NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKA DIBALIK CADAR RAHASIA

Damira membuka amplop itu dengan tangan sedikit gemetar. Di dalamnya hanya ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang rapi namun terasa sangat dingin. Ia membacanya perlahan, dan setiap kata yang tertulis di sana membuat darahnya mendidih.

"Jangan pergi dari hidupku dulu, Damira. Bertahanlah sebentar lagi, setidaknya sampai Azzura melahirkan. Setelah itu, aku akan bereskan semuanya dan kita kembali seperti dulu. Aku mohon."

Damira mendengus tidak percaya, lalu melemparkan kertas itu ke atas meja. Citra, yang sejak tadi berdiri di sampingnya karena penasaran, ikut membaca sekilas isi pesan tersebut.

"Hah? Bertahan sampai Azzura melahirkan?" Citra membelalakkan mata, wajahnya menunjukkan ekspresi ngeri sekaligus jijik. "Gila dia!"

Citra memukul meja pelan karena emosi. "Dia pikir kamu ini apa, Mir? Penjaga bayi? Atau ban serep yang harus nunggu dia selesai sama urusan dosanya baru bisa dipake lagi? Ini sudah sakit jiwa namanya!"

Damira hanya bisa tertawa getir, tawa yang terdengar hampa. "Dia mau aku jadi penonton kesuksesannya menghancurkan hidup orang lain, Cit. Dia mau aku tetap ada di jangkauannya supaya dia merasa nggak kehilangan kendali."

"Nggak bisa dibiarin, Mir," sahut Citra tegas, kali ini suaranya tidak lagi berbisik. "Kalau aku jadi kamu, aku bakal langsung lapor polisi atau—apa kata kamu tadi? Masmu yang tentara itu? Suruh dia sikat orang ini. Ini bukan cinta, ini obsesi gila!"

Damira menatap kertas itu sekali lagi sebelum meremasnya hingga hancur. Ucapan Citra benar, dan tawaran dari Mas Damar serta Ayahnya semalam kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan. Nayaka sudah kehilangan akal sehatnya, dan berada di dekat pria itu hanya akan membuat Damira ikut terseret ke dalam jurang kegilaan yang sama.

"Aku nggak akan nunggu sampai siapa pun melahirkan, Cit," ucap Damira dingin. "Malam ini, aku akan kemas barang-barangku."

Di sela pembicaraan serius antara Damira dan Citra, suasana kantor yang tadinya tenang tiba-tiba berubah menjadi riuh. Suara geseran kursi dan langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah ruang tengah. Beberapa orang tampak berkerumun di satu titik dekat meja Satya.

"Ada apa?" tanya Damira dengan nada panik, seketika berdiri dari kursinya.

Rian, rekan kerja mereka, berlari melewati meja Damira dengan wajah pucat. "Satya pingsan, Mir! Tadi tiba-tiba tumbang pas lagi berdiri. Ini mau dibawa ke rumah sakit sekarang!"

Damira sontak menyambar tasnya, hendak ikut berlari ke arah kerumunan itu. Namun, langkahnya terhenti saat manajer divisinya muncul dari ruang kerja dan menatapnya tajam.

"Damira! Kamu mau ke mana? Sepuluh menit lagi rapat koordinasi dengan klien besar dimulai. Kamu yang pegang laporannya, jangan ke mana-mana dulu," tegur manajernya tegas.

Damira terpaku. Ia menatap ke arah kerumunan di mana Satya sedang digotong keluar, lalu beralih menatap manajernya yang sudah menunggu di depan ruang rapat. Ada gejolak hebat di dadanya. Ia sangat ingin memastikan keadaan Satya—pria yang tampak sangat kacau tadi pagi meski belum tahu rahasia gelap tentang Azzura yang sedang disembunyikan semua orang darinya.

"Tapi Pak, Satya..."

"Ada Rian dan yang lain yang urus ke rumah sakit. Kamu tetap di sini. Rapat ini menentukan nasib proyek kita bulan depan," potong sang manajer tanpa bisa dibantah.

Damira akhirnya terduduk kembali dengan lemas. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan saat tubuh Satya yang tak berdaya dibawa keluar gedung. Tangannya gemetar saat mencoba membuka file di komputer.

Citra, yang melihat wajah pucat Damira, mendekat dan berbisik pelan. "Udah, Mir, lo tenang dulu. Fokus rapat. Nanti gue yang pantau grup kantor, kalau ada kabar dari Rian soal Satya, gue langsung kasih tahu lo."

Damira hanya mengangguk pelan, meski pikirannya sama sekali tidak ada di ruang rapat. Ia merasa terjepit; di satu sisi ada tanggung jawab pekerjaan, di sisi lain ada Satya yang tumbang tanpa tahu bahwa badai besar sedang menantinya di luar sana. Ditambah lagi, remasan kertas pesan dari Nayaka masih ada di atas mejanya, seolah mengejek ketidakberdayaannya saat ini.

Di rumah sakit, Satya akhirnya membuka matanya. Bau khas obat-obatan dan dinding putih bersih menyambutnya saat ia mencoba untuk duduk di atas brankar. Namun, kepalanya langsung terasa berdenyut hebat, membuatnya kembali menyandarkan punggung.

Rian yang sejak tadi duduk gelisah di kursi tunggu samping tempat tidur langsung berdiri saat melihat Satya sadar.

"Gue nggak apa-apa, Mas. Kenapa juga dibawa ke sini?" ucap Satya pelan, suaranya terdengar serak. Ia menatap selang infus yang menempel di punggung tangannya dengan tatapan tidak suka. "Tadi cuma pusing dikit, mungkin belum sarapan."

Rian mendengus, mencoba menyembunyikan rasa cemasnya dengan nada bicara yang lebih santai. "Pusing dikit apanya? Lo itu tumbang kayak pohon jati kena tebas, Sat. Satu kantor panik semua. Untung lo nggak kejedot meja pas jatuh tadi."

Satya hanya bisa terdiam, memijat pelipisnya yang masih terasa nyeri. Pikirannya melayang kembali ke kejadian tadi pagi, saat ia mencoba berbicara dengan Damira namun justru mendapatkan penolakan dingin. Bayangan sorot mata Damira yang tampak lelah sekaligus kecewa benar-benar menguras energinya lebih dari sekadar urusan pekerjaan.

"Damira mana?" tanya Satya lirih, matanya mencari-cari sosok wanita itu di sekitar ruangan.

"Dia ada rapat besar sama klien, Sat. Nggak bisa ditinggal. Tadi dia kelihatan panik banget pas lo pingsan, tapi Pak Manajer nggak kasih dia izin keluar," jelas Rian sambil memberikan segelas air putih untuk Satya.

Satya menerima gelas itu dan menyesapnya sedikit. "Gue cuma kecapekan aja, Mas. Banyak pikiran."

Rian mengangguk mengerti, meski ia tahu ada hal yang lebih dalam dari sekadar 'banyak pikiran' biasa. "Dokter bilang lo stres berat dan asam lambung lo naik drastis. Lo harus istirahat dulu di sini sampai cairannya habis. Jangan mikirin kantor, jangan mikirin Nayaka dulu. Fokus sehat dulu, Sat."

Satya hanya mengangguk pasrah, meskipun dalam hatinya ia merasa sangat gelisah. Ada sesuatu yang mengganjal, sebuah firasat buruk yang terus menghantui pikirannya tentang Damira dan hubungannya yang semakin retak, padahal ia belum tahu bahwa ancaman sebenarnya berasal dari rahasia besar yang sedang disimpan oleh Azzura dan Nayaka.

Rian baru saja kembali dari apotek dengan sekantong obat di tangannya. Namun, langkahnya langsung terhenti saat melihat brankar tempat Satya berbaring sudah kosong melompong. Selang infusnya pun tampak tergeletak begitu saja di atas seprai.

"Sial, Satya ke mana lagi?!" umpat Rian panik, matanya menyisir lorong rumah sakit dengan cemas.

Sementara itu, Satya yang tadinya hanya berniat ke toilet, mendadak mematung di ujung koridor. Matanya menangkap sosok seorang wanita dari arah belakang yang sedang berjalan perlahan. Wanita itu mengenakan hijab dengan gaya yang sangat ia kenal—gaya yang selalu dipakai oleh Azzura, kekasih hatinya yang terpaksa menikah dengan pria lain karena perjodohan.

Wanita itu mengenakan gamis longgar, namun dari samping, Satya bisa melihat dengan jelas bentuk perutnya yang sudah membuncit. Wanita itu sedang hamil.

"Azzura?" bisik Satya dengan jantung yang berdegup kencang.

Satya teringat janji terakhir Azzura sebelum menghilang tanpa kabar. Gadis itu pernah berjanji bahwa dalam waktu satu bulan, ia akan mengurus perceraiannya dengan Nayaka dan kembali ke pelukan Satya. Namun, tepat satu bulan berlalu, Azzura justru lenyap bak ditelan bumi. Melihat sosok yang sangat mirip di rumah sakit ini dalam kondisi hamil besar membuat dunia Satya seolah runtuh seketika.

Enggak mungkin... Satu bulan lalu dia bilang mau cerai, tapi kenapa sekarang dia hamil? Anak siapa itu?

Rasa penasaran dan sesak di dada membuatnya nekat mengejar meski langkahnya masih gontai. "Zura! Azzura!" panggil Satya dengan suara serak, namun suaranya tenggelam di antara hiruk-pikuk rumah sakit.

Wanita berhijab itu terus berjalan menjauh, tampak terburu-buru seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Satya terus mencoba menyusul, melewati bangsal demi bangsal dengan kepala yang berdenyut hebat. Tepat saat ia hampir mencapai ujung lorong, sebuah tangan mencengkeram lengannya dengan kuat dari belakang.

"Sat! Lo gila ya?! Baru siuman sudah nekat keluyuran!" suara Rian menggelegar, penuh nada khawatir.

Satya tersentak dan menoleh dengan napas tersengal. "Mas, itu tadi... itu Azzura, Mas! Dia hamil! Dia janji satu bulan mau balik, tapi kenapa dia hamil?"

Rian mengerutkan kening, menatap ke arah pintu keluar di mana sosok itu sudah hilang ditelan kerumunan. "Sudah, Sat, jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Lo lagi stres berat, mungkin mata lo salah lihat. Mana mungkin Azzura hamil besar kalau baru sebulan yang lalu dia janji mau balik sama lo?"

Rian memapah paksa Satya untuk kembali ke kamar rawat. Satya tidak membantah, namun sorot matanya kosong. Jika benar wanita itu Azzura, maka janji satu bulan itu hanyalah kebohongan besar untuk menutupi kenyataan bahwa ia sedang mengandung anak Nayaka—atau pria lain. Kini ia mulai paham kenapa belakangan ini Damira selalu menatapnya dengan penuh rasa kasihan.

Satya duduk di tepi brankar dengan pandangan kosong, mengabaikan omelan Rian yang sedang berusaha memasang kembali selang infusnya. Napasnya masih memburu, bukan hanya karena lelah fisik, tapi karena guncangan di batinnya.

"Dia bilang mau bercerai, Mas... Dia nggak terima soal perjodohan itu," ucap Satya dengan suara bergetar, menatap Rian dengan mata yang berkaca-kaca. "Tapi sekarang sudah 5 bulan sejak janji itu dia ucapkan. Selama itu dia menghilang, nggak bisa dihubungi sama sekali."

Satya mencengkeram sprei rumah sakit dengan kuat. "Apa mungkin wanita hamil tadi itu Azzura, Mas? Kalau benar itu dia... kenapa perutnya sudah sebesar itu? Apa selama 5 bulan ini dia bohongin aku? Apa dia sebenarnya bahagia sama suaminya?"

Rian terdiam sejenak, tidak tega melihat sahabatnya begitu hancur. Ia tahu betapa Satya memegang teguh janji Azzura untuk kembali setelah urusan perceraian dengan Nayaka selesai. Namun, melihat kondisi Satya yang sekarang, Rian harus tetap realistis.

"Sat, dengar gue," ucap Rian sambil memegang bahu Satya. "Lima bulan itu waktu yang lama untuk seseorang menghilang tanpa kabar. Kalau dia memang mau balik, dia pasti cari cara buat hubungi lo. Soal wanita tadi... rumah sakit ini luas, banyak orang yang mirip. Jangan siksa diri lo dengan dugaan-dugaan yang belum pasti."

Satya menggeleng lemah. "Tapi hijabnya, Mas... cara jalannya... semuanya mirip Azzura. Kalau dia hamil, berarti rencana cerai itu cuma bualan kan? Dia nahan aku supaya nggak cari wanita lain, sementara dia sendiri sedang membangun keluarga sama orang lain?"

Pikiran Satya mendadak kacau. Ia merasa seperti orang bodoh yang setia menunggu di tengah ketidaktahuan. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, Damira sedang berusaha keras menjauhkannya dari kenyataan pahit ini, sementara Nayaka terus bergerak di balik bayang-bayang untuk memastikan Satya tidak pernah tahu kebenaran tentang bayi yang dikandung Azzura.

"Gue harus cari tahu, Mas. Gue nggak bisa cuma diam di sini sementara hati gue rasanya mau meledak," bisik Satya pelan, namun penuh dengan rasa sakit yang mendalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!