Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.
Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4:kencan di atas bara
Lulu berdiri di depan cermin kecil di kamarnya selama hampir satu jam. Tangannya gemetar saat ia mencoba menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi dari biasanya. Arlan baru saja mengirim pesan—sebuah pesan singkat yang membuat Lulu hampir tidak bisa bernapas karena senang: "Sore ini kita keluar ya, Lu. Aku mau kenalin kamu ke temen-temen aku. Jangan dandan berlebihan, aku suka kamu yang apa adanya."
Bagi Lulu, kata-kata "aku suka kamu yang apa adanya" adalah pujian paling tulus yang pernah ia terima. Ia tidak tahu bahwa bagi Arlan, itu adalah kode agar Lulu tetap terlihat "cupu" saat dibawa ke hadapan teman-temannya, supaya kontras di antara mereka terlihat semakin lucu bagi geng Arlan.
Lulu akhirnya memilih memakai rok denim selutut dan kaos putih bersih. Ia tetap memakai kacamata tebalnya, namun kali ini ia menyematkan jepit rambut kecil berbentuk bunga matahari yang ia beli di pasar malam.
"Ibu, Lulu pergi dulu ya. Ada teman sekolah yang ajak belajar bareng di kafe," pamit Lulu. Ia merasa sedikit bersalah karena tidak jujur sepenuhnya, tapi ia terlalu malu untuk mengatakan bahwa ia akan pergi dengan cowok paling populer di sekolah.
"Hati-hati ya, Nak. Temannya baik, kan?" tanya Ibunya dari dapur.
"Baik banget, Bu. Dia... dia pahlawan Lulu," jawab Lulu dengan senyum manis yang sangat tulus.
Sebuah mobil BMW hitam mengkilap sudah terparkir di depan gang rumah Lulu. Arlan bersandar di pintu mobil sambil memainkan kunci di jarinya. Saat melihat Lulu berjalan mendekat, Arlan hampir saja memutar bola matanya. Bener-bener nggak ada selera. Kaos putih itu dapet dari hadiah deterjen ya? batin Arlan pedas.
Namun, begitu Lulu sampai di depannya, wajah Arlan langsung berubah drastis. Ia memasang raut wajah kagum yang dibuat-buat.
"Wah, Lulu... kamu cantik banget sore ini. Jepit rambutnya lucu," puji Arlan sambil membukakan pintu mobil untuk Lulu.
Lulu menunduk, wajahnya merah padam. "Makasih, Arlan. Maaf ya aku lama."
"Nggak apa-apa. Buat nunggu ratu sehebat kamu, sejuta tahun pun aku rela," rayu Arlan. Ia menutup pintu mobil dengan keras begitu Lulu sudah di dalam, lalu ia menghela napas panjang dan bergumam tanpa suara, "Gue butuh sabun cuci tangan setelah ini."
Di dalam mobil, Arlan sengaja menyetel musik jazz yang elegan, membuat Lulu merasa seolah ia sedang berada di dunia lain. Selama perjalanan, Arlan terus melakukan love bombing. Ia bercerita betapa ia merasa "kesepian" di puncak popularitasnya dan betapa Lulu adalah satu-satunya orang yang "mengerti" dirinya.
"Kamu tahu, Lu? Temen-temen aku itu banyak yang palsu. Mereka cuma mau uang atau ketenaran aku. Tapi pas aku liat kamu di perpustakaan... aku liat ketulusan. Makanya aku pengen banget kamu ada di samping aku hari ini," ucap Arlan sambil sesekali menyentuh tangan Lulu yang berkeringat.
Lulu merasa hatinya meleleh. Ia merasa terpilih. Ia merasa bahwa di balik kesombongan Arlan yang dibicarakan orang, Arlan hanyalah seorang cowok yang butuh kasih sayang. Dan Lulu, dengan segala kepolosannya, bertekad untuk memberikan itu.
Mereka sampai di sebuah kafe rooftop yang sangat mewah. Di sana, Reno, Gani, dan beberapa cewek populer sudah menunggu. Saat Arlan masuk dengan menggandeng tangan Lulu, suasana seketika menjadi sunyi, lalu diikuti oleh bisikan-bisikan tertahan.
"Woi, Dewa kita dateng!" teriak Reno sambil menyeringai lebar. Ia menatap Lulu dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan merendahkan yang sangat kentara. "Ini... target kita, Lan?"
Arlan menarik kursi untuk Lulu dengan sangat sopan, lalu ia duduk di sampingnya sambil merangkul bahu Lulu. "Kenalin, ini Lulu. Cewek paling spesial yang pernah gue temuin."
Lulu menunduk, ia merasa sangat tidak nyaman di bawah tatapan tajam cewek-cewek cantik di meja itu. Mereka memakai make-up tebal dan pakaian bermerek, sementara ia hanya merasa seperti titik hitam di atas kertas putih.
"Hai, Lulu," salah satu cewek bernama Shinta menyapa dengan nada yang sangat manis namun dibuat-buat. "Gelas kacamata kamu tebel banget ya? Bisa buat liat masa depan nggak?"
Semua orang di meja itu tertawa. Lulu hanya tersenyum kaku, ia menganggap itu adalah candaan ramah. "Nggak bisa, Kak. Ini cuma buat bantu aku baca."
"Oh, gitu ya? Sayang banget," sahut Shinta lagi sambil melirik Arlan. Arlan hanya membalas dengan kedipan mata rahasia, kode bahwa permainan sedang berjalan lancar.
Selama pertemuan itu, Arlan sengaja memperlakukan Lulu seperti ratu di depan semua orang. Ia menyuapi Lulu kue, membenarkan rambutnya, dan terus memuji kepintaran Lulu. Namun, di bawah meja, Reno sesekali menendang kaki Arlan sambil tertawa tanpa suara, merayakan betapa mudahnya Lulu masuk ke dalam jebakan.
"Lu, kamu mau pesan apa lagi? Pesan aja semuanya, Arlan kan kaya raya," goda Gani.
"Enggak, ini udah cukup kok. Makasih ya teman-teman Arlan baik semua," ucap Lulu dengan mata yang berbinar tulus.
Mendengar kata "baik", Arlan hampir saja tersedak kopinya. Ia merasa sangat lucu sekaligus jijik. Bagaimana bisa ada orang yang sebodoh ini? Bagaimana bisa Lulu tidak sadar bahwa semua orang di meja ini sedang menertawakannya di dalam hati?
Namun, ada sesuatu yang sedikit mengganggu pikiran Arlan. Saat ia menatap mata Lulu yang jernih di balik lensa kacamata itu, ia melihat pantulan dirinya yang tampak... sangat jahat. Untuk sedetik, hanya sedetik, ada rasa nyeri kecil di dada Arlan. Namun dengan cepat ia menepisnya. Gue Arlan. Gue nggak punya perasaan. Ini cuma taruhan, pikirnya keras-keras.
"Lulu, aku ke toilet sebentar ya," pamit Arlan.
Begitu Arlan pergi, suasana di meja berubah. Tekanan intimidasi mulai terasa. Reno memajukan tubuhnya ke arah Lulu.
"Eh, Lu. Lu beneran percaya Arlan suka sama lu?" tanya Reno dengan nada dingin.
Lulu tertegun. "Maksudnya... Kak Reno?"
"Ya iyalah. Coba lu ngaca. Arlan itu punya segalanya. Masa iya seleranya serendah..."
"Reno! Apaan sih lu!" Arlan tiba-tiba muncul kembali, lebih cepat dari perkiraan. Ia langsung merangkul Lulu lagi, melindunginya dari ucapan Reno. Tapi itu pun bagian dari akting. Arlan ingin menjadi "pahlawan" agar Lulu semakin bergantung padanya.
Lulu menatap Arlan dengan rasa haru yang luar biasa. "Makasih, Arlan..."
"Jangan dengerin mereka, Lu. Mereka cuma iri karena aku lebih milih kamu," bisik Arlan di telinga Lulu.
Malam itu, saat Arlan mengantar Lulu pulang, Lulu merasa seolah ia sedang melayang di awan. Sebelum turun dari mobil, Lulu mengambil sesuatu dari saku kaosnya. Sebuah pembatas buku dari bunga kering yang ia buat sendiri.
"Ini buat Arlan. Makasih buat hari ini. Ini nggak seberapa dibanding semua kebaikan Arlan, tapi ini tulus dari hati aku," ucap Lulu sambil memberikan benda itu.
Arlan menerima pembatas buku itu. Begitu Lulu masuk ke dalam rumahnya dengan wajah bahagia, Arlan menatap benda di tangannya itu dengan tatapan datar. Ia hampir saja melemparnya ke luar jendela, tapi entah kenapa, ia malah memasukkannya ke dalam laci dashboard.
"Besok," gumam Arlan sambil menyalakan mesin mobilnya. "Besok gue bakal bikin dia makin ketergantungan. Makin tinggi dia terbang, makin enak pas dia jatuh nanti."
Arlan memacu mobilnya menjauh, meninggalkan kepolosan yang baru saja ia nodai dengan harapan palsu. Dan di dalam kamar, Lulu menulis di buku hariannya: Hari ini, aku menemukan alasan untuk percaya bahwa keajaiban itu nyata. Namanya Arlan.