Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia, wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau bercerai!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 ~ Yang Kamu Butuhkan
Malam ini Rachel duduk di samping ranjang rumah sakit sambil menggenggam pelan tangan ibunya yang terasa dingin. Di punggung tangan wanita paruh baya itu terpasang selang infus, sementara monitor di samping ranjang terus berbunyi pelan mengikuti detak jantungnya.
"Ma... bangun," bisik Rachel lirih.
Tak ada jawaban.
Sang ibu tetap terbaring dengan mata terpejam. Napasnya terdengar lemah di balik selang oksigen yang menutupi hidungnya.
Rachel menundukkan kepala. Jemarinya mengusap perlahan punggung tangan ibunya, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh.
Sejak ayahnya dipecat dari perusahaan dan kemudian meninggal dunia, kehidupan keluarganya berubah drastis. Baru setelah itu Rachel mengetahui bahwa selama ini ibunya diam-diam mengidap kanker serviks. Penyakit yang semula masih bisa ditangani perlahan berkembang hingga mencapai stadium lanjut.
Seluruh tabungan keluarga habis untuk biaya pengobatan. Satu per satu kerabat yang dulu begitu akrab mulai menjauh. Mereka datang hanya untuk menyampaikan rasa iba, bukan untuk mengulurkan bantuan.
Di titik paling putus asa, Rachel bahkan sempat terpikir meminta pertolongan kepada Hezlin.
Namun, niat itu ia urungkan.
Saat itu, rumah tangga sahabatnya sendiri sedang berada di ambang kehancuran. Rachel tidak sanggup menambah beban Hezlin yang juga tengah berjuang menghadapi masalahnya.
Hingga suatu sore, dua orang asing datang menemuinya. Mereka mengaku sebagai utusan Felicia.
Rachel masih mengingat jelas ucapan salah satu pria berpakaian hitam itu. Saat itu, secercah harapan kembali muncul di hati Rachel.
"Nona Felicia bersedia menanggung seluruh biaya pengobatan ibumu, termasuk kebutuhan sekolah adikmu. Sebagai gantinya.. Nona hanya meminta satu hal. Ikuti semua perintahnya. Jangan pernah menolak."
Harapan itu seketika berubah menjadi kegelisahan. Rachel tahu ia sedang membuat kesepakatan yang salah. Namun, di hadapannya saat itu bukan hanya nyawa sang ibu yang dipertaruhkan, melainkan juga masa depan adiknya.
Dan Felicia... Wanita itu adalah putri pemilik perusahaan tempat ayah Rachel pernah mengabdikan sebagian besar hidupnya. Seseorang yang memiliki kekuasaan dan uang untuk menentukan nasib keluarganya hanya dengan satu keputusan.
Pada akhirnya, Rachel menyerah. Bukan karena ia ingin mengkhianati Hezlin. Melainkan karena ia merasa tidak lagi memiliki pilihan lain.
••
••
Tanpa berkata apa-apa, Garra menyelipkan satu tangan di bawah lutut Felicia dan tangan lainnya menyangga punggung wanita itu.
Perlahan ia mengangkat tubuh Felicia, lalu mendudukkannya dengan hati-hati di atas sofa ruang tamu.
Baru saja Garra hendak memeriksa kembali luka di telapak tangannya, lampu apartemen tiba-tiba kembali menyala.
Klik. Ruangan yang semula gelap kini langsung terang benderang.
Garra refleks mendongak ke arah langit-langit. Felicia pun ikut menoleh dengan raut wajah yang tampak terkejut.
"Lampunya... sudah menyala. Mungkin hanya listrik sementara yang padam," gumam Garra.
Ia kembali mengalihkan perhatian pada tangan Felicia yang masih mengeluarkan sedikit darah.
"Aku ambil kotak obat dulu."
Felicia mengangguk pelan.
"Ada di laci kabinet TV."
Tanpa membuang waktu, Garra berjalan ke arah kabinet yang berada di sudut ruang tamu. Ia membuka laci yang dimaksud hingga menemukan sebuah kotak P3K berwarna putih.
Beberapa saat kemudian, ia kembali menghampiri Felicia sambil membawa kotak tersebut.
Garra meletakkannya di atas meja kecil di depan sofa. Setelah itu, ia melepaskan jas yang masih dikenakannya dan menyampirkannya di sandaran sofa. Jemarinya lalu melonggarkan simpul dasi yang terasa sedikit menyesakkan setelah seharian bekerja.
Ia berjongkok di depan Felicia.
"Boleh kulihat tanganmu?"
Felicia mengulurkan telapak tangannya tanpa banyak bicara.
Garra mengambil kapas steril, lalu membersihkan darah yang menempel di sekitar luka dengan gerakan hati-hati.
"Mungkin akan sedikit perih."
"Tidak apa-apa." balas Felicia lirih.
Garra mulai membersihkan luka itu dengan hati-hati. Kapas yang telah dibasahi antiseptik perlahan menyentuh kulit Felicia, mengangkat sisa darah yang mengering di sekitar telapak tangannya.
"Akh..."
Felicia meringis pelan. Refleks, tangan kirinya mencengkeram pundak Garra cukup erat.
Garra menghentikan gerakannya sejenak.
"Sakit?"
Felicia mengangguk pelan sambil menggigit bibir bawahnya.
"Sedikit."
Garra mengembuskan napas pelan.
"Tahan sebentar. Kalau tidak dibersihkan, lukanya bisa infeksi."
Ia melanjutkan pekerjaannya dengan gerakan yang jauh lebih lembut. Sesekali ia meniup pelan area yang baru saja diberi antiseptik agar rasa perihnya sedikit berkurang.
"Sebentar lagi selesai."
Felicia tidak menjawab. Jemarinya masih mencengkeram pundak Garra, sementara tatapannya tak pernah lepas dari wajah pria yang sedang fokus mengobati lukanya.
Setelah memastikan tidak ada lagi kotoran yang menempel, Garra mengoleskan salep antibiotik tipis-tipis, lalu menutup luka itu dengan kasa steril dan membalutnya menggunakan perban.
"Sudah." Garra mengangkat pandangannya. "Jangan sampai balutannya basah. Besok pagi coba ganti dengan yang baru."
Felicia menatap perban di tangannya, lalu kembali menatap Garra. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Terima kasih... karena selalu datang saat aku membutuhkanmu."
Garra menutup kembali kotak P3K, lalu berdiri dari duduknya.
"Felicia, aku harus pulang sekarang."
Baru saja ia hendak meraih jas yang tersampir di sandaran sofa, suara Felicia menghentikan langkahnya.
"Garra."
Pria itu menoleh.
"Setidaknya... biarkan aku mengucapkan terima kasih dengan benar. Tunggu sebentar."
Felicia bangkit perlahan, lalu berjalan menuju dapur kecil di sudut apartemennya.
Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa segelas minuman dingin.
"Minumlah. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah datang membantuku."
Garra memandang gelas itu sesaat, lalu mengalihkan tatapannya kepada Felicia.
"Tidak perlu, Felicia.."
"Aku hanya tidak ingin merasa berutang budi." potong Felicia cepat. tatapannya penuh dengan harapan.
Garra akhirnya menerima gelas itu. "Terima kasih."
Tanpa menaruh curiga, ia meneguk isinya hingga tandas. Lalu meletakkan gelas kosong tersebut diatas meja.
"Aku pulang dulu.."
Ia baru mengambil beberapa langkah. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Keningnya berkerut. Entah mengapa, pandangannya perlahan mulai kehilangan fokus. Ruangan di hadapannya terasa berputar pelan.
"Gh..."
Kepalanya terasa berat, sementara suhu tubuhnya meningkat dengan cepat. Napasnya mulai memburu, dan keringat tipis muncul di dahinya.
"Ada... apa ini..."
Kedua kakinya mendadak lemas. Pandangannya semakin kabur hingga sosok Felicia di hadapannya berubah menjadi bayangan yang samar.
Sebelum tubuhnya benar-benar kehilangan keseimbangan, Felicia segera menopangnya agar tidak terjatuh.
Sebelum tubuhnya benar-benar kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai, Felicia sigap melangkah maju, langsung menopang berat tubuh Garra dengan kedua lengannya. Dengan susah payah ia membantunya berjalan perlahan hingga duduk di atas sofa empuk.
"Garra... kamu tidak apa-apa?" tanyanya cemas, matanya menatap wajah Garra yang memerah padam.
Namun Garra tidak memberikan jawaban apa pun. Ia benar-benar tak mengerti rasa apa yang sedang menyerangnya, namun tubuhnya terasa seolah terbakar hebat dari dalam.
"Garraaa..." suara Felicia terdengar begitu lembut namun penuh pancingan, membelai telinganya yang sensitif.
"Tubuhku..." Garra mengerang pelan, tangannya mencengkeram sandaran sofa erat. "Kenapa... kenapa jadi panas seperti terbakar..."
Felicia tersenyum tipis tak terlihat, lalu tanpa ragu ia naik ke atas kaki Garra, menindihnya dengan lembut. Tangannya perlahan bergerak naik ke arah dada pria itu, mulai membuka satu per satu kancing kemejanya dengan gerakan lambat.
"Tenanglah... biarkan aku yang membantumu meredakannya," bisiknya pelan tepat di depan wajah Garra. "Aku tahu apa yang kamu butuhkan sekarang."
•
•
To be continued....
ayo lawan..💪
Kita disuguhi pergulatan batin yang nyata di mana cinta yang seharusnya menjadi pelindung, justru sempat menjadi sumber luka karena ketidaksabaran untuk saling mendengar. Namun di balik semua pertengkaran, diam, dan rasa sakit, terlihat jelas bahwa ikatan mereka tak pernah benar-benar putus.