Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Misteri Cincin
Lilin kecil di sudut kamar sudah setengah habis ketika Zhao Fei masih duduk bersila dengan cincin itu di antara kedua jarinya.
Abu-abu gelap. Permukaan dipoles halus. Tidak ada ukiran, rune, atau tanda apa pun yang bisa menjadi petunjuk. Sementara jika dilihat dari luar, cincin itu tampak seperti perhiasan murah yang dijual di pasar pinggir jalan, jenis yang dibeli orang bukan karena nilainya tapi karena tidak ada yang lain.
Dia sudah mencoba segalanya.
Pertama dengan mengalirkan sedikit qi yang sudah mulai mengalir dari meridian yang terbuka sebagian, mendorongnya masuk ke dalam batu, meski sayangnya tidak ada reaksi. Batu itu menerima qi seperti tanah kering menerima air, menyerapnya tanpa menunjukkan perubahan apa pun.
Kemudian darah di ambil setelah pemuda itu menggores ujung jarinya dengan kuku, meneteskan setetes darah ke permukaan batu, dan darah itu justru mengering. Tidak ada cahaya, tidak ada getaran, tidak ada yang berubah sama sekali.
Bahkan mantra yang masih diingatnya dari masa perguruan di Alam Dewa, formula aktivasi artefak tingkat rendah yang biasanya bekerja pada benda-benda seperti ini pun tidak berdampak pula.
Zhao Fei meletakkan cincin itu di telapak tangannya dan menatapnya dalam kebisuan selama beberapa saat.
Mungkin isi kepalamu terlalu penuh, Tabib Wen, pikirnya. Sampai kau tidak sadar jika telah menyimpan sebuah batu biasa selama bertahun-tahun. Sebenarnya apa yang kau takutkan dari cincin ini.
Gulungan-gulungan kertas dan buku catatan sudah berserakan di lantai kamarnya tak lama setelah itu. Dia hampir mengosongkan seluruh rak buku yang memang tidak terlalu penuh itu. Semua yang ada di sana sudah dibaca, dirujuk, dicari kata kuncinya.
Sayangnya tidak ada satu pun yang membahas tentang artefak dengan deskripsi seperti cincin ini. Tidak ada yang menyebut batu abu-abu dengan sesuatu yang bergerak di dalamnya. Tidak ada yang berhubungan dengan perpindahan dimensi atau kesadaran atau apa pun yang relevan.
Zhao Fei pun menyerah dan duduk di antara tumpukan kertas itu, menatap cincin di telapaknya dengan ekspresi datar, sebelum sudut bibirnya terangkat.
Kesimpulan paling masuk akal, pikirnya, adalah bahwa Tabib Wen memang orang yang tidak bisa ditebak, dan cincin ini adalah bukti nyata dari ketidakbisaannya untuk ditebak itu.
Dia memakai cincin itu kembali ke jari manisnya. Setidaknya tampilannya cukup meyakinkan untuk dipakai sehari-hari, dan jika suatu hari cincin itu memutuskan untuk bekerja, dia akan ada di tempat yang tepat untuk mengetahuinya.
Kasur tipis menerima tubuhnya dengan cara yang sudah terlalu akrab.
Sebelum matanya menyerah pada kantuk, dia melakukan yang sudah menjadi rutinitas malamnya, yakni mengatur napas, merasakan aliran qi yang sudah mulai memiliki jalurnya sendiri, mendorong perlahan ke titik-titik meridian yang masih tertutup sebagian. Setiap malam sedikit lebih baik dari malam sebelumnya. Meski lambat, tapi setidaknya konsisten.
Perlahan-lahan tanpa dia sadari kapan tepatnya, matanya terpejam sepenuhnya.
Ketika matanya terbuka lagi, langit di atasnya tidak lagi dari kayu.
Zhao Fei bahkan hampir-hampir tidak percaya jika dirinya kini tengah berdiri di tengah keramaian.
Orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya, pakaian mereka terbuat dari sutra berkualitas tinggi dengan bordir yang terlalu halus untuk dikerjakan dengan tangan manusia biasa. Beberapa dari mereka tidak menyentuh tanah sama sekali, melayang di atas lapisan awan tipis yang mengikuti langkah mereka ke mana pun mereka pergi. Suara percakapan, tawa, langkah kaki, semua bercampur menjadi hiruk-pikuk yang terasa familiar dengan cara yang membuatnya sedikit terdiam karena familiar.
Langit di atasnya berwarna keemasan alih-alih kuning seperti senja di dunia bawah, tapi emas murni yang merata dari satu tepi cakrawala ke tepi lainnya.
Dan aromanya. Zhao Fei menarik napas dalam-dalam. Ada sesuatu yang segar di udara ini, seperti tanah setelah hujan musim semi, dicampur dengan wangi bunga yang tidak punya nama di dunia bawah.
Ini Alam Dewa?
Kalimat itu terbentuk di pikirannya seperti seseorang yang baru saja pulang ke tempat yang sudah lama tidak dikunjungi dan menemukan bahwa tempatnya masih sama.
Dia pun melangkah ke samping, menghindari seseorang yang berjalan ke arahnya. Tapi orang itu tidak berbelok. Berjalan lurus ke arahnya dan melewatinya seperti melewati udara.
Zhao Fei menatap punggung orang itu yang terus berjalan tanpa menoleh. Kemudian dia mengangkat tangannya sendiri, meraih bahu seseorang yang berdiri tidak jauh, mencoba menyentuhnya.
Tangannya menembus seperti mencoba memegang kabut yang tidak memiliki substansi.
Jadi begitu, pikirnya. Aku hanya pengamat di sini. Kesadaranku ada di sini, tapi tubuhku tidak.
Dia mencari ruang yang lebih sepi, berjalan di antara orang-orang yang tidak menyadari kehadirannya sampai menemukan sudut di bawah pohon besar dengan daun-daun keperakan yang bergerak meski tidak ada angin. Dari sana, pandangannya bisa menjangkau lebih jauh.
Aula-aula besar. Jembatan yang menghubungkan awan satu ke yang lain. Murid-murid berbaris dalam kelompok latihan di lapangan yang luas. Semua persis seperti yang dia ingat, dengan detail yang bahkan tidak pernah dia sadari selama dia tinggal di sana.
Kemudian matanya turun ke jarinya untuk menatap cincin yang tidak lagi abu-abu.
Batu yang semalam tidak memberikan reaksi apa pun kini memancarkan cahaya emas terang, berkilauan seperti ada matahari kecil yang terperangkap di dalamnya dan baru saja menemukan jalannya keluar. Sesuatu di dalam batu itu bergerak, bukan lagi seperti asap tipis yang terperangkap, tapi seperti nyala api.
Zhao Fei menatap cincin itu cukup lama.
Jadi, pikirnya, kau bukan sampah rupanya. Cincin ini semacam artefak tingkat tinggi.
Pemahaman pun datang seperti air yang mengisi wadah secara bertahap. Cincin ini memindahkan kesadarannya. Dari dunia bawah ke Alam Dewa. Mungkin hanya saat tidur, mungkin bisa juga saat sadar, tapi yang jelas benda ini jauh dari biasa.
Pertanyaan berikutnya langsung mengikuti: kenapa Tabib Wen memberinya ini?
Tiga kemungkinan bergantian di pikirannya. Pertama, Tabib Wen tidak tahu nilai sebenarnya. Kedua, dia tahu tapi sengaja memberikannya. Ketiga, benda ini memang tidak berguna bagi Tabib Wen karena alasan tertentu, tapi sangat berharga bagi Zhao Fei karena alasan yang berbeda.
Dari ketiga kemungkinan itu, yang ketiga terasa paling masuk akal. Seseorang yang bisa membuat ramuan sekompleks yang diberikan untuk ibunya bukan orang yang tidak mengenali artefak bermutu.
Tabib Wen itu tidak sesederhana tampilannya.
Dorongan untuk berjalan ke arah perguruannya sangat kuat, seperti tali yang ditarik dari dalam dadanya.
Seberapa jauh dari sini? Tidak terlalu jauh. Dia hafal setiap jalur di Alam Dewa. Mungkin hanya perlu beberapa menit berjalan, bahkan dalam kondisi sebagai pengamat yang tidak bisa disentuh.
Mungkin dia bisa melihat apakah aula utama perguruannya masih berdiri. Apakah nama Petir Abadi masih disebut-sebut di tempat itu, atau sudah dihapus dan diganti. Apakah murid-muridnya masih ada, atau sudah berpencar. Apakah Li Tianming sudah duduk di singgasana yang dulu menjadi miliknya.
Li Tianming.
Zhao Fei menutup matanya sebentar.
Belum saatnya. Kalimat itu datang dari bagian dirinya yang selalu lebih dingin dari bagian yang lain. Jika ada yang bisa mendeteksi kehadiran rohku di sini, jika ada yang cukup kuat untuk merasakannya, konsekuensinya tidak akan kecil. Belum cukup kuat. Belum cukup tahu tentang aturan cincin ini.
Terlalu banyak yang belum dia ketahui. Berapa lama dia bisa bertahan di sini. Apakah ada batasannya. Apakah ada yang bisa melihatnya dalam kondisi tertentu.
Terburu-buru tidak pernah menjadi caranya. Sepuluh ribu tahun mengajarinya bahwa kesabaran dan persiapan selalu mengalahkan kecepatan yang sembrono.
Lantas Zhao Fei memejamkan matanya. Membayangkan kamar asramanya. Kasur tipis. Dinding kayu. Lilin yang mungkin sudah padam.
Ketika matanya terbuka, langit-langit kayu ada di atasnya.
Zhao Fei berbaring selama beberapa saat, merasakan perbedaan udara di antara dua tempat itu. Di sini udaranya lebih berat, tidak ada aroma setelah hujan musim semi, tidak ada awan yang melayang di ketinggian.
Adapun cincin di jarinya sudah kembali abu-abu gelap.
Dia menghela napas panjang ke arah langit-langit kayu.
Beberapa pertanyaan langsung mengantri di kepalanya tanpa menunggu izin. Apakah Tabib Wen mengetahui fungsi sebenarnya dari cincin ini? Apakah dia bisa kembali ke Alam Dewa kapan saja yang dia mau, atau ada syarat tertentu? Apakah kesadarannya benar-benar tidak bisa dideteksi di sana? Dan yang paling mendesak adalah... apakah mungkin untuk melihat Li Tianming dari kejauhan tanpa mengambil risiko apa pun?
Dia membalik tubuhnya ke kiri. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak berhenti.
Sampai matanya menatap langit-langit lagi. Besok aku harus menemukan Tabib Wen. Ini tidak bisa ditunda.