Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menanti
Pagi itu langit Jakarta seperti sedang bergurau. Matahari muncul dengan senyum manis, awan-awannya bergelayut manja di langit biru, dan angin berbisik pelan kayak tukang pijat keliling yang nawarin jasa. Tapi Rania tidak peduli. Yang dia rasakan hanya satu deg-degan tingkat dewa.
Sejak subuh dia sudah bangun. Bukan karena ada alarm bukan karena suara azan tapi karena jantungnya berdebar kayak genderang perang suku Afrika yang lagi latihan di dalam dadanya. Dia lihat jam. Baru jam empat pagi.
"Astaga, Rania, lo kenapa sih? Ini cuma ketemu biasa. ngobrol santai bukan malam pertama. Bukan mau dilamar. Bukan apaan.... Santai, santai..."
Tapi jantungnya tidak dengar. Jantungnya malah tambah kencang, kayak lagi ikut lari maraton tanpa daftar.
Dia buka lemari. Diamati satu per satu baju bergantungan kayak pasukan yang siap perang. Tapi jarinya gemetar tiap kali mau nyentuh gantungan.
"Kemeja putih? Terlalu resmi. Kaos oblong? Terlalu santai. Batik? Kayak mau kondangan. Hoodie? Kayak mau tidur. GILA, GUE GAK PUNYA BAJU!"
Dia sudah berdiri di depan lemari selama satu jam. Lemari mulai bosan diliatin. Hingga akhirnya dia pilih kemeja biru muda lengan panjang. Diselipkan ke celana bahan hitam. Diberi ikat pinggang dilihat ke kaca.
"Masih kurang," gumamnya lalu dia ambil lipstik warna dusty rose oles tipis-tipis tidak menor tidak juga pucat pas.
Dia lihat kaca lagi.
"Rania, lo cantik hari ini jangan salah tingkah."
Pukul setengah tujuh. Dia sudah berdiri di depan pagar. Bukan karena dia sudah siap tapi karena dia tidak bisa diam di dalam. Kakinya gelisah kayak ada yang nyetrum. Badannya bergoyang kecil matanya terus ke ujung gang.
Ibu, yang sudah bangun lebih awal, mengintip dari balik jendela. Wajahnya sumringah kayak abis menang lotre.
"Ran, Mas Alfino belum datang?"
"Belum, Bu."
"Kamu dari tadi sudah di luar nanti tetangga lihat. Bilangnya Rania galau lagi, kayaknya ditungguin pacar baru."
"Biarin, Bu biar pada tahu gue punya teman."
"Teman, katanya?" Ibu nyengol.
"Baru teman sudah segitunya?"
Rania tidak menjawab pertanyaannya ia hanya cemberut.
Brummm...
Dari ujung gang, suara mobil terdengar. Bukan suara keras, tapi suara halus kayak mobil mewah yang tidak perlu pamer. Mobil itu meluncur pelan, kacanya gelap, bodinya hitam mengkilap, kayak kucing hitam yang berjalan anggun di atas tembok.
Rania menelan ludah. Ludahnya terasa pahit kayak minum obat nyamuk. Mobil berhenti tepat di depan pagar mesin mati pintu terbuka.
Alfino turun, pria itu pagi ini seperti patung yang hidup. Kemeja putih lengan panjang yang digulung sedikit di siku, memperlihatkan pergelangan tangan yang kekar tapi tidak kasar.
Celana bahan hitam yang jatuh rapi di atas sepatu pantofel mengkilap. Rambutnya disisir rapi, tidak klimis, tidak berantakan. Matanya, duh, matanya seperti langit jernih yang tidak ada awan.
Dia tersenyum senyum itu tidak lebar, tidak berlebihan. Cuma sudut bibir naik sedikit, cukup untuk membuat Rania rasakan dunia berhenti berputar sejenak.
"Selamat pagi, Mbak Rania maaf terlambat ada macet di depan pasar."
Rania ingin menjawab dengan kalimat cerdas. Tapi yang keluar cuma...
"Gapapa gue juga baru keluar."
Padahal dia sudah berdiri di sana setengah jam yang lalu. Tapi Alfino tidak perlu tahu itu.
"Silakan masuk."
Dia membukakan pintu mobil seperti sopir pribadi tapi sopir pribadi biasanya tidak seganteng ini.
Rania masuk hatinya berdebar keras. Di dalam mobil, wanginya semerbak. Bukan wangi menyengat. Tapi wangi lembut kayak hutan pinus setelah hujan. Rania hampir mabuk.
"Astaga, wangi banget. Wangi yang bikin gue ingin nyium terus."
Dia pejam mata sebentar. "Fokus, Rania. Fokus. Lo cuma mau diantar ke kantor bukan hal aneh- aneh jadi gak usah lebay."
---
Kantor siang hari, ruangan marketing riuh rendah kayak pasar tradisional yang lagi diskon besar-besaran.
Rania sejak pagi tidak bisa diam. Dia ketik laporan sambil sesekali lihat HP senyum-senyum sendiri. Jarinya berhenti di atas keyboard, lalu lanjut, lalu berhenti lagi. Dokument yang harusnya selesai jam sepuluh, baru setengah jadi jam satu siang.
Mila duduk di meja sebelah, matanya sejak tadi tak lepas dari Rania. Tatapannya tajam, seperti elang yang siap menyambar mangsa.
“Ran,” panggil Mila.
“Hm?” sahut Rania tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Lo dari tadi senyum-senyum sendiri. Kayak orang habis minum jamu beracun yang bikin halusinasi,” ujar Mila curiga.
“Gak, ah,” jawab Rania cepat.
“Iya, Ran. Buktinya dokumen lo baru setengah jadi. Deadline lewat dua jam. Lo gak sadar?” Mila menyilangkan tangan.
Rania langsung menoleh ke layar. Bibirnya komat-kamit membaca isi dokumen.
“Astaga…” gumamnya pelan.
“Tuh, kan. Coba cerita, siapa yang bikin lo linglung kayak gini? Om-om itu?” goda Mila sambil menyeringai.
Rania langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Iya…”
“Udah jadian?” tanya Mila, makin penasaran.
“Belum, masih kenalan,” jawab Rania.
“Kenalan aja udah bikin lo kehilangan fokus? Bayangin kalau lo udah pacaran. Lo pasti gak nyampe kerja, dipecat, lalu jadi pengangguran yang bahagia,” celetuk Mila sambil tertawa.
“Milaaa…” Rania mendesah, malu sekaligus kesal.
“Canda,” ujar Mila sambil menyenggol bahu Rania.
Ia lalu mendekat sedikit, menatap Rania lebih serius. “Tapi serius, Ran. Gue penasaran sama om-om lo itu kayak apa sih? Sampai-sampai lo yang biasanya keras kepala kayak batu karang, sekarang jadi lembek kayak tahu gejrot.”
Rania tersenyum tipis. “Ya… dia baik, sopan, soft spoken… dan gak pernah maksa.”
Mila mengangkat alis. “Gak pernah maksa keinginan? Gak aneh-aneh? Wah… gue makin penasaran sama bentuknya" katanya sambil terkekeh nakal.
“Gak lebay,” balas Rania cepat.
“Buktikan,” kata Mila mantap.
“Nanti pas pulang, lo bilang dia jemput. Gue mau lihat.”
Rania langsung membeku. Ia bisa membayangkan bagaimana hebohnya Mila nanti.
“Ya udah… tapi lo janji jangan heboh,” ujar Rania akhirnya.
Mila langsung mengangkat tangan. “Janji, sumpah.”
Jam kantor usai langit mulai berwarna jingga kemerahan, seperti lukisan cat minyak yang mahal. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, seperti kunang-kunang raksasa yang kehabisan energi.
Rania dan Mila berdiri di depan lobi. Rania tampak gelisah, sementara Mila justru tenang, meski matanya terus mengamati setiap mobil yang lewat.
“Ran, lo yakin dia jemput? Udah janjian?” tanya Mila.
“Udah. Katanya jam setengah enam,” jawab Rania.
“Setengah enam sekarang udah lewat,” ujar Mila sambil melirik jam.
“Bentar lagi, pasti,” kata Rania, mencoba meyakinkan diri.
Mila menyenggol bahunya. “Lo pembela banget sih udah jatuh cinta.”
“Belum!” bantah Rania cepat.
“Baru kenalan tapi udah percaya dia bakal datang? Itu udah tanda-tanda,” goda Mila.
Rania tidak menjawab matanya terus menatap ujung jalan lalu, dari kejauhan, sebuah mobil hitam meluncur.
Mobil itu meluncur tanpa tergesa. Tidak kebut-kebutan, tidak pula tersendat. Gerakannya stabil, halus, seolah jalanan memang sudah disiapkan khusus untuknya.
Ia datang dengan tenang tenang yang justru menarik perhatian seperti seorang kaisar yang sedang melakukan inspeksi tanpa perlu mengumumkan kehadirannya.
Pantulan cahaya senja menari di bodinya yang hitam mengilap. Kacanya gelap, menyembunyikan siapa yang ada di dalam, menambah kesan misterius. Lampu depannya menyala redup, bukan karena gelap, tapi seperti memberi tanda bahwa ia sudah datang… dan siap berhenti. Mobil itu semakin mendekat.
Satu detik.
Dua detik.