NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 PERBATASAN DAN DARAH YANG TAK DAPAT DISANGKAL

Lin Mo melangkah keluar dari hutan Kelabu dengan sebilah pedang emas yang tergantung tenang di pinggang kirinya. Cahaya keemasan yang samar namun murni memancar dari tubuh pedang itu seakan bernapas seirama dengan detak jantung dan aliran energi qi di dalam tubuh Lin Mo. Setiap kali ia melangkah, ujung gagang pedang yang berukir naga melilit permata ungu berkilauan lembut seakan menyambut tuannya yang telah kembali. Di sampingnya, Chen Yu berjalan menunduk takjub sesekali melirik ke arah pedang yang kini menjadi milik saudaranya itu. Ia merasakan betapa dalam dan mulianya aura yang memancar dari benda pusaka itu. Aura yang tak kasat mata namun mampu menekan dada siapa pun yang berdiri di dekatnya seakan dihadang oleh gunung yang tak tergoyahkan.

"Pedang itu... bukan pedang biasa..." Chen Yu berbicara perlahan dengan suara yang penuh kekaguman sekaligus rasa hormat yang mendalam. Matanya menatap permata ungu di gagang pedang itu yang berdenyut lembut seakan menyala hidup. "Konon di dalam catatan kuno sekteku... terdapat sebilah pedang yang diciptakan dari emas langit dan ditempa bersama darah naga yang suci... Pedang itu bernama Naga Surgawi... Ia hanya akan muncul di tangan orang yang memiliki darah keturunan paling murni... dan hati yang lurus tanpa niat jahat sedikit pun... Jika benar pedang itu yang kau bawa... maka namamu akan segera mengguncang seluruh benua..."

Lin Mo berhenti melangkah sejenak. Ia menatap pedang di pinggangnya yang memancarkan kehangatan seakan menyambut namanya itu. Ia perlahan mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh gagang pedang yang halus dan hangat itu. Saat jari-jemarinya menyentuh permukaan yang berukir indah itu, seketika itu juga aliran energi qi di dalam tubuhnya bergetar hebat seakan menyambut kerabat yang lama tak bertemu. Energi qi berwarna ungu keemasan mengalir deras dari telapak tangannya masuk ke dalam pedang itu. Dan seketika itu pula, pedang Naga Surgawi itu bergetar pelan dan mengeluarkan suara dengungan halus namun jernih yang terdengar bagaikan naga yang mengaum pelan penuh kebahagiaan.

"Dia mengenalku..." Lin Mo berbicara perlahan dengan suara yang lembut namun penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. Ia menatap Chen Yu dan tersenyum samar. "Entah karena darah yang mengalir di nadiku... atau karena takdir yang telah tertulis sejak ribuan tahun silam... Namun aku merasa seakan pedang ini adalah bagian dari diriku sendiri... Seakan ia telah menungguku terlahir kembali... agar bersama-sama meluruskan segala yang bengkok dan menegakkan keadilan yang telah lama tertindas..."

Chen Yu mengangguk perlahan dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru. Ia merasa beruntung luar biasa karena dewa telah memberinya kesempatan untuk berdiri di samping pria yang kelak akan menjadi orang terbesar di seluruh benua. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan membungkuk hormat dalam-dalam kepada Lin Mo.

"Kakak Lin Mo... Sejak hari ini... Aku tak akan pernah meninggalkanmu... Ke mana pun kau pergi... Aku akan ikut... Dan apa pun yang terjadi... Aku bersedia menumpahkan darahku hingga tetes terakhir... Demi kebenaran yang kau perjuangkan..."

Lin Mo tersenyum lembut dan menepuk bahu Chen Yu dengan penuh kasih sayang dan kepercayaan. Cahaya ungu keemasan yang hangat meluncur perlahan dari telapak tangannya menyentuh dada Chen Yu. Energi qi murni yang mengalir masuk ke dalam tubuh Chen Yu seketika menyembuhkan sisa-sisa luka dalam yang belum sempat pulih sepenuhnya sekaligus memperkuat fondasi energi di dalam tubuhnya hingga bertambah kokoh berkali-kali lipat.

"Kita adalah saudara... Saudara sehidup semati... Tak perlu mengucapkan kata-kata yang memisahkan kita... Kehidupan dan kematian bukanlah milik kita untuk dipersembahkan kepada siapa pun... Kita hidup bersama... dan jika memang harus jatuh... kita pun akan jatuh berdampingan... Mari kita berjalan... Karena perjalanan yang tersisa masih sangat jauh... dan bahaya yang menanti di depan jauh lebih dahsyat dari apa pun yang pernah kita hadapi..."

Mereka berdua pun kembali melangkah berdampingan menembus hutan Kelabu yang kini telah sepenuhnya kehilangan aura gelap dan suramnya. Cahaya matahari pagi yang cerah menembus rimbunan dedaunan menciptakan bercak-bercak cahaya keemasan di tanah yang kini kembali hijau dan penuh kehidupan. Kabut abu-abu yang menyelimuti hutan selama ribuan tahun itu telah lenyap tak berbekas. Dan sejak hari itu, penduduk desa di kaki gunung mulai bercerita bahwa hutan Kelabu yang menakutkan itu telah kembali menjadi hutan yang penuh berkah dan kedamaian.

Beberapa hari kemudian, mereka berdua tiba di perbatasan wilayah kekuasaan Kekaisaran Langit. Di sini, udara terasa berat dan penuh ketegangan. Jalan raya yang dulu ramai dilalui pedagang dan pelancong kini tampak sepi dan dijaga ketat oleh pasukan bersenjata lengkap yang berpakaian seragam hitam berhias benang emas. Di gerbang perbatasan yang menjulang tinggi dan kokoh itu, terpasang lambang kekaisaran yang berupa naga terbang memegang permata di cakarnya. Namun warna lambang itu yang dulunya keemasan kini tampak kusam dan bernuansa gelap seakan mencerminkan hati penguasa yang duduk di atas takhta itu.

Lin Mo berhenti melangkah di kejauhan dan menatap gerbang perbatasan yang dijaga ketat itu. Energi qi di dalam dadanya berdenyut lembut namun semakin cepat seakan memberitahunya bahwa di balik gerbang itulah letak musuh yang sesungguhnya. Di balik gerbang itulah tempat ayahnya dipenjara dan ibunya tewas dibunuh secara keji. Di balik gerbang itulah tempat orang-orang yang merampas hak kelahirannya duduk bersenang-senang di atas penderitaan rakyat yang tertindas.

Chen Yu berdiri di samping Lin Mo dan berbisik pelan sambil menatap pasukan yang berbaris rapi di gerbang itu dengan wajah yang penuh kecemasan.

"Penjagaan di sini jauh lebih ketat dari biasanya... Lihatlah lambang di gerbang itu... Warnanya telah berubah gelap... Konon sejak penguasa jahat itu mengambil alih kekuasaan... lambang kekaisaran perlahan berubah menjadi gelap... seakan menolak dipegang oleh tangan yang tidak suci..."

Lin Mo mengangguk perlahan. Ia terus menatap gerbang besar itu dengan pandangan yang tenang namun begitu dalam seakan mampu menembus tembok tebal dan melihat apa yang tersembunyi di baliknya. Cahaya ungu keemasan samar berkilauan di sepasang matanya yang menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun berkedip atau tampak takut.

"Mereka menutup pintu... namun mereka tak mampu menutup jalan takdir... Apa yang menjadi milikku... tak akan pernah hilang... meskipun ribuan pasukan berdiri menghadang... dan tembok setebal gunung dibangun untuk menghalangi..."

Lin Mo melangkah maju perlahan menuju gerbang perbatasan itu. Chen Yu mengikuti di belakangnya dengan tangan yang mencengkeram gagang pedang erat-erat siap bertarung kapan pun diperlukan. Begitu mereka mendekat, dua puluh pasukan bersenjata lengkap segera melangkah keluar menghadang jalan sambil menodongkan tombak tajam ke arah dada mereka berdua. Seorang perwira yang tampak berbadan besar dan berwajah kejam melangkah maju sambil melirik mereka berdua dari atas hingga ke bawah dengan pandangan yang penuh penghinaan dan kesombongan.

"Berhenti! Siapa kalian? Tidak tahu peraturan baru? Perbatasan telah ditutup atas perintah Penguasa Agung! Tidak ada siapa pun yang boleh masuk atau keluar! Mundurlah sebelum aku kehilangan kesabaran!"

Perwira itu berteriak keras dengan suara yang kasar dan menusuk telinga. Lin Mo berdiri diam di ujung mata tombak yang berkilauan tajam tepat di depan dadanya. Ia tidak mundur selangkah pun. Ia menatap perwira itu dengan pandangan yang tenang namun begitu tajam dan begitu berat hingga membuat perwira itu secara tak sadar mundur selangkah. Lin Mo berbicara dengan suara yang rendah namun terdengar jelas oleh setiap orang yang berdiri di sana seakan berbicara tepat di telinga mereka.

"Aku pulang... ke tanah kelahiranku... Tak ada siapa pun yang berhak melarangku melangkah di tanah ini... Menyingkirlah... dan sampaikan kepada tuan kalian... Bahwa Lin Mo... Putra Mahkota yang masih hidup... telah kembali..."

Seketika itu juga keheningan menyelimuti seluruh gerbang perbatasan. Angin seakan berhenti bertiup. Pasukan-pasukan yang memegang senjata tajam itu terpaku diam di tempat. Mata mereka membelalak menatap pemuda yang berdiri tegak di hadapan mereka dengan wajah yang tenang namun memancarkan wibawa yang begitu agung dan begitu menekan hingga napas mereka terasa sesak berat. Nama yang baru saja diucapkan pemuda itu bagaikan guntur yang menggelegar membelah langit siang yang terang benderang. Lin Mo. Putra Mahkota yang seharusnya telah tewas bersamaan dengan Ibu Suri bertahun-tahun silam. Namun nama itu kini terucap dengan lantang dan tegas dari mulut pemuda yang berdiri di hadapan mereka.

Perwira yang tadi berteriak kasar itu kini wajahnya pucat pasi seakan melihat hantu yang bangkit dari kuburnya. Tubuhnya gemetar hebat dan tombak yang dipegangnya terlepas dari genggaman jatuh berdentang keras menghantam batu jalan yang berbatu. Ia mundur terhuyung-huyung beberapa langkah sambil menatap Lin Mo dengan mata yang melotot penuh ketakutan yang tak terlukiskan.

"Tidak mungkin... Kau sudah mati... Kau dan Ibu Suri sudah tewas bertahun-tahun silam... Siapa kau sebenarnya... Berani-beraninya kau menyamar sebagai Putra Mahkota..."

Lin Mo melangkah maju selangkah. Cahaya ungu keemasan yang samar namun kokoh perlahan bersinar dari tubuhnya menyapu ke arah perwira itu. Sepasang matanya menatap perwira itu lurus ke dalam jiwa dengan pandangan yang begitu tajam dan begitu berwibawa seakan menatap seorang hamba yang bersalah kepada tuannya sendiri. Suaranya rendah namun bergema di seluruh dada setiap orang yang mendengarnya.

"Aku tidak perlu menyamar... Darah yang mengalir di dalam nadiku adalah bukti yang tak dapat disangkal... Cahaya yang memancar dari tubuhku adalah tanda yang tak dapat dipalsukan... Katakan padaku... Apakah wajahku ini... tidak menyerupai wajah Kaisar Agung yang dulu memerintah dengan adil dan bijaksana... sebelum dikhianati oleh orang-orang kejam yang duduk di atas takhta itu saat ini..."

Saat Lin Mo melangkah maju dan menampakkan wajahnya sepenuhnya di bawah sinar matahari yang terang benderang, seketika itu juga terdengar suara tarikan napas yang serentak dari seluruh pasukan di gerbang itu. Wajah pemuda itu persis sekali menyerupai potret Kaisar Agung yang dulu digantung di setiap istana dan kantor pemerintahan di seluruh kekaisaran. Garis wajah yang tegas namun lembut, mata yang bersinar ungu keemasan yang menjadi ciri khas keluarga kerajaan, dan wibawa yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Semua itu membuktikan bahwa pemuda yang berdiri di hadapan mereka ini adalah Putra Mahkota yang sebenarnya. Yang selama ini dikabarkan telah tewas bersama Ibu Suri.

Perwira itu jatuh berlutut di tanah dengan lutut yang bergetar hebat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya dan pakaian seragamnya basah kuyup seakan baru saja terjatuh ke dalam air. Ia menatap Lin Mo dengan pandangan yang penuh ketakutan sekaligus rasa hormat yang tak mampu ia tahan lagi.

"Ampuni hamba... Yang Mulia... Hamba tidak tahu... Hamba sungguh tidak tahu... Jangan bunuh hamba..."

Lin Mo menatap perwira yang berlutut itu dengan pandangan yang lembut namun tetap teguh. Ia tidak membenci prajurit-prajurit ini. Mereka hanyalah orang-orang yang diperintah dan tidak mengetahui kebenaran. Lin Mo melambaikan tangan kanannya perlahan memberi isyarat agar perwira itu bangkit berdiri. Cahaya ungu keemasan yang hangat meluncur lembut dari telapak tangannya menyentuh bahu perwira itu.

"Berdirilah... Aku tidak datang untuk menghukum hamba yang tidak bersalah... Aku datang untuk mengambil kembali apa yang dirampas secara keji... Buka gerbang ini... Izinkan aku masuk ke tanah kelahiranku..."

Perwira itu mengangkat wajahnya yang penuh air mata dan menatap Lin Mo dengan pandangan yang penuh harap namun juga penuh ketakutan. Ia menggeleng lemah dan berkata dengan suara yang terisak takut.

"Hamba tidak berani... Yang Mulia... Jika hamba membuka gerbang... Tuan penguasa pasti akan membunuh seluruh keluargaku... Hamba mohon... Pergilah... Selamatkanlah nyawa Anda... Kekuatan musuh terlalu besar... Anda belum siap..."

Lin Mo menghela napas panjang. Ia memahami ketakutan yang mendalam di hati perwira itu. Musuh yang berkuasa saat ini memang kejam dan tak segan-segan membunuh siapa pun yang menentangnya bahkan keluarga sekalipun. Lin Mo menatap perwira itu dan berkata dengan suara yang tegas namun penuh kebijaksanaan.

"Aku tidak akan memaksamu... Namun ketahuilah... Gerbang batu ini dapat kau tutup... Namun kau tak akan pernah mampu menutup jalan takdir... Aku akan masuk... bahkan jika kau tidak membukanya... Dan sampaikanlah pesanku kepada tuanmu... Katakan padanya... Lin Mo telah kembali... dan takhta yang ia duduki bukanlah miliknya... Katakan padanya... bersiaplah... karena aku akan datang menuntut pertanggungjawaban atas segala dosa yang telah ia perbuat..."

Lin Mo berbalik perlahan dan melangkah menjauh dari gerbang perbatasan yang tetap tertutup rapat itu. Chen Yu segera mengikuti di belakangnya. Cahaya ungu keemasan yang samar namun kokoh menyelimuti tubuh Lin Mo seakan membentuk jalan cahaya di hadapannya. Para prajurit yang berdiri di gerbang itu hanya mampu menatap dalam diam dengan rasa takut dan harapan yang bercampur aduk di dalam hati mereka. Mereka tahu bahwa hari-hari gelap yang menindas mereka selama bertahun-tahun itu perlahan akan segera berakhir. Karena sang Putra Mahkota yang berhati lembut namun penuh kekuatan telah kembali. Dan tak ada gerbang atau tembok apa pun yang mampu menahannya untuk kembali pulang.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!