Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Pulang ke Batas Sunyi
Rintik hujan deras menghantam kaca jendela limusin hitam yang melaju membelah jalanan gelap menuju The Bridle Path. Di dalam kabin yang kedap suara, Cassian menyandarkan kepalanya, menatap pantulan dirinya yang samar di kaca mobil. Jam digital di dasbor menunjukkan pukul sebelas malam. Kelelahan yang teramat sangat mulai merayapi fisiknya, bukan karena durasi rapat, melainkan karena energi yang terkuras untuk menahan topeng kepalsuan di atas podium Shangri-La tadi.
Ponsel di saku tuksedonya bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan puluhan panggilan tak terjawab dari dewan direksi, kolega bisnis, hingga nomor Alexander Noir yang sengaja ia abaikan.
"Tuan Cassian," Kevin memecah keheningan dari kursi depan, membalikkan tubuhnya sedikit. "Berita utama di seluruh media finansial Kanada malam ini hanya berfokus pada satu hal: legalitas pernikahan Anda. Saham Noir Enterprises sempat bergejolak di pasar malam, namun langsung stabil setelah tim hukum merilis konfirmasi bahwa hak veto Anda telah aktif sepenuhnya secara hukum."
"Alexander tidak akan tinggal diam, Kevin. Dia pasti sedang mencari celah untuk membatalkan sertifikat itu," sahut Cassian, suaranya terdengar serak dan dingin. Ia melonggarkan kerah kemeja putihnya yang terasa mencekik.
"Tim kita sudah mengantisipasinya. Otoritas sipil Ontario tidak bisa membatalkan dokumen yang ditandatangani atas kesepakatan sukarela kedua belah pihak, kecuali ada bukti paksaan atau penipuan," jelas Kevin. Asisten setianya itu menjeda kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan, "Dan sejauh ini, Nona Aisya berada di pihak kita. Dia menandatanganinya dengan penuh kerelaan."
Penuh kerelaan.
Kalimat Kevin seperti lemparan batu yang memicu riak di kolam batin Cassian yang tenang. Kilasan ingatan tentang bagaimana Aisya menatapnya dengan ketulusan yang mendalam di balik kacamata bulatnya—berjanji akan merapalkan doa di atas sajadah untuk kelancaran urusannya—kembali menghantui isi kepala Cassian.
Pria itu memijat pangkal hidungnya yang mancung, merasa muak pada dirinya sendiri karena mendadak terusik.
Dia hanya tameng hukum, Cassian. Jangan biarkan ucapan Eleanor meracuni pikiranmu, batinnya memperingatkan dengan kejam.
Limusin mewah itu akhirnya berbelok melewati gerbang besi tinggi The Bridle Path yang dijaga ketat oleh tiga mobil keamanan berlapis. Begitu mobil berhenti sempurna di lobi depan mansion yang megah, Cassian langsung mendorong pintu mobil bahkan sebelum pelayan sempat membukakannya dari luar.
Ia melangkah masuk ke dalam serambi utama rumahnya yang luas dan sepi. Postur tubuhnya yang tampak begitu gagah dan kokoh, dengan bahu bidang yang tegap berbalut tuksedo mahal—sama sekali tidak terlihat kurus karena proporsi tubuhnya yang atletis dan tegap sempurna. Langkah kaki jangkungnya yang berselimut pantofel mahal menggema di atas lantai marmer. Namun, saat tatapannya beralih ke arah ruang tengah yang luas, langkah kaki Cassian mendadak melambat.
Lampu utama ruangan itu sudah dipadamkan, menyisakan pendaran hangat dari lampu sudut berwarna kuning temaram. Di atas sofa beludru panjang bernuansa krem, sesosok tubuh mungil tampak meringkuk dengan tenang.
Aisya tertidur di sana.
Gadis itu masih mengenakan one-set sweater longgar polos berwarna abu-abu muda yang sama dengan malam sebelumnya. Kacamata berbingkai bulatnya sudah bergeser miring, hampir terlepas dari hidung kecilnya, sementara sebuah buku literatur tebal yang terbuka merosot di atas pangkuannya. Rambut hitam panjangnya yang indah tergerai sebagian di atas bantal sofa, membingkai wajah polosnya yang tampak begitu damai dan tanpa beban di tengah badai yang saat ini sedang mengguncang seluruh kota Toronto karena namanya.
Cassian berdiri terpaku di batas undakan ruang tengah selama beberapa saat. Di bawah temaram lampu kuning, kontras di antara mereka terasa begitu mutlak. Cassian yang berbalut tuksedo hitam formal seharga puluhan ribu dolar, sarat akan noda intrik dan kelicikan dunia atas, bersanding dengan Aisya yang meringkuk polos dalam balutan sweater abu-abu longgarnya.
Pria itu melangkah mendekat tanpa suara. Setiap ayunan langkah kakinya sengaja dibuat sepelan mungkin agar pantofel mahalnya tidak mengusik tidur lelap sang gadis. Begitu sampai di sisi sofa, Cassian merundukkan sedikit tubuh tegapnya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mendengar deru napas Aisya yang teratur dan halus.
Cassian mengulurkan tangan kanan, jemarinya yang panjang bergerak perlahan menuju wajah Aisya. Dengan ujung jarinya, ia menyentuh bingkai kacamata bulat Aisya yang sudah miring, lalu menariknya lepas dengan gerakan yang teramat hati-hati agar tidak membangunkan gadis itu. Ia meletakkan kacamata tersebut di atas meja kopi di samping sofa.
Tanpa penghalang lensa kacamata, gurat wajah Aisya terlihat semakin ringkih dan belia. Cassian menatap buku literatur tebal di pangkuan Aisya, lalu mengambilnya perlahan, menutupnya, dan menaruhnya di samping kacamata.
"Kau benar-benar ceroboh," bisik Cassian dengan suara baritonnya yang teramat rendah, hampir menyerupai desiran angin malam. "Tidur di sini tanpa mengunci pintu utama, di rumah seorang Noir."
Aisya sedikit menggeliat, mengerutkan hidung kecilnya seolah terganggu oleh hawa dingin yang menyusup dari rintik hujan di luar jendela. Tubuh mungilnya yang hanya setinggi 150 cm itu semakin tenggelam di dalam luasnya sofa beludru.
Melihat gadis itu sedikit menggigil, sebuah dorongan asing yang tidak rasional mendadak menguasai benak Cassian. Alih-alih memanggil pelayan wanita untuk memindahkan Aisya ke kamarnya di lantai atas, Cassian justru menyusupkan kedua lengan kekarnya ke bawah tubuh mungil Aisya.
Dengan satu gerakan mantap yang teramat mudah bagi postur tubuhnya yang kokoh, Cassian mengangkat tubuh Aisya ke dalam dekapannya.
Deg.
Kepala Aisya terkulai alami, bersandar tepat di atas dada bidang Cassian yang masih terbalut kemeja satin putih. Wangi alami dari rambut hitam Aisya—aroma manis kelopak mawar dan bedak bayi yang menenangkan—seketika menyeruak bebas, menginvasi indra penciuman Cassian dan melumpuhkan sisa aroma alkohol serta parfum mahal dari ballroom Shangri-La.
Cassian membeku di tempat selama satu detik penuh. Jantungnya berdentum ganjil, mengetuk rongga dadanya dengan ritme yang tidak biasa. Ia bisa merasakan betapa ringkihnya gadis ini di dalam dekapannya, seolah satu cengkeraman kasar saja dari tangannya bisa mematahkan tubuh itu.
Aisya, di dalam tidurnya yang lelap, tampaknya merasakan kehangatan yang kokoh. Alih-alih terbangun, ia justru merapatkan wajahnya ke dada Cassian, jemari kecilnya tanpa sadar meremas ujung kerah tuksedo hitam Cassian, mencari perlindungan.
Rahang Cassian mengeras. Ada rasa bersalah yang teramat tipis—namun tajam—menyelinap masuk ke dalam hatinya yang sekeras batu. Gadis ini mempercayainya. Gadis ini bersandar padanya dengan kepolosan yang mutlak, tanpa tahu bahwa beberapa jam lalu, Cassian baru saja melemparkan namanya ke tengah-tengah serigala media Toronto.
Cassian membuang napas berat, menekan paksa ego dan dinding esnya yang sempat retak. Ia mulai melangkah, membawa tubuh mungil Aisya menaiki tangga marmer menuju kamar utama di lantai atas dengan langkah yang konstan dan protektif.
Malam ini, ia telah memenangkan takhta korporasinya. Namun, menatap wajah damai di dalam dekapannya, Cassian Noir mulai menyadari satu hal yang paling ia takuti: tameng yang ia pilih untuk berperang, perlahan-lahan mulai berubah menjadi kelemahannya sendiri.
semangat jg buat author nya 😍
di tunggu kelanjutannya Thor 😍
tegas dan bertanggung jawab
lanjut thor😍