Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membawa Anakku Pulang
"Kau memang sangat pintar, Langit..." ucap Anin pelan, senyum tipis terukir di bibirnya. "...tapi kenapa giliran soal cinta dan hati, kau jadi sangat bodoh?" ejeknya lagi.
Langit mendecakkan lidah kesal, wajahnya terlihat jengah dan tidak sabar.
"Sudahlah, jangan basa-basi!" potong Langit tegas. "Sudah dua kali kau menolongku. Aku tidak percaya kau melakukan ini semua tanpa alasan. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Katakan!"
Anin menatap mata pria itu dalam, lalu pandangannya perlahan beralih ke arah Gadis yang masih lemas dan bersandar di dada Langit. Wajah wanita itu terlihat pucat dan kelelahan luar biasa.
"Tidak banyak yang kuinginkan..." jawab Anin santai namun tegas. "Aku ingin... dia ikut bersamaku."
"APA?!" Langit terkejut, tangannya refleks memeluk Gadis semakin erat. "Apa yang akan kamu lakukan padanya?!" tanya pria itu waspada, siap bertarung jika perlu meski tubuhnya penuh luka.
Anin justru tertawa kecil melihat reaksi cemburu dan protektifnya.
"Kamu tidak perlu khawatir begitu..." bisiknya lembut. "Aku hanya ingin membawanya pergi sebentar. Dan aku janji... aku akan mengembalikannya secara utuh, tidak kurang satu apapun."
Tanpa menunggu persetujuan penuh, Anin mengangkat tangan memberi kode pada kedua pengawalnya.
"Bawa Nona Gadis masuk ke mobil," perintahnya singkat.
Dua pengawal itu bergerak sigap. Ternyata Gadis memang sudah tidak sadarkan diri lagi, tubuhnya lemas dan pingsan karena kelelahan, rasa sakit akibat cambukan, dan tekanan emosi yang terlalu berat.
Mereka dengan hati-hati mengambil alih tubuh mungil itu dari gendongan Langit, lalu membawanya masuk ke dalam mobil mewah milik Anin.
Langit hanya bisa diam terpaku, terlalu lemah untuk melawan dan terlalu percaya pada wanita di hadapannya ini.
Pintu mobil ditutup. Anin melangkah masuk dan duduk di samping Gadis.
BRUMMMM!!!
Mesin mobil menderum keras. Dengan cepat kendaraan itu meluncur kencang meninggalkan halaman rumah utama, meninggalkan Langit dan Charlie yang masih berdiri terpaku di bawah terik matahari.
****
Ruangan itu bernuansa putih bersih, sangat terang, dan terasa sangat dingin namun nyaman. Perlahan-lahan kelopak mata Gadis mulai bergerak, ia pun akhirnya terbangun dari pingsannya yang panjang.
Ia menatap sekeliling ruangan dengan mata yang masih sayu. Semuanya tampak asing baginya. Ini bukan kamarnya, bukan juga rumah sakit yang biasa ia kunjungi.
Saat ia mencoba menggerakkan tangannya, ia merasakan selang infus yang tertancap di pergelangan tangan kanannya, menandakan bahwa ia sudah mendapatkan perawatan sejak tadi.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka pelan.
Dua sosok manusia berjalan masuk. Yang pertama adalah wanita tangguh yang kemarin begitu berani menantang seluruh keluarga Mahesa dan membawa bukti kejahatan Bella Anin Wiguna.
Dan di sampingnya, berjalan seorang pria yang tampak sangat tampan, dewasa, dan memancarkan aura wibawa yang tak kalah kuat dari Langit.
Mereka berhenti tepat di sisi ranjang tempat Gadis terbaring. Dan tanpa sengaja, mata Gadis menangkap gerakan tangan pria itu yang dengan posesif dan lembut memeluk perut Anin seolah sedang melindungi dan menyayangi wanita itu dengan sangat dalam.
"Kamu sudah bangun?" tanya Anin lembut, wajahnya yang biasanya galak kini terlihat jauh lebih lembut dan hangat. "Ada yang sakit? Atau merasa tidak nyaman?"
Gadis hanya menggeleng pelan, masih sedikit bingung dan lemas.
Pria di samping Anin pun maju sedikit, lalu mengulurkan tangannya yang besar dan kuat ke arah Gadis.
"Saya Fajar," ucap pria itu dengan suara berat dan ramah, sambil melirik kekasihnya dengan senyum manis. "Saya kekasih Anin. Senang bisa bertemu denganmu, Gladis."
Gadis tersenyum tipis, lalu ia mengulurkan tangannya yang bebas untuk menjabat tangan pria itu.
"Senang bertemu dengan Anda, Om Fajar."
Di dalam hati, Gadis merasa ada yang janggal dan sedikit tidak nyaman.
Tadi saat berkenalan, pria bernama Fajar itu menyapanya dengan sebutan "Gladys". Padahal namanya jelas-jelas Gadis.
'Gladys? Siapa itu? Kenapa dia memanggilku dengan nama itu?' batin Gadis bertanya-tanya, matanya menyipit penuh tanda tanya. Namun ia memilih untuk diam dan tidak memperpanjang masalah, menganggap mungkin itu hanya salah dengar atau kesalahan kecil.
Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka dan masuklah seorang dokter beserta perawatnya untuk memeriksa kondisi luka-luka di tubuh Gadis.
"Nona, lukanya sudah membaik dan mulai mengering dengan baik," ucap dokter itu ramah sambil memeriksa punggung dan lengan Gadis. "Tapi ingat ya, untuk sementara jangan sering-sering terkena air dulu supaya tidak infeksi. Istirahat total yang terbaik."
Setelah memberikan resep obat dan instruksi perawatan, mereka pun pamit undur diri.
"Istirahatlah lagi kalau masih capek," ucap Anin lembut sambil merapikan selimut di tubuh Gadis. "Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan panggil aku. Kamarku tepat di sebelah sini, jadi sekencang apa pun kamu teriak manggil nama aku, pasti aku bakal dengar kok."
Gadis tersenyum tipis dan mengangguk paham.
"Oh iya! Wait!"
Anin tiba-tiba menepuk keningnya sendiri seolah baru ingat sesuatu yang sangat penting.
"Aku lupa kita belum perkenalan dengan benar!" serunya. "Aku Anin... Anin Wi...gu..na..."
Ia mengucapkan nama belakangnya dengan jelas dan tegas.
WIGUNA.
Seketika...
DEGH!!
Mata indah Gadis membelalak lebar, terkejut bukan main. Wajahnya berubah pucat mendadak seolah baru saja melihat hantu atau mendengar nama yang paling ditakuti di dunia bisnis dan bawah tanah.
Wiguna?! Keluarga Wiguna?!
Nama itu.... Bagaimana bisa wanita sekuat ini memiliki marga yang sama denganku...?
Anin hanya tersenyum misterius melihat reaksi terkejut Gadis. Ia tidak menjelaskan apa pun lagi, lalu mengajak Fajar untuk keluar dan meninggalkan wanita itu sendirian di dalam kamar.
Fajar tersenyum tipis ke arah Gadis atau harus kita sebut sekarang Gladys lalu perlahan menutup pintu kamar itu hingga rapat.
Mereka berdua berjalan menuju balkon kamar utama yang luas dan terbuka. Angin malam bertiup sejuk, namun suasana di antara mereka berdua terasa sangat hangat dan penuh makna.
Sesampainya di sana, Anin langsung memeluk tubuh kekar Fajar dengan sangat erat. Bahunya mulai bergetar, dan air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah begitu saja.
"Akhirnya... akhirnya aku bisa membawa anakku pulang, Fajar..." isak Anin histeris namun bahagia. "Aku bisa memeluknya lagi... aku bisa melihatnya tumbuh dewasa di hadapanku sendiri..."
Fajar menatap wanita yang sangat ia cintai itu dengan tatapan penuh kebanggaan dan kasih sayang. Ia mengelus punggung Anin lembut, menenangkan tangisan bahagia sang kekasih.
Fajar merasa sangat senang dan lega. Selama ini ia tahu betapa hancurnya Anin karena kehilangan buah hatinya. Dan hari ini, berkat kerja keras dan kecerdikan mereka, ia bisa membantu Anin menemukan kembali anak satu-satunya itu.
Gadis... atau tepatnya Gladys, adalah putri kandung Anin Wiguna yang telah hilang bertahun-tahun lamanya!
"Syukurlah, Sayang... syukurlah," bisik Fajar lembut, mengecup puncak kepala wanita itu. "Sekarang dia ada di sini, aman, dan di rumah yang sebenarnya. Kita tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi."