NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.

Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.

Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Benih Cinta yang Tumbuh Subur

Sejak kejadian kedatangan Karin itu, hubungan Arga dan Laras melangkah maju ke babak yang sama sekali baru. Tidak ada lagi jarak dingin yang terasa seperti dinding pemisah. Kata-kata “kesepakatan” atau “kontrak” perlahan menghilang dari percakapan mereka, digantikan oleh perhatian tulus dan kebersamaan yang terasa alami.

Arga mulai berusaha meluangkan waktu lebih banyak di rumah. Ia berusaha pulang lebih awal jika pekerjaan memungkinkan, dan sesekali mengajak Laras makan malam di luar atau sekadar berjalan-jalan santai di taman kota saat malam hari—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama bertahun-tahun sebelumnya. Baginya, kebersamaan dengan Laras membawa kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan keuntungan bisnis sebesar apa pun.

Suatu sore yang cerah, Arga mengajak Laras duduk di beranda belakang rumah yang menghadap langsung ke taman luas dan kolam air mancur. Angin sore berhembus lembut menerpa wajah mereka, membawa serta aroma bunga melati dan kenanga yang mekar di sekelilingnya. Di tangan Arga terdapat dua cangkir teh hangat, diserahkan dengan gerakan lembut yang jarang terlihat sebelumnya.

“Terima kasih,” ucap Laras sambil menerimanya dengan senyum menawan. Matanya menyapu pemandangan di depannya, merasa sangat bersyukur meski awalnya semuanya dimulai dari keterpaksaan.

Arga duduk di sampingnya, jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter saja. Ia menatap wajah profil Laras yang disinari cahaya keemasan matahari terbenam. Hatinya terasa penuh, namun sekaligus terasa gelisah karena ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam rapat.

“Laras…” panggil Arga perlahan, suaranya terdengar lebih lembut dan ragu dibanding biasanya.

Laras menoleh, menatap matanya yang tampak mencari kata-kata yang tepat. “Ya? Ada apa?”

Arga menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya—lebih sulit baginya daripada menghadapi rapat pemegang saham terberat sekalipun. “Selama ini aku selalu berpikir bahwa hidup hanya soal menguasai, memiliki, dan melindungi diri sendiri. Aku pikir dengan memiliki segalanya, aku sudah cukup lengkap. Tapi semenjak kau datang… aku sadar ada bagian dari diriku yang sudah lama mati dan baru terasa hidup kembali sekarang.”

Ia menggenggam tangan Laras dengan lembut namun mantap, merasakan kehangatan kulitnya yang menenangkan. “Awalnya aku membencinya—rasa ini. Aku takut ini hanya ilusi, takut suatu hari nanti aku akan ditinggalkan lagi seperti masa lalu. Tapi setiap kali melihat ketulusanmu, setiap kali kau berdiri teguh mendampingiku meski aku belum memberimu apa-apa selain kesepakatan… aku sadar, aku tidak bisa lagi mengelabui hatiku sendiri.”

Jantung Laras berdegup kencang, matanya berkaca-kaca mendengar pengakuan yang dinantikan hatinya tanpa sadar. Ia membiarkan Arga melanjutkan.

“Laras, aku mencintaimu. Bukan karena kewajiban, bukan karena nama baik, tapi karena kau adalah dirimu sendiri. Maaf jika butuh waktu lama bagiku untuk mengatakannya. Maukah kau menerima perasaanku ini? Maukah membantuku melupakan masa lalu dan membangun masa depan yang sesungguhnya sebagai suami istri yang saling mencintai?”

Air mata bahagia akhirnya mengalir di pipi Laras. Ia mengangguk cepat, lalu membalas genggaman tangan Arga dengan kedua tangannya sendiri. “Aku juga mencintaimu, Arga. Perlahan tapi pasti, hatiku terikat padamu tanpa bisa melawannya. Aku menunggumu melewati setiap dinding itu, dan aku sangat bahagia akhirnya kau bisa mengatakannya. Mari kita lupakan masa lalu yang pahit, dan buat cerita baru yang indah mulai hari ini.”

Tanpa ragu lagi, Arga menarik tubuh Laras masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan melindungi. Di bawah langit senja yang indah itu, benih-benih cinta yang sempat tertanam dalam ketidakpastian kini tumbuh menjadi pohon yang kokoh, berakar kuat pada kepercayaan dan ketulusan.

 

Namun, kebahagiaan tidak pernah datang tanpa diuji. Kabar tentang perubahan sikap Arga dan perasaan cintanya pada Laras tidak hanya terdengar oleh orang-orang terdekat saja. Di balik layar, ada pihak yang merasa terancam—terutama Bibi Ratna dan putranya, Dimas, yang diam-diam mengincar posisi dan kekuasaan tertinggi di Grup Pratama.

Selama ini, mereka berharap Arga akan tetap dingin dan tidak memiliki keturunan, sehingga suatu hari nanti kekayaan keluarga itu bisa jatuh ke tangan mereka. Namun kehadiran Laras yang kini dicintai Arga dianggap sebagai penghalang terbesar bagi rencana busuk mereka.

“Kita tidak bisa membiarkan gadis itu terus berada di sisinya,” desis Bibi Ratna suatu malam saat bertemu dengan Dimas di kediamannya sendiri. Wajahnya dipenuhi rasa iri dan ambisi. “Semakin lama dia ada, semakin sulit memengaruhi Arga. Lihat saja, keputusannya sudah mulai berubah, dan dia tidak lagi mendengarkan nasihat kita seperti dulu.”

Dimas mengangguk setuju, matanya menyala penuh niat jahat. “Benar, Bu. Kita harus membuat Arga membenci istrinya itu sendiri. Jika dia percaya bahwa Laras datang hanya untuk menghancurkan reputasinya atau mencuri hartanya, maka dia akan membuangnya sendiri tanpa kita perlu mengotori tangan secara langsung.”

“Bagaimana caranya?” tanya Bibi Ratna penasaran.

“Aku sudah punya rencananya,” jawab Dimas sambil menyeringai licik. “Utang ayahnya, latar belakang keluarganya… semua bisa diputar menjadi cerita yang buruk. Kita buat bukti palsu bahwa Laras diam-diam memindahkan uang perusahaan untuk kepentingan keluarganya sendiri, atau bahkan menjual rahasia bisnis ke pesaing. Jika Arga percaya itu, cintanya akan berubah menjadi kebencian dalam sekejap mata.”

Mereka pun mulai menyusun rencana jahat itu dengan rapi, menyadari bahwa kelemahan terbesar Arga adalah rasa takut dikhianati—rasa yang bisa mereka manfaatkan kembali untuk menghancurkan kepercayaan yang baru saja tumbuh itu.

 

Di sisi lain, kebahagiaan Laras terasa lengkap ketika Arga mengajaknya berkunjung kembali ke rumah orang tuanya. Ia ingin mengenalkan dirinya bukan lagi sebagai penagih janji atau pembayar utang, melainkan sebagai menantu yang mencintai putri mereka.

Saat tiba di rumah sederhana itu, suasana terasa hangat dan penuh haru. Pak Harun dan istrinya menyambut Arga dengan rasa hormat sekaligus cemas, takut Arga akan bersikap angkuh seperti sebelumnya. Namun sikap Arga hari itu membuat hati mereka terasa lega luar biasa. Ia bertindak sopan, mendengarkan cerita mereka dengan sabar, bahkan membantu memindahkan barang dan duduk makan bersama dengan pakaian sederhana tanpa memandang rendah lingkungan mereka.

“Terima kasih telah membesarkan Laras menjadi wanita yang luar biasa,” ucap Arga tulus saat duduk berdua dengan Pak Harun di teras rumah. “Aku sadar awalnya keadaan ini sangat berat bagi kalian semua. Tapi aku berjanji sekarang, aku akan menjaganya, menyayanginya, dan membuatnya bahagia selama aku hidup. Ia bukan lagi sekadar jaminan, melainkan bagian terpenting dari hidupku.”

Mendengar janji itu, mata tua Pak Harun berkaca-kaca. Ia meremas bahu Arga dengan rasa percaya yang baru. “Terima kasih, Nak Arga. Kami menyerahkan dia padamu bukan karena keterpaksaan lagi, tapi karena kami melihat ketulusan di matamu sekarang. Jagalah dia, sebagaimana dia akan menjaga hatimu.”

Siang itu berlalu dengan penuh tawa dan kehangatan. Laras merasa hatinya meluap-luap bahagia melihat dua dunia yang terpisah itu akhirnya bisa bersatu dalam kedamaian. Namun ia tidak tahu, di saat ia merasa paling bahagia, badai besar sedang bersiap menyerang dari arah yang tak terduga.

Beberapa hari kemudian, badai itu mulai datang. Saat Arga sedang sibuk di kantor, ia menerima sebuah amplop tertutup rapat dan sebuah dokumen yang dikirimkan secara anonim. Di dalamnya terdapat laporan yang menyatakan bahwa Laras telah membuka rekening baru dengan nominal besar, dan diduga menerima uang dari perusahaan pesaing dengan janji akan memberikan informasi rahasia milik Grup Pratama.

Disertai juga foto-foto yang terlihat nyata—foto Laras bertemu dengan pria tak dikenal, dan transaksi yang tercatat atas namanya sendiri. Semua bukti itu disusun sedemikian rupa hingga terlihat sangat meyakinkan.

Saat Arga membaca isinya, darahnya terasa mendidih sekaligus membeku. Rasa takut dikhianati yang sudah lama ia tekan tiba-tiba meledak kembali. Suara hati yang mempercayai Laras berjuang keras melawan suara masa lalu yang berteriak bahwa “semua wanita akhirnya sama saja—mereka datang hanya untuk mengambil apa yang kau miliki.”

Ia menggenggam kertas itu hingga jari-jarinya memutih. Di matanya, rasa percaya dan keraguan bertarung hebat. Akankah ia percaya pada bukti yang terlihat jelas itu, ataukah ia percaya pada suara hatinya sendiri dan ketulusan Laras? Badai pertama dalam kisah cinta mereka baru saja dimulai.

1
Sunflower_6520
intinya kunci dr semua ini adalah saling percaya
Sunflower_6520
Ya elah, gue dari tadi mesem" sendiri baca nih cerita... Rasanya pengen salto 🤗 wkwkwk
Sunflower_6520
Nak, kamu belum cukup umur mengetahui kisah cinta bapak ibumu... intinya, banyak masalah yang mereka lalui bersama, sampai akhirnya mereka langgeng sampai sekarang...
Sunflower_6520
maklum calon bapak baru, protektifnya nauzubillah 🤣
Sunflower_6520
Ini yang dinamakan takdir gak ada tau... ditambah sama ketulusan dan ketabahan Laras selama ini, semoga ini bukan bahagia yang singkat ya...
Sunflower_6520
launching juga Arga Junior 🤣
Sunflower_6520
Selamat menjadi gelandang~🤗
Sunflower_6520
Trus kalau emang gak salah, kenapa harus teriak panik gitu... malahan ini yang bikin curiga...
Sunflower_6520
NGAKU AJA LO KAN EMANG DR AWAL PERBUATAN KALIAN! JANGAN LEMPAR BATU SEMBUNYI TANGAN LAH!
Sunflower_6520
Emang lo goblok Ar, percaya sama bukti palsu sampai nyakitin istri lo... Hebat sih (dengan nada sarkas)
Sunflower_6520
Ayolah terbongkar, biar diusir mereka berdua😤
Sunflower_6520
LAH EMANG PALSU ARGA!! LO HARUS MINTA MAAF KE LARAS SOALNYA SEMPET NUDUH DIA!! MAKANYA JADI ORANG JANGAN CEPET PERCAYA SAMA KENYATAAN YANG BELUM JELAS...
Sunflower_6520
Kita liat siapa yang bakal dibuang? Laras? atau justru kalian berdua?
Sunflower_6520
MASUK AJA KALIAN KE NERAKA SANA! GREGET 😤
Sunflower_6520
Saran aja, langsung ditanyain langsung sih dr pada... diem gini, masalah gak kelar, tp pikiran negatif trus bermunculan
Sunflower_6520
Jangan percaya sama bukti itu Arga... mereka pengen membuat kalian pisah
Sunflower_6520
Semoga rencana mereka gagal... Baru aja Arga Laras bahagia sebentar, masa mau dipisahkan?
Sunflower_6520
Kenapa harus denger nasehat Bibi? bibi bukan orang penting di hidup Arga? lagian sekarang, Arga udah punya istri nasehat utama yang harus di dengar ya... Istrinya
Sunflower_6520
Gong! Akhirnya... Langgeng ya kalian, jangan biarkan Mak Lampir itu mengganggu 😤
Sunflower_6520
Arga beruntung dapet Laras? Tapi gimana Laras? maksudnya perasaan dia? Apakah Laras juga akan sadar tentang perasaannya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!