Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kayla Berdoa Lagi
Dimas dapat merasakan seluruh tubuh Arumi bergetar karena menangis hebat. Dia terus mengusap punggung Arumi perlahan seolah menyalurkan ketenangan pada Arumi.
Saat tangis Arumi perlahan mereda, Dimas membantu Arumi duduk di kursi konseling. Dimas duduk di hadapan Arumi sambil memegang tangannya.
"Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Dimas pada Arumi.
"Marah dan... jijik," jawab Arumi. Masih ada sisa isak tangis disana. Dimas menggenggam tangan Arumi lebih erat.
"Aku tau ini berat buat kamu," kata Dimas.
"Tapi, aku pengen kamu nggak buru-buru menyimpulkan dan mengambil keputusan," lanjut Dimas.
"Tapi, Dim, udah jelas apa yang Mas Ardi lakukan di belakang aku!" kata Arumi dengan tangis yang tertahan.
"Aku tau, Arumi. Aku paham. Tapi kamu butuh nenangin diri dulu. Kamu butuh berpikir jernih sebelum ngambil keputusan. Apapun itu," kata Dimas.
"Aku capek, Dim,"
"Aku tau,"
"Aku pengen semua cepat berakhir,"
"Aku pengen kamu menghadapi ini dengan tenang,"
"Nggak bisa, Dim,"
"Kamu bisa. Selama ini kamu bisa. Dan aku yakin kali ini pun kamu bisa," kata Dimas sambil tersenyum hangat dan menatap kedua mata Arumi yang sembab. Ibu jari Dimas perlahan membelai punggung tangan Arumi.
"Ingat. Ada aku. Kapanpun kamu butuh bantuan, kamu bisa andelin aku. Okay?" kata Dimas pada Arumi. Arumi menatap Dimas lekat-lekat. Pria di depannya begitu menenangkannya di tengah badai rumah tangga yang sedang menerpanya.
"Makasih," ucap Arumi sambil tersenyum. Dimas membalas senyuman Arumi.
Arumi merasa lebih tenang setelah menceritakan pada Dimas tentang video itu dan menangis sejadi-jadinya di ruang konsultasi. Dia merasa keputusannya untuk meminta pendapat Dimas terkait masalah video itu adalah keputusan yang tepat.
Dimas berusaha menahan amarahnya agar tak menguasai dirinya. Sejak melihat video rekaman CCTV yang diberikan Arumi, Dimas merasakan sesuatu yang nyeri di dalam hatinya. Ingin sekali rasanya, Dimas segera menemui Ardi dan memukul wajahnya agar pria itu sadar sudah terlalu menyakiti isterinya yang selama ini bertahan untuk dirinya.
'Semoga kau dapat karmanya, Ar,'
***
"Mama abis nangis? Kenapa? Apa Papa nakal sama Mama?" tanya Kayla begitu Arumi kembali ke ruang psikiatri.
"Eh?"
"Kayla hebat ya! Bisa tau kalo Mama abis nangis," kata Dimas sambil berjongkok di depan Kayla. Arumi menaikkan kedua alisnya.
"Iya. Soalnya, mata Mama basah, merah, sama ada ingus di idungnya. Mama kan nggak lagi pilek," jelas Kayla. Dimas tersenyum.
"Kayla tau? Orang dewasa juga butuh menangis lho!" kata Dimas.
"Kenapa?"
"Menangis itu nggak selalu karena sedih atau sakit, Kay. Karena capeeek banget, juga bisa bikin nangis," jelas Dimas.
"Mama capek? Kayla janji besok-besok nggak bikin Mama kecapekan," kata Kayla sambil menatap Arumi. Arumi tersenyum.
"Mama capek bukan karena Kayla," kata Dimas.
"Saat dewasa, banyak hal yang harus dipikirkan dan dilakukan. Naah, banyak hal itu yang bikin Mama capek," lanjut Dimas.
"Banyak hal?" tanya Kayla bingung. Dimas mengangguk.
"Banyak hal, yang cuma orang dewasa yang ngerti," kata Dimas sambil tersenyum.
"Ooo... Mama yang semangat ya! Kalo Mama capek, istirahat dulu aja. Kayla bisa kok main sendiri," kata Kayla seolah paham apa yang dimaksud Dimas.
"Wuiih! Hebat, Kayla! Eh, tapi, main sendiri nggak seru. Main sama Om aja yuk!"
"Bukan Om. Mas!"
"Eh? Masih Mas? Duuuh!"
"Kalo Mas Dokter udah nikah baru aku panggil Om," celetuk Kayla.
"Duuuh harus nikah dulu ya?" tanya Dimas sambil melirik Arumi dan tersenyum. Arumi mengerutkan kedua alisnya.
"Iyalah. Harus nikah dulu. Emangnya Mas Dokter belum punya pengantin?" tanya Kayla polos.
"Belum, Sayang,"
"Kok Mas Dokter panggil Kayla sayang? Emang Mas Dokter sayang sama Kayla?" tanya Kayla. Dimas menaikkan kedua alisnya, terkejut. Arumi terlihat menahan tawa mendengar pertanyaan Kayla yang spontan.
"Iya doooong. Mana mungkin Dokter nggak sayang Kayla," kata Dimas cepat.
"Kalo sama Mama? Mas Dokter sayang juga nggak?" tanya Kayla.
Pertanyaan Kayla kali ini benar-benar mengejutkan dan tak terduga. Dimas dan Arumi seketika saling tatap. Jantung Dimas berdegup kencang.
"Kalo Mas Dokter sayang Mama, Kayla bakal seneng," kata Kayla setelah tidak mendapat jawaban dari Dimas.
"Eh? Kenapa?"
"Karena Papa udah nggak sayang Mama," jawab Kayla lirih sambil tertunduk sedih.
Dimas menoleh menatap Arumi yang menatap Kayla dengan penuh rasa bersalah.
"Gimana Kayla tau kalo Papa nggak sayang Mama?"
"Papa bikin Mama sedih terus. Di rumah, Mama nggak bahagia," kata Kayla.
Airmata Arumi menggenang lagi. Selama ini dia berusaha menyembunyikan lukanya di balik senyumnya yang tenang, berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan puteri kecilnya yang terlalu peka dengan sekitarnya. Seharusnya Arumi tahu, bahwa dari semua orang, yang paling bisa merasakan perasaan Arumi adalah puterinya, Kayla.
Dimas memeluk Kayla, mengusap punggungnya perlahan. Kayla hanya diam.
"Terimakasih, Kayla sudah menemani Mama selama ini, tidak menambah kesedihan Mama dengan bersikap baik dan ceria," kata Dimas.
"Kayla boleh menangis juga kalo capek," lanjut Dimas.
"Tapi, kata nenek, Kayla udah besar, nggak boleh nangis," kata Kayla.
"Boleh. Anak besar boleh nangis. Sampai Kayla tua, Kayla boleh nangis kapanpun Kayla mau nangis. Jangan ditahan. Oke?" kata Dimas.
Kayla mengangguk, diikuti airmata yang mengalir dari kedua mata kecilnya. Dimas masih mengusap punggung Kayla perlahan sambil membiarkan Kayla meluapkan kesedihan di pelukannya.
Arumi menatap pemandangan itu. Dia tertegun. Dia bahkan tak ingat kapan terakhir kali Kayla menangis dalam pelukan papanya. Dan Arumi baru menyadarinya. Kayla memang tidak pernah menangis. Entah sejak kapan. Arumi bahkan tak mengingatnya.
Sibuk dengan perasaannya sendiri hingga lupa perasaan puteri kecilnya membuat hati Arumi perih. Dia merasa gagal. Baik sebagai isteri maupun sebagai ibu.
Arumi kembali terisak. Kayla menoleh ke arah Arumi. Dengan matanya yang masih basah, dia menatap mamanya.
"Mama," panggilnya lirih. Arumi menghapus airmatanya lalu berjongkok di sebelah Dimas.
"Kayla sayang Mama," kata Kayla sambil memeluk Arumi. Arumi tersenyum lalu menangis di saat yang bersamaan.
Dimas menatap haru ibu dan anak yang saling berpelukan di depannya. Ingin rasanya Dimas ikut menghambur, memeluk mereka dan memberi rasa tenang.
"Mas Dokter," panggil Kayla sambil melepaskan pelukannya dari Arumi.
"Ya?" tanya Dimas.
"Karena Mas Dokter sayang Kayla, Kayla juga sayang Mas Dokter," kata Kayla sambil memeluk Dimas lagi. Dimas terkekeh. Arumi tersenyum. Bukan senyum pura-pura, melainkan senyum lega dan ringan.
"Terimakasih," ucap Dimas sambil mengusap punggung Kayla pelan. Kayla tersenyum.
Dalam pelukan Dimas, Kayla diam-diam berdoa kepada Tuhan.
'Tuhan... Jangan biarkan Mama sedih lagi. Kayla suka Mama yang tersenyum seperti saat ini. Berikan kebahagiaan pada Mama, Tuhan,'
***