"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Sandiwara di Ambang Pintu
Matahari pagi menjelang siang bersinar terik, memantulkan cahaya yang menyilaukan pada pilar-pilar putih kediaman megah keluarga Adiwangsa. Namun, kehangatan cuaca di luar sama sekali tidak mampu mengusir atmosfer sedingin es yang menyelimuti ruang tengah rumah tersebut. Adrian duduk di sofa dengan setelan kerja yang kusut, mengabaikan berkas-berkas kantor yang berserakan di atas meja. Di hadapannya, secangkir kopi hitam buatan Bi Minah yang terlalu manis sudah mendingin tanpa disentuh lagi.
Tepat saat jarum jam merayap mendekati pukul sebelas, keheningan itu pecah oleh suara ketukan pintu yang berat dan berwibawa dari arah depan.
Tok! Tok! Tok!
Suara itu terdengar begitu tegas, mengirimkan getaran kecemasan yang aneh ke lubuk hati Adrian. Tidak lama kemudian, Bi Minah berjalan setengah berlari menuju ruang tengah dengan wajah yang pucat pasi.
"Tuan... di depan... ada dua orang petugas berseragam cokelat. Mereka mencari Tuan Adrian," bisik Bi Minah dengan suara yang bergetar ketakutan.
Mendengar kata "berseragam cokelat", Nyonya Widya yang baru saja turun dari lantai dua langsung menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Wajahnya yang penuh riasan tebal seketika berubah tegang. Sementara itu, Valerie yang sedang asyik memainkan ponselnya di sudut sofa, langsung menegakkan punggung, matanya menyipit penuh kewaspadaan.
Adrian menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan debaran jantungnya yang mendadak menggila. Ia berdiri, merapikan kemejanya, dan melangkah menuju pintu utama, diikuti oleh Widya dan Valerie yang mengekor di belakangnya dengan langkah ragu.
Begitu pintu besar itu terbuka, dua orang pria bertubuh tegap dengan seragam dinas kepolisian lengkap sudah berdiri di sana. Di duga mereka, lencana penyidik berkilat, dan atmosfer duka yang mereka bawa terasa sangat nyata.
"Selamat siang. Benar ini kediaman Bapak Adrian Adiwangsa?" tanya petugas yang berpangkat lebih tinggi, tatapannya tajam dan menyelidik.
"Benar, Pak. Saya sendiri Adrian. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Adrian, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap terdengar tenang dan berwibawa, layaknya seorang pengusaha kelas atas.
Petugas itu mengeluarkan sebuah catatan kecil dan sebuah kantong plastik bening berisi kartu identitas yang pinggurannya masih sedikit basah. "Kami dari jajaran penyidik kepolisian wilayah selatan, ingin mengonfirmasi mengenai kasus bunuh diri seorang wanita yang melompat dari jembatan penyeberangan sungai siang kemarin. Berdasarkan barang bukti KTP dan dokumen yang kami temukan di lokasi, korban atas nama Aruna Wijaya. Kami juga mendapat informasi dari data kependudukan dan pihak terkait bahwa korban baru saja resmi bercerai dengan Anda beberapa jam sebelum kejadian."
Deg.
Meskipun sejak semalam Adrian sudah didera ketakutan, mendengar konfirmasi resmi dari mulut polisi tetap terasa seperti sebuah godam yang menghantam dadanya hingga remuk. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Potongan demi potongan kenangan lima tahun bersama Aruna kembali melintas, membuat hati Adrian merasa ngilu yang luar biasa. Dalam hati terdalamnya, Adrian masih menolak percaya bahwa Aruna yang tegar dan tulus akan mengakhiri hidup dengan cara sekeji itu. Namun, bukti KTP di dalam plastik itu tidak bisa berbohong. Dunia sekarang tahu: Aruna sudah mati.
Pikiran Adrian berputar cepat bagai pusaran angin. Ia tahu, saat ini dirinya sedang berada di bibir tebing kehancuran. Jika polisi menemukan kenyataan bahwa Aruna putus asa karena penyiksaan mental dan penghinaan yang dia dan Ibunya berikan, maklumat Komnas HAM akan langsung mengurung dirinya ke dalam penjara. Reputasi Adiwangsa Logistik akan hancur menjadi debu.
Di sinilah insting manipulatif Adrian yang licik mulai bangkit. Ia harus membalikkan narasi. Ia harus terlihat seperti korban, bukan sebagai monster.
Adrian langsung menundukkan kepalanya, kedua tangannya bergetar, dan sebuah desah kesedihannya yang diatur sempurna keluar dari kerongkongannya. Saat dia mendongak kembali, matanya sudah memerah dan berkaca-kaca.
"Benar, Pak... Aruna adalah mantan istri saya. Kami baru saja memutus perkara cerai siang kemarin," kata Adrian dengan suara serak dan penuh penekanan psikologis. "Tapi Pak... demi Tuhan, saya tidak mengira dia akan berbuat nekat seperti ini. Saya... saya benar-benar baru tahu alasannya sekarang..."
Polisi tersebut mengernyitkan dahi sedikit, tertarik dengan nada suara Adrian. "Maksud Anda baru tahu alasannya? Bisa Anda jelaskan lebih lanjut, Pak Adrian?"
Adrian menarik napas panjang yang terdengar berat, seolah sedang menahan beban duka yang teramat tinggi.
"Aruna meminta cerai dari saya BUKAN karena kami tidak lagi saling mencintai, Pak," tipu Adrian dengan wajah polos dan penuh manipulasi. "Beberapa bulan terakhir, Aruna divonis menderita penyakit kanker stadium akhir. Dan dia... perempuan bodoh yang terlalu baik itu... menyembunyikan penyakit maut itu dari saya dan keluarga kami. Dia tidak mau memberitahukan hal itu kepada saya karena dia tidak mau menjadi beban untuk saya dan perusahaan saya yang sedang berjuang."
Mendengar hasutan kebohongan Adrian yang luar biasa lancar itu, Widya dan Valerie di belakang seketika terbelalak. Namun, Widya langsung menangkap rencana putranya. Ini sebuah sekoci penyelamat.
Polisi tersebut mulai mencatat di buku penyidikan mereka. "Jadi, korban memiliki riwayat medis penyakit berat?"
"Iya, Pak Penyidik," lanjut Adrian makin dramatis. "Selama beberapa bulan ini, Aruna sering sekali mengajak saya bertengkar tanpa alasan yang jelas. Sikapnya berubah drastis, menjadi dingin dan sering marah-marah. Saya akui kami sering bertengkar akhir-akhir ini. Tapi sekarang saya baru sadar... semua pertengkaran dan perubahan sikap itu sengaja dia buat untuk menutupi penyakitnya, untuk membuat saya benci dan ilfeel padanya, sehingga saya mau melepaskannya cerai tanpa penyesalan. Dia melakukan semua ini demi menyelamatkan saya dari beban mengurus orang sakit, Pak..." Adrian menutup wajahnya dengan kedua tangan, berpura-pura menangis terisak dalam duka palsu.
Narasi yang disusun Adrian terdengar sangat logis dan masuk akal bagi kedua petugas polisi tersebut. Di dunia medis dan psikologi, beberapa pasien penyakit terminal memang sering melakukan tindakan sabotase diri terhadap hubungan mereka untuk melindungi orang yang disayangi.
Aktor Kedua dan Puncak Sandiwara
Nyonya Widya, yang sejak tadi tubuhnya gemeteran takut setengah mati ketahuan akan segala teror mental yang pernah dia berikan kepada Aruna, langsung mengambil peran di atas panggung sandiwara ini. Ia maju beberapa langkah dengan langkah sempoyongan, memegangi dadanya seolah-olah sedang diserang duka cita nasional yang teramat dalam.
"Aruna... Aruna... kamu terlalu baik, Nak... kenapa kamu tega menyembunyikan semua ini dari Ibu?!" teriak Widya dengan suara bergetar, matanya dipejamkan keras hingga beberapa tetes air mata buatan keluar. Ia sengaja bersikap seolah hubungan mereka selama ini baik-baik saja tanpa cacat.
Widya menoleh kepada kedua polisi dengan tatapan pasrah dan sedih. "Pak... Aruna itu memang menantu yang sangat baik. Kami sangat menyayanginya. Tapi memang beberapa bulan terakhir ini, atau mungkin sudah hampir setahun ini... dia menjadi sering bertengkar dengan Adrian. Sikapnya menjadi sangat aneh, sering mengurung diri di kamar belakang dan menolak untuk disentuh."
Widya menarik napas panjang, berpura-pura menahan kesedihan yang mendalam saat di dalam hatinya dia sedang bersorak menertawakan kepolosan polisi tersebut.
"Dia sangat menginginkan perceraian ini Pak. Anak saya, Adrian... dia sebenarnya tidak mau sama sekali bercerai darinya. Adrian selalu menolak dan memohon untuk bertahan. Namun, karena Aruna terus memaksa dan mengancam hingga suasana perusahaan terganggu, akhirnya Adrian ngalah dan permohonan cerai itu dikabulkan siang kemarin. Kami semua buta Pak... kami tidak tahu bahwa ternyata Aruna memaksa cerai karena penyakit kanker maut itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya..."
Widya kembali meratap, mengguncang-guncang pundak Adrian yang masih berpura-pura terisak. "Aruna... Aruna... kamu terlalu baik Nak! Penyakitmu pun kamu sembunyikan, kamu rela dicap sebagai istri yang jahat dan marah-marah hanya agar tidak membebani kami di rumah ini... Kenapa kamu harus mengakhiri hidupmu di sungai seperti itu..."
Valerie yang berdiri di samping mereka nyaris tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum kagum mengetahui tingkat manipulasi tingkat tinggi dan hasut keji yang sedang dimainkan oleh calon suami dan calon ibu mertuanya. Valerie langsung maju juga, berakting menjadi sahabat keluarga yang menenangkan Widya.
"Ibu... Nyonya Widya, sudah Bu... khawatirkan kesehatan Anda. Aruna pasti sudah tenang di sana, dia tidak mau melihat Ibu dan Mas Adrian hancur seperti ini," kata Valerie dengan suara lembut dan penuh topeng kepalsuan.
Kedua petugas polisi tersebut saling berpandangan. Riwayat pertengkaran di pengadilan yang sempat dilaporkan oleh beberapa saksi lapangan seketika terjawab dengan sempurna dan masuk akal melalui narasi "kanker stadium akhir" dan "sabotase diri" ini. Tidak ada lagi kecurigaan terhadap keluarga Adiwangsa. Di mata polisi, Adrian dan Widya adalah korban duka psikologis dari seorang istri yang putus asa melawan penyakit terminal.
Komandan polisi itu menurunkan pena dan bukunya, lalu membungkuk sedikit sebagai tanda hormat dan duka cita resmi.
"Baik Pak Adrian, Nyonya Widya... kami turut berduka cita yang teramat dalam atas kehilangan ini. Informasi ini sangat berarti untuk berkas penyelidikan kami agar kasus ini bisa segera ditutup sebagai murni bunuh diri akibat depresi penyakit terminal. Kami tidak akan mengganggu keluarga Anda lebih lanjut," kata komandan polisi tersebut.
"Terima kasih, Pak Polisi... terima kasih sudah mengerti beban kami," kata Adrian dengan suara serak yang disengaja, sambil mengusap air mata palsunya.
Setelah beberapa kalimat penutup, kedua polisi itu pun melangkah pergi, keluar dari gerbang rumah mewah tersebut dan kembali ke mobil patroli mereka.
Topeng yang Terbuka
Begitu suara mobil patroli polisi itu menjauh dan menghilang di ujung kompleks, suasana di depan pintu langsung berubah drastis.
Adrian langsung menegakkan kembali tubuhnya. Air mata dan wajah duka citanya lenyap dalam sekejap, diganti dengan tatapan mata yang dingin, licik, dan penuh perhitungan strategis. Nyonya Widya langsung berhenti meratap, menyeka sisa-sisa bedaknya yang rusak dengan kasar.
"Huuuh... selamat! Adrian, kamu benar-benar jenius, Nak!" seru Widya, suaranya langsung kembali menjadi angkuh dan nyaring tanpa beban duka sedikit pun. "Ibu tadi sudah gemeteran takut setengah mati! Kalau polisi itu tahu apa yang sebenarnya terjadi di selasar pengadilan siang kemarin, nama baik perusahaan kita bisa hancur! Tapi cerita kanker stadium akhir itu... luar biasa! Polisi-polisi bodoh itu langsung percaya mentah-mentah!"
Valerie tertawa kecil, merapat ke tubuh Adrian dan memeluk lengannya posesif. "Aku sangat kagum, Mas. Kamu benar-benar aktor terbaik yang pernah aku lihat. Lihatlah wajah komandan polisi tadi, dia sangat merasa kasihan padamu. Dengan begini, kasus si gembel mandul itu akan segera ditutup dan kita bisa fokus penuh untuk pernikahan megah kita minggu depan tanpa gangguan media lagi."
Namun, di balik keberhasilan manipulasi tersebut, Adrian tidak merasakan keriangan yang sama seperti Ibu dan Valerie. Dada Adrian masih merasa ngilu yang teramat panjang. Sandiwara kanker maut yang baru saja dia ciptakan justru membuat jiwanya sendiri makin terjebak dalam keobsesian penyesalan.
Aruna... kamu benar-benar pergi meninggalkan aku? batin Adrian, matanya kembali menatap kosong ke arah jembatan penyeberangan sungai di kejauhan. Aku tahu kamu tidak bunuh diri karena kanker. Kamu melakukannya untuk menghancurkan aku. Tapi aku bersumpah... setelah aku memanfaatkan Valerie dan merampas seluruh harta tambang keluarganya, aku akan mencari jasadmu atau keberadaan rahasiamu ke mana pun kamu berada. Kamu harus kembali menjadi milikku.
Adrian membalikkan badan, melangkah kembali ke dalam rumah tanpa memedulikan celoteh hasut Valerie dan Widya yang sedang merayakan kelolosan sandiwaranya. Ia tidak tahu, bahwa di luar sana, Aruna sedang tersenyum dingin mendengar laporan dari Martin bahwa keluarga Adiwangsa baru saja memasuki perangkap psikologis terbesar yang pernah dia siapkan.