NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.

Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.

Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mempersiapkan Diri Untuk Pergi. (1)

Senja perlahan tenggelam di balik cakrawala, berganti dengan langit malam yang dihiasi cahaya lampu-lampu kota.

Waktu akhirnya membawa dirinya ke rumah kediaman Abimana atas permintaan Kakaknya.

Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi Ainun dan Sagara berhenti di depan rumah keluarga Abimana.

Begitu turun dari mobil, Ainun berjalan beberapa langkah di samping Sagara. Jemarinya menggenggam ujung tas dengan gelisah. Sesekali ia melirik pria di sampingnya yang sejak berangkat tak mengucapkan sepatah kata pun.

Setibanya di depan pintu, Ainun mengangkat tangan, bersiap mengetuk.

Klek!

Pintu lebih dulu terbuka.

“Kejutan!” seru Liona yang berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

Refleks, Ainun melepaskan tangannya dari lengan Sagara. Ia menoleh sekilas ke arah pria itu.

Wajah Sagara tetap dingin dan datar, sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya.

Belum sempat Ainun mengucapkan apa pun, Liona berlari kecil menghampiri mereka.

“Mas!”

Tanpa ragu, wanita itu langsung memeluk Sagara erat tepat di depan Ainun.

“Aku kangen banget sama Mas,” ucap Liona dengan suara manja.

Napas Ainun tertahan. Jemarinya perlahan mengepal di sisi tubuh.

“Ainun!”

Suara ibunya membuat Ainun tersentak. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah dalam rumah.

Bu Siti berdiri di ruang tamu dengan tatapan tajam yang mengarah kepadanya.

“Cepat bantu Ibu di dapur,” perintahnya tegas.

“I-iya, Bu,” jawab Ainun lirih.

Tanpa membantah, ia menundukkan kepala, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Ia tidak berani menoleh lagi ke arah Sagara dan Liona.

‘Memang beginilah seharusnya. Aku hanya pengganti... dan tugasku sudah selesai.’

Sementara itu, Sagara masih berdiri di depan pintu ketika Liona masih memeluknya erat. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat kedua tangannya, lalu melepaskan pelukan wanita itu secara perlahan.

“Maaf ya, Mas.” Liona menatapnya penuh penyesalan. “Aku pergi tanpa seizinmu, apalagi saat menjelang hari pernikahan kita.”

Sagara tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tenang, tanpa memperlihatkan emosi apa pun.

“Ayo, Mas masuk. Kita ngobrol di dalam,” ajak Liona sambil meraih tangan Sagara.

Sagara tidak menolak. Ia membiarkan wanita itu menuntunnya memasuki ruang tamu.

Ia duduk di salah satu sofa.

Liona mengambil tempat tepat di sampingnya. Senyum di wajah wanita itu tak kunjung memudar.

“Oh ya, Mas.” Liona memiringkan kepalanya sedikit. “Kan aku sudah pulang, jadi... kita bisa menikah, kan, Mas?”

Sagara menatap wajah Liona beberapa saat.

“Tentu saja,” jawabnya singkat.

Namun, sesaat kemudian pandangannya bergeser ke arah dapur.

Dari tempatnya duduk, ia melihat Ainun berdiri di depan meja makan sembari meletakkan satu persatu piring.

Tatapan Sagara bertahan beberapa detik.

Sementara itu, di dapur…

Aroma berbagai masakan memenuhi ruangan. Satu per satu piring ia susun dengan rapi. Namun, tangannya mendadak terhenti ketika suara sang ibu terdengar dari belakang.

“Pasti Sagara memberikan kamu uang bulanan, kan?” tanya Bu Siti sambil melipat kedua tangan di dada.

Ainun menoleh pelan. Keningnya berkerut tipis.

“Kenapa memangnya, Bu?” tanyanya lirih.

“Loh, kok malah tanya kenapa?” sahut Bu Siti dengan nada sinis. “Ya mikir, lah. Uang itu kan haknya Mbak kamu.”

Ainun mengulas senyum tipis yang terasa begitu pahit.

“Selama menikah, Mas Sagara nggak pernah kasih aku uang bulanan, Bu,” ucapnya jujur.

“Halah, jangan bohong.” Bu Siti mendecakkan lidah. “Kalau nggak dikasih, terus kamu bisa hidup sampai sekarang bagaimana, ha?”

Ainun menarik napas pelan.

“Ibu lupa?” katanya lembut. “Aku kerja, Bu. Bahkan aku nggak makan sebutir nasi pun dari rumah itu. Selama ini aku selalu makan di luar.”

“Cih.”

Bu Siti memalingkan wajah dengan raut tak percaya.

Ainun memilih diam. Pandangannya beralih ke meja makan yang dipenuhi berbagai hidangan.

Ayam bakar madu.

Udang saus mentega.

Kerang rica-rica.

Semuanya adalah makanan kesukaan Liona.

Tak ada satu pun hidangan yang disukainya.

‘Masih sama seperti dulu... semua yang ada di meja ini selalu mengikuti selera Mbak.’

“Bu,” panggil Ainun pelan, “telur masih ada?”

Bu Siti menoleh sekilas. “Hm, kenapa?”

“Aku makan telur bumbu saja, Bu,” jawab Ainun sambil tersenyum tipis.

“Terserah kamu. Siapa peduli.”

Ainun tidak membalas. Ia berbalik, lalu melangkah menuju dapur. Pintu kulkas dibukanya perlahan.

Tatapannya menyusuri setiap rak.

Kosong.

Tak ada telur yang dicarinya. Yang tersisa hanya sebungkus ikan asin di salah satu sudut.

Pandangan Ainun kemudian beralih ke meja dapur. Empat butir telur yang telah dicampur udang tampak siap dimasak.

Jemarinya sempat bergerak, tetapi kembali terhenti.

Ainun mengembuskan napas lirih. Perlahan, ia menutup kembali pintu kulkas, lalu mengambil ikan asin yang tadi dilihatnya.

“Aduh, maaf ya.” Bu Siti tiba-tiba bersuara dari belakang. “Ibu lupa kalau telur habis, dan kamu nggak bisa makan telur yang di campur udang, kan?”

Ainun menoleh sambil menggenggam bungkus ikan asin itu.

“Nggak apa-apa, Bu.” Senyum tipis kembali menghiasi bibirnya. “Ainun bisa makan ikan asin sama sambal orek.”

Meski bibirnya tersenyum, hatinya kembali diingatkan bahwa sejak dulu, apa pun yang menjadi kesukaan Liona akan selalu didahulukan, sedangkan dirinya hanya terbiasa menerima apa yang tersisa.

. . .

Makan malam akhirnya dimulai.

Satu per satu kursi di meja makan terisi. Aroma berbagai hidangan hangat memenuhi ruangan, tetapi tak sedikit pun membangkitkan selera Ainun.

Ia menundukkan pandangan ke piring di hadapannya.

Di antara lauk-lauk mewah yang tersaji, hanya ada nasi, ikan asin, dan sambal orek di piringnya. Makanan yang tampak begitu sederhana, bahkan nyaris tak layak bersanding dengan hidangan lain di atas meja.

Perlahan, Ainun menyuapkan nasi dan sepotong kecil ikan asin ke dalam mulutnya. Ia mengunyah pelan, memilih memusatkan perhatian pada makanannya daripada obrolan yang mengalir di sekeliling meja.

“Eh, Ainun.” Suara Liona membuat gerakan tangannya terhenti. “Kamu cuma makan itu saja?”

Ainun mengangkat wajah sekilas.

“Iya, Mbak.” Bibirnya membentuk senyum tipis. “Yang bisa kumakan cuma ini. Telurnya sudah dicampur sama udang.”

“Ya ampun.” Bu Siti mendecakkan lidah. “Lebai sekali. Makan sedikit saja memangnya bikin kamu mati, Ainun?”

Ainun kembali menundukkan kepala. Ia tidak menjawab. Percuma menjelaskan. Tidak akan ada yang mau mendengarkan.

Suasana kembali dipenuhi percakapan.

Tak lama kemudian, suara Sagara terdengar dari seberang meja.

“Liona.”

Ainun tanpa sadar mengangkat pandangan.

“Aku punya hadiah untukmu.”

Mata Liona langsung berbinar. “Benarkah, Mas? Mana?”

Sagara mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil, lalu membukanya di hadapan Liona.

“Coba lihat. Kamu suka?”

Liona menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Mas... cantik sekali.” Senyumnya mengembang lebar. “Aku suka.”

Bu Siti ikut tersenyum bangga.

“Liona memang paling beruntung.”

Tatapan Ainun tanpa sengaja jatuh pada cincin yang kini melingkar di jemari kakaknya.

Berlian-berlian kecil mengitari cincin itu, memantulkan cahaya lampu hingga berkilau indah.

Beberapa detik ia hanya memandanginya. Lalu, perlahan, pandangannya kembali turun ke piringnya.

Ia menyuapkan sisa nasi ke dalam mulut tanpa mengubah raut wajah.

Tak ada rasa iri.

Tak ada keinginan memiliki.

Yang tersisa hanya kelelahan yang perlahan memenuhi pikirannya.

Setelah menghabiskan suapan terakhir, Ainun meletakkan sendok dan garpu dengan pelan.

Ia bangkit dari kursinya.

“Aku sudah selesai,” ucapnya lirih.

Tak menunggu tanggapan siapa pun, Ainun berbalik dan melangkah meninggalkan meja makan.

Semakin jauh langkahnya, semakin samar suara tawa dan obrolan yang terdengar dari belakang.

Langkahnya kini membawanya menyusuri lorong rumah menuju kamar yang dulu menjadi tempatnya beristirahat. Sudah lama ia tidak benar-benar masuk ke ruangan itu.

Krek...

Pintu kamar terbuka perlahan.

Ainun melangkah masuk sambil menyapu ruangan dengan pandangannya.

Semuanya masih berada di tempat semula. Ranjang, meja belajar, dan lemari pakaian masih tersusun rapi. Hanya saja, lapisan debu tipis  menempel di beberapa sudut.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu berjalan mendekati lemari.

Pintu lemari dibukanya perlahan.

“Setiap kali gajian, aku selalu menyisihkan sebagian uangku,” gumamnya lirih.

Tangannya meraih sebuah laci kecil yang berada di bagian bawah. Setelah membuka kunci mungil yang masih terpasang, ia menarik laci itu.

Klek.

Laci terbuka.

Di dalamnya bukan hanya beberapa lembar uang, melainkan satu gepok uang pecahan yang selama ini disimpannya sedikit demi sedikit.

Senyum tipis terbit di bibir Ainun.

“Untung saja Ibu nggak pernah masuk ke kamarku,” bisiknya pelan. “Apalagi menggeledah lemari ini.”

‘Uang ini bisa kupakai untuk bertahan hidup sementara waktu.’

Perlahan, ia memasukkan seluruh uang itu ke dalam tas selempang yang dibawanya, lalu menutup kembali laci tersebut seperti semula.

Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Ainun mengeluarkan ponselnya.

Ia membuka daftar kontak, lalu menekan nama Laras.

Tak butuh waktu lama, panggilannya tersambung.

“Assalamualaikum, Laras.”

“Waalaikumsalam,” jawab Laras dari seberang sana. “Ada apa, Nun?”

Ainun menggigit bibir bawahnya sejenak.

“Ras... bisa minta tolong nggak?”

“Bisa. Memangnya mau minta tolong apa?”

“Jemput aku di rumah orang tuaku,” ucap Ainun pelan. “Aku mau ke rumah Mas Sagara buat ambil koperku.”

Terdengar jeda beberapa detik.

“Eh—”

“Besok aku ceritakan semuanya,” potong Ainun lembut. “Oke?”

Laras mengembuskan napas pelan.

“Ya sudah. Tunggu aku, ya. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Sambungan telepon terputus. Ainun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu berbalik meninggalkan kamar.

Langkahnya kembali menyusuri lorong rumah.

Saat melewati ruang makan, tanpa sengaja pandangannya beralih ke arah meja.

Ayah, Ibu, Liona, dan Sagara masih duduk bersama. Suara tawa dan percakapan mereka terdengar hangat memenuhi ruangan.

Ainun hanya memandang sejenak.

‘Suasana itu memang lebih pantas tanpa kehadiranku.’

Ia mengalihkan pandangan, lalu melangkah pelan menuju pintu depan. Tanpa mengucapkan pamit kepada siapa pun, Ainun meninggalkan rumah itu dalam diam.

1
merry
jgn cepat ksh ainum ktmu dgn Sagara terlalu cepat biar orang saraf kyk Sagara nyesel,, 🙏🙏🙏
merry
iblis busuk km bini dan ank gk diksh mknn
merry
otak y gk tau di mn ya heran aku emang pendidikan tingginya bisa didik ank dgn baik blm tentu x pak justru blansak ia,, klo Sagara jodoh y ainum jgn ksh Sagara nikh sm liona ksh ajj penyesalan trs biar ainum Lhirinn ank solehah hebat genius buat bungkam mulut Bpk dan kakek ya yg jht itu
Nia nurhayati
dasar laki"gilaaa kamu sagara
Ais: nah bnr kak emang gila sagara ini
total 1 replies
Nia nurhayati
Sagara dan BP nya sama brengsekkk laki"kurang ajarrrr😡😡😡
merry
gila bini y gk. diksh mkn minum kata ya cinta marah bini y di dekati org,, emng dikurung tnp mkn minum blm lg memar muka tangan gk diobati,, moga kmu dan pelakor itu dpt karna ya 🙏🙏🙏🙏ainum jgn lemah donk jgn perempuan jgn minta maaf klo ngk salh hrs lawan ke jwb ke kan Sagara juga mau nikah kn sm lion lion itu sdgkn kmu ngk nkh ngk pcarann juga cm ddk bareng knp di perlakuan seperti penjahat,,, hrs disini Sagara salh besar loh dh mau nikah lg,,, kasar lg
merry
egois bgtt si,, istri di seret di tampar gk di akuin org mana tau klo ainum istri mu gara,,, emng org dukun tau ainum bini mu 🤭🤭🤭🤭
Ais
psikopat dan egosi sagara ini ternyata
Ais
wah plot twist banget thor ternyata selama ini sagara mencintai ainun tp knp kayak psikopat gn seh sikap dan kelakuannya apalag pas berhubungan suami istri yg disebut malah nama kakaknya istri mana yg ngak salah paham dan menganggap dirinya hny istri sementara ngak salah dong ainun bersikap dan berkata begitu
Ais: nah bnr kak emang psikopat si sagara ini mungkin dia panggil si musang betina pengen bikin ainun insecure sekaligus cemburu kak🤣
total 2 replies
Arra Bella
saat liona datang sagara tidak akan melepaskanmu ainun
Arra Bella
aku yakin liona bakal nyesel
Ais
semangat updatenya thor bagus alur kisahnya
Arra Bella
salam kenal kakak
Soviani
up lagi dong , ceritanya seru
Skyline Scribe
halo kak aku mampir,
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪
Inarrr Ulfah
gimna mau pergi hp Ainun aja di sadap
Inarrr Ulfah
setelah itu pergi yang jauh Ainun,, hidup bahagia bersama anak mu..
partini
pengantin pengganti nyesek Ampe ulu hati, happy nanti kalau suami udah sreg di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!