Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian di Balik Dinding Transparan
Keputusan Profesor Evans untuk merekomendasikan proposal Helios Foundation membawa gelombang baru di lingkungan akademis St. Jude’s College. Dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam, kabar bahwa Julian Radcliffe dan Aurora Vance mengajukan hibah riset independen tanpa sokongan Radcliffe Corp telah menjadi topik perbincangan hangat di lorong-lorong fakultas.
Bagi sebagian orang, tindakan Julian dianggap sebagai bentuk keberanian dan kebebasan yang luar biasa. Namun bagi lingkaran elite pendukung keluarga Radcliffe, keputusan itu dinilai sebagai pembangkangan yang mencoreng nama baik dinasti bisnis tersebut.
Jumat siang, hujan lokal mengguyur kawasan kampus, membendung para mahasiswa di bawah kanopi pelataran utama.
Rory berjalan menyusuri koridor kaca yang menghubungkan Gedung Sains dengan Perpustakaan Coldwell. Di tangannya, terdapat map folder berisi draf pembaruan analisis data toksisitas yang baru saja ia selesaikan di laboratorium. Gemma berjalan di sampingnya sambil memegang dua cangkir cokelat panas.
"Semua orang membicarakan kalian, Rory," kata Gemma pelan, melirik ke arah beberapa mahasiswa tingkat atas yang melintas sambil berbisik-bisik. "Bahkan ada desas-desus kalau Dewan Wali Amanat Kampus mulai menekan Profesor Evans untuk meninjau ulang rekomendasi hibah itu."
Rory memperlambat langkahnya, menatap Gemma. "Meninjau ulang? Atas dasar apa? Proposal kami memenuhi seluruh standar ilmiah dan administrasi yang ditetapkan Helios."
"Atas dasar politik kampus, Rory," sahut sebuah suara wanita bernada dingin dan tajam dari arah belokan koridor.
Victoria Montgomery melangkah mendekat. Ia mengenakan gaun wol abu-abu yang elegan berpadu dengan mantel mantel panjang hitam. Di belakangnya, berdiri dua anggota Senat Mahasiswa yang dikenal dekat dengan lingkar eksekutif kampus.
Rory menatap Victoria dengan tenang, menahan Gemma agar tidak menyela lebih awal. "Miss Montgomery. Ada yang bisa saya bantu?"
Victoria menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa superioritas. "Kamu sangat percaya diri, Aurora. Mengira bahwa dengan menempel pada Julian yang sedang 'bermain-main' menjadi rakyat biasa, kamu bisa menembus panggung riset internasional."
"Saya bekerja bersama Julian sebagai mitra riset yang setara, Victoria," jawab Rory tegas, matanya tak berkedip. "Kapasitas kami diuji berdasarkan validitas data dan metodologi, bukan berdasarkan drama personal yang terus kamu usahakan untuk hidupkan."
Victoria tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar dingin dan hampa. Ia melangkah satu pijakan lebih dekat, merendahkan suaranya hingga hanya Rory dan Gemma yang bisa mendengar.
"Kamu pikir ini cuma soal drama personal?" bisik Victoria dengan mata berkilat. "Ayah Julian adalah salah satu penyumbang dana terbesar untuk fasilitas utama St. Jude’s. Arthur Radcliffe tidak perlu menurunkan amarahnya secara terbuka. Cukup dengan satu panggilan telepon ke dewan direksi, seluruh izin penggunaan alat laboratorium tingkat lanjut untuk riset independen kalian bisa ditangguhkan dalam hitungan jam."
Dada Rory berdesir halus. Logika pikirannya langsung mencerna implikasi dari ancaman tersebut. Riset Helios membutuhkan penggunaan instrumen Spectrometer NMR generasi terbaru sebuah fasilitas mahal yang berada di bawah pengawasan langsung laboratorium pusat kampus.
Gemma tak sanggup lagi menahan kekesalannya. "Itu penyalahgunaan wewenang namanya! Kampus ini punya kebebasan akademis!"
"Kebebasan akademis ada karena ada penyokong dana yang membiayainya, Miss Gemma," balas Victoria angkuh, menatap Gemma dari atas ke bawah sebelum kembali menatap Rory. "Sampaikan pesan ini pada Julian, Rory. Jika dia mau kembali ke manor dan menandatangani kesepakatan keluarga minggu ini, seluruh fasilitas riset terbaik di Inggris akan terbuka lebar untuknya. Tapi jika dia tetap bertahan bersamamu...kalian berdua hanya akan mendapati dinding tebal di setiap pintu yang kalian ketuk."
Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Victoria berbalik dan melangkah pergi bersama pengawalnya, menyisakan gema ketukan sepatu hak tingginya di sepanjang koridor kaca.
Gemma mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Wanita itu benar-benar menyebalkan! Dia pikir dia bisa mengatur segalanya hanya karena uang keluarganya?!"
Rory memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan kekeruhan di dadanya. Ketika ia membuka mata kembali, kejernihan dan keteguhan pikirannya telah sepenuhnya kembali.
"Dia tidak sedang mengatur segalanya, Gem," kata Rory pelan namun berartikulasi tajam. "Dia hanya sedang menunjukkan ketakutannya. Mereka takut karena Julian terbukti bisa berdiri tanpa mereka."
Sore harinya, hujan telah mereda menjadi gerimis tipis yang membasahi kaca-kaca jendela flat kecil Julian di dekat stasiun.
Di dalam ruangan berukuran empat kali lima meter itu, aroma kayu tua dan kertas jurnal menyelimuti suasana. Meja kayu kecil di sudut ruangan dipenuhi oleh tumpukan buku referensi, kalkulator grafik, dan dua piring berisi roti panggang sederhana.
Julian duduk di kursi kayu, kemeja putihnya tergulung hingga siku, sibuk mengetik baris kode perhitungan kuantum pada laptopnya.
Suara ketukan lembut di pintu kayu flatnya membuat Julian menghentikan ketikannya. Ia berdiri, melangkah menuju pintu, dan membukanya.
Rory berdiri di sana. Rambut cokelatnya sedikit basah oleh gerimis malam, dan pipinya tampak kemerahan akibat udara dingin Oxford. Ia membawa tas selempangnya dan sebuah map tebal.
Mata hazel Julian seketika melunak. "Rory... kenapa tidak memberitahuku kalau mau datang? Udara di luar sangat dingin."
Julian langsung menarik Rory masuk ke dalam ruangan hangatnya, mengambil mantel basah gadis itu dan menggantungnya di dekat pintu, lalu membawanya duduk di tepi tempat tidur tunggal yang rapi.
"Aku hanya ingin melihat keadaan kondisimu," kata Rory pelan, memperhatikan sekeliling kamar sederhana Julian. Tidak ada pelayan, tidak ada kemewahan, hanya ada seorang pria cerdas yang sedang berjuang demi prinsip hidupnya.
Julian mengambil cangkir teh hangat dari dapur kecilnya dan menyerahkannya pada Rory. Tangannya yang hangat mengusap jemari Rory yang masih dingin akibat angin malam.
"Kamu sudah bertemu Victoria hari ini, bukan?" tanya Julian pelan, matanya menatap lurus ke dalam mata Rory.
Rory tertegun sejenak. "Kamu sudah tahu?"
"Leo memberitahuku sore tadi," jawab Julian dengan suara berat. Ada kilat kemarahan yang tertahan di balik matanya, namun suaranya tetap terkontrol dengan sangat baik. "Ayahku mulai menekan dewan fakultas untuk membatasi akses kita ke laboratorium instrumen utama mulai minggu depan."
Rory meletakkan cangkir tehnya di meja kecil, lalu menatap Julian dengan keteguhan penuh. "Lalu apa langkah kita, Julian? Apakah ancaman pembatasan akses itu bisa menghentikan metodologi riset kita?"
Julian menatap Rory dengan rasa kagum yang mendalam. Kebanyakan orang dalam posisi Rory mungkin akan merasa panik, cemas, atau bahkan menyuruhnya mengalah pada tekanan keluarga Radcliffe. Namun Aurora Vance selalu fokus pada solusi dan fakta objektif.
Julian tersenyum tipis, sebuah senyuman percaya diri yang mengusir seluruh keraguan di udara.
"Mereka memang bisa memblokir akses kita ke instrumen utama St. Jude’s, Rory," kata Julian, melangkah mendekati meja kerjanya dan mengambil sebuah surat resmi bersampul perak. "Tapi mereka lupa bahwa sains tidak terbatas pada satu institusi."
Rory merenungkan surat itu. "Apa itu?"
"Surat konfirmasi kerja sama dari Laboratorium Penelitian Nasional di Cambridge," jawab Julian mantap. "Aku mengajukan permohonan penggunaan instrumen mereka dua hari lalu atas nama jaringan peneliti muda independen. Dan sore ini, permohonan itu disetujui penuh."
Rory membelalakkan matanya kaget sekaligus takjub. "Cambridge? Kamu berhasil mengamankan akses ke fasilitas laboratorium nasional?!"
"Akses mereka dua kali lipat lebih presisi dibanding laboratorium St. Jude’s," jelas Julian, menyunggingkan senyum menawan. "Ayahku mungkin punya pengaruh kuat di dewan penyokong dana kampus ini, tapi dia tidak bisa mengendalikan institusi riset independen negara."
Rory tak sanggup menahan kebahagiaan dan rasa bangganya. Tanpa sadar, ia berdiri dan langsung memeluk leher Julian erat-erat.
Julian tertegun sejenak oleh tindakan hangat itu, sebelum akhirnya tertawa pelan dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rory, mengangkat tubuh gadis itu sedikit dan mendekapnya erat ke dadanya.
"Kamu luar biasa, Julian," bisik Rory di dekat telinga Julian, suaranya sarat akan kekaguman murni. "Luar biasa cerdas."
Julian menghirup aroma harum rambut Rory yang menenangkan, merasakan detak jantung gadis itu yang menyatu dengan detak jantungnya sendiri. Ia menurunkan tubuh Rory perlahan, namun tidak melepaskan lingkar tangannya di pinggang Rory.
Wajah mereka kini berjarak sangat dekat. Di bawah pendar lampu meja yang remang dan suara rintik hujan di luar jendela flat sederhana itu, Julian menatap bibir lembut Rory, lalu menatap matanya yang memancarkan kepercayaan tanpa batas.
"Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menghancurkan masa depan yang sedang kita bangun bersama, Rory," bisik Julian dengan suara rendah yang sangat dalam. "Tidak Ayahku, tidak Victoria, dan tidak siapa pun di dunia ini."
Rory menyunggingkan senyum manisnya, mengusap rahang tegas Julian dengan kehangatan jemarinya. "Aku tahu, Julian. Dan aku akan selalu berjalan di sampingmu untuk membuktikannya."
Julian menundukkan kepalanya perlahan, menempelkan bibirnya di atas bibir Rory dengan sentuhan yang sangat lembut, hangat, dan penuh pengakuan cinta yang jujur. Rory memejamkan matanya, membalas kehangatan itu dengan ketulusan hati yang sepenuhnya pasrah pada perasaan yang kian mendalam.
Dinding tebal yang coba dibangun oleh keluarga Radcliffe tidak berhasil mengurung mereka. Justru di balik tekanan itu, ikatan antara Aurora Vance dan Julian Radcliffe makin tak tergoyahkan siap membawa mereka melangkah menuju panggung kemenangan yang sesungguhnya.