NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI SANG GUS COLD

ISTRI PENGGANTI SANG GUS COLD

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Poligami
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik-Detik di Ambang Perpisahan

Aroma khas obat-obatan dan suara ritmis dari bedside monitor menjadi latar belakang yang memilukan di dalam ruang perawatan intensif. Setelah melewati masa kritis di ICU, Najwa akhirnya dipindahkan ke kamar inapnys sendiri atas permintaan sendiri. Ia tidak ingin menghabiskan sisa waktunya dengan tubuh yang dipenuhi selang-selang besar. Ia hanya ingin dikelilingi oleh orang-orang yang teramat dicintainya.

Gus Malik duduk setia di sisi ranjang, menggenggam jemari kurus Najwa yang kini terasa semakin sedingin es. Di seberang ranjang, Lea berdiri dengan kedua tangan yang sesekali mengusap perutnya yang masih rata, menahan gejolak mual akibat kehamilan mudanya sekaligus rasa sesak yang menghimpit dada melihat kondisi kakaknya.

"Mas..." panggil Najwa, suaranya terdengar begitu tipis, nyaris hilang tertelan bunyi detak jantung dari monitor di dekatnya.

Malik langsung mendekatkan wajahnya, mengecup punggung tangan Najwa dengan takzim. "Iya, Humaira. Mas di sini. Ada apa, Sayang? Ada yang terasa sakit?"

Najwa menggelengkan kepala perlahan. Sepasang matanya yang sayu beralih menatap Lea, lalu kembali menatap Malik. "Mas... panggil Ibu dan Arkan ke sini. Aku... aku ingin melihat mereka."

Firasat Malik seketika memburuk. Kalimat itu terdengar seperti sebuah salam perpisahan yang sudah di ambang pintu. Namun, ia mencoba kuat. Malik melirik Lea, memberikan isyarat mata agar Lea keluar memanggil Ibu mertua dan Mbak pengasuh yang sedang menjaga Arkan di ruang tunggu luar.

Tidak butuh waktu lama bagi Ibu mertua dan Arkan untuk masuk ke dalam kamar. Bocah laki-laki berusia lima tahun itu nampak kebingungan melihat ibunya terbaring lemah dengan selang oksigen kecil di hidungnya.

"Ibu..." panggil Arkan polos, berjalan mendekati tepi ranjang.

Air mata Najwa meluncur bebas ke pipinya yang tirus. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, ia menggerakkan tangannya untuk mengusap rambut hitam putranya. "Arkan... anak Ibu yang shaleh, yang pinter. Kemari, Nak. Peluk Ibu sebentar."

Arkan naik ke tepi ranjang dengan hati-hati, lalu memeluk leher ibunya. "Ibu cepat sembuh, ya? Nanti kita main bola lagi sama Abi dan Tante Lea."

"Arkan..." Najwa mencium kening putranya berulang kali, menyalurkan seluruh cinta seorang ibu yang tahu bahwa ia tidak akan bisa menemani tumbuh kembang anaknya hingga dewasa. "Dengar pesan Ibu, ya? Arkan harus jadi anak yang taat sama Abi. Hormati Oma, dan... patuhi Tante Lea juga, ya? Sekarang Tante Lea adalah Ibunya Arkan juga. Jangan nakal, ya, Sayang?"

Arkan yang belum mengerti sepenuhnya arti dari kalimat itu hanya mengangguk patuh dalam pelukan ibunya. "Iya, Ibu. Arkan janji."

Najwa kemudian menatap ibunya yang sudah menangis sesenggukan di balik jilbabnya. "Ibu... maafkan segala kesalahan Najwa selama menjadi menantu Ibu. Terima kasih sudah merawat Najwa dengan penuh kasih sayang."

"Najwa... anakku," Ibu mertua memeluk menantunya dengan hati yang hancur. Sebagai seorang ibu, melihat menantunya yang sudah dianggap anaknya sendiri mendahuluinya adalah patah hati terbesar yang pernah ada.

Setelah Arkan dibawa keluar kembali oleh Mbak pengasuh agar tidak terlalu larut dalam kesedihan, Najwa meminta ibunya untuk memberikan ruang bagi dirinya, Malik, dan Lea. Di dalam kamar yang kini kembali sunyi, Najwa menatap dua orang yang menjadi bagian dari skenario suci yang ia rancang sendiri.

"Lea... mendekatlah, Sayang," panggil Najwa, mengulurkan tangan kirinya ke arah adiknya.

Lea melangkah maju, menggenggam tangan kakaknya dengan air mata yang sudah mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi. "Iya, Kak. Lea di sini."

Najwa menyatukan tangan Lea dan tangan Malik di atas dada bidang suaminya. Genggaman tangan itu bergetar hebat. "Mas Malik... Lea... tugasku di dunia ini benar-benar sudah selesai. Allah sudah memberikan tanda-tanda itu dengan sangat jelas malam ini."

"Najwa, jangan bicara seperti itu..." potong Malik dengan suara yang tercekat di tenggorokan, air matanya kini ikut luruh. Pria perkasa yang selalu tegap di depan santrinya kini menangis seperti anak kecil yang ketakutan.

"Tidak, Mas. Kita harus ikhlas, titip salam buat mama papa aku selalu sayang pada mereka" potong Najwa dengan senyuman yang teramat damai, seolah ia tidak lagi merasakan rasa sakit dari kanker yang menggerogoti tubuhnya. "Kabar kehamilan Lea adalah hadiah terindah sebelum aku pergi. Aku tahu, anak di dalam rahim Lea dan Arkan akan tumbuh bersama di bawah bimbinganmu, Mas."

Najwa menatap Lea dengan lekat. "Lea... titip Arkan, ya? Jaga dia seperti anak kandungmu sendiri. Dan tolong... cintai Mas Malik dengan seluruh hatimu. Dia adalah pria yang sangat mulia."

"Iya, Kak... Lea janji. Lea bakal jaga Arkan, Lea bakal turuti semua omongan Gus Malik," jawab Lea sesenggukan, dadanya naik turun menahan rasa sesak yang luar biasa.

Najwa kemudian mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Malik, pria yang telah menjadi separuh jiwanya selama ini. "Mas... bimbing aku. Tuntun aku kembali kepada-Nya."

Gus Malik tahu, waktu yang ia takuti selama bertahun-tahun ini akhirnya tiba. Ia menegakkan tubuhnya, menghapus air matanya, dan mencoba menampilkan ketenangan demi menuntun belahan jiwanya kembali ke pangkuan Sang Khaliq.

Malik mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Najwa. Suara baritonnya yang bergetar namun sarat akan keimanan mulai melantunkan kalimat tauhid dengan sangat lembut dan perlahan.

"Lailahaillallah..." bisik Malik.

Najwa mengikuti gerakan bibir suaminya dengan sangat pelan, "Lai... laha... illallah..."

Lea memejamkan matanya, terus merapalkan doa di dalam hatinya, sementara tangannya menggenggam erat tangan kakaknya yang perlahan-lahan mulai terasa semakin mendingin, mulai dari ujung jari-jarinya.

Malik kembali mengulang kalimat suci itu di telinga Najwa, memastikan bahwa kalimat terakhir yang didengar dan diucapkan oleh istrinya adalah nama Sang Pencipta. "Lailahaillallah, Muhammadur Rasulullah..."

Bibir Najwa bergerak untuk terakhir kalinya, mengikuti kalimat tersebut dengan helaan napas yang teramat panjang dan halus. Bersamaan dengan itu, garis di *bedside monitor* di samping ranjang perlahan berubah menjadi lurus, diiringi oleh suara berdengung panjang yang memekakkan telinga.

*Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiis...*

"Kak Najwa!!!" jerit Lea pecah, ia langsung berlutut di lantai samping ranjang, menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh kakaknya yang kini telah kehilangan seluruh nyawanya.

Gus Malik membeku di tempatnya. Ia menatap wajah Najwa yang nampak begitu cantik, bersih, dan tersenyum dengan sangat damai dalam tidurnya yang abadi. Tidak ada lagi raut kesakitan, tidak ada lagi penderitaan. Sang bidadari pesantren kini benar-benar telah berpulang ke tempat terbaik di sisi-Nya.

Malik merunduk, mengecup kening Najwa untuk yang terakhir kalinya sebagai seorang suami di dunia. "Selamat jalan, Humaira-ku. Tunggu Mas di jannah-Nya."

Setitik air mata terakhir jatuh dari sudut mata Malik, membasahi pipi mendiang istrinya. Di dalam kamar rumah sakit yang dipenuhi oleh kabut duka, sebuah era telah berakhir, dan sebuah amanah besar kini resmi berpindah sepenuhnya ke pundak Lea dan Malik, menguji seberapa kuat mereka melangkah maju tanpa kehadiran sang bidadari penuntun.

1
6690
wait ini Lea sama Najwa kakak beradik kandung ya? mohon maaf ya Thor, bukannya kalau kandung tidak boleh dinikahi secara bersamaan oleh pria yang sama , kecuali salah satunya sudah meninggal, baru boleh menikah. misalnya boleh menikah dengan suami kakak namun ketika si istri/kakak sudah meninggal. CMIIW
Nda
double up thor
Nda
novelmu luar biasa thor
Ci Ka
ditunggu up nya thor💪
Nda
ditunggu double up nya thor
Sri Jumiati
lanjut up thor
Sri Jumiati
umur kalea brp ya? kok msh kuliah .kan di buang 20 th yll
Jeon Ndhh: Dikirim umur 3-5 tahun → 20 tahun di London → balik ke Indonesia umur 23-25 tahun → sekarang kuliah semester akhir. karna pernah tertunda. kuliah di umur berapa pun boleh kuliah umur 50 tahun pun masih bisa kuliah 🙏
total 1 replies
Sri Jumiati
semangat thor
Sri Jumiati
bagus ceritanyq
Waodeumizahara Waodeumizahara
kapan apload nya thor🙏
Waodeumizahara Waodeumizahara
sangat bagus
Waodeumizahara Waodeumizahara
sangat bagus
Waodeumizahara Waodeumizahara
thor lebih banyaknya lagi dong aploadnya🙏
Waodeumizahara Waodeumizahara
plis, up lebih banyak thor🙏
Waodeumizahara Waodeumizahara
sangat menarik/Heart/
Anonim
GUS GUS AGUUUS AGUUUSSS
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
lanjut lanjut Thor
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
plis doubel up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!