NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32 mencari jawaban

Pagi itu, suasana Ibusya flowers studio kembali dipenuhi aroma bunga segar yang baru datang dari supplier.

Wulan sudah sibuk memotong batang mawar putih di meja kerjanya. Tangannya bergerak cekatan, tetapi pikirannya masih belum benar-benar tenang.

Semalam ia kembali memikirkan ucapannya sendiri.

"Kayaknya gue mending jaga jarak dulu deh dari pada makin berharap."

Semakin diingat, semakin terasa kekanak-kanakan. "Ngapain juga gue overthinking segitunya." gumamnya pelan.

Sarah baru saja keluar dari ruang kerja sambil membawa daftar pesanan."ngomong apa lan"

wulan langsung menoleh "Hah? Nggak, Kak."

Sarah tersenyum kecil. "Kalau lagi capek bilang aja."

"Iya, Kak."

Belum sempat percakapan berlanjut, bel pintu berbunyi.

"Ting..."

Refleks, Wulan ikut menoleh.

Saka.

Pria itu datang seperti biasa dengan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu dan map hitam di tangannya. "Selamat pagi."

"Pagi, Kak Saka." Kali ini Wulan berusaha tersenyum lebih dulu.

Meski begitu, setelah menyapa ia kembali sibuk menyusun bunga.

Saka membalas senyum tipis.

Namun, tatapannya sempat mengikuti langkah Wulan beberapa detik sebelum akhirnya beralih kepada Sarah.

"Pagi, Sarah."

"Pagi, Mas. Ada revisi lagi?"

"Ada sedikit."

Mereka mulai membahas perubahan susunan dekorasi.

Sesekali Sarah meminta pendapat Wulan. "Lan, kalau rangkaian bunga di pintu masuk kita ubah sedikit, menurut kamu lebih bagus pakai mawar putih atau lisianthus?"

Wulan mendekat. "Kalau konsepnya tetap elegan, mawar putih masih paling cocok, Kak."

Saka mengangguk pelan.

"Saya juga berpikir begitu."

Wulan hanya mengangguk kecil, lalu kembali ke meja kerjanya, Lagi.

Saka memperhatikannya dalam diam Setiap kali pembicaraan selesai...

Wulan selalu mencari alasan untuk menjauh.

Entah mengambil pita.

Entah merapikan bunga.

Entah mengecek stok vas.

Semua terlihat wajar.

Namun kalau diperhatikan terlalu sering untuk disebut kebetulan.

Menjelang siang rapat saka dan sarah selesai saka keluar dari ruangan meeting lalu menghampiri wulan diarea depan toko

Suasananya mendadak hening Saka memandang beberapa rangkaian bunga yang sedang dikerjakan Wulan.

"Rapi."

Wulan menghentikan tangannya.

" Hah"

"Rangkaiannya."

"Oh makasihh" Wulan tersenyum kecil.

Hening lagi.

Wulan kembali memotong batang bunga Sementara Saka masih berdiri di dekat meja konsultasi.

Beberapa detik berlalu Akhirnya Saka membuka suara."Wulan."

"Iya, Kak?"

"Saya boleh tanya sesuatu?"

Jantung Wulan langsung berdegup sedikit lebih cepat." boleh Soal apa ya?"

"Soal kamu."

Wulan menggenggam gunting bunga pelan. " aku? "

"Saya ngerasa...

"

Saka berhenti sejenak, memilih kata-kata yang tepat. "akhir-akhir ini kamu sengaja menghindari saya."

Wulan langsung terdiam Bukan karena marah Melainkan karena tebakan Saka benar.

Melihat Wulan tidak menjawab, Saka kembali berbicara dengan nada tetap tenang. "Kalau memang saya melakukan kesalahan tolong bilang, saya lebih memilih tahu daripada terus menebak-nebak."

Kalimat itu membuat hati Wulan semakin tidak enak Ia ingin menjelaskan Ingin bilang kalau semua ini bukan salah Saka.

Tapi, bagaimana mungkin ia mengaku hanya karena melihat satu nama di layar ponsel?

Memalukan, Sangat memalukan.

"Aku..." Belum sempat Wulan melanjutkan,

"Pagiii!" Suara ceria itu membuat keduanya menoleh bersamaan Nara datang bersama Rafi.

" untung ada kak nara sama kak rrafi lega banget nih hati" batin wulan lega.

" kalian belum makan siang kann? aku bawa inii." Nara tersenyum lebar sambil menunjukkan sebuah kantong kertas berisi roti.

Rafi ikut mengangguk. "Nara maksa banget pengin nyobain roti yang kemarin direkomendasiin Wulan."

"Iya dong!" Nara tertawa. "Katanya enak banget. Masa aku nggak penasaran?"

Wulan langsung menyambut mereka dengan senyum lega. " Aku jamin enak kak"

Sarah yang baru keluar dari ruang meeting ikut menghampiri mereka.

"Wah, lengkap banget."

"Pas banget, Kak Sarah." Nara mengangkat kantong kertas itu lagi. "Sekalian kita makan siang bareng."

"Boleh. Kebetulan kerjaan pagi juga udah selesai."

Tak lama kemudian mereka berkumpul di area konsultasi toko. Kotak-kotak roti dibuka, minuman diletakkan di atas meja, dan suasana yang sempat canggung perlahan berubah hangat.

Obrolan mereka mengalir ke mana-mana.

Mulai dari dekorasi pernikahan yang sedang dikerjakan, pelanggan-pelanggan unik, sampai Rafi yang lagi-lagi menjadi sasaran candaan.

"Fyang" Nara menatap Rafi dengan wajah serius.

"apa?"

"jujur Kamu kalau pilih roti pasti yang tampilannya paling cantik dulu, kan?"

Rafi langsung menggeleng.

"Itu fitnah."

Sarah terkekeh. "Wajah mu loh fii udah ngaku."

Semua langsung tertawa Wulan pun ikut tertawa lepas. Tawa yang sejak beberapa hari terakhir jarang terdengar.

Saka yang duduk tak jauh dari mereka memperhatikan tanpa sadar.

Sejak Nara dan Rafi datang Wulan kembali menjadi dirinya yang biasa.

Banyak tersenyum, Mudah tertawa, Sesekali membalas candaan.

Sangat berbeda dengan sikapnya saat hanya berdua dengannya beberapa menit yang lalu.

Pandangan Saka tanpa sadar kembali tertuju pada Wulan.

"Berarti memang cuma ke saya."

Bukan membuatnya kesal Justru membuat rasa penasarannya semakin besar.

Di sisi lain, Wulan terus berusaha menghindari tatapan Saka.

Setiap kali mata mereka hampir bertemu, ia buru-buru mengalihkan pandangan sambil pura-pura sibuk mengambil minuman atau merapikan bungkus roti di atas meja.

"Nih, Lan." Suara Nara membuyarkan lamunannya.

"Coba yang ini. Enak banget."

Wulan tersenyum. "Makasih."

Saat hendak mengambil roti, tanpa sengaja lengannya menyenggol gelas minuman di dekatnya.

"Eh!"

Gelas itu oleng ke samping.

Belum sempat jatuh, sebuah tangan lebih dulu menangkapnya.

Saka, Pria itu menahan gelas tersebut dengan sigap hingga minumannya hanya bergoyang pelan. "Nggak apa-apa?"

Wulan langsung membeku beberapa detik. "I-iya... makasih, Kak."

Saka mengangguk kecil lalu meletakkan kembali gelas itu ke posisi semula."Hati-hati."

"Iya" Pipi Wulan terasa sedikit memanas.

"Ya ampun kenapa sih wulan ceroboh bangetttt  bikin malu aja"

batinnya

Untung saja tidak tumpah Kalau sampai mengenai bunga-bunga yang sedang dirangkai, pasti bakal merepotkan semuanya.

Melihat ekspresi Wulan yang mendadak salah tingkah, Nara langsung menyenggol lengannya.

"Lan."

"Hm?"

"Kamu kok dari tadi suka ngelamun?"

Wulan langsung menggeleng cepat.

" masa sih kak aku kok ngga ngerasa gitu ya"

"Yakin?"

"Iya."

Nara menyipitkan mata penuh curiga. "Perasaan dari tadi jawabannya 'iya' mulu."

Rafi ikut tertawa."Kayaknya pikirannya lagi jalan-jalan."

"Iya nih." Nara mengangguk sok serius. "Jangan-jangan lagi mikirin..."

Belum sempat kalimat itu selesai, Wulan buru-buru mengambil sepotong roti lalu menyodorkannya ke depan mulut Nara. "Nih kak! Makan aja!"

"Mmff!"

Semua langsung tertawa melihat wajah Nara yang protes sambil mengunyah."Ih! Mulutku dibungkam pakai roti!"

"Soalnya kakak kebanyakan ngomong."

"Tuh kan! Bener berarti!"

Gelak tawa kembali memenuhi Ibusya Flower Studio.

Bahkan Sarah sampai menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah mereka.

Di tengah suasana ramai itu, Saka kembali melirik Wulan Hari ini ia memang belum mendapatkan jawaban.

Percakapan mereka terhenti begitu saja Namun entah kenapa, ia tidak ingin memaksa.

Jam operasional Ibusya Flower Studio akhirnya usai.

Wulan sedang sibuk merapikan celemek kerjanya sebelum mengambil tas yang tergantung di dekat meja kasir.

Tak lama kemudian, Siwi masuk ke dalam toko sambil memainkan kunci motor di jarinya.

"Ayo, Bes. Pulang."

"Iya, bentar."

Wulan mengecek ulang kondisi toko seperti biasanya. Ia memastikan rangkaian bunga yang harus disimpan sudah masuk ke ruang pendingin, lampu-lampu yang tidak diperlukan sudah dimatikan, lalu mengunci pintu utama toko.

"Oke, beres."

Mereka berdua pun berjalan menuju area parkir.

Siwi sudah bersiap menaiki motornya ketika tiba-tiba suara klakson mobil terdengar pelan.

"Tin."

Keduanya refleks menoleh.

Sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari mereka.

Pintu pengemudi terbuka.

Saka keluar dari mobilnya sambil melangkah menghampiri mereka.

"Wulan."

Wulan dan Siwi sama-sama menghentikan langkah.

"Iya, Kak?"

Saka berdiri di depan mereka dengan ekspresi setenang biasanya.

"Mau pulang?"

Wulan mengangguk kecil."Iya."

"Saya antar."

Kalimat itu membuat Wulan sedikit terkejut. "Hah? Nggak usah, Kak. Aku pulang sama Siwi kok."

Saka melirik Siwi sekilas, lalu kembali menatap Wulan. "Nggak apa-apa."

"Beneran nggak usah. Kasihan Siwi nanti pulang sendirian."

Siwi yang mendengar namanya langsung mengangguk cepat.

"Iya, Kak. Gue juga udah biasa nganterin dia."

Saka terdiam beberapa saat, lalu mengangguk pelan. "Sebentar."

Ia menoleh ke arah Siwi. "Siwi, boleh bicara sebentar?"

"Hah? gue bang?"

"Iya."

Siwi menatap Wulan bingung.

Wulan hanya mengangkat bahu. "Nggak tahu tuh."

Dengan langkah ragu, Siwi menghampiri Saka beberapa meter dari tempat Wulan berdiri.

"Ada apa, Kak?"

"Saya mau minta tolong."

"Tolong apa?"

"Saya ingin mengantar Wulan pulang."

Siwi menggaruk tengkuknya.

"Tapi dia udah nolak..."

Saka mengeluarkan dompetnya, lalu menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan Siwi."Anggap saja buat bensin... sama traktir kamu makan."

Mata Siwi langsung membulat.

"Kak... ini kebanyakan."

"Nggak apa-apa."

Siwi menatap uang itu beberapa detik, Lalu menatap wajah Saka.

Kemudian kembali melihat uang di tangannya Di dalam kepalanya langsung terjadi perang batin.

" maafin gue ya, bess tapi ada rezeki nomplok ga mungkin dong gue tolak"

Akhirnya... "Oke, Kak."

"Terima kasih."

"Sama-sama." Siwi berjalan kembali menghampiri Wulan dengan wajah yang terlalu santai.

"Lan sorry ya gue ada urusan mendadak"

Wulan mengernyit. "boongkan lu?"

" beneran ih ini temen kantor ada yang urgent"

"Lah? mendadak banget"

"Iya orangnya baru aja hubungi gue "

"Siwi loo boong kan."

"Nggak kok suer dah" Siwi menunjuk ke arah mobil Saka.

"Lo pulang sama Kak Saka aja deh."

Wulan langsung melotot.

"Hah wii pliss?!"

Belum sempat Wulan protes lebih panjang, Siwi sudah buru-buru memakai helm. " udah ya gue buru babay, Bes!"

"SIWI!"

Motor itu melaju meninggalkan halaman toko.

Wulan hanya bisa melongo sambil memandangi sahabatnya yang semakin menjauh. "Dasar... pengkhianat."

Dari balik helmnya, Siwi masih sempat mengangkat satu tangan memberi lambaian.

Sementara itu, di belakang Wulan, terdengar suara Saka yang pelan.

"Kalau sudah selesai marahnya ayo? "

Wulan menoleh Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat Wulan kehabisan alasan untuk menolak.

Ia mengembuskan napas pelan lalu wulan masuk kemobil saka "Iya, Kak."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!