Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.
Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.
Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.
Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Hari Pertama Bekerja
Alarm berbunyi pukul lima tiga puluh pagi, tetapi Elvara sudah membuka mata beberapa menit sebelumnya. Ia menatap langit-langit kamar apartemen dalam diam sambil mengatur napas yang sejak tadi terasa pendek. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di perusahaan baru, kesempatan yang selama ini ia kejar dan pijakan yang ia butuhkan agar hidupnya lebih stabil.
Semua seharusnya terasa menyenangkan. Namun entah kenapa, sejak bangun tadi, dadanya justru penuh oleh kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Ia memiringkan tubuh dan menatap Rheon yang masih tidur pulas di sisi ranjang. Semalam bocah itu bersikeras ingin tidur bersama karena katanya tempat baru membuat mimpi terasa aneh. Sekarang ia meringkuk memeluk bantal dengan rambut berantakan dan bibir sedikit terbuka.
Elvara tersenyum tipis. Wajah tidur anak itu selalu membuat dunia terasa lebih sederhana.
Ia menyingkirkan anak rambut di dahi Rheon lalu membisikkan kalimat yang hanya didengar dirinya sendiri.
"Jadi alasan Mommy kuat sampai hari ini."
Ia bangkit hati-hati agar kasur tidak terlalu berguncang. Setelah mandi cepat, ia mengenakan blouse putih berpotongan sederhana dan rok hitam selutut yang jatuh rapi di tubuhnya. Pilihan pakaian aman, profesional, dan cukup tegas untuk hari pertama.
Rambut panjangnya digulung rendah di belakang kepala, menyisakan beberapa helai lembut di sisi wajah. Di depan cermin, ia berhenti lebih lama dari biasanya sambil menatap pantulan dirinya.
Lima tahun lalu ia pergi dari kota ini sebagai perempuan yang bingung, takut, dan membawa terlalu banyak pertanyaan. Hari ini ia berdiri sebagai ibu tunggal yang punya pengalaman kerja, kemampuan yang ditempa keras, dan seorang anak yang menjadi pusat hidupnya.
Ia seharusnya percaya diri.
Meski begitu, telapak tangannya tetap dingin.
Saat keluar kamar, Rheon sudah duduk di meja makan sambil memakan sereal dengan wajah serius. Sendok kecil di tangannya bergerak hati-hati seolah ia sedang menyelesaikan pekerjaan penting.
"Mom, kenapa orang kantor pakai baju warna sedih?"
Elvara menoleh lalu tertawa kecil.
"Ini bukan warna sedih. Ini warna formal."
Rheon menatap rok hitam ibunya beberapa detik, masih tampak ragu.
"Kalau aku kerja nanti, aku mau pakai kuning."
"Itu hakmu."
"Aku akan jadi bos kuning."
"Semoga semua karyawanmu kuat melihatnya setiap hari."
Rheon tertawa puas dan kembali makan. Pagi berjalan seperti biasa, dengan piring yang harus dicuci, kotak bekal yang harus dicek, dan pertanyaan kecil yang datang tanpa jeda.
Di sela menyiapkan tas daycare, Elvara masih sempat memotong apel dan memasukkan camilan ke wadah kecil. Rutinitas sederhana itu menenangkannya lebih baik daripada kata-kata motivasi apa pun.
Mereka keluar apartemen beberapa menit kemudian. Di lift, Rheon berdiri di sampingnya sambil memegang tangan Elvara dan menatap angka lantai yang bergerak turun.
"Mom."
"Hm?"
"Kalau nanti Mommy ketemu orang galak, senyum saja."
Elvara mengernyit.
"Kenapa?"
"Kalau aku galak terus dikasih senyum, aku jadi bingung."
Ia menahan tawa.
"Nasihat yang bagus."
Sesampainya di daycare, Rheon langsung disambut guru kelasnya. Namun sebelum masuk, ia berbalik dan memeluk pinggang Elvara erat-erat.
"Mom jangan gugup."
Elvara menatap anak itu heran.
"Siapa bilang Mommy gugup?"
"Wajah Mommy kalau gugup sama kayak waktu lihat tagihan listrik."
Ia hampir tertawa keras di depan pintu kelas. Anak ini terlalu jeli untuk usianya.
"Masuk sana."
Rheon mencium pipinya cepat lalu berlari ke dalam. Sebelum menghilang di balik pintu, ia sempat berteriak pelan.
"Kalau ada yang jahat, bilang aku."
Elvara mengangkat tangan tanda setuju. Setelah pintu tertutup, senyum di wajahnya bertahan cukup lama.
Perjalanan menuju kantor memakan waktu hampir empat puluh menit. Mobil melaju di antara gedung-gedung tinggi pusat kota, menembus arus pagi yang sibuk dan suara klakson yang datang silih berganti. Ia memanfaatkan waktu itu untuk membaca ulang catatan singkat tentang struktur divisi yang semalam ia simpan di ponsel.
Saat kendaraan berhenti di depan bangunan tinggi berlapis kaca biru, ia mendongak perlahan.
Alvero Group.
Nama besar yang dikenal hampir semua orang. Konglomerasi dengan bisnis luas, dari properti, teknologi, media, hingga investasi. Sulit dipercaya bahwa kini ia akan bekerja di tempat sebesar ini.
Ia merapatkan genggaman pada tas di pangkuannya lalu turun dari mobil.
Lobi utama terlihat mewah tanpa terasa berlebihan. Marmer abu terang mengilap, aroma ruangan lembut, dan langkah kaki para karyawan terdengar cepat namun teratur. Semua orang tampak tahu ke mana harus pergi dan apa yang harus dikerjakan.
Sedangkan dirinya berusaha terlihat seolah juga tahu.
Seorang resepsionis menyambut dengan ramah.
"Selamat pagi, Anda Bu Elvara Naysha?"
"Iya."
"HRD sudah menunggu di lantai dua puluh satu."
"Terima kasih."
Ia menuju lift bersama beberapa karyawan lain. Pintu tertutup perlahan, dan dalam pantulan dinding stainless, ia melihat dirinya berdiri tegak dengan wajah tenang yang sengaja dijaga.
Begitu sampai di lantai tujuan, seorang wanita muda berjas krem menghampiri sambil tersenyum lebar.
"Bu Elvara? Saya Selena dari HR."
Mereka berjabat tangan. Selena energik, bicara cepat, dan tampak terbiasa mengurus banyak hal sekaligus. Ia mengajak Elvara berkeliling mengenal area kerja, ruang istirahat, pantry, ruang rapat, hingga jalur akses internal.
"Tim kreatif ada di lantai ini juga. Nanti Anda akan banyak koordinasi dengan marketing dan corporate branding," jelas Selena sambil berjalan cepat.
Elvara mendengarkan serius sambil sesekali mencatat poin penting di ponselnya. Ia memang diterima sebagai Senior Creative Strategy Lead, jabatan yang cukup tinggi untuk orang baru. Itu berarti banyak orang akan menilai hasil kerjanya sejak hari pertama.
Saat memasuki area tim kreatif, beberapa staf berdiri menyambut.
"Selamat datang, Bu Elvara."
"Senang akhirnya bertemu langsung."
"Portfolio Anda keren banget."
Ia tersenyum sopan dan menyalami satu per satu. Ada pria berkacamata bernama Adrian yang memimpin tim konten, lalu wanita berambut pendek bernama Vania yang menangani desain utama. Kesan pertama mereka cukup baik, kompeten dan tidak berlebihan.
"Jam sebelas ada briefing singkat dengan direksi," kata Adrian sambil menyerahkan folder. "Biasanya formal saja, perkenalan kepala divisi baru."
Elvara mengangguk.
"Baik."
"Tenang aja," ujar Selena sambil berbisik bercanda. "Kalau CEO mood-nya bagus, bisa selesai sepuluh menit."
Elvara tersenyum samar.
"CEO di sini sering galak?"
Semua orang saling pandang sebentar.
Adrian berdeham.
"Beliau... tegas."
Vania menimpali sambil menahan senyum.
"Kalau kerjaan beres, aman."
"Kalau enggak?" tanya Elvara.
Vania mengangkat bahu.
"Semoga kita tidak perlu tahu."
Mereka tertawa kecil, tetapi ada nada jujur di balik candaan itu. Elvara tidak terlalu memikirkan sosok CEO tersebut. Dalam perusahaan sebesar ini, pemimpin keras justru hal biasa.
Ia lebih fokus pada presentasi singkat dan membaca data kampanye lama selama satu jam berikutnya. Sesekali pikirannya melayang ke Rheon. Apakah anak itu makan siang dengan baik, apakah ia berteman, atau sedang membuat guru kelas kewalahan dengan pertanyaannya.
Pukul sebelas kurang lima menit, Selena datang menjemput.
"Ruang rapat direksi di lantai tiga puluh."
Mereka masuk lift lagi. Semakin tinggi angka lantai bergerak, semakin cepat denyut nadi Elvara. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya rapat biasa.
Lift terbuka ke area yang jauh lebih tenang. Koridor luas dengan karpet gelap dan pencahayaan hangat membentang rapi. Dinding dipenuhi lukisan modern dan rak dekoratif yang jelas bernilai mahal.
Bahkan udara di lantai itu terasa berbeda.
Selena mendorong pintu kaca besar di ujung koridor.
Ruang rapat utama terbentang luas dengan meja panjang kayu hitam dan jendela penuh yang menghadap kota. Beberapa eksekutif sudah duduk sambil membuka tablet atau berbicara pelan.
"Silakan duduk di sini," ujar Selena.
Elvara memilih kursi di sisi tengah. Ia menata folder, merapikan napas, lalu tersenyum pada dua orang direktur yang menyapanya lebih dulu.
Perkenalan dimulai santai. Salah satu direktur keuangan bertanya tentang pengalaman kerjanya di luar negeri. Direktur lain memuji kampanye digital yang pernah ia tangani beberapa tahun lalu.
Ia menjawab tenang, profesional, dan singkat. Sedikit demi sedikit rasa gugupnya menurun.
Sampai seorang pria paruh baya melihat jam tangan.
"Pak CEO sebentar lagi sampai."
Ruangan langsung lebih hening. Beberapa orang meluruskan posisi duduk, yang lain menutup obrolan kecil dan membuka berkas masing-masing. Perubahan suasana itu begitu jelas hingga Elvara ikut menegakkan punggung.
Pintu utama di ujung ruangan terbuka.
Langkah kaki terdengar mantap, tenang, dan penuh kendali. Entah kenapa tengkuk Elvara meremang sebelum ia sempat menoleh.
Saat pandangannya terangkat, dunia seperti kehilangan suara sesaat.
Pria yang masuk tinggi dan berbahu lebar, mengenakan setelan abu gelap yang jatuh sempurna di tubuhnya. Wajahnya tegas dengan garis rahang tajam, rambut hitam tertata rapi, dan sorot mata dingin yang terasa mampu membaca isi ruangan hanya dalam satu sapuan.
Beberapa orang berdiri spontan.
"Selamat siang, Pak."
Elvara ikut berdiri, tetapi tubuhnya mendadak kaku.
Karena ia mengenali wajah itu jauh sebelum namanya disebut.
Zayden Alvero.
Darah seolah berhenti mengalir sesaat. Lima tahun lenyap dalam satu kedipan, menyisakan malam penuh hujan, suara rendah yang pernah akrab, jemari hangat di punggung tangannya, dan kepergian yang tak pernah dijelaskan.
Semua yang ia kubur mendadak bangkit.
Zayden berjalan ke kursi utama sambil menerima beberapa dokumen dari asistennya. Tatapannya bergerak menyapu meja, profesional dan datar, hingga akhirnya berhenti tepat padanya.
Ada jeda nyaris tak terlihat.
Mata tajam itu menyempit sedikit, seolah memastikan penglihatannya sendiri. Wajah yang sulit dibaca itu menunjukkan retakan kecil bernama keterkejutan.
Elvara menggenggam folder sampai buku jarinya memucat. Ia ingin memalingkan wajah, tetapi tubuhnya seperti menolak bergerak.
Pria itu tetap menatapnya selama dua detik yang terasa terlalu lama, lalu duduk seolah tak terjadi apa-apa.
"Mulai rapatnya."
Suaranya rendah dan tenang. Semua orang kembali duduk, hanya Elvara yang merasa kursinya berubah menjadi jebakan.
Direktur keuangan mulai menjelaskan agenda kuartal baru. Angka-angka ditampilkan di layar, grafik berganti cepat, dan beberapa orang mencatat poin penting. Ada diskusi singkat tentang ekspansi cabang serta evaluasi proyek berjalan.
Elvara mendengar, tetapi tak benar-benar menyimak.
Ia bisa merasakan kehadiran Zayden di ujung meja seperti tekanan udara yang konstan. Sesekali suara pria itu memotong presentasi dengan pertanyaan tajam dan singkat. Nada bicara dingin, lugas, tanpa basa-basi.
Sama seperti dulu.
Tidak. Lebih berbahaya dari dulu.
Ketika giliran perkenalan kepala divisi baru tiba, salah satu direktur menoleh padanya.
"Bu Elvara akan memimpin strategi kreatif mulai hari ini."
Ia berdiri perlahan, memaksa senyum profesional.
"Terima kasih atas kepercayaannya. Saya berharap bisa memberi kontribusi terbaik untuk perusahaan."
Kalimat singkat, rapi, dan aman.
Namun saat ia hendak duduk, suara Zayden terdengar.
"Bu Elvara."
Ia menoleh.
Tatapan pria itu tenang, tetapi jelas diarahkan hanya kepadanya.
"Anda bekerja di luar negeri lima tahun terakhir?"
"Tepatnya, iya."
"Menarik."
Satu kata sederhana, tetapi ada sesuatu di balik cara ia mengucapkannya. Zayden menutup folder di depannya lalu menyandarkan punggung ke kursi.
"Kota ini kecil sekali rupanya."
Beberapa orang tersenyum samar, menganggap itu komentar biasa. Hanya Elvara yang tahu kalimat itu bukan basa-basi.
Itu peringatan.
Ia duduk kembali dengan napas tertahan. Rapat berlanjut, tetapi dunia Elvara tak lagi sama seperti satu jam lalu.
Ia datang mencari awal baru, membawa keyakinan bahwa masa lalu sudah selesai. Kini pria yang paling berhak menuntut jawaban justru menjadi atasannya.
Dan dari cara Zayden menatapnya, Elvara tahu satu hal dengan jelas.
Ia tidak akan dibiarkan pergi lagi.