NovelToon NovelToon
Hubungan Tanpa Status

Hubungan Tanpa Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Kartini Quen

Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NGGAK BISA ANTAR PULANG

Bel pulang berbunyi nyaring.

Kelas IPS langsung ramai. Beberapa siswa bersorak kecil, kursi bergeser, suara ritsleting tas bersahutan.

Keano menutup bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas. Hari ini ia sudah tahu rencananya.

Menunggu Senja di depan kelas IPA. Seperti kemarin, dan mungkin besok akan sama.

Tanpa sadar, kebiasaan itu mulai terasa… penting.

Saat ia berdiri—Ponselnya bergetar.

Nama Mamanya muncul di layar.

Keano mengangkat sambil berjalan keluar kelas.

"Ya, Ma?"

Suara di seberang terdengar sedikit serius.

"Keano, kamu masih di sekolah? Mama butuh tolong sekarang."

Keano berhenti di koridor, "Ada apa?"

"Teman mama menitipkan anaknya, dia baru sampai bandara. Mama gak bisa jemput, supir juga lagi keluar kota. Kamu bisa ke sana sekarang?"

Keano terdiam, Refleks, matanya menoleh ke arah kelas IPA yang ada tak jauh darinya berdiri, kelas tempat Senja masih berada.

Biasanya ia akan menunggu, di depan kelas dan mereka pulang bareng, begitulah yang terjadi sejak dua hari ini.

"Harus sekarang banget ma?"

"Iya, Nak. Dia sendirian di sana."

Keano menghembuskan napas pelan.

"Iya… Keano berangkat."

Telepon ditutup, ia berdiri beberapa detik, tas sudah di pundak, Motor sudah menunggu di parkiran.

Tapi kakinya tidak langsung bergerak.

Ia melirik jam.

Kelas IPA biasanya baru keluar lima menit lagi.

Kalau menunggu sebentar… ia masih bisa pamit langsung ke Senja.

Keano akhirnya berjalan cepat menuju depan kelas IPA.

Beberapa menit kemudian—Pintu kelas IPA terbuka. Siswa mulai keluar satu per satu.

Dan di antara mereka, Senja muncul sambil memeluk buku di dada, Arelina di sampingnya terlihat sangat bersemangat seperti biasanya.

Matanya langsung menemukan Keano.

Alisnya terangkat sedikit.

"Lah?kamu udah nunggu dari tadi?"

Keano tersenyum tipis. Tapi kali ini senyumnya agak canggung.

"Senja… gue gak bisa nganter lo ya hari ini."

Senja berhenti di depannya.

" Iya gak apa-apa kok.

Arelina langsung menatap ke arah keano

" Senja sama gue aja pulangnya."

Keano langsung menjawab.

"Iya rel, gue nitip ya, besok gue jemput dia, hari ini

nyokap gue nyuruh gue buat jemput seseorang di bandara sekarang."

"Oh…"

Jawab Senja,tenang. Seolah biasa saja.

"iya gak apa-apa kok aku bisa sampai sendiri."

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat Keano merasa bersalah.

Arelina langsung menimpali.

Senja, biar gue yang anter lo pulang oke."

" Oke..oke.."

"Yaudah gue anter sampai gerbang ya?"

Senja menggeleng kecil sambil tersenyum.

"Aku masih mau ke perpustakaan bentar."

Keano mengangguk pelan.

Ada jeda. Aneh. Seperti ada yang ingin diucapkan tapi sama-sama ditahan.

"Besok gue jemput lagi," katanya akhirnya.

Senja menatapnya beberapa detik.

"Lihat nanti."

Jawaban yang sama, namun kali ini terasa seperti pertahanan.

Keano tertawa kecil, mengacak rambutnya sendiri.

"Oke. Gue cabut dulu ya."

"Iya. Hati-hati."

"Daaah keano, jangan lupa besok lo jemput Senja, sebelum gue ambil alih." teriak Arelina

Keano berbalik berjalan menjauh, sambil mengangkat jempolnya.

"Siap.."

Dan tanpa ia sadari—

Senja masih berdiri di tempatnya, memperhatikan punggung Keano sampai menghilang di tikungan koridor, baru kali ini, ia menyadari…

hari pulang sekolah mungkin akan terasa sama seperti biasanya.

Arelina menatap Senja dan menepuk pundaknya.

" Udah kali gak usah di lihatin terus Keano nya."

Senja pun kaget.

" Apa sih, udah ah aku mau ke perpustakaan,"

Dia pun berjalan ke arah perpustakaan, Arelina berlari mengikuti sahabat nya itu.

"Ehh..Senja.. tunggu, gue ikutt!"

mereka pun berjalan ke arah perpustakaan sambil sesekali bercanda dan tertawa...

Perpustakaan sekolah sore itu tidak terlalu ramai.

Cahaya matahari sore mulai menembus jendela-jendela tinggi, jatuh membentuk garis hangat di lantai keramik.

Senja langsung berjalan ke rak bagian belakang—tempat favoritnya, rak buku sastra.

Arelina memperhatikan sambil menggeleng kecil.

"Lu tuh ya…" bisiknya, "habis diliatin cowok ganteng malah kabur ke buku."

Senja menarik satu buku lalu duduk di meja dekat jendela.

"Gak kabur," jawabnya pelan. "Cuma… pengen tenang aja."

Arelina duduk di depannya, menopang dagu.

"Tenang dari Keano?"

Senja mendesah kecil.

"Gak semuanya harus tentang dia, Rel."

Arelina menyipitkan mata, jelas tidak percaya.

"Iya… iya… terus kenapa tadi ngeliatin keano sampai parkiran?"

Senja refleks menyentuh pipinya, baru sadar, kenapa dia bisa seintens itu pada keano.

Di parkiran, Keano langsung menyalakan motor.

Suara mesin menyala memecah keramaian sore.

Ia menarik helm, lalu berhenti sebentar.

Refleks matanya kembali menoleh ke arah perpustakaan sekolah, Senja sudah tidak terlihat, sepertinya dia sudah masuk ke dalam perpustakaan.

Keano menghembuskan napas pelan.

"Fokus dulu…"

Motor melaju keluar gerbang sekolah,di jalan keano terus memikirkan Senja, dia tidak menyangka jika hari ini akan gagal mengantarnya pulang.

beberapa menit kemudiaan Keano sampai di bandara, motornya berhenti di parkiran dan ia pun langsung masuk ke dalam.

Area kedatangan bandara sore itu ramai.

Pintu kaca otomatis terbuka–tertutup tanpa henti.

Suara roda koper bergesekan di lantai, pengumuman penerbangan terdengar berulang dari pengeras suara.

Keano berjalan masuk sambil melepas helmnya. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin perjalanan tadi, ia mengeluarkan ponsel.

Pesan dari mamanya masih terbuka.

(Namanya Nara, kamu pasti inget dia, pakai jaket abu-abu, tunggu di pintu kedatangan ya.?)

Keano mengangguk kecil sendiri.

"Oke… jaket abu-abu."

Ia berdiri di dekat pagar pembatas penjemput.

Matanya memperhatikan satu per satu penumpang yang keluar.

Keluarga saling berpelukan, anak kecil berlari menyambut orang tuanya.

Beberapa orang melambaikan tangan dengan wajah lega.

Keano menunggu, satu menit, dua menit.

Tanpa sadar, tangannya membuka aplikasi chat.

Nama Senja muncul paling atas, ia menatap layar beberapa detik.

Jarinya hampir mengetik sesuatu…

lalu berhenti.

"Ah… nanti aja," gumamnya pelan.

Ia memasukkan ponsel kembali ke saku, pintu kedatangan kembali terbuka, seorang gadis keluar sambil menarik koper kecil, jaket abu-abu, rambut sedikit berantakan setelah perjalanan panjang. Ia berhenti sebentar, melihat sekeliling dengan ekspresi bingung, Keano langsung menyadarinya.

Ia melangkah mendekat.

"Nara?"

Gadis itu menoleh cepat, "Iya… lo Keano ya?"

Keano mengangguk, "Mama gue yang suruh jemput."

Ekspresi Nara langsung lega.

"Syukurlah… aku sempet takut salah orang tadi."

Keano mengambil koper dari tangannya.

"Capek gak?"

"Banget," jawab Nara sambil tertawa kecil.

Mereka berjalan menuju parkiran.

Langkah mereka santai, tapi pikiran Keano tidak sepenuhnya ada di sana.

Di kepalanya masih terbayang—Senja keluar kelas.

Senja bilang gak apa-apa, Senja yang hari ini pulang tanpa dia.

Sampai di motor, Keano menyerahkan helm cadangan.

"Pakai ini."

Nara terlihat sedikit ragu.

"Kita naik motor?"

"Iya. Rumahnya gak jauh kok."

Nara mengangguk lalu memakai helm.

Keano menyalakan mesin motor, suara mesin kembali hidup.

Saat motor mulai bergerak keluar area bandara—

ponselnya bergetar di saku.

Keano berhenti sebentar di pinggir jalan.

Ia membuka layar.

Senja.

( aku baru keluar perpustakaan.)

Keano menatap pesan itu lebih lama dari seharusnya, sudut bibirnya naik sedikit.

Entah kenapa… rasa lelahnya langsung hilang.

Ia membalas cepat.

(Maaf ya hari ini gak bisa nganter.)

Balasan datang beberapa detik kemudian.

(Gak apa-apa kok. Hati-hati di jalan.)

Keano menatap layar itu sebentar, senyum kecil muncul tanpa sadar.

Lalu ia memasukkan ponsel kembali, menoleh ke depan.

Motor kembali melaju menembus jalanan sore.

Langit mulai berubah jingga, dan untuk pertama kalinya hari itu—Keano sadar sesuatu.

Ia bukan sekadar terbiasa menjemput Senja.

Ia… mulai menunggu momen itu.

1
Kartini Quen
yuk ikutin terus kisah keano dan Senja...di jamin bikin baperrrr..🥰🥰
Kartini Quen
yuk baca cerita senja dan keano....di jamin bikin baperrrr🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!