Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part II
Sore harinya, keesokan harinya, Dika mengajak Rio sahabat karibnya berkeliling kota Sidoarjo naik sepeda motor. Dika mengendarai motornya dengan tenang, postur tubuhnya yang tinggi besar membuatnya terlihat sangat mencolok namun gagah di jalanan kota. Ia melaju melewati jalan-jalan utama, melewati Gedung Negara, melewati alun-alun, melewati pinggiran sungai Brantas yang lebar dan tenang.
Mereka berhenti di sebuah bukit kecil di kawasan Taman, tempat terbaik untuk melihat pemandangan seluruh kota Sidoarjo dari ketinggian. Dari sini, terlihat jelas hamparan luas tambak garam yang berkilauan terkena matahari, deretan pabrik, perumahan, dan asap tipis yang mengepul di kejauhan. Angin bertiup kencang menerbangkan ujung baju kaos Dika, menerbangkan rambut hitam tebalnya, namun ia berdiri tegak tak tergoyahkan, seperti tiang bendera yang kokoh.
Di samping Dika, Rio berdiri dengan sikap yang sama tegapnya, meski perawakannya sedikit berbeda. Rio berpostur sangat besar, tinggi menjulang hingga mencapai 183 cm dengan berat 78 kilogram, tubuhnya berisi dan sangat kekar—tipe fisik raksasa yang sangat dibutuhkan sebagai bek tengah. Bahunya sangat lebar, dadanya bidang, dan kakinya besar serta kokoh seperti tiang beton, membuatnya sangat sulit digeser oleh lawan. Kulit Rio agak lebih gelap dari Dika, rahangnya tegas dan keras, sorot matanya tajam dan berani, persis seperti karakter seorang penjaga benteng yang tidak kenal ampun. Sejak kecil, Rio memang dijuluki "Tembok Buduran" oleh teman-temannya, karena tidak ada satu pun penyerang yang bisa melewati tubuhnya yang besar dan kuat itu. Namun di balik fisiknya yang menyeramkan, Rio memiliki hati yang sangat lembut, setia kawan, dan selalu mengikuti langkah Dika ke mana pun pergi.
Rio menatap kagum sosok sahabatnya itu. Dika yang sekarang sudah sangat berbeda dari Dika yang ia kenal dulu. Badannya makin kekar, wajahnya makin berkarisma, sorot matanya makin tajam dan penuh percaya diri.
"Gila, Dik... aku masih nggak nyangka," kata Rio sambil menggeleng-gelengkan kepala sambil menepuk-nepuk pahanya yang besar dan berotot. "Dulu kita cuma anak-anak kampung yang main bola di lapangan tanah berdebu. Kamu jadi gelandang serang dan kapten, aku yang jadi 'tembok' di belakang buat jaga-jaga. Sekarang... kamu punya uang milyaran, kamu fasih bahasa Inggris, kamu ditawari Persebaya tapi kamu tolak, kamu mau terbang ke Inggris... Badanmu juga, Dik... lihat lenganmu itu, bahumu itu... kayak papan tulis, lebar banget. Dan lihat aku... aku makin gemuk dan besar saja ya? Tapi kamu bilang, di sana, ukuran badanku ini justru jadi senjata utama."
Dika tertawa lebar, suara beratnya menggema di bukit itu. Ia menepuk dada sahabatnya yang keras dan bidang itu dengan keras pula, membuat Rio tertawa puas.
"Justru itu kelebihanmu, Rio! Kamu lupa posisimu apa? Kamu itu bek tengah, benteng pertahanan kita. Di sepak bola modern, bek tengah harus besar, kuat, berani duel, dan punya kemampuan mengatur pertahanan. Tinggimu 183 cm, beratmu hampir 80 kilo, badanmu padat dan kuat... itu aset mahal, kawan! Di sana, di Inggris, pertandingannya fisik banget. Pemain-pemain depannya besar-besar dan kasar. Kalau bukan kamu yang jaga di belakangku, siapa lagi? Aku butuh orang sekuat dan sebesar kamu buat jadi tamengku. Kamu itu pondasi pertahanan kita, Rio. Tanpa pondasi yang kokoh, gedung tinggi bakal runtuh."
Dika menatap sahabatnya lekat-lekat, nada bicaranya berubah serius namun penuh semangat.
"Dan ingat, Rio... jadi bek tengah zaman sekarang nggak cuma jago gebuk atau sikut saja. Kamu harus bisa baca pergerakan lawan, harus pintar memotong umpan, harus tenang saat punya bola, dan harus punya napas yang kuat buat lari bolak-balik. Makanya aku bilang, persiapan kita makin diperketat. Fisikmu harus makin padat, nggak boleh cuma besar tapi lambat. Kelincahanmu harus ditingkatkan, ketinggian lompatan kepalamu harus makin jauh. Kamu itu Tembok, tapi Tembok yang lincah dan pintar. Itu tipe bek tengah kelas dunia yang aku mau."
Rio mengangguk mantap, dadanya membusung bangga mendengar penilaian sahabatnya. Ia sadar, Dika bukan hanya mengajaknya main, tapi Dika sedang menempa dirinya menjadi sesuatu yang jauh lebih hebat.
"Siap, Kapten! Aku paham betul tugasku. Selama ini di tim sekolah, di tim kabupaten, di tim provinsi... aku selalu jadi yang paling belakang, paling terakhir, paling siap mati-matian jaga gawang kita. Di sana nanti pun sama. Kalau ada yang mau lewat melewati Dika Pratama, mereka harus injak mayat Rio duluan. Itu janjiku."
Dika tersenyum puas, sangat bangga memiliki sahabat sekuat dan sesetia Rio.
"Ini semua karena tanah ini, Rio. Karena udara ini, karena air ini, karena orang-orang hebat di sini. Ayahku tentara, dia ajarkan aku disiplin. Ibuku wanita hebat, dia ajarkan aku kasih sayang. Kamu sahabat terbaik, kamu ajarkan aku arti setia kawan dan arti sebuah pertahanan. Dan kota Sidoarjo ini... dia ajarkan aku untuk sederhana tapi punya mimpi setinggi langit."
Dika menatap jauh ke ufuk barat, ke arah cakrawala tempat matahari mulai terbenam dengan indahnya, melukis langit Sidoarjo dengan warna oranye dan ungu yang mempesona.
"Rio, dengerin baik-baik. Tahun depan, pas kita lulus, kita berangkat. Aku sudah siapkan semuanya buat kamu juga. Bahasa Inggris kamu harus belajar giat lagi, ya. Aku sudah bayar les privat khusus buat kamu sampai berangkat. Latihan fisikmu akan diubah pola latihannya: lebih banyak latihan kekuatan otot kaki dan pinggang biar makin susah digeser, latihan lompatan tinggi, dan latihan konsentrasi. Kita pergi ke sana bukan buat jalan-jalan. Kita pergi buat menaklukkan mereka. Kita buktikan, dari kota kecil ini, dari Sidoarjo, kita bisa jadi bintang dunia. Aku bawa serangan, kamu bawa pertahanan. Kita lengkap."
Rio menatap langit senja, matanya berkaca-kaca terbawa semangat Dika. Sosoknya yang besar itu terlihat semakin gagah dan berwibawa mendampingi Dika.
"Kita bakal bikin mereka kaget, Dik. Mereka bakal mikir, dari mana datangnya dua anak muda dari Indonesia ini? Satu cepat, cerdas, dan mematikan di depan. Satu lagi besar, kuat, dan tak tertembus di belakang. Kita bakal jadi pasangan legendaris."
Saat matahari benar-benar tenggelam dan kegelapan mulai menyelimuti kota, Dika dan Rio masih berdiri diam di sana. Siluet tubuh Dika yang tinggi, tegap, dan atletis berdiri berdampingan dengan siluet Rio yang raksasa, kokoh, dan perkasa. Di dada Dika, di dalam hatinya, ia membawa seluruh harapan keluarganya: kebanggaan Ayah Rudi, doa tulus Ibunya, kekaguman adik kecilnya Rina, dan semangat seluruh warga Sidoarjo yang belum tahu bahwa di tengah-tengah mereka tumbuh dua calon legenda.
Persiapan hampir selesai. Sekolah akan berakhir dalam hitungan bulan. Uang Dika sudah berlipat ganda menjadi belasan miliar, dan akan terus tumbuh. Fisik Dika sudah mencapai puncaknya: 179 cm, 72 kg, otot-otot terukir indah, daya tahan tubuh luar biasa, kecepatan setara pelari, dan teknik sepak bola yang setara pemain profesional kelas atas. Sementara Rio, sang bek tengah, telah membentuk dirinya menjadi benteng yang nyaris tak tertembus, dengan postur 183 cm dan kekuatan fisik yang mengerikan namun terkontrol. Otak Dika sudah penuh dengan strategi, bahasa asing, dan pengetahuan dunia.
Dua sahabat karib ini siap berlayar. Mereka sudah menutup pintu masa lalu dengan menolak tawaran klub lokal, dan kini mereka berdiri di ambang pintu gerbang dunia. Inggris menunggu. Eropa menunggu. Dan dua pemuda gagah dari tanah delta Brantas ini tidak datang untuk sekadar ikut serta. Mereka datang untuk menaklukkan, untuk menorehkan sejarah, dan untuk membawa nama Sidoarjo bersinar terang di panggung tertinggi sepak bola dunia.
Hitungan mundur dimulai. Kapten dan Bentengnya siap berangkat.