Aldo pulang merantau dari kota karena mendengar kabar bahwa sebentar lagi Airin akan segera menikah, Kakak kesayangannya itu akan menikah sehingga dia harus segera pulang.
tanpa dia tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan Aldo sama sekali tidak mendengar kabar tentang hal itu, bahkan hal yang begitu buruk akan segera menghampiri dia karena kedatangan dia ke desa ini hanya akan mengungkap apa yang telah terjadi kepada Airin yang telah lama menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Sepatu
"Maaf saya datang malam-malam seperti ini ke rumah Bu Hartini." Pak RT agak sungkan namun dia seperti sedang menenteng sesuatu di dalam kantong berwarna hitam.
"Ah tidak masalah kok, Pak! apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?" Bu Hartini bertanya dengan nada begitu ramah.
"Tadi sekitar pukul delapan saya bertemu dengan itu Mario yang biasa mencari barang buruk di tong sampah sana, tapi katanya hari ini dia pergi agak masuk ke kebun sawit dan malah menemukan sesuatu." Pak RT agak bingung mau menjelaskan karena dia tahu bahwa Bu Hartini ini sedang berduka.
"Oh apakah barang itu bersangkutan dengan saya?" Bu Hartini mendadak juga ikut cemas.
Pak RT menelan ludah dengan susah payah karena dia takut ini nanti justru semakin menambah luka di dalam diri Ibu Hartini semakin menjadi saja, tadi sebenarnya dia berharap bahwa yang membuka pintu ini adalah Aldo sehingga bisa berbicara panjang lebar kepada pemuda tersebut di sini.
Namun itu semua hanya tinggal harapan saja karena Aldo sedang sibuk membuka lemari milik Airin yang ada di dalam kamar, malah Aldo merasa senang ketika pak RT datang sehingga Bu Hartini tidak ikut campur membuka lemari tersebut karena dia sibuk menyambut tamu yang baru datang di malam hari seperti ini.
Ini Pak RT saja terlihat bingung mau berbicara langsung tentang barang penemuan yang baru saja dia ambil dari tangan Mario, sebab Dia tahu ini pasti membuat Bu Hartini semakin tertekan dan bahkan bisa saja sekarang wanita itu akan menangis bergulung-gulung di atas lantai karena merasa kesedihan yang cukup besar.
Bu Hartini sendiri sudah tidak sabar karena dia tahu mungkin ini ada sesuatu yang serius sehingga Pak RT tidak bisa menunda datang ke rumah dia sampai esok pagi, saat ini sudah malam sehingga bisa di katakan tidak pantas juga bertamu ke rumah warga selarut dan semalam ini karena bisa saja warga tersebut sudah tertidur nyenyak.
"Apa ini sepatu milik Airin?" Pak RT mengeluarkan sepasang sepatu mungil dari dalam kantong hitam itu.
"Mana? biar saya coba lihat terlebih dahulu apakah itu memang milik Airin." Bu Hartini masih tetap tenang dan mengambil sepatu tersebut.
"Tadi Mario mendapatkan ini di sekitar pohon sawit sana, karena Airin masih dalam pencarian maka dia memberikan sepatu ini kepada saya." Pak RT menjelaskan dengan tutur kata yang cukup lembut.
Bu Hartini tidak menjawab karena dia sibuk melihat dan berusaha mengenali apakah memang ini milik Airin atau bukan, sebab terkadang model sepatu cukup banyak sehingga mereka memiliki kesamaan tersendiri dalam membeli sepatu tersebut.
"F!" Bu Hartini tertegun ketika melihat telapak kaki muncul inisial yang selama ini sangat dia kenali.
"Bukan atau iya?" Pak RT juga penasaran apakah itu memang sepatu milik Airin.
"Ya allah!" Bu Hartini menutup mulut karena tidak menyangka bahwa sang anak saja sampai meninggalkan sepatu seperti ini.
Sebab semua barang milik Airin berinisial huruf F, karena itu semua sebagai bukti cinta dia kepada pria yang selama ini terus bersama dengan dirinya. Airin telah buta dengan cinta sehingga dia tidak akan pernah bisa melupakan atau bahkan meninggalkan Fitra, sama seperti ketika tadi Aldo membuka laci dan semua itu berinisial dengan huruf F.
"Ini memang sepatu milik Airin." Bu Hartini berkata dengan suara gemetar.
"Eh tapi walau ini sepatu milik dia namun belum tentu kalau dia sudah celaka kan, Bu." Pak RT berusaha untuk menenangkan.
"Lalu bagaimana dengan gaun pengantin berdarah itu?" tanya Bu Hartini kepada Pak RT.
"Saya pribadi mendoakan kalau Airin saat ini hanya menghilang saja dan Dia tidak sedang dalam masalah." ujar Pak RT berusaha untuk menguatkan.
Bu Hartini hanya diam saja Karena sejujurnya di dalam hati dia sudah sangat yakin bahwa Airin sudah meninggal dunia dan kemungkinan ada yang mencelakai gadis itu, tambah lagi sekarang malah ada sepatu milik Airin juga di dalam tong sampah sehingga perasaan takut itu semakin besar di dalam hati wanita tersebut.
"Kita juga sedang berjuang untuk mencari keberadaan Airin." Pak RT kembali membuka suara.
"Entah lah, saya sebenarnya juga sudah ragu apa Airin ini masih hidup atau sudah meninggal dunia." Bu Hartini berkata dengan kepedihan yang begitu dalam.
"Ya Allah jangan patah semangat seperti itu karena saya yakin Airin pasti bisa kembali kepada kita semua." ucap pak RT.
Bu Hartini hanya mengangguk dengan perasaan gundah gulana karena dia tidak tahu harus bagaimana untuk menanggapi ucapan Pak RT barusan, di sisi lain dia memang berharap bahwa Airin ini masih hidup dan bisa kembali lagi bersama dengan mereka.
Namun hati kecil wanita ini selalu mengatakan bahwa Airin sudah meninggal dunia dan tidak akan pernah bisa kembali lagi, rasa curiga itu terus-menerus terkumpul di dalam hati dan dia juga sedang berjuang untuk mencari tahu tentang kebenaran itu sampai dapat.
Selamat malam,. jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.