Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman di Jalan Raya & Kekaguman Sang Penguasa
Pagi itu, suasana kediaman keluarga Sterling kembali berjalan seperti biasa, namun tiba-tiba dikejutkan oleh tingkah Daniel yang sangat berbeda dari biasanya. Pria yang dikenal tenang, teratur, dan selalu santun itu kini bergerak dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya berkerut cemas, dan gerakannya terlihat sibuk sekali seolah sedang dikejar waktu. Ia berjalan cepat menuju gerbang utama dengan tas kerja tergantung di bahu, meninggalkan anggota keluarga lainnya yang sedang menikmati sarapan pagi di ruang tengah.
Victoria yang melihat perubahan drastis itu segera berdiri dan menghampiri putranya dengan rasa khawatir yang muncul di hati.
"Ada apa ini, Nak? Mengapa kamu terlihat sangat terburu-buru sekali? Biasanya kamu selalu berangkat lebih awal dan santai, ada urusan mendadak apa di kantor?" tanya Victoria sambil membenarkan kerah kemeja Daniel yang sedikit berantakan.
Daniel menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri namun raut wajahnya masih terlihat kacau. Ia menatap ibunya sekilas lalu menjawab dengan nada cepat.
"Maafkan aku Bu, aku harus segera pergi. Tadi pagi pihak pengelola proyek baru saja menghubungiku. Ada masalah besar di perusahaan. Dokumen rahasia mengenai kontrak tender terbesar yang sedang kita perjuangkan itu... tiba-tiba bocor dan sudah berada di tangan perusahaan pesaing kita. Segala rencana dan strategi kita sudah diketahui musuh sepenuhnya," jawab Daniel dengan nada kesal dan kecewa.
Mendengar hal itu, James yang sedari tadi diam mendengarkan sambil menyeruput kopinya, meletakkan cangkirnya perlahan di meja. Wajahnya berubah serius, matanya menatap tajam ke arah Daniel.
"Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Dokumen itu tingkat kerahasiaannya sangat tinggi, hanya orang-orang kepercayaan yang bisa mengaksesnya. Pasti ada maTa-mata atau pengkhianat yang bekerja diam-diam di sekitarmu, Nak. Mereka sengaja membocorkan informasi itu untuk menjatuhkan kita," sahut James dengan suara berat dan penuh dugaan.
Semua orang di ruangan itu mulai menerka-nerka siapa dalang di balik kejadian ini. Namun, belum sempat mereka berdiskusi lebih jauh, Kevin masuk ke ruangan dengan langkah santai namun wajahnya dingin dan penuh makna. Ia baru saja menerima laporan dari anak buahnya mengenai masalah yang menimpa perusahaan Daniel.
"Tidak usah dicari-cari lagi penyebabnya, Ayah. Aku sudah tahu siapa pelakunya," ucap Kevin tiba-tiba, membuat semua mata tertuju padanya. "Ini ulah Paman Rendra. Dia memang sejak lama ingin menghancurkan nama baik perusahaan kita dan mengambil alih aset keluarga. Dia tahu betul bahwa proyek tender ini adalah tumpuan utama kita tahun ini, jadi dia sengaja menyusupkan orangnya untuk merusak semuanya."
Ziva yang duduk di ujung meja sambil memutar-mutar sendok di tangannya, mengangguk pelan. Ia menatap keluar jendela dengan tatapan tajam, seolah bisa melihat apa yang sedang direncanakan musuh di luar sana.
"Dan sepertinya... ini baru permulaan saja. Ada pihak lain yang lebih besar dan berbahaya yang sedang menargetkan keluarga kita. Mereka sengaja menciptakan kekacauan seperti ini, memecah konsentrasi kita, dan menyerang di saat kita sedang sibuk dan tidak siap. Mereka ingin kita kacau dan lemah sebelum mereka benar-benar bergerak habis-habisan," kata Ziva dengan suara rendah namun penuh keyakinan.
Ziva lalu bangkit berdiri, menatap Daniel dengan tekad yang kuat.
"Kak Daniel, aku akan ikut bersamamu ke perusahaan. Mungkin aku bisa membantumu mengurus masalah ini," ucap Ziva tegas.
Daniel mengerutkan kening, terkejut mendengar tawaran itu. "Lho Ziva? Bukannya hari ini kamu masih ada jadwal magang dan kuliah? Nanti kalau kamu tidak masuk bagaimana?"
"Biarkan Zea saja yang nanti ke kampus dan meminta izin atas namaku. Aku yakin masalah ini jauh lebih besar dan rumit daripada yang kita bayangkan. Kehadiranku mungkin akan sangat berguna nanti," jawab Ziva mantap.
Melihat ketegasan di wajah adiknya itu, Daniel akhirnya mengangguk setuju. Ia tahu betul kemampuan Ziva bukanlah kemampuan gadis biasa. "Baiklah, ayo kita berangkat sekarang. Kita tidak boleh buang waktu lagi."
Mereka berdua pun segera meluncur pergi menggunakan mobil mewah milik Daniel. Perjalanan awalnya berjalan lancar, namun ketenangan itu kembali terganggu saat mobil mereka baru saja memasuki jalan raya utama kota.
Tiba-tiba, dari arah kanan dan kiri, beberapa buah mobil berwarna hitam pekat melaju kencang dan segera menghimpit mobil Daniel dari segala arah. Mobil-mobil itu memotong jalan, menghadang laju kendaraan mereka, hingga akhirnya memaksa Daniel untuk menepi dan berhenti secara mendadak di pinggir jalan yang agak sepi namun cukup luas.
Daniel mengerem dengan keras, wajahnya seketika pucat. Ia menoleh cepat ke arah Ziva dengan napas terengah-engah karena kaget dan waspada.
"Ziva! Kita dikepung! Jangan turun dari mobil apa pun yang terjadi, mengerti? Kita tetap di dalam saja. Kevin pasti sudah mengetahui situasi ini dan sedang mengirim bantuan," cegah Daniel tegas, ia sangat sadar bahwa dirinya tidak pandai bertarung, dan ia tidak ingin adiknya terluka.
Namun Ziva hanya tersenyum tipis, senyum yang menenangkan namun juga menampakkan kepercayaan diri yang luar biasa. Ia menatap kakaknya dengan tatapan tajam dan berbinar.
"Tenang saja Kak... Kamu lupa ya, siapa sebenarnya aku ini? Dan kamu juga lupa, kan? Kalau aku tidak ikut bersamamu, mungkin sekarang kita sudah dalam bahaya besar."
Tanpa menunggu jawaban Daniel, Ziva segera membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan tenang. Ia berdiri tegak di tengah jalan, diapit oleh puluhan sosok pria bertubuh besar, kekar, dan berpakaian seragam gelap yang kini sudah turun dari mobil-mobil hitam itu. Mereka semua membawa senjata tajam dan terlihat berniat jahat.
Salah satu pemimpin kelompok itu melangkah maju, tertawa sinis saat melihat yang keluar hanyalah seorang gadis muda cantik.
"Lho... Apa-apaan ini? Bukannya informasi yang kami dapat mengatakan di dalam ada seorang pria, Daniel Sterling? Kenapa malah gadis cantik seperti kamu yang keluar menyambut kami? Di mana kakakmu? Takut sampai bersembunyi di dalam mobil?" ejek pria itu diiringi tawa rekan-rekannya.
"Cukup basa-basinya! Cepat saja kita bereskan mereka berdua, bawa barang berharganya, lalu kita lapor ke atasan kalau tugas sudah selesai," perintah salah satu anak buahnya dengan nada kasar.
Namun, sebelum mereka sempat bergerak maju, Ziva sudah melangkah lebih dulu. Dengan gerakan yang begitu cepat, luwes, dan mematikan, Ziva menghantamkan serangannya. Ia berputar, menendang, dan memukul dengan presisi tepat pada titik-titik vital lawan. Setiap kali tangan atau kakinya bergerak, satu orang besar langsung terkapar jatuh mengerang kesakitan.
Daniel yang masih berada di dalam mobil hanya bisa melongo tak percaya melihat pemandangan di depannya. Ia tahu adiknya hebat, tapi ia tidak pernah membayangkan sehebat ini.
Belum lama pertarungan berlangsung, dari arah belakang terdengar deru mesin kencang. Kevin melompat turun dari motor besarnya dan segera ikut terjun ke dalam kerumunan, menghabisi sisa-sisa musuh yang berusaha mengepung Ziva. Tidak lama kemudian, Gabriel pun tiba bersama beberapa pasukan khususnya, membantu mengamankan situasi agar tidak ada yang lolos.
Di tengah kekacauan itu, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti agak di pinggir, sedikit menjauh dari lokasi kejadian. Di balik kursi penumpang, duduklah Arsen. Ia sedang dalam perjalanan menuju perusahaannya saat matanya menangkap pemandangan menarik di pinggir jalan.
Namun, saat ia melihat sosok gadis yang sedang bergerak lincah di tengah puluhan pria jahat itu, matanya membelalak lebar. Itu adalah Ziva. Wanita yang selalu menghantuinya, wanita yang ia cintai, wanita yang ia anggap lembut dan butuh perlindungan, kini sedang bertarung hebat, gagah berani, dan mengalahkan musuh-musuhnya dengan begitu anggun namun mematikan.
Arsen tidak berkedip sedikit pun. Ia terpaku, menatap setiap gerakan Ziva dengan rasa kagum yang semakin memuncak hingga meledak di dadanya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa bangga dan rasa suka yang bertambah berkali-kali lipat.
"Semakin aku melihatnya... semakin aku terpukau dan jatuh hati padanya. Dia bukan sekadar bunga cantik yang perlu dijaga, dia adalah permata berharga yang kuat, tangguh, dan bersinar terang di mana pun dia berada," gumam Arsen pelan, suaranya penuh kekaguman yang tulus.
Di depannya, sang sekretaris yang sudah mengabdi lama dan tahu betul sifat tuannya itu, hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. Ia sudah puluhan tahun bekerja di sana, melihat Arsen yang dingin, kaku, dan tidak pernah menoleh sedikit pun pada wanita mana pun. Selama hidupnya, belum pernah ada satu wanita pun yang bisa berada di dekat Arsen, apalagi membuat pria itu menatap dengan pandangan penuh cinta seperti ini.
"Tuan benar-benar sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya pada Nona Ziva. Belum pernah saya melihat Tuan sebahagia dan se-terpesona ini sebelumnya. Nona Ziva memang satu-satunya wanita yang pantas berdiri di samping Tuan," batin sekretaris itu dalam hati dengan senyum bangga.
Pertarungan di depan sana segera berakhir. Musuh-musuh terkapar atau sudah diamankan. Ziva berdiri tegak, napasnya sedikit terengah namun wajahnya tetap tenang dan berwibawa. Ia menyeka sedikit debu di bajunya, lalu menoleh seolah merasakan ada yang mengamatinya dari kejauhan.
Matanya bertemu tepat dengan pandangan Arsen. Di detik itu juga, Arsen tersenyum lebar, senyum yang paling tulus dan menawannya, lalu melambaikan tangan perlahan ke arah Ziva.
Ziva yang melihatnya sedikit terkejut, namun tak lama kemudian sudut bibirnya ikut terangkat membentuk senyum kecil yang malu namun hangat. Di tengah jalanan kota itu, di antara sisa-sisa kekacauan, benih-benih cinta itu semakin tumbuh kuat, diuji dan dibuktikan oleh keberanian dan kekuatan mereka masing-masing.