Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pertahanan Ujung Dunia
Kegelapan Kekosongan Tanpa Akar merayap perlahan namun pasti ke arah pulau terluar. Apa pun yang tersentuhnya lenyap tanpa suara—batu, air, angin, bahkan cahaya pun seolah ditelan bulat-bulat, tak menyisakan jejak sedikit pun. Udara di ujung dunia terasa berat dan sesak, seolah ruang di sekitar mereka perlahan menyusut.
Namun Lin Mo tidak melihat ketakutan di wajah ribuan makhluk yang berkumpul di sana. Meskipun mereka datang dari tempat berbeda, memiliki kemampuan berbeda, dan latar belakang yang berbeda, kini mereka berdiri sebagai satu kesatuan. Cahaya lembut berwarna cokelat keemasan menyebar dari tubuh mereka masing-masing, lalu menyambung satu sama lain, membentuk jaring bercahaya yang rapat di depan kegelapan.
"Kekosongan membenci ikatan," suara Lin Mo terdengar jelas di telinga semua orang, terbawa getaran tanah. "Ia tidak bisa melahap apa yang saling menopang erat. Kita tidak perlu menyerang. Kita hanya perlu tetap berdiri bersama, dan tidak membiarkan siapa pun terputus!"
Saat kegelapan pertama kali menyentuh jaring cahaya, terdengar suara gesekan yang memekakkan telinga. Jaring itu melengkung ke belakang menahan tekanan yang luar biasa, dan beberapa orang di barisan depan terhuyung mundur, keringat dingin membasahi wajah mereka. Namun tidak ada yang lari. Teman di sebelahnya segera menopang bahu mereka, mengalirkan kekuatan tambahan melalui jaring ikatan.
"Kuatkan koneksimu dengan tanah!" teriak Meng Chao. "Kita tidak berdiri dengan kekuatan sendiri—kita meminjam kekuatan seluruh dunia!"
Kegelapan itu tidak menyerang sekaligus. Ia mengirimkan ribuan bayangan tajam yang mencoba menyelinap di sela-sela jaring, berusaha memutus ikatan antar orang. Ia berbisik ke dalam hati masing-masing: "Pergilah. Kau tidak penting. Biarkan yang lain menanggungnya. Kau sendirian..."
Namun bisikan itu lenyap seketika saat seseorang menyentuh bahu temannya, saat seorang anak memegang tangan ibunya, saat penjaga laut menyambungkan kekuatannya dengan pewaris sekte langit. Kekosongan bisa menipu pikiran, tapi ia tak bisa menipu hati yang saling terhubung.
Melihat serangan halusnya gagal, kegelapan itu berkumpul menjadi satu gelombang raksasa yang menelan seluruh cakrawala, menghantam pertahanan mereka dengan kekuatan yang seolah ingin menghapus keberadaan dunia ini sekaligus.
Tanah di bawah kaki mereka retak hebat. Banyak orang jatuh berlutut, darah menetes dari bibir karena menahan beban yang tak terbayangkan. Jaring cahaya mulai menipis di beberapa titik, dan celah kecil kegelapan mulai menyelinap masuk.
"Lin Mo!" teriak Guru Shan. "Pertahanan kita tidak cukup kuat menahan serangan langsung seperti ini!"
Lin Mo mengangkat kepalanya, matanya bersinar teguh. Ia tahu—kekuatan mereka sudah maksimal, tapi sumber kekuatannya masih terpecah-pecah.
"Jangan hanya menyambung satu sama lain!" bentaknya. "Sambungkanlah ke sumber paling dalam! Sambungkanlah ke Akar Pertama!"
Ia menancapkan kedua telapak tangannya ke tanah. Cahaya keemasan meledak dari tubuhnya, menyebar seperti akar raksasa ke segala arah, menyentuh setiap orang, setiap batu, setiap tetes air di sekitar mereka. Ia membuka jalan langsung ke sumber kehidupan paling murni di ujung utara, sehingga seluruh kekuatan di dunia ini mengalir menjadi satu aliran yang tak terputus.
Seketika itu juga, jaring cahaya berubah menjadi tembok api keemasan yang kokoh. Gelombang kegelapan menghantamnya, bergetar hebat, lalu perlahan mundur—karena ia tak sanggup melahap kekuatan yang begitu besar dan menyatu sempurna.
Kegelapan itu meraung panjang, suara yang berisi kemarahan dan kebingungan yang mendalam. Ia mencoba sekali lagi menyerang, namun setiap kali ia menekan dari depan, kekuatan dari seluruh penjuru dunia mendorongnya balik. Ia tak bisa menemukan celah, tak bisa menemukan yang lemah, tak bisa menemukan yang terpisah.
Akhirnya, kegelapan itu perlahan menyusut kembali ke ufuk barat, menarik diri menembus batas dunia, meski matanya yang tak terlihat masih menatap dengan kebencian yang belum padam.
Saat cahaya matahari kembali menyinari ujung dunia, ribuan orang itu saling berpeluang, menangis bahagia. Mereka belum mengalahkan Kekosongan sepenuhnya, tapi mereka telah membuktikan satu hal: dunia ini tidak lagi rapuh dan terpecah. Ia kini memiliki fondasi yang tak tergoyahkan.
Lin Mo tersenyum lega, namun ia tahu ini hanya jeda. Kekosongan akan kembali, suatu saat nanti, dengan kekuatan yang lebih besar. Tapi saat itu tiba, dunia ini sudah siap.