Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan Buta ,Luka tersembunyi dan kebanggaan penuh kebohongan
Adrian memilih pesawat pribadinya agar bisa pulang secepat mungkin. Meski sempat ada sedikit gangguan teknis, semuanya diperbaiki segera demi keperluannya. Begitu lepas landas, pesawat melesat tanpa berhenti, menempuh perjalanan lebih dari ribuan kilometer hanya dalam dua belas jam saja. Di dalamnya lengkap dan mewah bagaikan ruang istana, tapi bagi Adrian setiap detik terasa sangat lambat. Hatinya gelisah, campur curiga dan amarah yang mulai tumbuh — dia ingin segera tiba dan melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Malam itu, suasana rumah terasa sunyi dan berat. Aku duduk termenung di depan cermin, pikiranku masih kacau mengingat kejadian menyakitkan tadi siang. Dalam hati berjanji tegas: “Mulai sekarang aku harus lebih waspada, jangan beri Elina celah sedikit pun untuk melukai kami lagi.” Tapi pertanyaan terus mengganggu: “Bagaimana hatinya bisa sekejam itu hanya karena kesalahan yang tak disengaja?”
Aku melangkah pelan ke depan kamar Fara dan memanggil lembut, tapi tak ada jawaban. Mungkin dia sudah tidur, atau tak ingin terlihat lemah. Aku kembali ke kamarku, berbaring tapi tak bisa memejamkan mata — terus membayangkan rasa sakit yang dia tanggung sendirian.
Sementara itu di balik pintu tertutup, Fara berjuang menahan perih di punggungnya. Dia membalut lukanya dengan tangan gemetar, menggigit bibir keras-keras agar tangisnya tak terdengar. Dia tak ingin menambah beban hatiku. Setelah selesai, dia duduk memandang wajahnya sendiri di cermin, lalu air matanya mengalir pelan tanpa suara — hatinya hancur, bercampur rasa takut dan malu yang dalam.
Keesokan paginya, sinar matahari pun tak terasa menghangatkan. Aku bersiap pergi ke sekolah seperti biasa, tapi gerakanku terasa berat. Melirik ke arah kamar Fara, pintunya masih tertutup rapat — hatiku terasa cemas, tapi tetap melangkah berharap semuanya membaik.
Saat istirahat, Sarah, Liora, dan Alina segera menyadari ada yang berbeda dariku: aku hanya diam, tatapanku kosong. Sarah menyentuh bahuku pelan: “Zara, ada apa? Kau terlihat sangat lelah.” Aku hanya memaksakan senyum tipis dan bilang tak apa, tapi sorot mataku tak bisa menyembunyikan kesedihan. Mereka pun mendekat dengan tulus: “Jangan pendam sendirian, kami ada di sini untukmu.” Aku hanya mengangguk pelan, berusaha menahan air mata agar tak jatuh.
Pulang sekolah, aku mampir ke rumah sakit menjenguk ayah yang masih terbaring lemah. Di samping tempat tidurnya, aku berbisik pelan: “Ayah, berikan aku kekuatan agar bisa bertahan melewati semua ini.”
Sesampainya di rumah, aku melihat Fara baru turun dari tangga — bahunya sedikit membungkuk, langkahnya masih goyah menahan sakit. Aku segera menghampiri cemas: “Kak, bagaimana lukamu sekarang?” Tapi dia hanya mengangguk singkat, menghindari pandanganku, lalu berjalan lewat begitu saja — meninggalkan jarak yang terasa dingin dan menyakitkan.
Tak lama setelah itu, suara kendaraan terdengar mendekat. Mobil hitam mewah berhenti tepat di depan pintu, dan turunlah Adrian bersama Yamal. Aku terkejut — dia seharusnya baru pulang seminggu lagi! Wajahnya tegang, tatapannya tajam penuh badai emosi yang tertahan.
“Di mana Fara?” tanyanya lantang dan dingin.
Sebelum aku sempat menjawab lebih lanjut, dia sudah berjalan cepat ke arah kamarnya. Begitu Fara keluar, tanpa ampun Adrian langsung mencengkeram lehernya hingga tubuhnya terangkat sedikit. “Berani-beraninya kau mempermalukan Bibi Elina! Jawab aku sekarang!” bentaknya dengan suara berat.
Fara terengah-engah, wajahnya pucat pasi, air mata mengalir bukan hanya karena sakit tapi juga karena hatinya hancur melihat kepercayaan yang tiba-tiba berubah jadi kecurigaan buta.
Aku berlari mendekat berusaha menarik tangannya: “Lepaskan dia! Dia tidak bersalah, percayalah padaku!” Tapi Yamal segera menghalangi lembut namun tegas: “Mohon mengerti, Nyonya. Biarkan Tuan Adrian menyelesaikannya dulu.”
Baru kemudian aku mengerti — Adrian langsung mendengar versi cerita dari Elina sepulangnya, yang disusun sedemikian rupa seolah Fara benar-benar bersalah. Semakin dia teringat kata-kata itu, semakin kuat cengkeramannya. Namun saat melihat tatapan mata Fara yang penuh ketakutan dan kepolosan, ragu perlahan tumbuh di hatinya. Akhirnya dia melepaskan cengkeramannya dengan kasar, memberi peringatan tajam: “Sekali lagi kau berbuat kesalahan, aku tak akan memaafkanmu lagi!”
Fara langsung terjatuh berlutut ke lantai dingin, napasnya terengah-engah lemah. Aku segera berlutut memeluk bahunya, mataku berkaca-kaca penuh sedih dan tekad — suatu saat nanti, aku pasti akan membongkar semua kebohongan yang menyelimuti kami.
Di tempat lain, di kediaman megah bergaya Eropa klasik yang seluruhnya terbuat dari marmer putih mengilap — itulah rumah Nyonya Elina.
Di sudut taman yang sejuk dan tertata indah, dia duduk santai menikmati waktu sendirian. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tampak tenang dan anggun, mengenakan setelan jas hitam elegan dengan kerah putih bersih, ditambah anting mutiara serta kalung emas halus yang berkilau lembut. Dia memegang cangkir teh porselen halus, gerakannya lembut tapi memancarkan wibawa yang tak terbantahkan — inilah Elina.
Namun di balik penampilan sempurna itu, hatinya terasa sangat puas. Sejak melihat Zara dan terutama Fara pulang dalam keadaan terluka dan ketakutan kemarin, dia merasa tujuan pertamanya sudah tercapai. Dia tersenyum licik membayangkan bagaimana rasa sakit itu menghantui mereka berdua.
Kepala pelayan menghampiri dengan sikap hormat, suaranya terdengar sedikit ragu: “Nyonya… apakah semua ini benar-benar aman? Bagaimana jika suatu saat nanti Tuan Adrian mengetahui kenyataan yang sebenarnya?”
Elina memutar cambuk halus yang masih tergenggam di tangannya, seolah masih bisa merasakan sensasinya. Mendengar pertanyaan itu, dia hanya tertawa kecil lalu menatap pelayan itu dengan tatapan percaya diri yang memancarkan keangkuhan. Dia menyerahkan cambuk itu ke tangan pelayan, lalu berbalik memandang hamparan taman luas di depannya.
“Memang kenapa kalau dia tahu?” ucapnya dengan nada yakin dan tenang. “Ingat baik-baik siapa aku. Aku sudah membesarkan Adrian sejak dia berusia lima tahun — dia menganggapku lebih dari ibu kandungnya sendiri. Kau kira dia akan percaya pada dua gadis tak berdaya itu daripada aku? Mustahil hal itu terjadi.”
Setelah berbicara begitu, Elina kembali tersenyum puas, lalu menyesap teh harum di cangkirnya dengan tenang, seolah tak ada beban sedikit pun di hatinya. Baginya, apa yang dia lakukan hanyalah cara mengajari mereka agar tahu posisi diri yang sebenarnya.