Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Sup dan Debu yang Membangkang
Sinar matahari pagi di Cornwall tidak selembut di London. Di sini, cahaya mentari terasa tajam, menembus kaca jendela pondok yang buram oleh uap garam dan debu bertahun-tahun. Bagi Alistair, pagi ini adalah waktu untuk menyusun koordinat pertahanan. Namun bagi Sloane Sterling, pagi ini adalah deklarasi perang terhadap partikel mikro.
"Elena! Berhenti memindai detak jantungku! Ambil kain lap itu dan bantu aku di sudut sana!" teriakan Sloane mengguncang pondok kayu yang rapuh itu.
Elena Vost, yang sedang berdiri di dekat jendela dengan teropong binokular dan senapan sniper di sampingnya, menoleh datar. "Nona Sterling, tugas saya adalah memastikan tidak ada penembak jitu dalam radius lima ratus meter. Membersihkan sarang laba-laba tidak termasuk dalam kontrak operasional saya."
"Laba-laba itu bisa jadi mata-mata ayah Alistair! Siapa tahu mereka memasang kamera di perutnya?!" Sloane membentak asal bunyi sambil terus menggosok meja kayu tua dengan semangat juang yang menakutkan.
Alistair keluar dari kamar kecil di lantai atas, mengenakan kemeja hitam yang belum dikancingkan sepenuhnya—memperlihatkan sedikit perban di bahunya akibat gesekan peluru kemarin. Ia menatap kekacauan domestik di depannya dengan wajah kaku.
"Nona Sterling, energi Anda seharusnya dikalibrasi untuk pemulihan fisik, bukan untuk membasmi serangga lokal," ujar Alistair formal.
Sloane berbalik, wajahnya yang penuh noda debu hitam justru membuatnya tampak menggemaskan di mata Alistair yang mulai tidak logis. "Pemulihan fisik apanya?! Aku tidak bisa bernapas di rumah yang baunya seperti kaus kaki bajak laut ini! Dan kau! Kenapa kemejamu tidak dikancingkan? Kau mau pamer otot atau mau mengundang kuman masuk ke perbanmu?!"
Alistair terdiam, ia segera mengancingkan kemejanya dengan kikuk. "Saya hanya... mengalami keterbatasan ruang gerak akibat cedera jaringan lunak ini."
"Sini!" Sloane menyambar kancing kemeja Alistair dan mulai mengancingkannya dengan gerakan kasar namun teliti.Alistair bisa melihat bulu mata Sloane yang panjang. hidungnya kecil namun mancung.sangat indah dipadukan dengan wajahnya yang tenang itu.
Jarak mereka mendadak menjadi nol. Alistair bisa mencium aroma sabun lemon yang tajam dari tangan Sloane, bercampur dengan aroma manis alami tubuh gadis itu. Ia menatap puncak kepala Sloane, merasakan jantungnya berdegup dengan frekuensi yang sangat tidak karuan.Alistair menjadi sedikit gugup.
"Anda... terlalu dekat, Sloane," bisik Alistair, suaranya parau.
"Diamlah, Tuan Kaku. Kalau kancing ini miring, reputasiku sebagai asisten rumah tangga akan hancur!" Sloane membalas, meskipun pipinya sendiri mulai merona merah.
Setelah sesi "kancing kemeja" yang menegangkan itu, Alistair memutuskan bahwa mereka butuh asupan nutrisi. Dapur pondok itu sangat primitif; hanya ada kompor minyak tua dan beberapa kaleng makanan darurat.
"Saya akan menyiapkan sup," Alistair mengumumkan, mencoba mengembalikan otoritasnya.
"Kau?! Masak di tempat sekotor ini?!" Sloane berkacak pinggang. "Lihat kompor itu! Itu bukan alat masak, itu adalah artefak purba! Biar aku saja yang urus!"
"Tidak. Anda harus beristirahat, Nona Sterling. Secara administratif, ini adalah tugas pemimpin tim untuk memberi makan anggotanya," Alistair bersikeras.
Jadilah mereka "bertempur" di dapur sempit berukuran dua kali dua meter. Alistair mencoba memotong wortel kalengan dengan pisau taktisnya, sementara Sloane terus-menerus mengintervensi dengan menyemprotkan disinfektan ke setiap inci meja dapur.
"Alistair! Kau memotong wortel itu seolah-olah sedang menginterogasi tahanan! Iris pelan-pelan!"Kau bisa merusak cita rasa aslinya.
"Tekanan ini sudah dihitung untuk efisiensi pengunyahan, Sloane," jawab Alistair sambil terus memotong dengan gerakan robotik.
Tiba-tiba, Alistair merasakan udara di dapur menjadi sangat panas. Tanpa sadar, ia melepaskan jas mantel wolnya—yang baru saja ia ambil dari luar setelah "diusir" Sloane semalam—dan menyampirkannya begitu saja di atas bangku kayu tua yang baru setengah dibersihkan.
Sloane membeku. Spatulanya berhenti bergerak di udara.
"ALISTAIR... THORNE...!!!"
Alistair tersentak hebat, tangannya refleks meraba pinggang mencari senjata yang sedang tidak ia bawa. "Ada apa?! Apakah Elena mendeteksi infiltrasi air dari atap?!"
"INFILTRASI KEBODOHANMU!" Sloane menunjuk ke arah bangku kayu itu dengan wajah yang tampak siap meledak. "Aku baru saja menyikat bagian atas bangku itu, tapi bagian bawahnya masih penuh jamur purba! Dan kau menaruh jas wol sutra itu di sana?! Kau mau jasmu berjamur dalam hitungan detik?!"
Alistair menatap jasnya, lalu menatap Sloane yang kini mendekat dengan tatapan predator. "Saya hanya merasa suhu ruangan meningkat secara drastis saat berada di dekat Anda—maksud saya, di dekat kompor ini."
"TIDAK ADA ALASAN! Gantung jas ini di dahan pohon mawar di luar atau aku akan menggunakannya sebagai kain pel!" Sloane menyambar jas itu dan memberikannya kembali ke tangan Alistair dengan kasar.
Alistair menghela napas panjang, menatap Elena yang hanya menatap mereka dari jauh dengan pandangan "saya tidak dibayar cukup untuk mengurusi drama ini Tuan".
ucap Elena seraya tetap berjaga dan mengangkat pistolnya.
"Baiklah. Saya akan menempatkan jas ini di lokasi yang sesuai dengan protokol kebersihan Anda," gumam Alistair. Ia berjalan keluar, namun sebelum membuka pintu, ia berhenti dan menoleh. "Sloane?"
"Apa?!"
"Supnya... jangan terlalu banyak diberi garam. Saya tidak ingin tekanan darah saya naik lebih dari yang sudah Anda sebabkan pagi ini."
Alistair keluar sebelum Sloane sempat melemparkan botol sabun ke arahnya. Di dalam dapur yang kini hanya diisi oleh suara air mendidih, Sloane tersenyum lebar. Ia merasa bahwa meskipun mereka dalam pelarian, pondok tua yang berdebu ini mulai terasa seperti... rumah.
Namun, kedamaian itu terusik saat Elena tiba-tiba bersuara melalui interkom internal. "Tuan Thorne, saya mendeteksi getaran frekuensi rendah dari arah jalan setapak tebing. Jarak dua kilometer. Bergerak cepat. Sepertinya Ayah Anda tidak butuh waktu enam jam untuk memecahkan kode saya."
Alistair masuk kembali ke dapur, wajahnya berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. Ia tidak lagi memegang pisau dapur, melainkan sebuah senapan serbu yang ia ambil dari tas taktis di pintu.
"Sloane, masuk ke ruang bawah tanah pondok ini. Sekarang. Jangan keluar meskipun Anda mendengar suara ledakan atau bau debu yang luar biasa," perintah Alistair, suaranya mutlak dan tanpa bantahan.
"Alistair, aku—"
"SEKARANG, SLOANE! Secara Logika... ini adalah perang. Dan saya tidak akan membiarkan 'noda' musuh menyentuh mawar saya."Tolong turuti saja permintaan saya kali ini.
Sloane melihat kesungguhan di mata Alistair. Ia mengangguk pelan, menyambar botol disinfektannya—senjata pilihannya—dan masuk ke lubang di lantai. Alistair menutup pintu kayu itu, lalu berdiri tegak menghadap pintu masuk pondok, siap mengubah tempat persembunyian yang baru dibersihkan Sloane itu menjadi pemakaman bagi siapa pun yang berani mengusik mereka.
To be continued...