NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Eksklusif Bareng Sari di Restoran Palung

Proses restrukturisasi utang takdir massal para pengusaha darat akhirnya selesai tepat jam tujuh malam. Lima komisaris gaib keluar dari ruang rapat sambil membawa botol air zam-zam dan kelapa muda sisa, muka mereka kelihatan lega banget kayak wajib pajak yang baru dapet pemutihan denda sanksi dari kantor pajak.

"Kerja bagus, Dika," Sari berdiri dari kursi kebesaran CEO-nya, meregangkan badannya yang ramping dengan anggun. "Kamu bener-bener aset paling berharga yang pernah saya temukan di daratan. Sekarang, karena semua jurnal penyesuaian sudah kamu kunci, waktunya kita makan malam. Saya sudah booking satu tempat eksklusif di dasar palung."

Dika yang lagi sibuk shut down laptop Asus bututnya cuma mendongak lempeng. "Makan malamnya masuk ke reimbursement operasional kantor kan, Mbak? Soalnya kuota uang makan dinas saya dari Pak Bambang harian ada batasnya."

Sari langsung tertawa renyah, suara tawanya bikin hawa dingin di lantai 77 mendadak terasa hangat. "Tenang saja, semuanya gratis. Masuk ke entertainment cost pribadi saya."

Mereka berdua berjalan menuju lift khusus yang dindingnya terbuat dari kaca kristal anti-tekanan hidrolik. Lift meluncur ke bawah menembus pondasi kantor pusat, menukik semakin dalam menuju titik paling dasar dari Palung Jawa. Di sana, berdiri sebuah restoran mewah berkonsep fine dining bawah air yang dikelilingi taman terumbu karang menyala warna-warni. Di papan depannya tertulis nama berlogo emas: The Abyss Gastronomy.

Begitu masuk, seorang pelayan pria dengan setelan tukang kebun keraton—tapi berkaki gurita—langsung mengantar mereka ke meja paling pojok yang menghadap langsung ke arah kaca besar. Di luar kaca, tampak pemandangan kegelapan laut dalam yang sesekali dilewati ikan-ikan purba aneh yang kepalanya bisa menyala sendiri.

"Silakan dinikmati suasana malamnya, Dika. Di darat kamu gak akan nemu restoran dengan pemandangan palung sedalam delapan ribu meter seperti ini," ucap Sari sambil melepas jas birunya, menyisakan gaun tanpa lengan yang membuat kulit putih mulusnya kelihatan sangat kontras dengan kegelapan laut di luar.

Dika duduk dengan santai, menaruh tas laptopnya di lantai samping kursi kerja dadakan itu. "Iya, Mbak. Tapi kalau kacanya pecah karena tekanan air, biaya ganti rugi nyawa kita gak bakal cukup dicover sama asuransi BPJS ketenagakerjaan kantor cabang Tomang."

Sari tersenyum misterius, menopang dagunya pakai kedua tangan sambil menatap Dika lempeng-lempeng. "Kamu ini ya, di depan wanita secantik saya dan pemandangan seindah ini, isi kepalamu masih saja soal asuransi dan anggaran. Apa kamu bener-bener gak punya ketertarikan pada hal lain selain angka-angka Excel?"

Belum sempat Dika menjawab, si pelayan gurita datang membawakan hidangan pembuka di atas piring perak mewah. Begitu tutup piring dibuka, muncul kepulan asap es kering aromatik. Isinya adalah potongan daging transparan yang ditaburi pendar cahaya biru kecil-kecil.

"Ini hidangan pembuka kami, Sashimi Siluman Cumi Mutiara. Sangat bagus untuk menambah energi spiritual daratmu," Sari mempersilakan dengan gerakan tangan yang sangat anggun.

Dika mengambil sumpit kayu yang sudah disediakan. Dia melihat potongan daging itu sebentar, lalu membetulkan posisi kacamata minusnya. "Ini... penyusutan masa dagingnya pas dipotong akurat ya, Mbak. Gak ada waste cost dari bahan bakunya." Setelah itu, Dika langsung melahap daging tersebut dengan muka lempeng andalannya.

Sari yang memperhatikan cara makan Dika cuma bisa geleng-geleng kepala kagum campur gemas. Selama hidup ratusan tahun memimpin korporasi gaib, dia biasa menghadapi pria-pria darat yang serakah—entah minta kekayaan instan, minta jabatan, atau malah terpesona dengan kecantikan mistisnya sampai rela menyerahkan jiwa mereka secara sukarela. Tapi cowok umur dua puluh satu tahun di depannya ini bener-bener beda kelas. Jiwanya kokoh banget, bersih, dan gak mempan digoda sama hal-hal duniawi maupun gaib.

"Dika, saya serius soal tawaran kemarin," Sari memajukan sedikit posisi duduknya, matanya menatap Dika dengan binar biru laut yang sangat dalam, memancarkan pesona pelet tingkat keraton yang bisa bikin walikota sekalipun langsung tunduk bertekuk lutut. "Kenapa kamu gak mau pindah kerja ke sini saja secara permanen? Saya bisa kasih kamu posisi Direktur Keuangan Utama di PT Pesugihan Pantai Selatan. Kamu bisa minta gaji berapa saja, rumah mewah di darat, sampai kehidupan abadi tanpa perlu takut tua dan sakit."

Dika mengunyah sashimi-nya sampai habis, meminum segelas air putih hangat dari tasnya sendiri, lalu menaruh sumpitnya dengan rapi. Dia menatap mata Sari langsung tanpa ada keraguan atau rasa grogi sedikit pun.

"Terima kasih banyak atas tawarannya yang luar biasa dari Mbak Sari," jawab Dika, suaranya terdengar tenang tapi punya wibawa Kurator Utama Karma Purba yang sangat dominan, langsung meredam pesona pelet di mata Sari dalam sekejap. "Tapi di dunia akuntansi, sesuatu yang tidak mengalami penyusutan atau penuaan itu namanya anomali sistem, Mbak. Hidup abadi tanpa penuaan itu melanggar standar penyusutan aset biologis internasional. Jurnal hidup manusia itu baru bisa dianggap bagus kalau ada saldo awal lahir, proses operasional kerja harian, dan akhirnya jurnal penutup di liang kubur dengan saldo bersih."

Dika mengambil pulpen dua ribu rupiah dari saku kemeja kerjanya, memutarnya pelan di antara jari. "Kalau saya memilih hidup abadi di bawah laut cuma demi jabatan direktur, itu namanya saya sengaja melakukan rekayasa laporan keuangan hidup saya sendiri. Dan sebagai Kurator Utama Karma Purba, tugas saya adalah membasmi orang-orang yang suka merekayasa laporan seperti itu, bukan malah ikutan masuk ke dalamnya."

Mendengar penjelasan filosofis bin absurd dari Dika, pesona mistis di mata Sari mendadak buyar total. Dia tertegun lama banget di kursinya, menatap Dika dengan pandangan yang gak lagi sekadar penasaran, melainkan sudah berubah jadi rasa hormat yang sangat mendalam kepada integritas cowok berwajah lempeng tersebut.

Sari akhirnya bersandar di kursinya, menghela napas panjang sambil tersenyum tulus—senyuman manusiawi pertamanya tanpa ada embel-embel energi gaib lautan.

"Kamu bener-bener akuntan paling keras kepala yang pernah saya temui, Dika," ucap Sari sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Tapi justru karena sifat keras kepalamu itulah, saya merasa laporan keuangan perusahaan saya bakal aman di tanganmu. Oke, saya gak akan memaksa kamu pindah kerja ke sini lagi."

Sari lalu mengambil segelas minuman sari rumput laut merah miliknya, mengangkatnya sedikit ke udara. "Mari kita bersulang untuk kemitraan jangka panjang antara kantor pusat bawah laut dan kantor cabang Tomang."

Dika mengangkat cangkir air putihnya yang sudah agak retak bawahnya. "Bersulang, Mbak. Semoga audit forensik tahap berikutnya gak banyak yang unbalanced."

Ting. Bunyi benturan gelas mereka berdua berdenting nyaring di dalam ruangan restoran dasar palung yang sunyi.

Namun, tepat saat Dika mau meminum airnya, tiba-tiba seluruh lampu restoran bergoyang hebat. Pemandangan taman terumbu karang di luar kaca mendadak berubah menjadi gelap gulita karena tertutup oleh pusaran pasir laut hitam yang berputar sangat cepat. Terdengar suara raungan frekuensi rendah yang sangat keras dari luar tebing palung, membuat kaca restoran yang tebalnya setengah meter itu bergetar hebat sampai mengeluarkan bunyi berderit tajam.

"Mbak Sari... ini efek samping dari restrukturisasi utang tadi atau ada masalah sistem lain?" tanya Dika, matanya langsung melirik ke tas laptopnya di bawah kursi yang mendadak mengeluarkan pendar cahaya emas darurat.

Wajah cantik Sari langsung berubah drastis menjadi sangat pucat dan tegang. Dia buru-buru berdiri dari kursinya, melihat ke arah kegelapan palung di luar kaca dengan mata yang kembali berubah menjadi biru pekat penuh kemarahan.

"Bukan... ini bukan masalah administrasi utang, Dika," bisik Sari, suaranya bergetar hebat. "Ada yang sengaja menjebol dinding pembatas gaib di sektor barat Palung Jawa. Ini serangan dari sisa-sisa sekutu The Seven Actuaries dari daratan utara yang bersekutu dengan monster purba kedalaman. Mereka mau menyabotase data hasil lelang aset gaib kita!"

Dika menghela napas pendek, langsung meraih tas laptop Asus-nya dan mengeluarkan pulpen dua ribu rupiah miliknya yang kini sudah memancarkan pendar emas panas setebal lima senti.

"Baru juga kelar hidangan pembuka, udah ada yang mau minta audit investigasi lapangan darurat," gumam Dika lempeng sambil berdiri di samping Sari, siap berhadapan dengan badai mistis samudra yang baru saja dimulai.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!