NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Kereta kekaisaran melaju dengan stabil di atas jalan raya utama berbatu yang membentang luas, menghubungkan wilayah perbatasan selatan yang terpencil dengan pusat kemegahan Kekaisaran Shenghuang. Langit di atas kepala tampak cerah tanpa awan, namun embusan angin siang itu terasa kering, membawa debu-debu tanah yang beterbangan dan menempel di dinding kereta yang berwarna emas kusam. Di dalam ruang yang sempit dan tertutup itu, Lin Chen duduk diam di atas kursi empuk yang dilapisi kain beludru tua. Kedua matanya setengah terpejam dengan napas yang teratur dan terukur, berakting seolah-olah dirinya sedang beristirahat karena kelelahan akibat perjalanan jauh yang melelahkan tubuh yang dianggap lemah oleh semua orang.

Di luar kereta, di bawah terik matahari yang menyengat, Xue Feng dan Lei Ming menunggangi kuda spiritual mereka di sisi kanan dan kiri iring-iringan. Mantel kekaisaran yang berkibar di punggung mereka tampak gagah, meskipun sesekali dibasahi oleh keringat akibat panas yang menyengat. Di sela-sela perjalanan yang panjang itu, mereka sesekali berbincang ringan dengan nada yang terdengar malas, membahas perubahan cuaca yang semakin gersang belakangan ini, serta rute perjalanan yang harus mereka tempuh untuk memotong waktu tiba di ibu kota. Tidak ada pembicaraan yang benar-benar berarti atau mendalam di antara mereka. Bagi kedua utusan kekaisaran yang berpengalaman itu, sosok yang berada di dalam kereta tidak lebih dari sekadar manusia fana biasa yang lemah—seorang pangeran yang sejak lahir dianggap cacat dan tidak memiliki basis kultivasi sedikit pun, yang sedang mereka antar pulang demi memenuhi tugas politik yang rumit di lingkungan istana.

Perjalanan yang terasa monoton dan membosankan itu kini telah memasuki hari ketiga. Rombongan kecil tersebut telah melewati beberapa desa kecil yang tampak sepi penduduknya, serta kawasan hutan lebat yang udaranya masih terasa lembap dan sejuk. Selama tiga hari ini, Lin Chen bertingkah sangat pasif dan tidak banyak bicara, persis seperti citra yang telah ia bangun sejak lama. Ia hanya akan membuka suara ketika ditanya secara langsung oleh kedua utusan itu, mempertahankan sikapnya yang tetap rendah hati, sedikit tampak penakut, dan sangat sopan layaknya seorang pelayan biasa yang tahu diri akan posisinya di hadapan orang yang lebih berkuasa.

Pada sore hari yang menandakan berakhirnya hari ketiga perjalanan, saat sang surya mulai condong perlahan ke arah barat dan memancarkan cahaya oranye kemerahan yang mulai meredup, rombongan akhirnya memasuki sebuah jalur yang jauh lebih sempit. Jalan ini terjepit rapat di antara tebing-tebing batu hitam yang menjulang tinggi dan curam di kedua sisinya, seolah menjadi sebuah celah raksasa yang membelah pegunungan. Jalur ini merupakan jalan pintas tak resmi yang biasa digunakan oleh rombongan resmi kekaisaran untuk menghemat waktu tempuh, namun hanya sedikit orang yang menyukainya karena suasananya yang selalu terasa suram dan sunyi. Namun, begitu roda kereta melintasi batas bayangan tebing yang dalam itu, atmosfer di sekitar seketika berubah drastis. Udara yang tadinya hanya terasa panas dan kering kini berubah menjadi mencekam dan dingin, dan kicauan burung yang sesekali terdengar di kejauhan mendadak senyap total seketika itu juga.

Di dalam kereta yang cahayanya berkurang drastis karena tertutup bayangan tebing, Lin Chen membuka matanya secara penuh. Tatapannya yang tadinya sayu dan lelah kini berubah tajam, namun ia tetap tidak merubah posisi duduknya sedikit pun. Dengan tenang ia mengaktifkan Mata Dewa Kekacauan secara samar dan terukur, seolah menyalakan pelita kecil yang tidak terlihat oleh siapa pun. Kemampuan mistis itu langsung memindai seluruh radius yang cukup luas di sekitar tebing batu yang curam tanpa menimbulkan riak energi atau fluktuasi Qi yang sedikit pun, sehingga tidak akan bisa dideteksi oleh indra eksternal kultivator manapun di tempat ini.

‘Tiga tikus bersembunyi di atas puncak tebing... mereka mulai bergerak turun,’ batin Lin Chen dengan nada yang sangat dingin dan tenang, tanpa sedikit pun rasa terkejut.

Belum sempat Xue Feng dan Lei Ming menyadari adanya perubahan halus di udara, tiba-tiba tiga sosok berpakaian serba hitam pekat melompat turun dengan kecepatan luar biasa dari ketinggian tebing tepat di depan jalannya kereta. Begitu mendarat dengan hentakan yang membuat tanah bergetar, mereka langsung melepaskan aura pembunuh yang sangat pekat, padat, dan masif ke segala arah. Tekanan energi mereka bergejolak hebat menekan sekeliling, dan segera terlihat bahwa masing-masing dari ketiganya ternyata memiliki kekuatan yang setara dengan ranah Nascent Soul tingkat puncak—tingkat kekuatan yang persis sama dengan yang dimiliki oleh Xue Feng maupun Lei Ming.

“Serangan musuh! Waspada!” teriak Lei Ming dengan suara menggelegar yang memecah keheningan lembah, wajahnya langsung mengeras serius saat ia dengan gerakan kilat menarik pedang besarnya dari sarung yang tersangkut di punggung.

Xue Feng bereaksi tidak kalah cepat dan sigap. Tubuhnya melesat maju dari atas punggung kuda, memecah udara sambil melepaskan tekanan Qi berwarna emas kekaisaran yang dahsyat untuk menahan gelombang tekanan jahat yang datang dari arah ketiga penyusup itu. “Lei Ming, tetap di dekat kereta! Lindungi Pangeran dengan nyawamu! Jangan biarkan mereka mendekat ke dalam!”

Pertarungan tingkat tinggi yang melibatkan kekuatan para petarung kelas atas itu meledak dalam hitungan detik. Musuh pertama, seorang pria bertopeng besi yang menutupi seluruh wajahnya dengan pola garis samar, memegang sepasang pedang pendek yang melengkung tajam. Ia langsung menerjang Xue Feng dengan kecepatan yang nyaris mustahil diikuti mata biasa, menyisakan jejak bayangan hitam di udara. Jurus-jurus pedangnya sangat tajam, kejam, dan penuh dengan niat untuk mematikan, di mana setiap tebasannya membawa embusan angin tajam yang sanggup memotong batuan tebing yang keras menjadi dua bagian dengan mudah. Xue Feng membalas serangan dahsyat itu dengan teknik pedang kekaisaran yang elegan, terukur, namun penuh dengan tenaga murni yang terkumpul. Kedua senjata mereka bertabrakan berkali-kali di udara dalam pertukaran serangan yang cepat, menghasilkan dentangan logam yang memekakkan telinga serta ledakan energi yang cukup kuat untuk mengguncang permukaan tanah di bawah mereka.

Sementara itu, musuh kedua yang merupakan seorang wanita bertubuh ramping dengan gerakan yang luwes dan mematikan, memegang senjata berupa cambuk rantai yang ujungnya dilapisi racun yang berkilau berbahaya. Ia maju menyerang Lei Ming dengan gerakan yang berputar dan berliku, membuat cambuk panjang itu berdesis riuh dan bergerak meliuk-liuk di udara persis seperti ular berbisa yang sangat sulit diprediksi arah serangannya. Lei Ming segera mengeluarkan tombak panjangnya yang gagangnya terbuat dari kayu besi yang kokoh, lalu mengayunkannya dengan gaya bertarung yang kasar, agresif, dan penuh kekuatan mentah yang luar biasa. Setiap kali mata tombaknya menghantam rantai beracun itu dengan tepat, terdengar suara benturan keras yang memantul di dinding lembah, disertai ledakan angin spiritual yang meretakkan permukaan batu di sekitar mereka.

1
Ilham Yono
terbaik
Hadi Hadi
semangat😍💪
Hadi Hadi
mantap😍😍
Ilham Yono
beuh /Determined/
Zahira Valen
Alkemia
Ilham Yono
hihihi/Facepalm/
Ilham Yono
coool🆒
Ilham Yono
kereeen thor/Angry/
Ilham Yono
terbaik Thor...bantai bantai gambatheeeee
Ilham Yono
mulai curiga kayaknya sih sudah tau pangeran 9 bukan kaleng kaleng
Ilham Yono
hem/Facepalm/
Ilham Yono
beuh berat berat ini guys
Ilham Yono
misteri/Shy/
Ilham Yono
hihi mau maen maen ma kita /Facepalm/
Ilham Yono
beuh kaga nyadr
Hadi Hadi
bantai💪
Ihya Ilmi
Terus ditunggu lanjutannya thor
Ihya Ilmi
Kata-katanya mantap poooollll
Ilham Yono
hihihi /Facepalm/
zerotwo
Tanpa ampun MC nya 👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!