NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

Sudah dua jam lebih Nadira bersujud di hadapan foto Nayla. Tubuhnya yang masih lemah bergetar hebat. Namun demi bisa bicara dengan ibunya ia rela melakukan itu.

Sementara di sisi lain, Mahesa yang sudah selesai membersihkan diri dikamar mandi terlihat keluar dari sana, namun tatapan tajamnya tak teralihkan dari Nadira. Mahesa belum memberikan perintah pada Nadira untuk berhenti.

Ponsel Mahesa berdering tepat saat ia sedang mengenakan bajunya.

Dion menelpon

Mahesa mengangkatnya

" Ada apa Dion?." tanya Mahesa.

" Mohon maaf tuan, saya sudah terlambat memberikan informasi. Setelah saya menyelidiki tentang gadis itu kami menemukan bahwa dia dari desa. Kartu identitasnya dan juga ponselnya ada di kantor polisi. Dia bukan orang Jakarta tuan, tapi dia berasal dari desa yang terpencil. Kami juga menemukan catatan kecil bertuliskan sebuah alamat rumah makan yang dekat dengan lokasi kejadian pembunuhan nyonya Nayla. Apakah kami perlu menyelidikinya lebih dalam tuan?."

Mendengar penjelasan dari Dion, Mahesa menatap Nadira sejenak yang sedang sujud dengan tubuh gemetar.

" Selidiki saja, aku yakin wanita ini memang pembunuh istriku, tapi kalian harus menyelidikinya apakah ada orang lain yang bersekongkol dengannya!." terlihat Mahesa berbicara dengan ekspresi dingin.

Panggilan telepon berakhir.

Mahesa telah menyelesaikan aktivitasnya untuk bersiap siap.

Mahesa kembali terbayang tatapan putus asa dan memohon dari Nadira. Kemudian Mahesa meraih ponselnya.

Ia berjalan ke arah Nadira.

" Angkat kepalamu!." perintah Mahesa.

Nadira perlahan mengangkat kepalanya, pipinya masih basah karena air mata. Ia menunduk, meremas ujung bajunya. "Aku harus memohon sekali lagi agar bisa menghubungi ibu." gumamnya dalam hati.

Namun sebuah ponsel terlihat di hadapannya. Nadira menoleh pada Mahesa yang ada di sampingnya.

" Hanya lima menit! Jangan menghubungi siapapun kecuali orang yang kau sebut ibumu itu!." titah Mahesa dengan tatapan mengintimidasi.

Nadira mengangguk, dengan hati hati ia meraih ponsel itu. Nadira langsung menekan nomor ibunya dengan tangan gemetar.

Tak butuh waktu lama telepon akhirnya tersambung.

" Ibu... Ini aku Nadira..."

Suara di seberang sana terdengar langsung menangis. "Anakku Nadira, kenapa baru menelpon ibu. kamu tahu nak ibu sangat khawatir, ponselmu tidak aktif. Bagaimana kabarmu nak?."

Nadira menitikkan air mata sepertinya ibunya belum tahu kabar tentang musibah yang menimpanya, ia menatap ke arah Mahesa sekilas. Terlihat pria itu sedang mengawasi nya.

Mahesa dapat mendengar suara seseorang di seberang telepon karena dia menyuruh Nadira untuk membesarkan volume ponselnya.

"Ibu, Nadira baik baik saja... Ponsel Nadira rusak karena tidak sengaja terjatuh. Makannya Nadira tidak bisa di hubungi." Bohong Nadira. Padahal ponselnya sudah di sita oleh polisi.

" Syukurlah kalau kamu baik baik saja nak, ibu senang mendengarnya. Apa kamu sudah bekerja nak?." terdengar suara lega dari seberang sana.

Nadira berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Pertanyaan ibunya seolah mencabik cabik perasaannya. Nadira tidak mau ibunya khawatir.

" Iya buk, Nadira sudah bekerja di tempat yang tetangga kita berikan. Ibu jangan khawatir ya, ibu jaga kesehatan. Nadira baik baik saja di sini."

"Wanita ini pandai sekali berbohong." Mahesa menatap tajam ke arah Nadira. sesekali ia melihat jam di tangannya.

" Alhamdulillah, ibu akan menjaga kesehatan di sini. Yang penting kamu di sana sehat nak..."

Nadira menutup mulutnya dengan tangan, tangisnya ingin segera pecah tapi ia tahan.

Mahesa berdehem, Nadira menatap ke arah Mahesa.

Nadira tahu waktu untuk menghubungi ibunya sudah selesai.

" Ibu...Nadira harus bekerja lagi, nanti Nadira hubungi ibu lagi ya..." ujar Nadira berbohong.

" Iya nak, hati hati saat bekerja, jangan telat makan. Jangan lupa telepon ibu saat sudah selesai bekerja."

"Iya buk, Nadira sayang ibu..."

Panggilan telepon berakhir.

Mahesa yang duduk di sofa kembali menghampiri Nadira. Mahesa mengambil kembali ponselnya.

" Pandai sekali kamu berbohong, kenapa tidak katakan saja pada ibumu kalau kamu telah membunuh seseorang?"

Deg

Nadira menggeleng cepat, " Tolong rahasiakan masalah ini dari ibuku tuan, saya mohon. Ibu saya sedang sakit, dia akan syok mendengar berita ini."

Mahesa tersenyum miring. " Saya bisa saja menghubungi ibumu saat ini juga dan mengatakan yang sebenarnya, tapi saya masih punya perasaan karena ibumu sedang sakit. Bukan seperti kamu yang tega membunuh istri saya dengan kejam!. Tapi rahasia mu ini tak selamanya bisa tertutupi dari ibumu, dia akan tahu..."

Deg

Nadira menggeleng, air matanya sudah mengering.

" Saya mohon tuan, jangan beritahu ibu saya. Saya akan melakukan apa saja asal ibu saya tidak tahu tentang masalah ini." Nadira kembali menyentuh kaki Mahesa.

Mahesa memalingkan wajah dengan malas. " Berhentilah menangis jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!."

Mahesa berlalu pergi dari kamar itu, tak lupa ia mengunci pintu dari luar.

Nadira terduduk lemah di tempatnya, ia menatap ke atas dengan keputusasaan.

"Ibu...maafkan Nadira..."

***

Di luar, Mahesa memerintahkan pada pelayan untuk memberikan makanan pada Nadira. Ia juga menyerahkan kunci kamar padanya.

Hari ini Mahesa akan pergi ke perusahaan. Sudah satu Minggu sejak kepergian Nayla ia tak mengunjungi perusahaan.

Di dalam mobil, pikiran Mahesa terus tertuju pada Nadira, ekspresi wanita itu saat menghubungi ibunya terasa sangat menyakitkan, kebohongannya, caranya beralasan.

Mahesa menghela nafas kasar. " Kenapa di mataku dia bukan seperti seorang pembunuh! Tatapan itu sangat dalam bahkan aku bisa merasakan kekhawatiran nya.Tapi bukti pembunuhan sangat kuat mengarah padanya!."

Mahesa bergelut dengan pikirannya. bayangan tentang Nadira yang berbohong demi menjaga perasaan ibunya membuat Mahesa begitu penasaran, kemudian permintaannya yang rela melakukan apa saja asal ibunya tidak tahu tentang masalahnya.

" Wanita itu benar benar membuatku gila! Aku bahkan bisa menuruti permintaannya. Ada sesuatu yang menahan ku untuk mengatakan pada ibunya tentang kelakuannya. Padahal aku bisa saja menghubungi ibunya sekarang dan mengatakan semuanya!." gumam Mahesa bimbang.

Saat sudah mendekati perusahaan, Mahesa berhenti di pinggir jalan. Mahesa berusaha mengendalikan emosinya. " Mahesa! Ingat Nayla. Bayangkan wajah Nayla. Hapus tatapan wanita itu dari pikiranmu!. Jangan berbelas kasih padanya! Dia adalah wanita pembunuh!."

Mahesa menatap tajam ke depan, rasa bencinya kembali tumbuh. Mahesa mengepalkan tangannya pada setir mobil dengan kuat.

" Aku tidak boleh lari dari rencana! Wanita itu harus dibuat menderita!. Tidak ada yang bisa menghentikan ku untuk melakukan apa saja pada wanita itu. Aku akan membalaskan kematian istriku!." Tatapan kebencian kembali mengisi manik biru milik Mahesa.

***

Di kediaman Adiprana, terlihat Diana sedang mengawasi kamar Mahesa dari kejauhan. Diana begitu penasaran dengan keadaan wanita yang dibawa putranya itu.

Di saat yang bersamaan, seorang pelayan wanita lewat sambil membawa nampan berisi makanan.

" Mau dibawa kemana makanan itu?." tanya Diana pada pelayan.

" Tuan menyuruh saya untuk memberikan makanan ini pada wanita itu nyonya besar." jawab sang pelayan.

Diana terlihat marah. " Wanita itu masih hidup? Dan Mahesa meminta untuk memberikan makanan pada wanita itu? Apa apaan ini? Harusnya dia tidak diberi makanan apapun!. Kembalikan makanan ini ke dapur, jangan berikan apapun pada wanita pembunuh itu!."

" Tapi nyonya besar, tuan sudah memberikan perintah. Saya takut melanggar..."

" apa kamu mau membantah perintah ku!."

Melihat tatapan tajam dari majikannya, sang pelayan tak punya pilihan selain membawa kembali nampan makanan itu ke dapur.

" Wanita itu harus diberi pelajaran!." Diana melangkah pelan menuju kamar Mahesa.

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!