Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 Panik
Kediaman Maya
Di tengah suasana siang yang tenang, terdengar desahan yang pelan dan halus keluar dari bibi Maya, sedikit bergetar namun penuh rasa nikmat, seolah setiap hembusan napas membawa rasa damai dan kepuasan yang mendalam.
"Ah… hmmm…" desahan panjang yang lembut, beriringan dengan napas yang sedikit memburu namun terasa nyaman
"Umm… sayang…" suara lirih, bercampur desahan pendek yang halus, terdengar begitu puas.
Bagaimana tidak jika saat ini Maya berada di atas ranjang di balik selimut putih yang sedang bercinta dengan suaminya. Pria 10 tahun lebih muda darinya itu telah menikahinya 1 tahun yang lalu.
Usia Maya saat ini sudah menginjak 45 tahun, sudah pasti percintaan seperti ini membuat rasa stres dan penatnya pekerjaan membuatnya jauh lebih nyaman daripada hal lain.
Penyatuan kedua insan itu dipenuhi dengan keringat di siang hari, tidak membuat mereka berhenti dengan ranjang yang ikut bergoyang bagaimana pria di atas tubuh Maya sangat perkasa berhasil memuaskan dirinya.
Keduanya terus mengeluarkan suara erangan sampai akhirnya keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama-sama.
"Aaaaaaaaaa!" desahan panjang sama-sama dikeluarkan pasangan itu sampai akhirnya pria di atas tubuhnya menjatuhkan wajahnya tepat di dada Maya dengan nafas naik turun dan begitu juga dengan Maya tampak begitu sangat lelah.
Sampai beberapa detik pria itu mengangkat kepalanya dengan mengecup bibir Maya.
"Terima kasih sayang, kamu selalu tahu caranya bagaimana untuk memuaskanku," ucap Maya dengan nafas naik turun dan keringat membasahi wajahnya.
Pria tersebut tersenyum dengan membelai rambut Maya.
"Aku yang harus berterima kasih kepada kamu, kamu sudah membebaskanku dari hutang piutang dan menjadikanku laki-laki lebih dihargai daripada sebelumnya," ucap Pria tersebut.
"Sayang aku masih ingin," ucapkan yang meminta kembali untuk dipuaskan.
"Memang kamu masih sanggup?" tanya pria bernama Dego itu.
"Kamu meragukanku, walau usiaku sudah mencapai kepala empat, tetapi untuk urusan ranjang kamu tidak boleh sepele kepadaku, karena aku lebih jago daripada wanita-wanita muda diluar sana," ucap Maya tersenyum miring.
"Baiklah!" Dego ternyata tidak masalah dan ingin kembali melakukan penyatuan dengan Maya.
"Oma!" sial sekali hal itu tidak terjadi ketika mendengar suara nyaring yang tidak asing dan siapa lagi jika bukan Zena.
"Cucu kamu sudah pulang akan bahaya jika dia sampai memasuki kamar kamu dan melihat kita dalam keadaan telanjang seperti ini," ucap Dego
"Huhhhhhh....."Maya tampak begitu kesal ketika aktivitas itu tidak jadi dilaksanakan, mau tidak mau harus membuat Maya menghentikan aktivitas seksualnya dan Dego juga akhirnya bangkit dari atas tubuh Maya.
"Oma buka pintunya!" Zena sudah menggedor-gedor pintu tersebut.
Tidak lama akhirnya pintu itu dibuka dengan Maya masih menginap piyamanya dengan rambutnya yang sedikit berantakan. Ternyata bukan hanya Zena yang berdiri di depan pintu kamar tetapi juga ada Sisil.
"Isss, Oma lama sekali membuka pintunya," ucap Zena dengan kesal.
"Iya Zena sayang," sahut Maya langsung berjongkok untuk menenangkan kemarahan dari Zena.
Sementara Sisil menatap sang Ibu penuh dengan curiga dengan dahi mengkerut dan kecurigaannya semakin menjadi-jadi ketika seorang pria muncul dari belakang Maya yang sudah memakai pakaiannya.
"Lo, kenapa Om Dego ada di sini?" tanya Zena kebingungan.
"Hay Zena, tadi Om sedang memperbaiki sesuatu di kamar ini," jawabnya.
"Apa itu?" tanya Dego.
"Ada deh, kalau begitu Om pergi dulu," ucap Dego dengan santai dan kemudian langsung pergi dan sementara tatapan Sisil tampak tajam kepada pria yang seenaknya keluar dari kamar Maya dan melewatinya begitu saja.
"Oma, tadi Zena membuat kerajinan tangan di sekolah. Zena mau mengganti baju dulu dan setelah itu akan memperlihatkan kepada Oma," ucap Zena.
"Baik Zena, Oma akan menunggu," sahut Maya tersenyum mengusap pucuk kepala Zena dan kemudian langsung pergi.
Maya menghela nafas dan langsung berdiri dan melihat ke arah Sisil yang menatapnya masih sangat tajam.
"Mama ngapain sih enak-enakan dengan laki-laki itu di rumah ini, bagaimana jika Zena melihatnya," ucap Sisil dengan kesal.
"Mama juga tidak melakukannya di ruang tertutup, kamu ini berlebihan sekali memberi teguran," sahut Maya tidak ingin disalahkan.
"Tetap saja seharusnya jika ingin bercocok tanam jangan di rumah ini dan lihatlah bagaimana Zena yang selalu saja masuk sembarangan ke kamar Mama. Apa sengaja melakukan hal itu agar mata anakku rusak," ucap Sisil semakin kesal.
"Iya-iya, kamu ini berlebihan sekali. Mama tidak akan melakukan hal itu lagi!" tegas Maya.
"Ma, Sisil. Mama!" di tengah perdebatan ibu dan anak itu mereka teralihkan dengan suara teriakan yang tak asing.
"Ada apa dengan Maudy? kenapa dia berteriak-teriak seperti di hutan?" tanya Maya.
"Entahlah," sahut Sisil.
Sisil dan Maya tampak begitu penasaran dengan mereka yang akhirnya sama-sama meninggalkan tempat tersebut dengan menuruni anak tangga.
Maudy terlihat duduk di sofa tampak frustasi dengan memijat kepalanya.
"Kamu kenapa mau di pulang-pulang berteriak seperti tarian? apa kamu pikir ini adalah hutan?" tanya Maya.
"Gawat," ucap Maudy memperlihatkan kecemasan yang jelas di wajahnya.
"Apa yang gawat. Kak?" tanya Sisil.
"Amanda, Amanda....." Maudy sampai bergetar ketika menyebutkan nama Amanda yang membuat Sisil dan Maya justru kebingungan.
"Maudy kamu coba tenangkan diri kamu dan katakan dengan baik-baik apa sebenarnya yang terjadi dan Amanda siapa yang kamu maksud?" tanya Maya dengan penuh penekanan.
"Benar. Kak?" ada apa sebenarnya.
"Amanda yang sudah pergi dari rumah ini sejak 5 tahun yang lalu dan sekarang dia sudah kembali," ucap Maudy akhirnya berhasil menuntaskan kalimatnya yang membuat Sisil dan Maya sama-sama kaget dengan mata melotot.
"Maksud kamu wanita obesitas itu masih hidup dan sekarang sudah kembali?" tanya kembali Maya memastikan.
"Benar, dia sudah kembali dan kata-kata obesitas itu sudah tidak berlaku lagi. Amanda sudah kembali dengan fisik yang berubah dan bukan Amanda yang jelek dan sangat menjijikan yang selama ini kita lihat! dia benar-benar kembali dan menyatakan dengan jelas kepadaku bahwa dia adalah Amanda, meski fisiknya berubah tetapi aku bisa mengenali wajahnya dan juga suaranya yang tidak berbeda!" tegas Maudy memberi penjelasan.
"Jadi wanita itu benar-benar Amanda?" ucap Sisil.
"Kamu juga bertemu dengannya?" tanya Maudy.
"Aku sudah mencurigai wanita itu dan aku sangat sulit untuk mengenalinya, aku sangat yakin wanita yang aku maksud juga sama dengan wanita yang gagal maksud," sahut Sisil mengingat bagaimana pertemuan mereka di Mall, dengan seorang wanita yang membuat perhatiannya benar-benar terbuyar.
Sisil mungkin mengalami kesulitan untuk memastikan Siapa wanita yang dia temui itu.
Bersambung....