"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: KIDUNG KEMATIAN DI MUARO JAMBI
Pria buta itu meniup seruling bambunya sekali lagi. TUIIIIIITTT... TUIT... (Suara lengkingan yang menusuk gendang telinga). Suaranya melengking tinggi, membelah keheningan hutan bakau yang kini terasa mencekam.
SSSSSSTTT... SSSSSSSTTT... Desisan ular di sekeliling Arka semakin nyata, ribuan sisik yang bergesekan dengan daun kering menciptakan simfoni kematian.
"Siapa kau?" suara Arka serak, tangannya masih memegang Keris Kyai Sangga Buwana yang kini dibalut akar ghaib. HAAH... HAAH...
"Nama tidak penting bagi mereka yang sudah menyerahkan matanya pada kegelapan, Satria Piningit," jawab pria itu sambil tersenyum lebar.
"Panggil saja aku Ki Ageng Serang Ulo. Aku diperintahkan untuk memastikan kau tidak pernah sampai ke gerbang Candi Gumpung."
Siska mulai siuman. Ia terbelalak melihat ribuan ular kobra dan piton yang melingkari mereka, membentuk dinding hidup setinggi dua meter. KRETEK... KRETEK... "Arka... apa ini?"
"Jangan bergerak, Siska. Tanah ini... tanah ini beracun," bisik Arka.
DUM...
Arka mencoba menghentakkan kakinya untuk mengaktifkan Segel Bumi, tapi ia tertegun. Getaran buminya diserap oleh akar-akar bakau yang bergerak-gerak seperti tentakel.
Di tanah Jambi ini, elemen bumi menyatu dengan elemen kayu dan air secara organik. Fisika tidak berlaku di sini, yang berlaku adalah Kontrak Ghaib.
"Kau ingin menggunakan Segel Bumi?" Ki Ageng tertawa kecil. "Tanah ini milik para naga purba yang sudah ada sebelum moyangmu lahir. Kau tidak punya izin di sini."
Ki Ageng kembali meniup serulingnya. Kali ini nadanya rendah dan berat. HUUUUUMMM...
Dari balik air payau, muncul seekor ular piton raksasa dengan diameter tubuh sebesar drum minyak. BYURRRRR! Kepalanya memiliki sepasang tanduk kecil dan matanya bersinar hijau belerang.
Ini bukan sekadar ular, ini adalah Siluman Penjaga Titik Meridian.
“MANUSIA... KEMBALIKAN PUSAKA UDARA ITU PADA ASALNYA...”suara itu menggema langsung di dalam tengkorak Arka. WREEEEE... (Tekanan batin yang luar biasa).
Arka merasakan tekanan batin yang luar biasa. dia merasa jiwanya ditarik keluar dari raganya oleh tatapan ular raksasa itu.
“Tidak akan!”Arka membalas dalam batin.
Arka menggigit lidahnya sendiri hingga darah segar mengalir. CRAAH! Rasa sakit itu mengembalikan kesadarannya.
Ia melihat rajah Naga Hijau pemberian Nyi Roro Kidul di lengannya mulai berpendar terang. DZZZT!
"Aku tidak butuh izin tanah ini," Arka berdiri tegak, meski kakinya gemetar. "Karena aku membawa mandat dari Penguasa Laut Selatan!"
Arka menghantamkan Keris Kyai Sangga Buwana ke arah ular raksasa itu. Bukan menebas, tapi melepaskan Aji angin puyuh yang dicampur dengan getaran frekuensi rendah Segel Bumi.
WUSH!
Udara di sekitar mereka berputar gila. Ular-ular kecil terpental, hancur menjadi abu hitam. PUFF! PUFF! PUFF! Ternyata ular-ular itu hanyalah manifestasi dari teluh (ilmu hitam).
Ki Ageng Serang Ulo berhenti meniup serulingnya. Wajahnya yang tenang berubah menjadi tegang. "Naga Hijau Laut Selatan? Bagaimana mungkin... ksatria sepertimu mendapat restu dari Ibu Ratu?"
"Tanyakan itu pada majikanmu di Jawa!" gertak Arka.
Arka tidak membuang waktu. Ia menyambar tangan Siska dan berlari menembus kepulan asap ghaib menuju arah kompleks candi. TAP... TAP... TAP...
Ia tahu, di tengah reruntuhan bata merah Muaro Jambi itulah letak Prasasti Air Abadi. Hanya air dari sana yang bisa menyembuhkan luka dalam sukmanya akibat serangan The Liquidator.
Mereka sampai di depan gerbang Candi Gumpung. Suasana di sini berbeda. Jika di luar tadi terasa panas dan penuh racun, di dalam area candi justru terasa dingin dan sunyi.
FIIIIUUUU... Kesunyian yang Mematikan.
Di tengah pelataran candi yang luas, duduk seorang wanita tua dengan rambut putih yang menjuntai hingga ke lantai.
Di depannya ada sebuah kemenyan yang menyala. PYURRR... Mengirimkan asap putih yang berbau bunga kamboja busuk.
"Datang juga kau, Nak..." suara wanita itu merdu namun bergetar. "Aku sudah menyiapkan sesaji untuk menyambut kedatanganmu. Sayangnya, sesajinya adalah nyawa gadis di sampingmu itu."
Siska mendadak memegang lehernya. Wajahnya membiru. UHHUK... GHAKK... Ia mulai tercekik oleh tangan ghaib yang tak terlihat. KREEEK...
"Lepaskan dia, Nenek Sihir!" Arka bersiap menerjang.
"Nenek Sihir? Panggil aku dengan hormat, Arka. Aku adalah Nyai Ronggeng Sukmo, penjaga terakhir dari sisa-sisa pengkhianatan lima tahun lalu," wanita itu membuka matanya. Matanya tidak punya pupil, hanya putih polos.
Nyai Ronggeng mulai menari. SRET... SRET... Gerakannya lambat, gemulai, namun setiap langkahnya membuat Arka merasa jantungnya diremas. TAK... TAK...
Inilah ilmu Tarian Pemikat Sukma. Arka merasakan energinya tersedot habis setiap kali kaki Nyai Ronggeng menyentuh lantai candi.
"Kau... kau salah satu dari mereka yang mengkhianatiku?" Arka berlutut, menahan dadanya yang sesak. DUG.
"Kami semua mengkhianatimu, Arka. Karena kau terlalu suci untuk dunia yang sudah kotor ini,"
Nyai Ronggeng mendekat, wajahnya yang keriput mendadak berubah menjadi wajah Siska muda, lalu kembali lagi ke wajah aslinya.
"Sekarang, berikan keris itu, dan biarkan aku memakan sisa-sisa sukmamu."
Arka memejamkan mata. Ia tidak menggunakan kekuatannya. Ia justru memadamkan seluruh hawa murninya.
“Kosong adalah isi... isi adalah kosong...”ajaran Eyang Jugo terngiang.
Arka masuk ke kondisi Ngrogoh Sukmo secara sadar. ZAP! Raganya jatuh pingsan, BRUK! tapi jiwanya berdiri tegak di depan Nyai Ronggeng.
Di alam sukma ini, Arka tidak lagi terluka. Ia bersinar dengan cahaya keemasan Segel Bumi dan hijau Elemen Udara.
"Kau ingin memakan sukmaku?" jiwa Arka bicara dengan suara yang menggetarkan seluruh kompleks candi. BOOOOOMMMM! "Silakan dicoba, Nyai."
Nyai Ronggeng terbelalak. Ia tidak menyangka Arka berani melepas raganya di tengah pertempuran. Ia segera mengeluarkan ribuan jarum ghaib dari selendangnya.
DI DUNIA NYATA: Raga Arka dan Siska tergeletak tak berdaya di depan candi. Ki Ageng Serang Ulo sampai di lokasi, memegang keris kecilnya. Ia melihat raga Arka yang terbuka tanpa perlindungan.
"Kesempatan bagus," Ki Ageng mengangkat kerisnya, hendak menusuk jantung Arka yang sedang 'kosong'. SREEEET...
Namun, sebelum keris itu menyentuh kulit Arka, DHUMMMMMMM! sebuah bayangan hitam besar muncul dari balik reruntuhan candi. GRRRRRRRR!
Sosok itu mengenakan baju zirah kuno Majapahit, memegang gada emas, dan matanya menyala seperti obor.
Gajah Mada? Atau sekadar Khodam penjaga kedaulatan Nusantara?
Sosok itu menghantamkan gadanya ke tanah, menciptakan gempa yang meruntuhkan pepohonan di sekitar candi. "LANCANG! BERANI KAU MENYENTUH SANG POROS DI TANAHKU?"
Sosok itu menghantamkan gada emasnya ke tanah. BRRRRRRAAAAAAKKKKK!
***
Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.