Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Yang Di Tunggu
DUG
Elsa langsung tegak. "Gaun pengantin yang sama...? Kak, maksudnya...?"
Chloe menutup pintu lemari pelan. Senyuman tipis terukir di sudut bibir wanita itu.
"Lakukan saja apa yang aku katakan, Elsa."
Elsa menelan ludah. Ia kenal betul nada suara itu. Nada yang sering dipakai Daisy ketika ingin meratakan musuh.
"Baik, Kak Chloe," jawab Elsa, suaranya mantap. "Aku akan menghubungi desainer terbaik di kota Zurich sekarang juga. 12 jam. Gaun pernikahan yang sama persis milik Vivian akan segera jadi."
"Bagus. Kau boleh pergi sekarang," ucap Chloe, melangkah ke arah ranjangnya dan merebahkan diri di atasnya.
Elsa segera berdiri lalu melangkah keluar dengan cepat dari kamar Chloe untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh nyonyanya itu.
Chloe membaringkan tubuhnya di atas ranjang, memejamkan matanya perlahan. Besok adalah awal langkahnya untuk memulai rencana pertamanya.
---
Hari yang ditunggu telah tiba.
Hari ini adalah hari pernikahan Vivian dan Erivo.
Jam tujuh malam. Katedral St. Claire, Geneva.
Salju tipis turun, tapi halaman katedral penuh sesak.
Mobil-mobil mewah berjejer. Kamera wartawan. Spanduk besar bertuliskan: The Wedding of Vivian Weiss & Erivo Reinhard.
Di dalam ruang rias, Vivian duduk di depan cermin. Gaun putihnya berkilau. Senyum bahagianya tidak pernah lepas dari bibirnya.
Wanita itu duduk sendirian di dalam ruangan rias karena MUA baru saja pergi setelah meriasnya.
Vivian menatap pantulan dirinya di depan cermin.
"Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Reinhard. Rasanya ini seperti mimpi," ucapnya kepada dirinya sendiri.
Tanpa ia sadari, di balik gorden ada sosok wanita berpakaian serba hitam bersembunyi dengan sebuah jarum akupunktur di tangannya.
Ssrreeetttt.....
Wanita itu melayangkan jarum akupunktur ke arah Vivian dan tepat mengenai lehernya.
DUS
Vivian tersentak. Tangannya langsung memegang lehernya.
"Ah—"
Matanya membelalak. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya tercekat. Pandangannya berputar.
Dari balik gorden, sosok itu melangkah keluar. Langkahnya pelan, tanpa suara.
Gaun hitam, sarung tangan hitam. Veil hitam menutupi wajahnya. Hanya matanya yang terlihat. Tajam. Dingin. Tanpa emosi.
Vivian menatapnya dengan ngeri. Bibirnya bergetar. "K-kamu siapa..."
Sosok itu tidak menjawab. Ia berjongkok di depan Vivian. Tangannya yang bersarung hitam terangkat, mengusap pipi Vivian pelan.
"Selamat malam, Adikku," bisiknya. Suaranya rendah, serak, tapi sangat familiar. "Cantik sekali kau malam ini."
Vivian menggeleng lemah. Tubuhnya mulai lemas. Efek jarum itu bekerja cepat.
"Tolong..."
"Ssst," jari sosok itu menempel di bibir Vivian. "Jangan berisik, Adikku... Nanti tamu di luar terganggu."
Ia berdiri, berjalan mengelilingi Vivian yang mulai terkulai di kursi. Menatap gaun pengantin itu. Kristal. Ekor tiga meter. Sempurna.
"Sayang sekali ya," lanjut sosok itu pelan. "Gaun semahal dan secantik ini... cuma dipakai sepuluh menit."
Sosok itu kembali berjongkok dengan sebuah pil di tangannya. Pil kecil berwarna putih.
Ia memegang dagu Vivian, memaksanya membuka mulut.
"Ini obat tidur, sayang," bisiknya lembut. Tapi nadanya mematikan. "Biar kamu tidur nyenyak. Atau perlu tidur... selama-lamanya?"
Vivian menggeleng sekuat tenaga. Air matanya jatuh. "Jangan... Mama..."
"Tidak ada mama-mu di sini," potong sosok itu. "Yang ada hanya aku."
GLEK
Pil itu masuk ke mulut Vivian. Sosok itu menutup mulut dan hidung Vivian selama lima detik.
Sampai tubuh Vivian kejang pelan, lalu diam.
Napas Vivian tersengal. Matanya terpejam.
Sosok itu melepaskan tangannya, mengusap rambut Vivian seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya.
"Tidur yang nyenyak ya," bisiknya. "Besok kalau kau bangun... semua sudah selesai."
Ia menekan earpiece yang menempel di telinganya.
"Masuk. Dia sudah tidur," ucap sosok itu.
Pintu ruang rias terbuka. Masuklah sosok wanita cantik membawa koper besar.
"Bawa dia," ucap sosok itu. "Ingat, jangan sampai ada yang melihatmu."
"Baik, Kak," jawabnya patuh. Wanita itu tak lain adalah Elsa.
Elsa langsung berjongkok. Dengan cekatan ia membuka koper besar itu. Di dalamnya ada selimut tebal dan kursi roda lipat.
"Kak, efek obatnya berapa lama?" tanya Elsa pelan sambil mengangkat tubuh Vivian yang lemas.
"Delapan jam," jawab sosok itu. Ia berjalan ke meja rias, mengambil gunting. SNIP
Sehelai rambut Vivian dipotong. "Buat bukti. Kalau sewaktu-waktu kita butuh DNA."
Ia memasukkan rambut itu ke kotak kecil, lalu menyerahkannya ke Elsa.
"Masukkan dia ke ruang bawah tanah di markas Black Kobra sebelah timur. Kunci dari luar. Kasih penjaga dua orang. Jangan sakiti. Dia masih sangat berguna."
Elsa mengangguk. "Siap, Kak Chloe."
Chloe menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi, lalu melepas sarung tangan hitamnya.
Dari balik pintu lemari, ia mengeluarkan gaun kedua.
Putih, kristal, ekor tiga meter. Sama persis dengan yang dikenakan Vivian.
Dengan tenang Chloe berganti, selapis demi selapis. Lalu veil diturunkan menutupi wajahnya.
Tok.... Tok.... Tok....
"Nona Vivian? Lima menit lagi acara dimulai," suara panitia dari luar.
Chloe menoleh ke Elsa, mengangguk sekali.
"Jaga diri baik-baik, Kak," ucap Elsa.
Chloe hanya menanggapinya dengan anggukan pelan.
Elsa mendorong kursi roda yang membawa Vivian keluar lewat pintu belakang. Aman. Tanpa suara.
KREK
Pintu utama ruang rias dibuka dari dalam.
Chloe melangkah keluar. Gaun putih. Veil putih tebal yang menutupi wajahnya. Postur sama. Bahkan aroma parfumnya sama. Tidak ada yang curiga.
Para pelayan langsung menunduk. "Nona Vivian, silakan. Tamu sudah menunggu."
Chloe hanya mengangguk pelan. Ia meniru cara Vivian berjalan. Pelan, anggun. Ekor gaunnya diseret dua pelayan.
Di ujung lorong panjang, pintu besar Katedral sudah terbuka.
Musik biola terdengar merdu, mengiringi langkah Chloe yang menggema di karpet merah.
Tak.... Tak... Tak...
Lima ratus pasang mata menoleh. Kamera wartawan menyorot nonstop. FLASH! FLASH! FLASH!
Serena tersenyum bahagia, melihat calon mempelai wanita yang sudah melangkah masuk. Yang ia kira adalah Vivian, putrinya.
"Bersiap," bisik Serena pada Alexander di sampingnya. "Putri kita akan segera menjadi Nyonya Reinhard."
Alexander mengangguk bangga. "Akhirnya apa yang kita harapkan terkabul juga."
Di depan altar, Erivo berdiri tegak. Jas hitam, dasi putih. Tatapannya datar, tidak sedikit pun menatap ke arah calon mempelai wanita.
Ia berada di altar pernikahan malam ini karena paksaan dari ibunya. Di pikiran pria tampan itu hanya ada mantan kekasihnya yang kini sudah tiada.
Chloe berhenti tiga langkah di depan altar. Ia belum melihat jelas siapa mempelai pria itu karena veil yang dikenakannya memang tebal. Wajahnya bahkan tidak bisa dilihat kecuali veil itu dibuka.
Pendeta berdehem. "Atas nama Tuhan... apakah Nona Vivian Weiss bersedia menjadi istri dari Tuan Erivo Reinhard?"
DEG
Chloe terdiam mendengar nama itu. Jantungnya berdetak kencang, tapi hanya sesaat. Ia memejamkan matanya di balik veil tebal sambil menarik napas.
Perlahan Chloe mengangguk, tanpa mengeluarkan suara.
Pendeta mengangguk. Lalu menoleh ke Erivo.
"Dan apakah Tuan Erivo Reinhard bersedia menjadi suami dari Nona Vivian Weiss?"
Erivo menarik napas panjang. Kedua tangannya terkepal kuat. Lalu pria itu mengangguk singkat dan pelan.
"...Saya bersedia."
DUG
Hening satu detik. Lalu terdengar tepuk tangan meriah dan sorak. FLASH! FLASH! FLASH!
Serena langsung berdiri, memeluk Alexander, lalu memeluk Levin.
"Kita berhasil," ucap wanita paruh baya itu dengan bangganya.
Eleanor juga langsung memeluk suaminya. "Akhirnya putra kita sudah mempunyai istri, Pa."
Tapi Erivo tidak tersenyum. Bahkan tidak menoleh. Tangannya masih mengepal. Tatapan matanya kosong, menatap salib di atas altar.
Pendeta tersenyum. "Silakan saling tukar cincin, Tuan dan Nyonya."
Seorang pelayan mendekat membawa baki beludru. Di atasnya ada dua cincin berlian.
Erivo mengambil cincin wanita itu. Dingin. Berat.
Chloe mengulurkan tangannya. Santai. Tidak ada gemetar atau gugup.
Erivo langsung memasangkan cincin itu di jari manis Chloe. KLIK
Cincin berlian tiga karat itu melingkar sempurna.
Lalu Chloe melakukan hal yang sama, memasangkan cincin di jari manis Erivo.
Tepuk tangan terdengar semakin meriah. FLASH! FLASH! FLASH!
"Sekarang Tuan boleh mencium kening mempelai wanita," ucap pendeta.
Erivo bergerak pasif. Gerakannya kaku, seperti robot.
Chloe menoleh sedikit ke arah pria itu. Samar-samar ia melihat wajah Erivo di balik veil tebalnya.
Wajah itu... seperti tidak asing. Ia pernah melihatnya sebelumnya.
---
Jangan lupa Like, komen dan Vote ya Besty 🙏 😊 🥰 🤗.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,