DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: PERMAINAN DI ATAS PETA
Pagi itu, Junaedi memanggil David ke ruang kerjanya, menyodorkan satu berkas tebal di atas meja, "Ini tugas pertama lo. Proyek mal di Bekasi, nilainya dua ratus tujuh puluh satu miliar. Kalo lo bisa pegang proyek ini dengan baik, baru gue percaya lo emang pantas jadi penerus."
David membuka berkas itu, matanya menyusuri angka-angka besar yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan akan jadi tanggung jawabnya, "Siap, Pa. Saya pegang."
Hari itu juga, dia berangkat ke Bekasi, dengan Rambo yang menyetir mobil dan Anto duduk di kursi belakang sambil membawa laptop, sudah siap memantau segala kemungkinan kejanggalan dari balik layar.
***
Sementara itu, di lantai eksekutif yang ditinggalkan David, Reza sudah bergerak lebih cepat dari yang siapa pun kira. Lewat koneksi lama keluarganya di dunia konstruksi, dia mengatur enam posisi kunci di proyek itu, semuanya diisi orang-orang yang sudah dia bayar diam-diam.
Project Manager, pimpinan proyek yang akan jadi otak pengelolaan harian. Site Manager, kepala lapangan yang mengatur jalannya pekerjaan langsung di lokasi. Site Engineer, yang memegang seluruh urusan teknis dan perhitungan struktur. Logistik dan Material Control, yang mengatur keluar masuknya bahan bangunan. Supervisor, yang mengawasi setiap detail pekerjaan harian. Dan Mandor, yang memimpin langsung para tukang di lapangan.
Semua posisi itu sekarang diisi orang-orang pilihan Reza, ditempatkan dengan rapi seolah hasil rekrutmen resmi perusahaan, padahal di baliknya tersembunyi satu tujuan, membuat sabotase proyek ini jadi mudah dilakukan tanpa terlihat seperti sabotase sama sekali.
"Ini baru permainan," Reza berkata sambil menyandarkan badan ke kursi kerjanya, senyum puas terpasang di wajah.
Albert, yang berdiri di sampingnya, bertanya ragu, "Apa ini akan berhasil, Kak?"
"PLAK!" Reza memukul kepala adiknya tanpa ampun, "Tolol. Mereka semua tim terbaik yang gue bayar mahal, bukan orang bodoh kayak lo. Kita lihat aja permainan ini berjalan."
***
Sampai di Bekasi, David disambut sebuah kantor mini yang sudah dibangun di tepi lahan proyek, dindingnya masih berbau cat baru, dan di dalamnya sudah menunggu enam orang yang akan jadi tim utamanya, lengkap dengan seragam proyek dan helm keselamatan yang rapi terpasang.
Rapat pertama berjalan dengan sangat meyakinkan. Project Manager memaparkan rencana kerja dengan istilah-istilah teknis yang terdengar profesional, Site Engineer menunjukkan gambar struktur dengan detail yang rapi, dan Mandor menjelaskan jadwal kerja tukang dengan nada yang penuh dedikasi.
David, Rambo, dan Anto, yang belum mencurigai apa-apa sama sekali, menyaksikan semua presentasi itu dengan kepercayaan penuh, terkesan dengan keprofesionalan tim yang sebenarnya sedang memainkan peran dengan sangat sempurna, hasil arahan ketat dari Reza yang sudah memastikan setiap orang ini terlatih untuk tampil tanpa cela di depan David.
"Bagus. Saya percaya sama tim ini," David berkata di akhir rapat, menyalami satu per satu dengan senyum yang tulus, tidak menyadari sedikit pun bahwa di balik senyum ramah para pegawai itu, tersimpan instruksi rahasia untuk menghancurkan proyek ini perlahan-lahan dari dalam.
Begitu rapat selesai, David, Rambo, dan Anto kembali ke mobil, melaju pulang ke Jakarta dengan perasaan optimis, merasa proyek besar pertamanya akan berjalan mulus.
***
Begitu mobil David benar-benar menghilang dari area proyek, Project Manager yang baru saja tampil meyakinkan itu langsung mengeluarkan ponselnya, mengonfirmasi ke Reza lewat pesan singkat, "Sudah selesai, Pak. David percaya penuh."
Reza membalas singkat, lalu langsung membuka aplikasi perbankannya, mentransfer lima puluh juta rupiah yang dibagi rata ke enam rekening berbeda.
"Ini buat ngopi-ngopi dulu," dia menulis di catatan transfer, senyumnya makin lebar, "kerjain tugas kalian dengan sangat sempurna ya. Bonus lebih besar nanti kalau proyek ini berhasil saya yang ambil alih sepenuhnya."
Di seberang kota, jauh dari kecurigaan apa pun, David duduk santai di kursi mobil sambil menatap jalanan Bekasi yang mulai padat, sama sekali tidak menyangka bahwa proyek pertamanya yang dia kira berjalan mulus, sebenarnya sudah dirancang sejak awal untuk runtuh dari dalam, dipersiapkan dengan sangat rapi oleh tangan-tangan yang sekarang justru paling dia percaya.
*(bersambung)*