Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Tamu dari Masa Silam
Titik terakhir pada layar laptop itu menandakan selasainya bab terbaru novelnya. Aura menyandarkan punggung, membiarkan jemarinya yang kaku beristirahat sejenak. Keheningan malam di desa itu terasa begitu pekat, hanya sesekali dipecahkan oleh suara jangkrik yang sahut-menyahut di kejauhan. Tenggorokannya terasa kering, seperti padang pasir yang merindukan setetes air.
Aura bangkit, melangkah gontai menuju dapur. Namun, saat ia melewati ruang tamu, telinganya menangkap sesuatu yang tidak biasa. Srak... srak... Suara langkah kaki itu berat, terseret di atas aspal jalanan tepat di depan rumahnya. Iramanya aneh, tidak seperti langkah manusia yang sedang terburu-buru, melainkan seperti sesuatu yang ragu atau mungkin... tidak terbiasa menapak di bumi.
Rasa haus itu seketika sirna, digantikan oleh debar jantung yang kian memacu. Aura mendekat ke pintu utama. Dengan tangan sedikit gemetar, ia memutar kunci dan menarik daun pintu kayu itu perlahan.
Udara dingin malam langsung menusuk kulit Aura. Di luar, suasana sangat gelap. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu jalan tua yang berkedip-kedip redup beberapa meter dari pagar rumahnya. Cahaya kuning pucat itu menciptakan kontras yang tajam dengan kegelapan di sekelilingnya.
Di sana, tepat di bawah pancaran lampu, berdiri sebuah sosok. Bayangan hitam memanjang di aspal, namun sosok itu sendiri tampak buram, seolah-olah udara di sekitarnya terdistorsi oleh panas atau mungkin oleh energi yang tidak berasal dari dunia ini.
"Apa itu yang ada di sana?" gumam Aura lirih. Bulu kuduknya meremang. Pikiran-pikiran liar mulai memenuhi kepalanya. "Tidak mungkin hantu yang datang ke sini... Bukan karena makam raja terbuka, kan?"
Aura mencoba menepis ketakutan itu. Ia tahu makam raja yang baru saja ditemukan di pinggiran desa memang menyimpan banyak misteri, tapi ia tidak ingin terlibat lebih jauh ke dalam urusan mistis malam ini. Ia hanya ingin tidur.
"Sudahlah, Aura. Kamu terlalu banyak menulis fantasi," bisiknya pada diri sendiri.
Ia mulai menarik gagang pintu untuk menutupnya kembali. Namun, saat pintu itu hampir rapat, terjadi sesuatu yang aneh. Pintu itu terasa berat. Sangat berat. Aura mendorongnya dengan bahu, namun pintu itu tetap bergeming, seolah-olah ada tangan raksasa yang menahannya dari luar.
Aura menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian, lalu menoleh melalui celah pintu yang terbuka sedikit. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat ia melihat sebuah wajah yang sangat familiar menatapnya dari kegelapan.
"Kenapa kamu di sini... Metajaya?"
Anak kecil itu berdiri di sana. Metajaya. Pakaiannya yang kuno tampak lusuh dan berdebu, kontras dengan peradaban modern di sekelilingnya. Matanya yang besar menatap Aura dengan binar yang sulit diartikan antara ketakutan dan harapan yang mendalam.
"Aku ingin ikut denganmu," jawab Metajaya. Suaranya terdengar seperti bisikan angin yang melewati celah gua, dingin dan hampa. Tangannya yang mungil namun kuat masih menahan pintu agar tidak tertutup.
Aura menggeleng cepat, rasa frustrasi mulai bercampur dengan rasa iba. "Itu tidak mungkin, Metajaya! Kita berada pada masa yang berbeda. Kamu milik masa lalu, dan aku milik masa sekarang. Kamu tidak bisa berada di sini."
Metajaya tidak bergeming. Wajahnya tetap datar, namun matanya memancarkan kesedihan yang tak terkatakan.
"Apa perlu aku panggil dua orang yang kemarin mengejar dan mencarimu di makam?" ancam Aura, merujuk pada para penjaga atau peneliti yang sempat ia lihat.
Mendengar itu, Metajaya menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya berubah menjadi sedikit aneh, seolah-olah ia sedang menahan rasa sakit atau mungkin ketakutan yang luar biasa terhadap kegelapan yang mengejarnya dari dalam makam.
Aura mendesah panjang. Ia melihat ke sekeliling jalanan yang sepi. Jika ada tetangga yang melihatnya bicara sendiri dengan anak kecil berpakaian aneh di tengah malam, ia akan dianggap gila. Tanpa pikir panjang, ia keluar dari rumah, menarik napas dalam udara malam yang membekukan, lalu menggandeng tangan dingin anak itu.
"Ikut aku," kata Aura tegas. "Aku akan mengantarkanmu kembali ke makam itu. Tolong, jangan ikuti aku lagi setelah ini. Aku hanya ingin ketenangan, Metajaya. Aku hanya ingin hidup normal."
Mereka baru saja melangkah beberapa puluh meter menuju jalan depan dari rumah, Kieran muncul bersama dengan suara langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan. Tiga bayangan berlari kencang dari arah berlawanan.
Kieran, Falix, dan Kenzo muncul dengan napas terengah-engah. Wajah mereka bersimbah keringat, dan sorot mata mereka menunjukkan kepanikan yang luar biasa. Mereka berhenti tepat di depan Aura dan Metajaya.
Aura menatap mereka dengan tatapan datar, seolah sudah menduga kehadiran mereka. "Kalian datang pasti karena anak ini keluar dari makam, bukan?"
Kieran tidak menjawab, ia masih mencoba mengatur napasnya yang memburu. Matanya tertuju pada Metajaya dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Aku kembalikan dia kepada kalian," kata Aura dengan nada santai yang dibuat-buat, meski di dalam hati ia merasa lega. "Ikutlah dengan mereka bertiga, Metajaya. Mereka bisa menjagamu jauh lebih baik daripada aku."
Aura kemudian menatap Kieran secara mendalam. "Termasuk pria pembawa pedang kematian itu. Dia bisa menolongmu, Metajaya, karena kalian... kalian berasal dari jenis yang sama. Kalian berbagi aura yang serupa."
Mendengar kalimat itu, Kieran tersentak. Matanya membelalak, menatap Aura dengan keterkejutan yang nyata. "Apa maksudmu, Aura? Bagaimana kamu bisa tahu?"
Namun, perhatian Metajaya sudah teralihkan. Anak kecil itu menatap Kieran. Ia merasakan sesuatu yang akrab, sebuah resonansi energi yang belum pernah ia rasakan dari manusia biasa lainnya. Kehangatan yang gelap, namun menenangkan. Metajaya melangkah maju, perlahan merahi tangan Kieran yang masih diam membeku.
Kieran hanya bisa terpaku saat tangan mungil yang dingin itu menyentuh kulitnya. Ada sebuah koneksi instan yang tercipta, sebuah pengakuan tanpa kata antara dua jiwa yang terikat pada takdir yang kelam.
Aura melihat pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa haru, namun keinginan untuk beristirahat jauh lebih besar.
"Kalau begitu, aku pergi tidur dulu," ucap Aura sambil membalikkan badan. "Anak itu akan ikut denganmu, Kieran. Jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia tersesat lagi."
Tanpa menunggu jawaban atau ucapan terima kasih dari ketiganya, Aura berjalan kembali menuju rumahnya. Langkahnya terasa lebih ringan sekarang. Ia tidak lagi menoleh ke belakang, bahkan saat ia mendengar sayup-sayup suara Falix dan Kenzo yang mulai berdebat tentang apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Aura masuk ke dalam rumah, mengunci pintu dengan rapat, dan langsung menuju kamarnya. Ia tidak lagi merasa haus. Ia hanya ingin melupakan semua kejadian aneh malam ini.
Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk, menarik selimut tebal hingga ke dagu. Di luar, dunia mungkin sedang bergejolak dengan rahasia kuno dan takdir yang bersilangan, tapi di dalam kamar ini, hanya ada keheningan. Tak butuh waktu lama bagi Aura untuk tenggelam dalam tidur yang sangat nyenyak, sebuah istirahat yang ia dambakan hingga fajar menyingsing esok hari.
Malam itu, rahasia makam raja mungkin tetap terbuka, tapi bagi Aura, bab itu telah ditutup untuk sementara.