NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

"Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 33: Harga Dari Kebebasan

Suara desahan yang memburu dan rintihan nikmat yang bercampur tangis, memenuhi gelembung waktu tersebut. Raga mereka yang berkeringat menciptakan getaran energi yang luar biasa panas, sebuah "Arsip Kehidupan" yang sedang Raka tulis di dalam jiwanya sendiri.

Raka membenamkan dirinya sedalam mungkin ke dalam kehangatan raga mereka, mencoba merekam setiap aroma, setiap tekstur kulit, dan setiap desahan mereka agar tetap hidup di dalam kegelapan yang akan datang.

Raka saat mencapai puncak pelepasan yang luar biasa dahsyat. Energi emas, perak, dan merah tua meledak di dalam gelembung itu, menjadi satu titik cahaya putih murni yang sangat kecil namun sangat padat.

Kebangkitan Matahari ke-17: Matahari Tanpa Nama "The Anonymous Sun"

Raka melepaskan pelukannya. Dengan satu dorongan lembut namun tak terbantah, ia melempar Nara dan Vanya masuk ke dalam portal menuju Bumi.

"Selamat tinggal... cintaku," ucap Raka tanpa suara.

Portal tertutup."

Raka kini berdiri sendirian di tengah Sektor Nexus yang mulai runtuh. Sebelas armada Sektor Terlarang telah mengepungnya, moncong-moncong meriam penghapus realitas mereka mulai bersinar ungu pekat.

BOOOMMM!

Sinar raksasa dari sebelas sektor menghantam Raka secara bersamaan. Namun, hancur, Raka justru tertawa. Tubuhnya perlahan-lahan kehilangan warna, kehilangan bentuk, hingga ia menjadi sesosok bayangan transparan yang lebih gelap dari kegelapan itu sendiri.

Di belakang punggungnya, muncul sebuah lingkaran kosong yang sempurna.

Inilah Matahari ke-17: Matahari Tanpa Nama.

"Kalian ingin menghapus realitas?" tanya Raka, suaranya kini terdengar dari segala arah, dari masa lalu dan masa depan secara bersamaan. "Maka aku adalah Kertas Kosong yang akan menelan tulisan kalian!"

Raka merentangkan tangannya. Sebuah gelombang keheningan menyapu seluruh sistem galaksi.

"Matahari ke-17: Penghapusan Eksistensi Total!"

ZIINGGGG!

Tidak ada ledakan. Tidak ada api. Sebelas armada Sektor Terlarang, ribuan kapal kristal, dan jutaan tentara mereka seketika memudar seperti asap yang ditiup angin.

Mereka tidak mati, mereka hanya "tidak pernah ada". Sejarah mereka dihapus, ingatan tentang mereka hilang dari alam semesta.

Namun, efek itu juga merambat ke arah Bumi.

Di Lembah Wening, portal terbuka dan miliaran jiwa keluar dengan selamat. Nara, Vanya, Sekar, dan Bumi (putra Raka) mendarat di tanah hijau yang damai.

Namun, saat mereka menginjakkan kaki di sana, sebuah cahaya putih menyapu pikiran mereka.

Nara berdiri tegak, ia mengusap matanya yang basah. "Kenapa... kenapa aku menangis?" tanya Nara bingung.

Sekar menatap ke arah langit, ia merasa ada sesuatu yang hilang di hatinya, sebuah lubang besar yang sangat menyakitkan.

"Aku... aku merasa seperti baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Tapi aku tidak tahu apa."

Bumi, yang tadinya memegang pedang cahaya, kini melihat tangannya yang kosong.

"Siapa yang menyelamatkan kita dari Nexus? Bagaimana kita bisa ada di sini?"

Mereka semua saling pandang. Tidak ada satu pun di antara mereka yang mengingat nama "Raka".

Tidak ada memori tentang pemuda desa yang memiliki matahari di dadanya. Bagi dunia, portal itu terbuka karena "Keajaiban Alam Semesta".

Di sebuah sudut galaksi yang jauh, di antara puing-puing Nexus yang telah hilang dari sejarah, sesosok pria dengan rambut seputih salju duduk sendirian. Ia tidak memiliki aura, tidak memiliki tanda naga. Ia hanya seorang pria biasa yang terlupakan.

Raka menatap ke arah Bumi yang jauh. Ia tersenyum sedih. Di dalam hatinya, memori tentang malam terakhir bersama Nara dan Vanya tetap tersimpan rapi, menjadi satu-satunya harta yang ia miliki di dalam kesepian abadinya.

"Setidaknya... kalian hidup," bisik Raka.

Namun, di tengah kesunyian itu, sebuah suara langkah kaki terdengar di atas logam yang dingin.

Tap... tap... tap...

Raka melihat Sesosok anak kecil perempuan dengan mata berwarna emas murni berdiri di sana.

Anak itu adalah Rani, putri yang dikandung Sekar dari hasil penyatuan maut sebelumnya. Karena ia membawa darah Matahari ke-17 di dalam rahim Sekar saat ritual terjadi, ia adalah satu-satunya manusia yang tidak terpengaruh oleh penghapusan ingatan.

"Ayah?" panggil anak itu lembut. sambil melihat ke atas langit

Raka tertegun. mendengar Anak itu memangil Ayah.

Cahaya Matahari ke-17 di dalam dirinya mulai berdenyut kembali, bukan sebagai senjata, tapi sebagai harapan baru."

Di mana Raka harus memulai kehidupanya dari nol lagi untuk membuat keluarganya mengingat kembali dirinya melalui bantuan putrinya." Rani? Kebangkitan Sang putri Terakhir, Menjemput Ingatan yang Hilang."

Di sebuah sudut galaksi yang kini tidak lagi memiliki nama, di atas puing-puing Sektor Nexus yang membeku, Raka duduk bersila.

Rambutnya yang seputih salju menjuntai hingga ke lantai logam yang retak. Tidak ada aura matahari yang menyilaukan, tidak ada tekanan energi yang menghancurkan. Ia tampak seperti pria biasa, namun matanya menyimpan kedalaman jagat raya yang tak terhingga.

Raka menghela napas, uap putih keluar dari mulutnya di tengah suhu nol mutlak. Di bumi, seorang anak perempuan berusia tujuh tahun sedang berlari-lari kecil mengejar butiran cahaya yang melayang.

Namanya Rani. Ia memiliki mata emas seperti ayahnya dan kelembutan ibunya, Sekar.

"Ayah! Lihat, cahaya ini bercerita tentang sebuah desa yang hijau!" seru Rani sambil melihat keatas, membawa butiran memori yang ia tangkap.

Raka tersenyum pahit.

Deg!

Tanda naga di dadanya bergetar lemah setiap kali Rani memanggilnya "Ayah". Hanya anak ini, hasil dari penyatuan Matahari ke-17, yang mampu melihat dan mengingat eksistensinya.

Bagi seluruh alam semesta, Raka hanyalah hantu yang tidak pernah lahir.

"Itu adalah rumah kita, Rani. Tapi sekarang, rumah itu tidak lagi mengenal kita," bisik Raka dari sukmanya.

Tiba-tiba, ruang di sekitar mereka bergetar. Sebuah retakan berwarna kelabu muncul di udara. Bukan energi merah Kekacauan atau emas Matahari, melainkan sesuatu yang disebut "The Void Echo" "Gema Kehampaan". Karena Raka telah menghapus sebelas Sektor Terlarang dari realitas, alam semesta kini memiliki lubang besar yang mencoba mengisap segala sesuatu untuk menyeimbangkan kembali "Keberadaan".

"Raka... lubang itu menuju Bumi," suara Vanya bergema dari dalam sukmanya.

Meskipun Vanya juga kehilangan memorinya tentang Raka secara sadar, esensi rohnya yang menyatu dengan raga Raka tetap bertahan sebagai insting.

"Jika kau tidak menutupnya, Lembah Wening akan tersedot ke dalam ketiadaan."

Raka memutuskan untuk kembali ke Bumi, namun ia harus mengenakan jubah hitam dan cadar yang menyembunyikan identitasnya.

Ia mendarat di pinggiran Lembah Wening pada tengah malam.

Desa itu tampak damai, namun ada aura kesedihan yang menggantung, seolah seluruh penduduknya sedang merindukan seseorang yang tidak bisa mereka sebutkan namanya.

Raka berjalan menuju istana kecil tempat Sekar dan Vanya tinggal. Ia menyelinap masuk seperti pencuri di rumahnya sendiri. Di dalam kamar yang harum melati, ia melihat Sekar sedang duduk termenung di tepi jendela, menatap bulan dengan mata yang sembab."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!