NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23:Kepulangan ketitik nol

Suasana ruang makan yang tadinya tenang mendadak riuh oleh suara deru mobil yang berhenti terburu-buru di depan pagar. Belum sempat aku menghabiskan suapan kedua, pintu depan sudah terbuka. Dua puluh menit—waktu yang sangat singkat untuk jarak rumah mereka ke sini—menunjukkan betapa mereka telah menanti detik ini selama bertahun-tahun.

Langkah kaki yang tergesa itu berhenti tepat di ambang pintu ruang makan. Om Angga, Tante Anin, dan Valerie berdiri di sana. Mereka mematung, menatapku dengan tatapan sendu yang sarat akan luka sekaligus kelegaan yang luar biasa.

"Azzalia..." bisik Tante Anin. Suaranya pecah sebelum sempat menyelesaikan panggilannya.

Ia menghambur ke arahku, mendekapku begitu erat hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu. Tak lama, Om Angga menyusul, melingkarkan lengannya yang kokoh untuk melindungi kami berdua. Pelukan mereka terasa begitu hangat, menyalurkan rasa rindu yang kian lama tertimbun di bawah tumpukan waktu dan kesunyian.

"Maafin Om dan Tante, Zal. Maaf karena kita membiarkan kamu berjuang sendirian selama ini," gumam Om Angga di sela napasnya yang berat.

Aku hanya bisa terdiam, membiarkan air mataku kembali tumpah. Ternyata, selama enam tahun aku lari karena takut dikasihani, keluarga ini justru menderita karena merindukan keberadaanku. Aku merasa begitu bodoh karena pernah berpikir bahwa kesendirian adalah perlindungan, padahal bagi mereka, kehadiranku adalah kepulangan yang mereka doakan setiap malam.

Terakhir, Valerie mendekat. Ia tidak menangis sehebat ibunya, tapi matanya yang merah menunjukkan bahwa pertahanannya pun telah runtuh. Ia memelukku, menepuk bahuku pelan seolah sedang menyambut kawan lama yang baru saja kembali dari medan perang.

"Selamat datang di titik nol, Zal," bisiknya pelan di telingaku. "Jangan lari lagi, ya. Capek tahu nyariin lo."

Aku tersenyum di balik tangis, menyadari bahwa zirah besi yang selama ini kupakai di Kota J benar-benar tidak memiliki tempat di sini. Di ruangan ini, aku bukan lagi Azzalia yang dingin. Aku hanyalah seorang keponakan, seorang sepupu, dan seorang anak yang akhirnya menemukan jalan pulang.

Maafin Azzalia ya Om, Tante," ucapku di sela isak tangis yang mulai mereda. Aku melepaskan pelukan mereka perlahan, menatap wajah-wajah tulus yang selama ini aku hindari dengan sengaja. "Azzalia keras kepala. Selama ini... Azzalia tahu Om dan Tante sering datang di depan kos Azzalia tanpa mendekat ke arah Azzalia. Makasih sudah kasih ruang buat Azzalia, makasih nggak maksa Azzalia buat pulang saat Azzalia belum siap."

Mendengar pengakuanku, Tante Anin kembali mengusap pipiku dengan sayang, sementara Om Angga tersenyum tipis, sorot matanya menunjukkan kelegaan yang amat sangat karena rahasia kecil mereka ternyata kuketahui.

"Nggak apa-apa, Nak. Om dan Tante tahu Azzalia butuh waktu," sahut Om Angga lembut. "Kami cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja dari jauh. Melihat kamu bisa mandiri dan bertahan di kota orang sudah membuat kami bangga, meski hati kami sakit karena tidak bisa memelukmu setiap hari."

"Iya, Sayang," tambah Tante Anin. "Kami nggak mau maksa, karena kami takut kalau kami nekat mendekat, kamu malah lari lebih jauh lagi. Kami cuma bisa berdoa semoga suatu hari pintu hati kamu terbuka lagi untuk rumah ini. Dan hari ini, doa itu terjawab."

Aku tertunduk malu. Ternyata selama enam tahun ini, aku tidak pernah benar-benar sendiri. Di saat aku merasa dunia begitu dingin dan kejam, ada cinta yang menjaga dari kejauhan, ada doa yang tidak pernah putus, dan ada orang-orang yang rela menahan rindu demi memberiku "ruang" untuk bernapas.

Valerie yang sejak tadi menyimak, akhirnya menghela napas panjang dan duduk di sampingku. Ia merangkul pundakku, mencoba mencairkan suasana yang penuh haru. "Tuh kan, Zal. Semua orang sayang sama lo. Jadi stop ngerasa kalau lo itu beban atau pembawa sial buat keluarga. Lo itu Azzalia-nya kami, titik."

Aku mengangguk pelan, mulai merasakan kehangatan yang tulus meresap ke dalam hatiku. Zirah besiku kini bukan hanya retak, tapi benar-benar telah luluh lantah oleh kasih sayang mereka.

Namun, di tengah momen hangat itu, ponsel Valerie yang tergeletak di atas meja ruang makan tiba-tiba bergetar hebat. Nama yang muncul di layar membuat ekspresi Valerie berubah seketika. Ia menatapku, lalu menatap ponselnya dengan ragu.

"Zal... ini Danendra," bisiknya. "Dia nanya ke gue, apa gue tahu lo di mana. Dia bilang nomor lo mati dan dia panik setengah mati di taman sekarang. Gue harus jawab apa?"

Suasana ruang makan mendadak hening. Kini, keputusan ada di tanganku. Apakah aku akan membiarkannya tetap dalam kegelapan, atau membiarkan dia tahu bahwa pelarianku kali ini telah membawaku pulang ke tempat yang seharusnya?

" Kasih tahu dia gue di sini, Kak," ucapku pelan namun mantap, menatap lurus ke arah Valerie. "Tapi tolong bilang, gue nggak mau dia datang ke sini. Gue lagi pengin tenang tanpa bayangan Danendra. Cukup untuk beberapa hari ini saja."

Valerie menatapku ragu sejenak, mencoba mencari celah di mataku, namun ia hanya menemukan kelelahan yang amat sangat. Akhirnya ia mengangguk patuh. Dengan satu tarikan napas panjang, ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya.

"Halo, Nen?" Valerie membuka suara, suaranya sengaja dibuat setenang mungkin.

Aku bisa mendengar suara sayup-sayup dari seberang telepon. Suara Danendra yang terdengar serak, cepat, dan penuh kepanikan. Jantungku berdenyut nyeri membayangkan pria itu sedang kalut di taman kota yang jauh di sana.

"Tenang, Nen. Azzalia aman. Dia... dia lagi di rumah Tante Nita, di Kota K," lanjut Valerie sambil melirikku sekilas.

Hening sejenak di ujung sana, sebelum kemudian suara Danendra kembali terdengar, kali ini lebih mendesak. Valerie segera memotongnya sebelum Danendra sempat mengutarakan niatnya untuk menyusul.

"Tapi dengerin gue dulu. Dia minta jangan disusul. Dia butuh waktu sendiri sama keluarga besarnya di sini. Tolong kasih dia ruang buat napas, Nen. Kalau lo beneran sayang sama dia, lo harus hargai permintaannya kali ini. Jangan rusak ketenangan yang baru saja dia dapetin."

Valerie mendengarkan jawaban Danendra cukup lama. Ekspresi wajah sepupuku itu perlahan melunak, menunjukkan rasa simpati pada pria di ujung telepon sana. "Iya, gue bakal jagain dia. Lo baliklah, istirahat. Jangan sampai sakit."

Setelah sambungan terputus, Valerie meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan helaan napas berat. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Dia setuju, Zal. Dia bilang dia bakal nunggu lo balik ke Kota J," ucap Valerie lirih. "Tapi suaranya... jujur, gue nggak pernah denger Danendra serapuh itu. Dia kedengeran lega banget tahu lo nggak kenapa-napa, tapi sekaligus hancur karena nggak bisa ada di samping lo sekarang."

Aku hanya bisa terdiam, kembali menatap mangkuk sayur asem yang sudah mendingin. Rasa bersalah kembali menyusup, namun aku segera menepisnya. Aku butuh waktu ini. Aku butuh mengumpulkan kembali serpihan diriku di rumah ini sebelum aku benar-benar siap menghadapi Danendra dan masa depan yang ia tawarkan.

Untuk beberapa hari ke depan, biarlah jarak lima jam perjalanan ini menjadi benteng pelindungku. Biarlah Danendra tetap di Kota J, dan biarlah aku di sini, belajar mencintai diriku sendiri lagi di bawah atap yang dulu membesarkanku.

Ketegangan yang sempat menyelimuti ruang makan itu perlahan mencair, digantikan oleh hiruk-pikuk kasih sayang yang luar biasa hangat. Pemandangan di depanku berubah drastis; tidak ada lagi wajah sendu, yang ada hanyalah perlombaan kecil untuk memanjakanku.

"Zal, cobain rendang Tante. Ini resep nenek, kamu dulu paling suka bagian yang banyak bumbunya," ucap Tante Anin sambil menyendokkan potongan daging besar ke piringku.

"Eh, sebentar Anin! Biar dia habiskan sayur asem buatanku dulu. Azzalia butuh yang segar-segar setelah perjalanan jauh," sela Tante Nita tidak mau kalah, tangannya sibuk menambahkan kuah ke mangkukku hingga hampir meluap.

Aku hanya bisa terpaku, menatap piringku yang kini sudah penuh sesak oleh tumpukan lauk. Suara perdebatan kecil mereka, denting sendok yang beradu, hingga aroma masakan rumah yang mengepul, semuanya terasa seperti simfoni yang selama enam tahun ini hanya berani aku putar dalam ingatan. Mataku kembali memanas, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa penuh yang menyesakkan dada secara menyenangkan.

"Ini air jeruk perasnya, Zal. Om yang buatkan sendiri tadi di dapur," Om Angga menyodorkan gelas besar berisi cairan oranye segar.

"Yah, telat! Ini aku udah buatkan teh melati kesukaan dia," Valerie mencoba menggeser gelas ayahnya, wajahnya terlihat kesal namun jenaka. "Zal, pilih punya gue aja. Jeruk Papa pasti kemanisan."

"Enak saja kamu, ini jeruk murni tanpa gula!" Om Angga membela diri sambil tertawa, suara tawanya menggelegar memenuhi ruangan, membasuh sisa-sisa kesunyian yang sempat aku tanam selama bertahun-tahun.

Aku meraih kedua gelas itu secara bergantian, menyesapnya perlahan. Rasa manis, asam, dan hangat menyatu, mengalir turun ke kerongkonganku sekaligus mencairkan sisa kedinginan di hatiku. Di tengah keramaian ini, aku menyadari bahwa meskipun Danendra sedang berada ratusan kilometer jauhnya, kehangatan yang diberikan keluargaku adalah pondasi yang aku butuhkan untuk berdiri tegak kembali.

Aku tidak lagi merasa sebagai beban. Aku tidak lagi merasa sebagai anak narapidana yang memalukan. Di meja makan ini, aku hanyalah Azzalia, gadis yang sangat dicintai, yang kepulangannya dirayakan seolah-olah dia adalah harta yang paling berharga.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!