Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Valeront
Halaman tengah Istana Aethelgard hari ini tampak jauh lebih kaku dari biasanya. Bendera-bendera merah dengan lambang singa emas berkibar di sepanjang gerbang utama, menandakan kedatangan tamu agung dari Kerajaan Valeront.
Princess Aurelia yang berusia sepuluh tahun duduk di bangku taman dengan punggung tegak. Di depannya, Pangeran Theo yang berusia dua belas tahun tampak sedang sibuk dengan pedang kayunya. Sementara Ayah pangeran Theo ‘Raja Alaric’ sedang berbincang di Istana dengan Ayah Aurelia ‘Raja Valerius’ untuk membahas masalah dan bisnis dari dua kerajaan.
Theo adalah anak yang sangat serius; setiap gerakannya diawasi oleh beberapa prajurit yang berdiri tegak mengawasi di sisi lapangan. Para prajurit itu mengenakan zirah lengkap, memberikan suasana yang sangat formal dan tidak santai.
"Lihat ini, Aurelia. Guruku bilang gerak kaki adalah kunci utama dalam menyerang," ucap Theo sambil melakukan gerakan menebas ke udara.
Aurelia hanya mengangguk kecil, wajahnya terlihat murung. Beberapa saat lalu, para dayang datang hanya untuk mengantarkan nampan berisi biskuit dan teh di meja batu, lalu segera pergi kembali ke dalam istana. Kini, di taman itu hanya ada suara angin dan suara kayu yang membelah udara.
Aurelia memutar-mutar ujung pita gaunnya dengan bosan. Seandainya saja Lucas ada di sini, mereka pasti sudah lari mengejar layang-layang, bukan menonton latihan pedang yang diawasi prajurit-prajurit itu.
Tiba-tiba, sebuah kerikil kecil mendarat tepat di kaki Aurelia. Ia tersentak dan menoleh ke arah semak-semak mawar yang rimbun di dekat paviliun logistik. Dari celah daun, Aurelia melihat sepasang mata jahil yang sangat ia kenali.
Lucas!
Lucas meletakkan telunjuk di bibirnya, memberi isyarat agar Aurelia tetap diam. Ia kemudian menunjukkan sebuah benda dari bambu dan karet—sebuah ketapel kecil dengan buah beri sebagai pelurunya.
Aurelia seketika bersemangat. Ia harus mencari cara agar bisa menemui Lucas tanpa dicurigai Theo atau para prajurit yang berdiri tegak itu.
"Theo, sepertinya aku menjatuhkan jepit rambutku di dekat semak sana. Kamu teruskan saja latihannya, aku akan mencarinya sebentar," ujar Aurelia.
"Perlu aku bantu?" Theo menawarkan diri sambil menyeka keringat.
"Eh, tidak usah! Kamu kan harus fokus pada latihanmu. Aku sebentar saja!" Aurelia langsung berlari kecil sebelum Theo sempat menjawab.
Begitu sampai di balik semak yang tinggi, Aurelia menemukan Lucas sedang bersembunyi sambil memegang sebuah benda bundar yang dibungkus kertas warna-warni.
"Lucas! Kamu mengagetkanku!" bisik Aurelia senang.
"Sstt! Jangan berisik," Lucas menyengir. "Lihat apa yang kubawa. Ini bola bekel tradisional dari pasar desa. Kalau dipantulkan ke batu, dia bisa melompat lebih tinggi dari kepalamu! Mau coba?"
Mata Aurelia berbinar. "Mau! Ayo main di belakang gudang saja supaya tidak kelihatan."
Mereka berdua mulai asyik memantulkan bola itu secara bergantian, tertawa pelan setiap kali bolanya melesat tak tentu arah. Namun, di sisi lain taman, Theo merasa ada yang aneh karena suasana menjadi terlalu sunyi. Ia menurunkan pedang kayunya dan menoleh ke arah semak tempat Aurelia pergi.
"Aurelia? Sudah ketemu jepitnya?" Theo berjalan mendekat.
Lucas, yang waspada, langsung melihat bayangan Theo. "Ada orang datang! Aku pergi dulu!" bisik Lucas cepat. Ia segera menyelinap gesit lewat celah pagar logistik dan menghilang.
"Loh, Lucas! Kok pergi?" gumam Aurelia kecewa.
Tepat saat itu, Theo muncul dari balik semak. Ia menyipitkan matanya, melihat ke arah pagar. "Aurelia? Aku mencarimu dari tadi. Kamu bicara dengan siapa? Tadi aku seperti melihat bayangan seseorang di sini."
Aurelia segera menyembunyikan bola bekelnya di balik punggung. "Siapa? Tidak ada siapa-siapa di sini, Theo. Kamu mungkin salah lihat."
"Masa sih? Perasaan aku melihat ada anak laki-laki tadi," Theo melongok ke arah pagar.
"Mungkin itu hanya bayangan pengawal atau pelayan yang sedang angkut barang," Aurelia mencoba mencari alasan dengan cepat. "Ayo kita kembali saja. Dayang sudah mengantarkan makanan tadi, kan? Aku juga sudah lapar."
Theo akhirnya menyerah. "Ya sudah, ayo. Lagipula latihanku sudah cukup untuk hari ini."
Mereka berdua berjalan kembali menuju meja batu tempat makanan berada. Aurelia sempat menoleh sekali lagi ke arah gudang logistik, tersenyum kecil karena berhasil menyimpan rahasianya.