NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.

Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TELEPON YANG TERPUTUS 5 TAHUN*

Setelah kalimat Umi _"Umi menerima. Dengan syarat."_ gema nya masih ketinggalan di teras.

Saqir duduk bersila. Tangan di lutut. Matanya kosong ke pagar bougenville yang basah habis hujan.

Kirana melirik. Jantungnya masih deg-degan karena lamaran yang "disetujui". Tapi ada yang beda di wajah Saqir.

Rahang mengeras. Alis bertaut. Kayak orang lagi perang sama dirinya sendiri.

"Mas?" Kirana pelan.

Saqir nggak jawab.

"Mas Saqir." Umi yang nyaut.

Saqir kaget. Nengok. "Iya Umi."

"Kamu termenung." Umi menatap lurus. "Ada yang ganjel?"

Saqir tarik napas panjang. Dilepas pelan.

"Ada Umi." Suaranya serak. "Saya... saya mau hubungi Bapak."

Nama itu jatuh. Berat.

Kirana langsung nengok. "Bapak?"

Umi mengangguk pelan. Kayak udah nebak. "Bapak kandung kamu?"

Saqir mengangguk. "Iya Umi. Pak Indrawan. Udah hampir 5 tahun. Nggak ada kabar. Nggak ada telepon. Nggak ada apa-apa."

Udara jadi dingin.

Umi meletakkan gelas teh. "Ceritain."

Saqir meremas jemarinya. "Saya diusir Umi. 5 tahun lalu. Waktu umur 19."

"Kenapa?" tanya Umi.

"Karena saya bandel." Saqir ketawa pahit. "Saya pilih jadi diri saya sebagai Saqira dan jadi MC. Bapak bilang itu aib keluarga dan kerjaan MC itu nggak jelas. Bapak mau saya mewarisi perusahan bapak. Saya nolak. Hati nyaman sebagai Saqira yang dandan sperti wanita. Terus... saya diusir. Dibawa koper ke depan pintu. Dibilang 'kalau kamu pilih jadi bencong dan beri malu keluarga kamu jadi gelandangan, sana dan keluar dari KK bukan anak dari Pak Indrawan'."

Saqir diem. Tenggorokannya naik turun.

"Sejak itu putus. Nggak ada telepon. Nggak ada kebar berita. Nggak ada apa-apa."

Kirana menggenggam ujung gamisnya. Dadanya sesak. "Terus Ibu?"

"Ibu ikut Bapak." Saqir berbisik. "Terakhir saya denger, Ibu nangis di waktu saya diusir. Tapi nggak bisa nolong. Karena Bapak yang megang semua."

Hening lagi. Hanya suara jangkrik.

Umi menatap Saqir lama. "Kamu benci?"

Saqir geleng. "Dulu iya. Sekarang... enggak. Saya cuma takut Umi. Takut ditolak lagi."

Umi menggenggam tangan Saqir. Tangan Umi anget. "Kamu mau nikah sama ponakan Umi. Kamu harus beres sama masa lalu kamu. Biar nggak kebawa."

Saqir mengangguk. Air matanya nahan. "Saya mau coba Umi. Malam ini."

Kirana maju. Duduk di sebelah Saqir. "Aku temenin Mas."

Saqir liat Kirana. "Kamu nggak takut denger cerita keluarga berantakan aku?"

Kirana senyum. Tipis. "Aku juga berantakan, Mas. dicap sebagai anak sial. Paman sama Bibi mau nikahin aku secara paksa. Kita sama."

Saqir ketawa kecil. "Iya juga."

Umi berdiri. "Umi ke dalam dulu. Shalat hajat. Minta dimudahin."

Umi masuk. Tinggal mereka berdua.

*DI TERAS. JAM 9 MALAM*

HP Saqir di tangan. Layar nyala. Nomor lama. Belum dihapus.

_PAPA - RUMAH_

Jari Saqir gemetar.

"Gugup?" Kirana bisik.

"Gila." Saqir jawab jujur. "5 tahun. Gimana kalau diangkat terus dimatiin?"

"Terus gimana kalau diangkat terus dimaafin?" Kirana balik nanya.

Saqir menatap Kirana. "Kamu hebat ya."

"Umi yang ngajarin." Kirana meyakinkan Saqir. "Telpon Mas."

Saqir pencet.

_Tuut... tuut... tuut..._

Satu.

Dua.

Tiga.

Saqir udah mau nutup.

_Klik._

"Halo?" Suara berat. Laki-laki. Tua.

Dunia Saqir berhenti.

"Bapak?" Suara Saqir pecah.

Di seberang diem 3 detik. "Siapa?"

"Saqir, Pak."

Hening. Panjang.

Terus suara napas. Berat. "Kamu masih ingat orang tua. Selama ini kemana aja?"

Bukan makian. Bukan bentakan. Tapi Kata kata yang membuat nyesek.

Saqir langsung nangis. "Saya... saya minta maaf Pak."

"Buat apa minta maaf?"

"Karena saya bandel. Karena saya bikin Bapak malu. Karena saya..."

"Udah." Potong Bapak. "Kamu masih hidup?"

"Iya Pak."

"Kamu kerja apa sekarang?"

"Admin Pak. Sama MC. Alhamdulillah cukup."

"Masih jadi bencong... ?? Udah operasi kelamin belum?"

Saqir kaget. "InsyaAllah Pak. Saqir masih dengan kodrat sebagai laki-laki."

Di seberang ada suara perempuan. "Siapa Mas?"

"Ibu?" Saqir langsung nyebut.

"Halo?" Suara Ibu. Gemetar. "Saqir?"

"Ibu..." Saqir udah nggak bisa nahan. "Ibu..."

"Ya Allah anak Ibu." Ibu langsung nangis. "Kamu di mana Nak?"

"Di.... Di Jakarta."

Bapak ngambil alih lagi. "Ngapain nelfon... ??"

Saqir kaget. "Saya...mau ada yang ingin dibicarakan sama bapak?"

"Bapak kamu udah tua Saqir. 5 tahun kamu pergi dari rumah. Itu pilihan kamu sendiri. Kami kira kamu sudah tidak perlu orang tua." Suara Bapak pelan.

Saqir menahan Isak tangis." Pak boleh saqir ketemu bapak. Sekali saja. Saqir mohon pak??

Pak Indrawan terdiam lama. " Boleh. Tapi Tampa make up Tampa wiq, Tampa saqir yang sebagai banci".

Saqir menjawab bergetar. " iya... Iya pak saqir janji.".

"Besok di Kafe dekat rumah. Jangan kerumah sebelum kamu benar-benar berubah." Tegas pak Indrawan.

Telepon ditutup.

Saqir menatap HP. Tangan lemas.

Kirana peluk Saqir. "Gimana Mas?"

"Mereka... mereka mau untuk ketemu." Saqir berbisik. "Bapak bilang Bapak mau ketemu tapi sebagai Saqir bukan saqira."

Kirana mengusap punggung Saqir. "Alhamdulillah Mas."

Kali ini bagian yang paling mendebarkan buat Saqir. Bertemu dengan orang tua setelah 5 tahun Tampa diakui sebagai anak. Karena Saqira lebih memilih menjadi Saqira. Laki-laki yang dulu memilih menjadi wanita.

*3 HARI KEMUDIAN. DI KAFE DEKAT RUMAH*

Langit Depok mendung dari pagi. Kayak ikut nahan napas.

Jam 10. Saqir duduk paling pojok di Kafe "Senyum Senja". Kemeja putih polos. Celana bahan hitam. Rambut disisir rapi ke belakang. Wajah bersih. Tampa make up. Tampa wig. Tampa anting jepit.

Tangan di atas meja gemetar. Di depannya ada es teh yang udah cair.

Kirana duduk di meja sebelah. Pura-pura main HP. Tapi matanya nggak lepas dari Saqir. Umi nunggu di mobil.

"Dia pasti datang Mas." Kirana bisik lewat WA.

Saqir baca. Nggak dibales.

Jam 10.15.

Pintu kafe kebuka.

Pak Indrawan masuk duluan. Kemeja batik. Rambut uban semua. Punggung masih tegak tapi jalannya pelan. Di belakangnya Bu Indrawan. Bawa tas. Mata sembab.

5 tahun.

Saqir langsung berdiri. Lututnya lemas. "Assalamualaikum... Pak. Bu."

Pak Indrawan berhenti 2 meter dari Saqir. Menatap. Dari atas sampai bawah.

Nggak ada riasan. Nggak ada wig. Nggak ada baju pink.

Hanya Saqir. Anaknya yang 5 tahun yang lalu pergi dari rumah.

"Waalaikumsalam." Suara Pak Indrawan datar.

Bu Indrawan langsung nutup mulut. Air matanya jatuh. "Ya Allah... Nak..."

Saqir mau nyamperin. Mau peluk. Tapi kakinya kayak dipaku.

Pak Indrawan duduk. "Duduk."

Saqir nurut. Duduk di depan Bapaknya. Jarak 1 meja. Tapi rasanya sejauh 5 tahun.

Bu Indrawan duduk di samping Pak Indrawan. Tangan Ibu meraih tangan Saqir. Dingin.

"Nak..." Ibu bisik. "Kurus kamu."

Saqir nggak kuat. Isaknya pecah. "Bu... Maaf Bu..."

"Udah." Pak Indrawan motong. Keras. "Nangis belakangan. Kita bicara dulu."

Hening. Hanya suara sendok di kafe lain.

Pak Indrawan menyeruput kopi. "Jadi ini kamu sekarang?"

Saqir mengangguk. "Iya Pak. Ini Saqir."

"Bukan Saqira?"

Pertanyaan itu nancep.

Saqir menelan ludah. "Saya... saya Saqir Pak. Dulu saya bingung. Saya kira nyaman jadi Saqira. Saya kira itu jalan saya. Tapi 5 tahun ini saya mikir. Saya capek bohong sama diri sendiri. Saya capek lari."

Pak Indrawan menatap tajam. "Kamu tau malu keluarga gara-gara kamu?"

"Iya Pak." Saqir jujur. Air mata jatuh lagi. "Saya tau. Saya yang bikin Bapak diomongin orang. Saya yang bikin nama Indrawan jelek."

"Terus kenapa baru nelfon sekarang?"

"Karena saya mau nikah Pak."

Pak Indrawan meletakkan gelas. "Nikah?"

"Iya Pak. Sama perempuan. Namanya Kirana." Saqir nunjuk ke meja sebelah.

Kirana langsung berdiri. Jalan. Sungkem di depan Pak Indrawan. "Assalamualaikum Pak. Maaf ganggu."

Pak Indrawan liat Kirana. Lama. "Kamu yang dia pilih?"

"Iya Pak." Kirana jawab pelan. "Saya tau saya bukan siapa-siapa. Tapi saya mau jaga Mas Saqir. Saya mau dampingin dia jadi lebih baik."

Bu Indrawan narik Kirana buat duduk di sebelahnya. "Sini Nak."

Pak Indrawan diem. Jemarinya mengetuk meja.

"Saqir."

"Iya Pak."

"Bapak usir kamu 5 tahun lalu karena marah. Karena takut. Karena Bapak nggak ngerti." Suara Pak Indrawan mulai pecah. "Bapak kira kalau Bapak keras, kamu bakal nurut. Bapak kira kalau Bapak buang kamu, kamu bakal balik minta ampun."

Saqir geleng. "Saya nggak pernah benci Bapak Pak."

"Bapak benci diri sendiri." Pak Indrawan menunduk. "5 tahun ini tiap lebaran meja makan kosong satu. Tiap ada acara keluarga ditanya 'anak Bapak mana'. Bapak jawab 'di luar negeri'. Padahal Bapak nggak tau kamu makan apa."

Bu Indrawan udah nggak bisa nahan. Peluk Saqir. Kenceng. "Anak Ibu. Maafin Ibu ya Nak. Ibu nggak bisa bela kamu waktu itu."

Saqir balas peluk. Nangis di bahu Ibu. "Bu... saya kangen..."

Pak Indrawan menoleh ke jendela. Nahan. Tapi bahunya naik turun.

"Pak..." Saqir lepas pelukan. Ngelap air mata. "Saya nggak minta Bapak langsung terima. Saya cuma minta 1 kesempatan. Biar Bapak liat saya berubah. Biar Bapak liat saya tanggung jawab."

Pak Indrawan tarik napas. "Nikah sama siapa bilang?"

"Kirana Pak. Dia anak yatim piatu. Kami mau nikah 3 bulan lagi. Saya udah kerja jadi admin. Saya nabung."

"Kerja apa?"

"Admin PT. Sejahtera. Sama MC kalau ada job."

Pak Indrawan mendengus. "MC lagi?"

Saqir langsung tegang. "Iya Pak. Tapi saya nggak pake baju aneh-aneh lagi. Saya pake baju kaki laki. Saya MC formal."

Pak Indrawan diam lama. Terus melihat kearah Kirana.

"Ini gadis yang akan kamu nikahi. Anak yatim. Perkejaannya apa?".

Deg... Jantung Kirana rasa terhenyak.

" Saya.. Saya tidak berkerja pak. Dulu di pondok ngajar santri ngaji. Dan kerja di konveksi". Jawab Kirana pelan tapi penuh dengan kekhawatiran.

" Pak Dia yang merubah saqir untuk kembali kekodratnya saqir. Dia yang Nerima saqir." Saqir membantu menyakinkan bapaknya.

" Diam... !! Saya tidak ngomong kekamu. Saya masih mau tau seperti apa wanita yang ingin kamu nikahi.". Pak Indrawan setengah membentak.

Saqir terdiam seketika. Ia tau kalau sudah seperti itu bapaknya gak boleh di bantah.

" Pak.. Kirana anak yang baik. Dia sudah merubah anak kita lho" Ibu saqir berusaha mencairkan suasana.

"Kamu juga Diam bu...!!. Saya ingin memastikan saja. Wanita yang ingin masuk ke keluarga kita. Bukan hanya bisa merubah saqir. Tapi bisa gak membantu membuat bisnis keluarga kita berkembang".

Perkataan pak Indrawan seperti pisau dihati Kirana. Dan Saqira juga menyadari apa yang dirasakan Kirana.

" Pak.. Kirana gadis pilihan saqir. Wanita biasa dan saqir tidak memandang Kirana dari segi materinya. Karena kami berdua sama-sama berjuang dari nol untuk hidup kami". Saqir mencoba memberikan penekanan kalau Kirana itu penting baginya.

" Saqir.... kalau untuk bertemu dengan kami dan minta maaf bapak bisa maklum. Ini mau menikah. Dengan gadis yang... Maaf tidak sederajat dengan kita..". Pak Indrawan berkata Tampa menoleh ke Kirana.

Saqir menahan rasa sedihnya dan marah. " Pak.... Saqir hanya ingin minta restu bapak untuk menikah. Saqir sudah membuktikan kalau Saqira udh berubah. Sudah menjadi laki-laki sesungguhnya hanya itu pak. Buaka harta bapak bukan perusahaan. saqir hanya ingin hidup sederhana Tampa embel-embel Indrawan dan perusahaannya pak".

" Kamu......Ya udah bapak tidak banyak waktu. Itu terserah kamu. Kalau mau pulang kerumah tolong cari pasangan yang bisa membangun perusahan kita. Bukan wanita rumah tangga biasa". Suara pak Indrawan meninggi.

" Mas Saqir... Tolong dengarkan Kata kata bapak. Turuti saja. Kirana gak masalah walaupun kita gak berjodoh. Kirana gak mau mas melawan lagi. Cukup mas bisa kembali kekeluarga itu sudah baik.". Kirana mencoba menyakinkan saqir untuk ikut keluarganya.

Saqir Memegang tangan Kirana. " Tidak Ra.. Mas udh menemukan rumah dan keluarga didiri kamu. Bukan keluarga yang hanya memikirkan materi saja".

" Kamu masih saja keras hati... Sama seperti dulu. Maaf bapak belum bisa menerima. Kalau mau menikah maka menikah Tampa ada nama Indrawan dibelakang nama kamu.". Tegas pak Indrawan.

Ibu saqir hanya bisa menangis Tampa bisa berbuat apa-apa. Suaminya keras sulit untuk dibantah.

Pak Indrawan pergi dari Kafe tersebut. Ibu saqir memeluk saqir dan Kirana secara bergantian.

" Nak... maafkan ibu tidak bisa membantu kamu. Tapi percayalah Bapak mu akan berubah. ibu merestui kalian hiduplah dengan baik. Ini no ibu yang baru nanti tolong hubungi ibu ya nak...". Ibu saqir menyerahkan kartu nama ke tangan saqir.

" Iya Bu. Saqir akan membuktikan ke bapak. Kalau Saqira bisa sukses Tampa embel-embel Indrawan. Saqir memeluk ibunya. Erat.

Pertemuan hari itu masih menutup pintu antara Saqir dan Orang tuanya. Tapi sudah ada celah walaupun itu sedikit.

1
Sarah
Ini juga berlaku untuk Saqir, dengan penampilan ceweknya dulu.
Sarah
*Saqir Indrawan, dong... bukan Saqira lagi.
Sarah
Gak bakal mau, Bu. Kan mintanya 20 - 25 tahunan + sholehah.
Miss Danica
Aqil @Sarah
Sarah
Umur 8 thor... 😭
Terus ini namanya Agil atau Aqil sih? Bingung gue... 😭
@Miss Danica
Sarah
Kakaknya thor, bukan adiknya. 😭
@Miss Danica
Sarah
Lho? Bukannya sebelumnya pada nyalahin Kirana juga yah sambil maksa nikah pas demo?
Sarah
Masa wudhu bareng? Kalau wudhu bareng atuh auratnya Kirana kelihatan dong gak pake kerudung jadinya?
🗿
@Miss Danica
Sarah
Mana bisa umroh 40 hari langsung pulang gitu aja?! 😭 @Miss Danica
Sarah
Berarti Saqir udah dateng sebelum Kirana dateng dong?
Sarah
Makasih, semuanya... karena sayang sama akuuu. 😇😂
@Miss Danica
Sarah
Pantesan Bik Asih sama Paman Syarif kayak gak punya anak.
Sarah
Bu... aktor sinetron, bahkan idol K-pop juga dandan, Bu. Tebel. Cuma gak keliatan aja karena make-up natural. 🗿
Sarah
Apaan? Emang lu punya mobil? 😂
Paman Syarif awalnya masih rada bener, ke sini-sini mulai sedeng juga. 😌
Sarah
Mending kemeja pink-lah, daripada sebelumnya dress kan? 😂
Sarah
Akhirnya ada orang yang berpendidikan beneran. 😌
Sarah
Justru Paman Syarif kurang tegas karena gak bisa didik istrinya sendiri selama ini.
Sarah
Woo... rupanya... 😂😌
Sarah
Gak kuat, nih cewek baik banget. 😭
Sarah
Kalau apa bener Mas Saqira dosa itu urusan, Allah. Tapi kalau Kirana sayang sama Mas Saqira itu gak dosa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!