaka.
"Kita simpan bukti di tiga tempat," kata Anindya.
Semua orang menoleh.
Ia menahan lelah di tubuhnya dan menyusun kata dengan hati-hati. "Satu di Pengadilan bersama Harsa. Satu di Kadipaten Cendekia. Satu salinan rahasia di Puri Timur. Jika salah satu tempat digeledah, dua lainnya masih hidup."
Eyang Maha mengangguk pelan. "Permaisuri Candra akan menyukai caramu berpikir."
Panas naik ke mata Anindya.
Arjuna melihatnya, lalu berkata kepada Harsa, "Lakukan."
Harsa menutup buku. "Aku akan membuat salinan malam ini. Tidak semua orang Pengadilan boleh tahu."
"Pilih orang yang jika takut, tetap bisa menulis," kata Anindya.
Harsa menatapnya sejenak, lalu tersenyum sangat tipis. "Itu syarat yang lebih sulit daripada jujur."
Mereka mulai membagi bukti sebelum senja turun. Harsa membawa salinan catatan pemindahan tabib dan daftar kematian resmi. Eyang Maha menyimpan kain bayi di ruang terdalam Kadipaten Cendekia, di dalam peti kayu yang hanya dibuka dengan dua kunci. Arjuna membawa salinan pendek catatan Candra ke Puri Timur, bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk mengingatkan dirinya bahwa setiap langkah setelah ini harus lebih tenang daripada sakitnya.
Anindya memperhatikan semua itu dan memahami satu hal yang membuat tenggorokannya kering.
Mereka belum bisa menyebut Naradewa pembunuh.
Tetapi semua jalan kecil, semua catatan yang diganti, semua saksi yang mati, semuanya mengarah ke pintu yang sama.
***
Di Puri Raja, Emban Agung Darma berdiri di hadapan Naradewa dengan wajah lebih pucat daripada biasa.
"Mereka menemukan catatan kecil di Puri Candra," katanya.
Naradewa duduk di dekat jendela. Di luar, halaman istana tampak terang. Burung-burung kecil turun ke kolam. Tidak ada yang tampak seperti masa lalu yang bangkit.
"Apa isinya?"
"Nama hamba disebut, Baginda."
"Namamu memang ada di banyak tempat."
Darma menelan ludah. "Catatan itu menyebut ramuan kedua."
Naradewa menoleh.
Untuk pertama kalinya, rasa takut Darma tidak lagi disembunyikan.
"Baginda..."
"Diam."
Satu kata itu cukup membuat lelaki tua itu menunduk sampai hampir mencium lantai.
Naradewa memandang kolam lagi. "Jika Pangeran Mahkota ingin mengejar bayangan ibunya, biarkan ia mengejar. Seorang anak yang terlalu sibuk dengan kuburan sering lupa melihat jalan di depannya."
"Apakah hamba harus..."
"Kau tidak melakukan apa-apa tanpa perintahku." Suara Naradewa rendah. "Dan mulai hari ini, jangan biarkan siapa pun menghubungkanmu langsung denganku."
Perintah itu terdengar seperti perlindungan.
Darma tahu itu juga bisa menjadi awal pembuangan.
***
Malamnya, Arjuna kembali ke Puri Timur lebih lambat daripada biasanya.
Anindya menunggunya di beranda kecil. Wulan sudah berkali-kali membujuknya masuk, tetapi Anindya hanya meminta selimut tambahan. Udara malam membawa bau tanah basah dan bunga melati dari taman.
Arjuna berhenti saat melihatnya.
"Kau seharusnya tidur."
"Aku tahu."
"Tapi kau tetap menunggu."
"Aku tahu juga."
Arjuna berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat mereka tidak bicara.
Anindya tidak bertanya apakah ia baik-baik saja. Jawabannya terlalu jelas. Ia hanya mengulurkan tangan di bawah selimut.
Arjuna memandang tangan itu.
Lalu ia menggenggamnya.
Jari-jarinya dingin.
"Aku bahkan tidak ingat suara ibuku dengan jelas," katanya pelan. "Yang kuingat hanya kain wangi cendana dan tangan yang menyentuh kepalaku saat aku demam."
Anindya menahan napas.
"Hari ini aku menemukan kain untuk adik yang tidak pernah kulihat. Catatan yang tidak pernah sampai. Tabib yang mati karena menolak ramuan. Semua itu membuatku merasa seperti anak kecil yang terlambat berlari ke kamar ibunya."
Anindya menggenggam tangannya lebih erat.
"Kakanda tidak terlambat untuk mendengar suaranya sekarang."
Arjuna menatapnya.
"Suara orang mati tidak meminta kita kembali ke masa lalu," kata Anindya. "Ia meminta kita menjaga yang masih hidup agar tidak dibungkam dengan cara yang sama."
Lampu beranda bergoyang tertiup angin.
Arjuna menunduk dan menyentuhkan dahinya sebentar ke punggung tangan Anindya. Sentuhan itu ringan, tetapi membuat dada Anindya nyeri oleh sesuatu yang sulit dinamai.
"Tetap di sisiku," katanya.
"Aku di sini."
Kali ini ia tidak menambahkan hamba.
Sebelum keheningan itu menjadi terlalu lembut, langkah Adi terdengar dari lorong.
"Yang Mulia," katanya, "Adipati Agung Jayawardana datang. Beliau meminta bertemu malam ini juga."
Anindya langsung menegakkan tubuh. "Eyang Jaya?"
Adi menunduk. "Beliau membawa peta lama Gerbang Mutiara dan berkata..." Ia ragu sesaat, lalu melanjutkan, "Yang terjadi pada orang tua Gusti Putri bukan perang biasa."
Jantung Anindya seolah berhenti di tempat.
Udara terasa runtuh.