Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih cinta
Malam akhirnya tiba.
Lampu-lampu sederhana dipasang di lapangan terbuka dekat area penginapan.
Cahayanya hangat, kontras dengan dinginnya udara pegunungan.
Para aktor dan kru mulai berkumpul.
Suasana ramai, tapi masih santai.
Mireya berdiri sedikit di pinggir.
Tidak terlalu jauh.
Tapi juga tidak benar-benar masuk ke dalam kerumunan.
Matanya mengamati.
Diam.
Di depannya—
sutradara akhirnya maju.
Menarik perhatian semua orang.
“Baik, semuanya…”
Suaranya cukup tenang, tapi tegas.
“Kita kumpul sebentar malam ini.”
Beberapa orang langsung fokus.
Beberapa lainnya masih setengah bercanda.
Mireya memperhatikan.
Ia awalnya mengira ini hanya sekadar pengarahan ringan.
Atau sambutan biasa.
Namun— semakin lama ia mendengar—
semakin terasa berbeda.
Lebih menyeramkan dari pada yang di duga.
Sutradara mulai menjelaskan banyak hal.
Terlalu banyak, bahkan.
Tentang jadwal.
Tentang batas area.
Tentang aturan keluar-masuk.
Lalu— topiknya berubah.
“Lokasi ini…”
Ia berhenti sejenak.
“…berada cukup dekat dengan kawasan hutan lindung.”
Suasana perlahan mereda.
“Artinya, di sekitar kita masih ada habitat hewan liar.”
“Beberapa di antaranya… termasuk spesies endemik.”
Bisik-bisik mulai terdengar.
Mireya sedikit mengernyit.
Fokusnya meningkat.
“Sebagian hewan tersebut tidak berbahaya.”
“Tapi—”
Ia menatap sekeliling.
“ada juga yang perlu diwaspadai.”
Hening.
Namun—
sutradara kemudian mengangkat tangan, menenangkan.
“Tidak perlu panik.”
Nada suaranya kembali santai.
“Area kita sudah diamankan.”
“Pembatas sudah dipasang.”
“Dan selama bertahun-tahun…”
Ia menegaskan,
“hampir tidak pernah ada kejadian berbahaya.”
Beberapa orang langsung terlihat lebih rileks.
Tertawa kecil.
Menganggapnya angin lalu.
“Jadi secara resmi—”
lanjutnya,
“tempat ini dinyatakan aman.”
Suasana kembali mencair.
Namun—
Mireya tidak sepenuhnya ikut tenang.
Matanya secara refleks melirik ke arah gelap di balik pepohonan.
Hutan itu—
terlalu sunyi.
Seolah menyimpan sesuatu.
Dan entah kenapa—
penjelasan yang seharusnya menenangkan itu
justru terasa seperti…
peringatan.
...****************...
Setelah perkumpulan malam itu selesai, satu per satu orang mulai kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Udara semakin dingin.
Kabut tipis mulai turun perlahan, menyelimuti area penginapan.
—
Mireya dan Pixy berjalan berdampingan menuju rumah mereka.
Langkah mereka pelan, sisa-sisa obrolan dari lapangan masih terngiang di kepala.
Tentang aturan.
Tentang batas.
Tentang hutan.
Begitu sampai di dalam, suasana langsung berubah lebih tenang.
Hangat.
Terpisah dari dunia luar.
“Capek juga ya…” gumam Pixy sambil meregangkan badan.
Mireya hanya mengangguk kecil.
Ia sudah bersiap untuk beristirahat.
Pixy berjalan menuju pintu kamarnya.
Namun— tiba-tiba ia berhenti.
Seolah baru teringat sesuatu.
“Oh ya, Kak Mireya…”
Mireya menoleh.
“Hm?”
Pixy menggaruk pipinya.
“Kayaknya aku lupa bilang…”
“Di tempat ini sering mati—”
Klik.
Semua lampu padam.
Gelap.
Total.
“—listrik.”
Suara teriakan kaget langsung terdengar dari luar.
Dari rumah lain.
Dari kejauhan.
Beberapa orang panik.
Beberapa hanya mengeluh.
Pixy mendengus pelan di tengah kegelapan.
“Padam.”
“Heh… aku belum selesai ngomong.”
Mireya terdiam.
Tubuhnya sedikit kaku.
Matanya mencoba menyesuaikan—
tapi gelapnya terlalu pekat.
“Kak Mireya… masih di situ kan?”
Suara Pixy terdengar dari arah depan.
Sedikit ragu.
“…iya.”
Jawaban Mireya pelan.
“Duh… susah banget jalan di gelap gini…”
Suara gesekan terdengar.
Pixy tampaknya mencoba bergerak.
“Kakak masih di posisi tadi kan?”
“Aku samperin ya…”
Beberapa detik kemudian—
suara gedebuk kecil terdengar.
“Eh—”
Mireya menghela napas.
“Jangan dipaksakan, Pixy.”
Pixy terkekeh kecil, sedikit malu.
“Iya sih…”
Mireya bersandar pelan.
Masih belum bergerak.
“…aku juga baru pertama kali merasakan mati lampu.”
Nada suaranya jujur.
“Di kota… hampir tidak pernah ada seperti ini.”
Pixy langsung menyahut, suaranya terdengar lebih santai.
“Wah, Kak Mireya kurang main jauh.”
Ia mulai merangkak perlahan.
“Aku sering ke tempat kayak gini.”
“Seru loh, sebenarnya.”
Ia berhenti sebentar.
Nada suaranya berubah sedikit lebih realistis.
“Tapi ya… kalau lagi kerja begini…”
“ribet juga.”
Suara kain bergesek lagi.
Ia terus bergerak pelan di lantai.
“Produser pasti lebih mementingkan alat listrik.”
“Buat jaga-jaga.”
“Daripada dipakai buat penerangan aktor.”
Mireya hanya diam mendengarkan.
Gelap masih menyelimuti ruangan.
Tanpa cahaya sedikit pun.
Tanpa suara selain mereka berdua—
dan sesekali suara jauh dari luar.
“Yaudah deh…”
Pixy akhirnya bersuara lagi.
“Ayo tidur aja.”
Mireya mengangguk, meski tidak terlihat.
“…iya.”
“Untung tadi sudah mandi.”
Dengan susah payah—
keduanya bergerak menuju kamar masing-masing.
Pelan.
Meraba.
Hampir merangkak.
Anehnya— tidak ada dari mereka yang terpikir untuk menyalakan fitur senter di terminal pribadi mereka.
Seolah— gelap ini terlalu mendadak.
Terlalu asing.
Atau mungkin…
tanpa sadar— mereka lupa fungsi terminal pribadi itu sendiri.
Di luar— angin malam berhembus pelan.
Dan hutan— tetap sunyi.
Terlalu sunyi.
...****************...
Pagi datang perlahan.
Kabut masih menggantung tipis di antara pepohonan.
Udara dingin belum sepenuhnya pergi.
Mireya duduk di tepi ranjang, rambutnya masih sedikit berantakan.
Matanya belum sepenuhnya fokus—
sampai sebuah notifikasi muncul di terminal pribadinya.
Pesan masuk.
Dari Zevran.
“Tadi malam kenapa tidak kirim pesan ke aku?”
Mireya terdiam sejenak.
Menatap layar.
Ia baru ingat.
Listrik padam.
Kegelapan.
Kekacauan kecil yang terasa lebih besar dari seharusnya.
Jarinya bergerak pelan.
Membalas.
“Maaf, Zevran…”
“Tadi malam listrik padam.”
“Aku cukup terkejut.”
Tidak butuh waktu lama.
Balasan datang.
Cepat.
Seolah ia memang sedang menunggu.
“Mau ku bawakan genset besar ke sana?”
“…eh?”
Mireya mengerjap.
Benar-benar tidak menyangka.
Alisnya sedikit berkerut.
Antara bingung dan… tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Genset besar?”
Ia bergumam pelan.
Beberapa detik ia hanya menatap layar.
Lalu menghela napas kecil.
“…tidak perlu.”
Ia mulai mengetik lagi.
“Aku bahkan lupa kalau ada senter di terminal pribadi.”
“Lucu, ya.”
Ia berhenti sebentar.
Menatap kalimat itu.
Lalu tetap mengirimnya.
Balasan datang lagi.
Cepat.
“Itu kebiasaanmu.”
Di akhir kalimat—
sebuah emotikon muncul.
😏
Mireya menatap layar sedikit lebih lama.
Ekspresinya tidak berubah banyak.
Namun— ujung bibirnya perlahan terangkat.
Tipis.
“Orang ini…”
gumamnya pelan.
Antara terlalu serius—
atau justru terlalu santai.
Ia menurunkan terminalnya.
Menarik napas panjang.
Entah kenapa—
percakapan singkat itu
membuat pagi terasa sedikit berbeda.
Lebih ringan.
Namun di saat yang sama—
ia sadar.
Perhatian seperti itu—
tidak bisa dianggap biasa.
Dan justru karena itu—
ia harus lebih berhati-hati.
Ini hanya pernikahan kontrak Mireya...
Semua akan asing pada waktu nya...
Jangan bawa perasaan lebih...
Tapi meskipun dia tau itu.
Perasaan aneh mulai tumbuh di hati nya.
Benih benih perasaan yang akan berubah menjadi cinta.
Yang mungkin akan meledak di saat tidak tepat.
Semua hal berbahaya itu mireya ketahui dan sadari...
Tapi apa boleh buat...
Perasaan nya bagai di pupuk dan di beri kesempatan untuk tumbuh dari perlakuan pria itu.
Tidak mungkin kan pria itu tidak menyukai nya juga.
Meskipun sedikit...
harapan ini bagai racun waktu.