Hidup Bang Jack berubah drastis setelah memasang aplikasi asing. Ia mendadak memiliki kekuatan fisik luar biasa dan akses misi rahasia negara.
Jack harus melawan jaringan mafia yang berkolusi dengan penguasa. Bukti dikumpulkan, kejahatan diungkap, dan pelaku diamankan.
Mampukah ia mengantarkan keadilan agar selamat sampai di tujuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dihadang Pasukan Elite
Jack berjalan cepat menuju pintu lift utama yang tertutup rapat. Tiba-tiba lampu penerangan di seluruh lantai itu berkedip beberapa kali lalu padam total. Hanya tersisa cahaya redup dari lampu darurat yang berwarna merah menyala.
Dari arah koridor yang gelap muncul lima orang pria mengenakan seragam taktis hitam penuh. Mereka berjalan serentak dengan langkah tegap dan wajah tertut masker khusus.
"Berhenti di situ Jack. Jangan bergerak. Kalau kamu nekat, konsekuensinya nyawamu sendiri yang melayang."
"Siapa kalian? Apa tugas resmi kalian sampai berani menguasai area gedung negara begini? Tunjukkan surat perintah atau identitas kalian sekarang juga."
"Kami tidak perlu tunjukkan apa-apa. Kami datang untuk mengambil alih situasi dan mengamankan barang yang kamu bawa. Serahkan tas itu dan ikut kami."
"Kalian bukan petugas keamanan. Kalian pasukan bayaran suruhan orang atas kan? Kalian pikir aku akan percaya dan menyerah begitu saja?"
"Kami tidak peduli apa yang kamu pikirkan. Perintah kami jelas. Bawa kamu dan bukti itu ke tempat kami. Kalau kamu lawan, kami bertindak sesuai prosedur pertempuran."
Salah satu dari mereka mengangkat senjata jenis submachine gun yang dilengkapi peredam suara. Mereka membentuk formasi segitiga menyerang dan mempersempit jarak dengan Jack.
"Kalian gila. Berani bawa senjata api di sini? Kalian tidak takut hukum dan sanksi berat? Ini wilayah hukum tertinggi negara."
"Hukum dibuat oleh yang berkuasa. Dan saat ini kamilah hukum di tempat ini. Pilihan ada di tanganmu. Hidup atau mati. Putuskan sekarang."
Jack mengamati gerakan lawan dengan sangat teliti. Ia sadar tubuhnya saat ini tidak punya kekuatan super untuk menahan peluru atau hantaman keras.
"Aku tidak mau pertumpahan darah di sini. Tapi kalau kalian memaksa, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan pertahankan bukti ini sampai titik darah penghabisan."
"Dasar keras kepala! Serang dia! Lumpuhkan kakinya supaya tidak bisa lari! Ambil tasnya dan bawa keluar lewat jalur belakang!"
Dua orang terdepan langsung meluncur cepat ke arah Jack dengan tendangan dan pukulan keras. Jack mengelak ke samping dengan gerakan gesit dan memanfaatkan ruang sempit di sekitarnya.
"Jangan biarkan dia lewat ke arah lift! Tutup semua jalan keluar! Dia harus tertangkap di sini juga!"
Jack memukul balik dengan sasaran tepat ke titik lemah tubuh lawan. Ia menangkis serangan tangan dan melakukan kuncian sederhana namun efektif untuk melumpuhkan sementara.
"Aku tidak mau menyakiti kalian secara berlebihan. Kalian cuma orang suruhan. Tapi jangan paksa aku jadi kejam karena kalian menghalangi keadilan."
"Hei dia cukup lincah juga! Gunakan listrik stun! Jangan sampai dia sempat menekan tombol alarm atau menghubungi siapa pun!"
Salah satu penyerang mengeluarkan alat kejut listrik dan mencoba menyentuhkan ke tubuh Jack. Jack menunduk cepat lalu membalas dengan sikut keras tepat ke arah rahang lawan tersebut.
Suara benturan dan teriakan terdengar cukup keras memecah keheningan malam di gedung itu. Meskipun kalah jumlah dan perlengkapan, Jack mampu bertahan dengan strategi dan pengalaman bertarungnya.
"Kalian pikir pasukan elite itu cuma soal senjata mahal dan seragam keren? Kalian kurang latihan mental dan kurang paham situasi."
"Kurang ajar! Keluarkan semua kemampuan kalian! Habisi dia sekarang juga! Bos akan marah besar kalau misi ini gagal total!"
Tiba-tiba suara sirine alarm keamanan berbunyi sangat keras dan memekakkan telinga. Lampu-lampu utama kembali menyala terang benderang menyorot seluruh ruangan.
"Kita ketahuan! Tim keamanan utama datang! Cepat mundur! Kita tidak bisa lawan mereka di sini! Rencana gagal!"
Para penyerang itu segera mundur teratur menuju pintu darurat yang sudah mereka buka sebelumnya. Mereka menghilang dengan cepat meninggalkan kekacauan dan beberapa alat yang tertinggal.
Jack berdiri tegak mengatur napasnya yang sedikit memburu. Luka lecet di tangan dan wajahnya tidak ia hiraukan sama sekali.
"Kalian lari sekarang juga tidak masalah. Tapi ingat, ketakutan kalian adalah bukti nyata bahwa kebenaran mulai menekan kalian."
Pintu lift utama terbuka dan keluar beberapa petugas keamanan bersenjata lengkap. Mereka segera mengecek keadaan Jack dan area sekitar dengan sigap.
"Tuan Jack! Apakah Bapak baik-baik saja? Maaf kami terlambat datang. Ada gangguan sistem yang sengaja dimatikan dari luar."
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih. Mereka kabur lewat pintu belakang. Tapi tugas utama mereka gagal. Bukti masih utuh di tanganku."
"Bagus sekali. Silakan masuk ke lift sekarang. Kami akan kawal langsung ke ruang rapat utama. Di sana sudah menunggu orang-orang yang akan memproses kasus ini."
Jack melangkah masuk ke dalam kabin lift yang luas dan dingin itu. Pintu tertutup rapat dan angka lantai mulai bergerak naik menuju tingkat tertinggi gedung tersebut.
***
Suasana di ruangan sangat hening dan mencekam. Jari-jari penembak sudah berada di pelatuk senjata masing-masing.
"Jadi Kamu benar-benar memilih jalan mati Jack? Aku tidak mengerti apa untungnya bagi Kamu mati demi orang-orang yang bahkan tidak mengenal wajahmu."
"Aku tidak bertindak demi pengakuan Tuan. Aku bertindak karena ini hal yang benar dan harus dilakukan. Kalian boleh bunuh aku, tapi kalian tidak bisa membunuh kebenaran selamanya."
"Omong kosong! Kebenaran itu milik mereka yang menang! Dan saat ini kami yang memegang kendali penuh atas segalanya!"
Pria itu berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan meja kerjanya dengan wajah penuh kemarahan.
"Kamu pikir Kamu ini siapa? Pahlawan kesiangan? Kamu cuma sampah yang tiba-tiba dapat kekuatan lalu merasa bisa mengatur dunia!"
"Aku tidak merasa jadi apa-apa Tuan. Aku cuma manusia biasa yang sadar tugas dan kewajiban. Kalian yang lupa diri karena terlalu lama duduk di kursi empuk dan menikmati uang haram."
"Berani sekali Kamu menghinaku! Kamu tidak tahu dengan siapa Kamu bicara sekarang! Aku bisa menghancurkan hidupmu dan keluargamu dalam hitungan detik!"
"Coba saja lakukan Tuan. Jangan cuma ancang-ancang di mulut. Kalau kalian seberani itu, tembak aku sekarang juga."
Jack membuka kedua tangannya lebar-lebar tanpa rasa takut sedikitpun. Ia menatap lurus ke mata pria kaya dan berkuasa itu tanpa berkedip.
"Dasar gila! Kamu benar-benar mencari mati! Tapi sayang sekali... Membunuhmu sekarang terlalu mudah dan terlalu menyenangkan buat kami."
"Kami punya cara yang jauh lebih sadis dan menyakitkan. Kami akan buat seluruh dunia membencimu dan mengutuk namamu selamanya."
"Itu sudah kalian lakukan sejak lama Tuan. Kalian sudah fitnah aku jadi musuh publik dan agen asing. Apa lagi yang lebih buruk dari itu?"
"Masih banyak hal lain Jack. Kami bisa masukkan Kamu ke penjara dengan tuduhan palsu. Kami bisa buat Kamu menderita setiap hari tanpa bisa melawan."
"Kalau memang itu takdirku, aku terima Tuan. Tapi ingat satu hal. Setiap kejahatan yang kalian lakukan, ada catatannya. Dan bukti itu sudah ada di tanganku."
"Bukti? Kamu masih saja bicara soal bukti? Kertas dan data itu tidak ada artinya kalau tidak ada yang berani memprosesnya!"
"Benar. Tapi kalau bukti itu tersebar luas ke publik dan ke seluruh dunia? Apa yang bisa kalian lakukan untuk menutupinya semua?"
Pria itu terdiam sejenak mendengar ucapan Jack. Wajahnya mulai berubah sedikit pucat menyadari kemungkinan yang disebutkan lawannya.
"Kamu... Kamu sudah menyalin datanya kan? Kamu sudah sebarkan cadangannya ke tempat aman kan?"
"Pertanyaan bagus Tuan. Kalau aku mati atau hilang sekarang, sistem yang sudah aku atur akan otomatis mengirim semua file ke ratusan alamat email dan media sosial sekaligus."
"Jadi dalam waktu satu jam saja, seluruh dunia akan tahu wajah asli kalian dan semua skandal busuk yang kalian buat selama puluhan tahun."
"Kamu gila! Kamu benar-benar gila! Berani-beraninya Kamu main mata-mata begini sama kami!"
"Aku belajar dari kalian Tuan. Kalian yang ajarkan aku cara berpikir licik dan waspada. Aku hanya membalas apa yang sudah kalian berikan padaku."
"Jadi ini ancaman ya? Kamu mau memeras kami dengan cara begini? Kamu mau jadikan dirimu sandera demi melindungi data sampah itu?"
"Bukan ancaman Tuan. Ini peringatan keras. Aku tidak mau uang. Aku tidak mau jabatan. Aku mau keadilan ditegakkan sesuai hukum yang berlaku. Kalian harus mengakui semua kesalahan. Kalian harus kembalikan semua uang negara yang kalian rampas. Kalian harus mundur dan terima hukuman dengan kepala tegak."
"Hahaha! Mimpi indah sekali Kamu ini Jack! Kamu pikir kami akan menyerah begitu saja hanya karena ancaman kertas dan data? Kami punya kekuatan. Kami punya uang. Kami punya orang di mana-mana. Kami bisa hancurkan Kamu dan semua rencanamu kapan saja kami mau."
"Silakan coba Tuan. Tapi ingat, kalau satu rambutku rontok, seluruh kerajaan busuk kalian akan ikut hancur bersamaku."
Pria itu menatap Jack dengan tatapan penuh kebencian dan ketidakberdayaan.
Untuk pertama kalinya ia merasa kalah dalam adu mulut dan strategi oleh orang yang dianggapnya lemah.
"Bagus Jack... Bagus sekali permainanmu. Kamu memang bukan lawan biasa yang bisa kita anggap remeh. Tapi ingat ini. Perang kita belum selesai."
"Aku tidak pernah merasa menang Tuan.”
"Oke. Untuk hari ini Kamu boleh pergi. Tapi awas... Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Dan lain kali kita bertemu, tidak akan ada ampun lagi."
Pria itu memberi isyarat tangan dan semua penembak perlahan mundur dan menghilang kembali di balik dinding. Pintu utama ruangan terbuka lebar memberi jalan bagi Jack untuk keluar.