"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
Arina mengangguk, bagaimana pun juga ia sangat membenci pelakor dan juga anaknya pelakor.
"Apakah tingkah laku gadis itu begitu menyebalkan?" tanya Arina.
Luis terdiam, berusaha mengingat tingkah laku Laura selama ini.
Setelah beberapa saat mengingat, yang muncul di otaknya adalah bayangan Laura yang manis, lembut, lucu dan penurut.
Bukan itu saja, otak Luis malah mengingatkan dirinya akan bentuk tubuh Laura, terutama dadanya.
Sontak jakun Luis menjadi naik turun saat membayangkannya.
Melihat putranya malah terdiam, Arina memilih bertanya lagi. "Luis, kenapa malah diam?"
Lamunan Luis pun langsung buyar, ia menatap ibunya dan menjawab, "gadis itu itu begitu menyebalkan dan selalu membuatku jengkel."
Akhirnya ia teringat saat Laura dekat dengan Nigel atau pun dengan pria lain. Hal itu selalu membuatnya jengkel.
Arina mengangguk.
Setelah mendengar perkataan putranya, pikiran Arina berkelana kemana-mana. Ia tidak bisa membayangkan betapa tak tahu dirinya anak pelakor itu.
Tinggal dirumahnya gratis, menganggu putranya bahkan meminta kartu hitam dari suaminya.
Tanpa sadar kedua tangan Arina terkepal.
Luis menambahkan. "Gadis itu juga pernah hamil."
Arina sontak terkejut. "Apa?"
Luis mengangguk. Ia melanjutkan, "ntah bayinya itu digugurkan atau dilahirkan. Aku nggak tahu, karena ayah yang lebih mengerti."
Alis Arina mengerut, "ayahmu? Memangnya apa hubungannya?"
Luis tersenyum sinis, "Ayah selalu membela gadis itu, bahkan memanjakannya. Menurutku, skandal dia pernah hamil dan aborsi pasti di bereskan oleh ayah."
Arina memejamkan matanya sejenak, ia tidak tahu kepergiaannya membuat rumah yang sebelumnya bahagia untuk putranya, hal itu malah membuat putranya menderita.
"Aku harus segera menceraikan Johan dan rujuk dengan Wilson, aku nggak bisa membiarkan anak pelakor itu menguasai harta Wilson," gumam Arina dalam hatinya.
"Ibu, apakah kamu nggak mendengarkan ku?" tanya Luis.
Arina menatap putranya, "aku mendengarkanmu."
"Tapi, aku hanya sedikit memikirkan betapa buruknya anak haram ayahmu itu." Imbuhnya bohong, bagaimana pun juga pikirannya tidak tertuju pada Laura.
Melainkan bagaimana caranya dirinya bisa bercerai dengan Johan.
"Apakah ibu ingin melihat wajah Laura?" Tawar Luis.
Arina pun mengangguk.
Tapi saat ingin melihat dari ponsel putranya, Johan sudah menelpon dan mengatakan jika Emma mengalami kecelakaan.
Dan sekarang ini, Johan masih perjalan dari diluar negeri.
***
Nigel duduk santai di kursi pengemudi mobil mewahnya, wajahnya dipenuhi senyum lebar yang sulit disembunyikan.
Tangannya tak henti-hentinya menyentuh dagu dan menyisir rambutnya yang tertata rapi, seolah menikmati setiap sudut wajahnya yang menurutnya sempurna.
Matanya yang berbinar menatap cermin spion kecil di samping, kemudian beralih ke kaca tengah, berulang kali memastikan pesonanya terpancar sempurna.
Asisten pribadinya, Gio, duduk di sebelah, tersenyum geli sambil menyela, "Tuan, anda sudah sangat tampan hari ini." Suaranya mengandung nada bercanda sekaligus kekaguman.
Nigel menoleh dengan alis terangkat, lalu menjawab dengan nada tegas namun bercanda, "Gio, diamlah. Atau gajimu aku potong."
Tawa kecil Gio terdengar, tapi matanya tetap waspada mengamati perubahan ekspresi tuannya saat pandangannya tertuju ke kejauhan.
Di sana, berdiri seorang gadis dengan tubuh yang tampak kurus dan wajah pucat—Laura.
Senyum lebar Nigel seketika menghilang, digantikan oleh raut wajah yang kusut dan penuh kekhawatiran.
Nigel segera membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan langkah cepat, matanya tak lepas dari sosok Laura.
"Laura, apakah aku membuatmu lama menunggu?" tanyanya dengan suara yang lebih lembut, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang mulai merayapi dadanya.
Sehari tidak bertemu dengan Laura, ntah kenapa ia merasa jika gadis itu bertambah kurus.
Laura hanya menggeleng pelan, matanya menatap ke bawah seolah berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit dulu?" tawar Nigel, nada suaranya penuh perhatian dan sedikit memaksa.
Namun Laura kembali menggeleng, tubuhnya yang kurus itu tampak semakin rapuh di bawah sinar matahari yang mulai meredup.
Wajahnya yang pucat menambah kesan bahwa ada sesuatu yang sangat mengganggunya, namun dia memilih untuk tetap diam.
"Kenapa?" Tanya Nigel.
Laura memaksakan senyumannya, "aku sehat bugar. Lebih baik kamu segera bawa aku kesana!"
Nigel lantas tersenyum dan mengangguk, ia tidak ingin mempersulit Laura.
Lalu ia membukakan pintu penumpang untuk Laura.
Dengan wajah termenung, Laura menurut dan masuk.
Nigel membuka pintu samping pengemudi dengan gerakan tegas, pandangannya lurus menatap Gio yang masih duduk kaku di kursi pengemudi.
Wajahnya yang dingin dan tanpa senyum membuat suasana menjadi tegang.
Tanpa basa-basi, ia mengitari mobil dan membuka pintu samping penumpang, lalu berkata dengan nada yang tak bisa ditawar, "Kamu kembali ke perusahaan naik taksi saja!"
Gio menatap Nigel dengan mata membelalak, dadanya sesak karena kata-kata itu terasa seperti cambukan.
"Apa?" jawabnya terbata-bata, suaranya tak menyembunyikan keterkejutannya.
Melihat raut wajah Nigel yang semakin tak bersahabat, Gio buru-buru mengangguk dan memilih turun dari mobil, langkahnya berat namun cepat, takut jika pertengkaran ini akan berujung pada pemotongan gaji atau hal yang lebih buruk.
Di dalam mobil, Laura duduk terpaku, matanya kosong menatap ke luar jendela.
Wajahnya yang biasanya cerah kini tertutup awan kelam, bibirnya yang sedikit mengatup menandakan beban yang dipikul begitu berat.
Tangannya terkepal di pangkuan, sesekali menarik napas panjang seolah berusaha menahan guncangan emosi yang tak bisa ia tunjukkan di depan Nigel.
Diam-diam, pikirannya melayang jauh, menimbang rasa sakit yang makin menyesakkan dada.
Nigel mulai menghidupkan mesin mobil, bersama disamping Laura.
Ntah kenapa rasa bahagia membuncah dadanya.
Tak berselang lama, keduanya masuk ke dalam apartemen.
Nigel mulai merasa curiga saat melihat langkah Laura yang aneh, seolah menahan sakit di bagian bawah tubuhnya.
"Laura, ada apa?" tanya Nigel dengan alis berkerut, terselip rasa takut dan curiga.
Namun, ia berusaha tak berpikir terlalu jauh. Ia menggandeng tangan Laura untuk membantunya berjalan.
Laura terkejut, tatapannya bertemu dengan Nigel. Ada ketakutan yang tersembunyi, takut jika pria itu tahu apa yang sebenarnya Luis lakukan padanya.
"Laura, ayo aku bantu. Kok malah diam saja?" tanya Nigel dengan nada bercanda, berusaha mencairkan suasana yang canggung.
Melihat Laura masih membeku, Nigel memegang pinggangnya, "Mau aku gendong saja?"
Laura segera menjauh. "Kak Nigel, aku bisa sendiri," sahutnya, wajahnya memerah.
Nigel tersenyum, melihat pipi Laura memerah.
Dalam hatinya ia bergumam, "semoga saja, nanti kalau ingatanmu kembali. Kamu akan tetap menganggap ku sebagai pacarmu, bukan kakakmu."
"Laura Ana, aku sungguh sangat mencintaimu."
Keduanya berjalan berdampingan. Tiba-tiba langkah keduanya terhenti, setelah itu Nigel menyerahkan kunci apartemennya.
"Laura ini milikmu, aku juga akan tinggal disini. Di sebelah sini," ujar Nigel seraya menunjuk ke arah kamar apartemen samping Laura.
Laura mengangguk. Ia berkata dengan nada canggung, "aku nanti pasti akan mencari pekerjaan paruh waktu dan membayar biaya sewa apartemen ini. Kak Nigel terimakasih banyak sudah membantuku." Ujarnya dengan nada tulus.
Wajah Nigel berubah rumit, "nggak perlu bekerja dan membayarku. Ini apartemen ... " Ia nampak berpikir keras, agar Laura tidak menolak bantuan darinya.
"Hmm, ini dari bibi Grace."
Laura tertegun, ia menatap Nigel penuh tanda tanya. "Maksud kak Nigel, apartemen ini dari ibuku?"
Nigel mengangguk, ia terpaksa berbohong.
Hasil tes kesehatan Laura sangat buruk dan bikin prihatin, ditambah lagi ada sesuatu yang mengganjal pikiran Nigel.
Yaitu tentang kelebihan hormon galaktorea milik Laura yang ikut menganggu kesehatan gadis itu.
Kalau membiarkan Laura kecapean, kurang gizi terus menerus, tubuhnya bisa ambruk bahkan gadis itu bisa terkena penyakit kronis.
Nigel tentu saja tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Ia menatap Laura, lalu mengangguk. "Semua ini milik bibi Grace, bibi sangat mencintaimu. Laura, bibi Grace sangat kaya, dia tentu saja nggak akan tenang melihatmu menderita dari atas sana."
"Laura, tolong kamu percaya padaku. Mulai sekarang aku juga keluargamu, kamu bisa mempercayai ku," ujar Nigel, wajahnya terlihat sangat tulus.
Ntah kenapa Laura merasa damai, dan langsung mempercayai ucapan Nigel.
Apalagi mengingat foto-foto dari dirinya saat berumur 6 tahun sampai 16 tahun, Laura yakin Nigel memang ditakdirkan untuk bersama dengannya.
Laura sontak memeluk Nigel, "Makasih banyak kak Nigel."
Nigel pun membalas pelukan Laura.
Sementara dari kejauhan, ada sekarang laki-laki yang memfoto Laura yang berpelukan mesra dengan Nigel.
Setelah memfoto Laura, ia mengirimkan nya pada seseorang, lalu ia bergumam. "Laura tamatlah riwayatmu, Luis pasti akan memecat mu dan ibumu. Makanya jadi gadis gak usah sok jual mahal, padahal aslinya mah harga murah."