Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Luka Lama yang Datang Kembali
Hari itu kampus Alya terasa lebih ramai dari biasanya. Mahasiswa berlalu-lalang memenuhi koridor, sementara suara obrolan terdengar dari berbagai arah.
Alya baru saja selesai kelas siang bersama Hana dan Salma.
“ Alhamdulillah akhirnya selesai juga kuliah hari ini ” keluh Salma sambil meregangkan badan.
Hana ikut tertawa kecil.
“ Padahal baru dua mata kuliah. Tapi kami udah kayak kecapek-an kali Salma ”.
Alya hanya tersenyum tipis sambil merapikan buku-bukunya.
Namun ketika mereka berjalan melewati taman kampus… langkah Alya perlahan terhenti.
Di depan sana…
seseorang berdiri sambil menatap ke arahnya.
Seorang perempuan.
Penampilannya sangat berbeda dari Alya.
Fashionable.
Percaya diri.
Dan wajahnya terlihat cantik mencolok.
Perempuan itu tersenyum kecil ketika mata mereka bertemu.
“ Alya ? ”
Alya sedikit mengernyit bingung.
“ Maaf…apa kita kenal ? ” tanyanya sopan.
Perempuan itu tertawa kecil.
“ Pantes aja Zidan berubah total ”
Nama itu langsung membuat Alya terdiam.
Hana dan Salma saling berpandangan.
Perempuan itu melangkah mendekat.
“ Kenalin. Aku Sheila ”
Entah kenapa…
hati Alya tiba-tiba terasa tidak nyaman.
Mereka akhirnya duduk di salah satu bangku taman kampus.
Hana dan Salma sebenarnya tidak tega meninggalkan Alya sendiri, tapi Sheila meminta bicara empat mata.
Alya duduk tenang meski dalam hati mulai bingung.
Sedangkan Sheila terlihat santai sejak awal.
“ Kamu istrinya Zidan kan ? ” tanyanya sambil tersenyum tipis.
Alya mengangguk pelan.
“ Iya. ”
Sheila menghela napas kecil sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“ Jujur ya… aku nggak nyangka banget Zidan bakal nikah secepat itu. ”
Alya tetap diam mendengarkan.
“ Apalagi sama cewek kayak kamu. ”
Kalimat itu terdengar seperti pujian.
Tapi entah kenapa…..nada bicaranya terasa berbeda.
Alya menggenggam tangannya pelan di atas pangkuan.
“ Memangnya kenapa ? ” tanyanya lembut.
Sheila tersenyum kecil.
“ Soalnya dulu… Zidan tuh bukan tipe cowok yang serius sama satu perempuan. ”
Deg.
Entah kenapa…
kalimat itu langsung membuat dada Alya terasa sesak sesaat. Namun ia tetap berusaha tenang.
“ Dulu kami lumayan dekat, ” lanjut Sheila santai.
“ Bahkan teman-temannya Zidan juga tahu. ”
Alya menunduk perlahan.
Ia tahu…..Zidan memang punya masa lalu yang kalau dibilang lumayan bebas.
Namun mendengarnya langsung dari perempuan lain ternyata tetap terasa berbeda.
Sheila kemudian menatap Alya cukup lama.
“ Btw, dia cerita nggak soal aku ke kamu ? ”
Alya menggeleng kecil.
Dan itu memang benar !
Zidan tidak pernah menceritakan perempuan mana pun dari masa lalunya.
Sheila tersenyum kecil lagi.
Namun kali ini senyumnya terlihat tipis dan samar.
“ Berarti dia serius ya sama kamu. ” Ucap Sheila sambil tertawa sinis.
Suasana mendadak hening beberapa detik.
Lalu Sheila kembali berbicara pelan,
“ Kalau boleh jujur… dulu aku pikir Zidan nggak bakal bisa berubah. ”
Alya perlahan mengangkat pandangannya.
“ Karena yang aku tahu dia terlalu bebas.”
Sheila tertawa kecil hambar.
“ Tapi sekarang malah nikah sama perempuan sebaik kamu. ”
Alya terdiam.
Tidak tahu harus menjawab apa.
...****************...
Sore harinya…
Alya pulang ke rumah dengan pikiran yang penuh dengan kata kata wanita yang baru dikenalnya tadi. Sepanjang perjalanan, ucapan Sheila terus terngiang di kepalanya.
“ Zidan bukan tipe cowok yang serius… ”
“ Dulu kami dekat… ”
“ Aku nggak nyangka dia berubah… ”
Alya menghela napas pelan.
Ia mencoba menghilangkan semua pikiran itu.
Namun tetap saja…
hatinya terasa sedikit tidak tenang.
Sesampainya di rumah, suasana terlihat sepi, karena Abi masih di pesantren, Umi sedang mengajar santri perempuan. Sedangkan Faris belum pulang dari temannya.
Dan di ruang tengah…
Zidan sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Tapi... Ketika melihat Alya masuk, wajahnya langsung berubah sedikit lebih cerah.
“ Kamu udah pulang? ” tanyanya spontan.
Alya mengangguk kecil.
“ Iya. ”
Biasanya Alya akan tersenyum kecil atau bertanya balik. Namun kali ini…..ia langsung berjalan menuju kamar.
Zidan langsung menyadari sesuatu yang berbeda.
“ Alya. ”
Langkah Alya berhenti.
“ Kamu kenapa ? ”
Alya terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan,
“ Tadi aku ketemu seseorang di kampus. ”
Zidan mengernyit.
“ Siapa ? ”
Alya perlahan menatapnya.
“ Sheila. Wanita yang pernah dekat sama kamu ”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ekspresi wajah Zidan langsung berubah.