NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Klinik itu berdiri di ujung jalan kecil yang terlalu sempit untuk dua mobil berpapasan. Plang namanya sudah hilang, tetapi bekas cat putih di dinding masih membentuk bayangan huruf. Di kanan kiri, warung kecil dan rumah kontrakan menempel rapat, membuat bangunan lama itu terlihat seperti bagian dari lingkungan yang ingin melupakan masa lalunya.

Alya turun dari mobil dengan jaket hitam dan topi sederhana. Rafi menyusul di sisinya. Raka ingin ikut, tetapi Arman memaksa ia istirahat setelah jahitan di pelipisnya terbuka lagi.

Dinda ikut, meski wajahnya masih pucat sejak pemakaman.

"Kamu yakin mau masuk?" tanya Alya.

Dinda mengangguk. "Kalau aku pulang, aku akan lebih takut."

Rafi mengetuk pintu rumah di sebelah klinik. Seorang ibu tua keluar, matanya curiga.

"Cari siapa?"

"Kami mencari informasi tentang Klinik Purnama," kata Rafi sopan.

Ibu itu langsung hendak menutup pintu.

Alya menahan dengan suara tenang. "Bu, nenek saya meninggal kemarin karena orang-orang dari klinik lama ini. Kami tidak mau membuat masalah untuk Ibu. Kami hanya perlu tahu siapa yang dulu bekerja di sini."

Ibu itu menatap Alya. Matanya turun ke kerudung hitam yang dipakai Alya setelah pemakaman, lalu ke wajah lelah Dinda.

"Klinik itu bawa sial," katanya pelan.

"Kenapa?"

"Banyak perempuan datang malam-malam. Ada yang hamil, ada yang menangis, ada yang pulang tanpa bayi. Dulu kami pikir urusan keluarga kaya. Orang kecil tidak boleh tanya."

Dinda menutup mulut.

"Ada kamar nomor 13?" tanya Rafi.

Ibu tua itu terdiam.

Itu jawaban.

"Siapa nama Ibu?" tanya Alya.

"Murni."

"Bu Murni, kami bisa melindungi Ibu kalau Ibu mau memberi keterangan."

Bu Murni tertawa getir. "Nak, orang kaya selalu bilang bisa melindungi. Tapi yang mati duluan biasanya orang kecil."

Alya tidak membantah. Ia mengeluarkan foto dari amplop Eyang. "Ibu pernah lihat perempuan ini?"

Bu Murni memandang foto. Jari keriputnya bergetar.

"Perawat Sari."

"Yang ini?" Alya menunjuk pria berkacamata di belakang.

"Dokter Seno."

Rafi menoleh. "Bukan Fajar?"

"Fajar tidak sering datang. Kalau datang, semua orang berdiri. Dokter Seno yang menjalankan klinik."

"Seno siapa?"

"Seno Prabowo. Katanya dokter kandungan. Tapi setelah klinik tutup, dia pindah ke yayasan anak."

Alya mengingat nama itu. Tidak ada di dokumen mereka.

Dinda berkata pelan, "Mama pernah bilang Seno orang yang tahu tempat bayi-bayi itu."

Alya menatapnya. "Kamu ingat sekarang?"

"Aku ingat karena Mama marah saat Kevin menyebut nama itu. Katanya jangan pernah bawa Seno ke rumah."

Bu Murni membuka pintu lebih lebar. "Kalian mau lihat?"

Kunci klinik lama ternyata disimpan warga karena bangunan itu sering dipakai anak-anak bermain. Di dalam, bau lembap langsung menyambut. Lantai retak, cat mengelupas, meja resepsionis dimakan rayap.

Rafi menyalakan senter.

"Hati-hati. Lantai belakang mungkin rapuh."

Mereka melewati lorong dengan nomor kamar yang sudah pudar. Satu, dua, tiga. Nomor sembilan hilang. Nomor dua belas tercoret.

Kamar nomor 13 tidak ada.

Dinda menatap deretan pintu. "Mungkin sudah dibongkar?"

Bu Murni berdiri di ujung lorong. "Dulu kamar 13 bukan di sini."

Ia menunjuk pintu gudang kecil di bawah tangga.

Rafi membuka paksa gembok berkarat dengan alat tipis. Di balik pintu, ada ruang sempit penuh kardus busuk. Setelah kardus disingkirkan, terlihat pintu besi di lantai.

Alya berlutut. Di pintu itu, ada bekas lambang bunga yang dicungkil.

Camellia.

"Kamar bawah tanah," kata Rafi.

Bu Murni membaca doa pelan.

Rafi membuka pintu dengan susah payah. Udara pengap naik dari bawah. Tangga sempit turun ke ruangan gelap. Ia lebih dulu masuk, lalu memberi tanda aman.

Alya mengikuti. Dinda ragu di atas tangga, tetapi akhirnya turun.

Ruangan bawah tanah itu kecil, tetapi penuh rak logam. Sebagian kosong. Sebagian masih menyimpan botol kaca, kain bayi, buku registrasi yang rusak oleh lembap.

Alya mengambil satu buku dengan tangan berlapis sarung plastik.

Halamannya rapuh, tetapi beberapa tulisan masih terbaca.

Nomor pasien. Tanggal. Jenis kelamin bayi. Catatan: dipindah, mati, tanpa keluarga.

"Ya Allah," bisik Dinda.

Alya membuka halaman tahun kelahirannya. Banyak baris hilang. Tapi pada tanggal yang sama dengan kelahirannya, ada dua catatan.

Perempuan. Ibu: N.M.

Perempuan. Ibu: tidak tercatat.

Di kolom terakhir, tertulis satu kata.

Tukar.

Alya merasa lantai bergerak.

Rafi memegang sikunya. "Alya."

"Aku baik-baik saja."

Ia tidak baik-baik saja. Tapi kalimat itu menjaga tubuhnya tetap berdiri.

Dinda melihat halaman itu. Wajahnya hancur.

"Ibu tidak tercatat itu..." suaranya hilang.

Alya menatapnya.

Mereka berdua mengerti.

Dinda bukan sekadar anak yang diangkat untuk menggantikan Alya. Ia juga bayi yang asalnya sengaja dihapus. Maya mungkin membesarkannya sebagai anak sendiri, tetapi Fajar dan Sari tahu sesuatu yang lebih dalam.

Rafi memotret setiap halaman. "Kita perlu bawa ini ke Ardi."

Tiba-tiba dari atas terdengar suara pintu utama dibuka keras.

Bu Murni berteriak, "Siapa itu?"

Langkah berat masuk. Lebih dari satu orang.

Rafi mematikan senter. Ruangan langsung gelap.

Dinda menahan napas.

Suara pria terdengar dari atas. "Cari bawah. Pak Jaka bilang mereka pasti ke sini."

Alya menggenggam buku registrasi.

Rafi berbisik, "Ada pintu lain?"

Bu Murni dari atas tidak menjawab. Mungkin ditahan. Mungkin terlalu takut.

Dinda menunjuk sisi rak. "Angin."

Benar. Dari balik rak logam paling belakang, ada celah kecil yang mengalirkan udara. Rafi dan Alya mendorong rak itu pelan. Di belakangnya ada lubang ventilasi cukup besar untuk satu orang merangkak.

"Keluar satu-satu," kata Rafi.

"Buku?"

"Bawa satu. Sisanya foto sudah cukup sementara."

Alya memasukkan buku ke tas.

Dinda masuk lebih dulu ke ventilasi, tubuhnya gemetar. Alya menyusul. Rafi terakhir setelah meletakkan alat kecil di dekat pintu bawah tanah.

Mereka merangkak dalam lorong sempit yang bau tanah. Di belakang, pintu bawah tanah dibuka.

"Kosong!"

Lalu suara ledakan kecil terdengar. Bukan ledakan api, hanya asap dan suara keras dari alat pengalih Rafi. Orang-orang di atas panik. Alya terus merangkak sampai melihat cahaya.

Ventilasi keluar di belakang warung kosong. Mereka jatuh ke tanah becek satu per satu.

Dinda batuk. Alya memegang tasnya, memastikan buku masih ada.

Rafi menerima panggilan dari Ardi. "Kami dapat Bu Murni. Dia aman. Dua orang ditangkap, tapi satu kabur."

Alya mengembuskan napas.

Namun lega itu hanya bertahan beberapa detik.

Sebuah pesan masuk ke ponsel Dinda dari nomor Maya.

Di layar, ada foto Maya terikat di kursi. Di sampingnya berdiri Jaka dengan senyum rapi.

Teksnya singkat.

Bawa buku itu, Dinda. Datang sendiri. Kalau tidak, ibumu selesai.

Dinda menatap Alya.

Di matanya, perang kecil dimulai lagi: antara rasa bersalah dan darah yang memanggilnya sebagai anak.

Alya menggenggam pergelangan tangannya.

"Jangan bodoh."

Dinda menangis. "Kalau itu ibumu, kamu akan bagaimana?"

Alya tidak punya jawaban yang mudah.

Dan justru karena itu, ia tahu malam berikutnya akan jauh lebih berbahaya.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!