Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manjane cah
Bau antiseptik begitu tajam menusuk indra penciuman, berbaur dengan suara ritmis monitor jantung dari bilik sebelah yang hanya dibatasi tirai hijau tua yang mulai pudar warnanya.
Tak hanya Dai yang ada di UGD, di sebelah tempat Dai dirawat saja ada pasien dengan keadaannya lebih kritis. Kilau cukup bersyukur karena Dai bisa langsung sadar setelah mendapat pertolongan dari petugas medis. Ya meski hatinya tetap ngilu melihat kondisi Dai sekarang ini.
Kilau berdiri di samping ranjang dengan napas tertahan, menatap Dai yang terbaring tak berdaya di antara balutan perban di tangan, selang infus, juga gips pada kaki kanannya.
"Gue tanya apa sih, Dai? Jadi orang bisa serius dikit, nggak? Gue nggak suka ya lo sok keren dengan kebut-kebutan di jalan. Gue--"
"Gue ditabrak, Ki."
Kalimat pendek itu memotong omelan Kilau yang sedari tadi menodong penjelasan dari Dai. Dai menghela napas berat, matanya menatap langit-langit plafon rumah sakit berwarna putih pucat, mencoba mencari kekuatan untuk bicara lebih banyak.
"Yang nabrak gue itu calon suami lo. Sebelumnya, dia sengaja nemuin gue buat ngasih lihat rekaman CCTV waktu gue nyium lo di lift. Dia pikir dengan ancaman nyebarin video itu, nyali gue bakal ciut dan memilih jauhin lo. Tapi karena dia nggak bisa nekan gue secara mental, dia milih cara lain dengan nabrak gue secara sengaja. Mungkin dipikirnya kalau gue mati atau cacat, dia bakal lebih gampang nyetirin hidup lo tanpa ada gue yang ganggu."
Kilau terpaku. Lidahnya kelu seketika. Bayangan tentang Dai yang sembrono mengebut di jalanan dan mengabaikan tanda perbaikan jalan langsung sirna, berganti dengan kengerian atas fakta yang baru saja dia dengar. Arang bisa sesadis itu?
"Astaga Dai. Dia yang lakuin ini sama lo? Gila! Apa dia nggak takut masuk penjara? Maaf, Dai gue beneran nggak tau kalau dia bakal nyelakain lo kayak ginj..." Suara Kilau bergetar. Kemudian perlahan duduk di kursi besi di samping ranjang, bahunya merosot lemas. "Harusnya gue nggak langsung ambil kesimpulan sendiri. Gue pikir lo kecelakaan karena kecerobohan lo, Dai."
Dai menolehkan kepalanya perlahan, sebuah rintihan kecil lolos dari bibirnya saat lehernya bergerak. "Nggak usah minta maaf. Bukan lo yang nabrak gue."
Dai kembali memejamkan mata. Rasa sakit itu datang bergelombang, mencengkeram dari kakinya yang digips hingga dada yang terasa sesak akibat benturan keras. Setiap hembusan napas terasa seperti perjuangan. Dengan sisa tenaga yang ada, tangan kirinya yang bebas dari infus bergerak pelan, menyentuh puncak kepala Kilau dan mengusap rambut gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut.
Suasana di sekitar mereka mendadak berubah. Suara hiruk-pikuk perawat yang berlalu-lalang di luar tirai seolah meredup, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara mereka berdua. Canggung yang aneh mulai merayap.
"Ki..." Dai memanggil lirih. Tatapannya kini mengunci mata Kilau. Dalam jarak sedekat ini, Kilau bisa melihat dengan jelas betapa pucat wajah tampan itu, betapa lelah sorot matanya yang biasanya penuh binar jahil.
"Gue tanya ke lo tadi, tapi lo belum jawab. Kenapa lo kayak hindari gue belakangan ini? Apa secara nggak sadar gue udah bikin kesalahan nyampe lo mutusin jauhin gue, Ki?"
Kilau memegang tangan Dai yang masih nangkring di pucuk kepalanya, ada kehangatan yang Kilau salurkan lewat genggaman tangan tersebut. "Gue takut, Dai.."
"Lo takut? Takut apa?"
Belum sempat Kilau menjawab, seorang perawat datang dengan membawa kursi roda. "Maaf menganggu, pasien atas nama Badai Ananta Dewa bisa dipindahkan ke ruang rawat sekarang ya, keluarganya bisa ikut mendampingi."
Kilau ikut membantu mengangkat Dai ke kursi roda meski sebenarnya tak cukup tenaga, dia mundur dan digantikan Arga. Dai tampak kesakitan, mendesis juga meringis tapi tak mengeluh. Mungkin sungkan ada Kilau di sana.
"Ki, sini.." tangan Dai yang nganggur tak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa meraih jemari lentik Kilau.
"Suaminya manja sekali ya kak?" kata perawat itu sambil menekan tombol lift mengantarkan mereka ke ruang rawat VIP.
Kilau tersenyum sekenanya. "Kalau kayak gini aja manja, biasanya kelakuannya kayak preman sust."
"Gue kapan kayak preman sih, Ki? Gue lho selalu nurut sama lo." manyun dia meski ada perasaan senang dalam hatinya.
Apalagi kalau bukan karena ucapan perawat yang mengatakan kalau dia adalah suami Kilau tidak dibantah oleh perempuan itu. Astaga Dai, gampang banget sih bikin kamu bahagia. Hilang kemana rasa canggung dan kesal mu tadi?
Perawat tersebut meninggalkan ruang VIP dengan nomer 12 setelah menyelesaikan tugasnya membantu Dai berbaring di ranjang dan memasang kembali botol infus ke tiang penyangganya.
"Lo mau minum? Bantal lo ketinggian apa gimana? Lo butuh apa?" Kilau mendadak sigap menjadi perawat pribadi untuk Dai.
"Kalau gue bilang gue butuh lo, gimana?"
Deg.
Jantung Kilau seperti terpacu dua kali lipat lebih cepat dari sebelumnya. Gila sih, orang sakit mana yang mulutnya bisa selemez ini ngebaperin perempuan kalau bukan insan bernama Dai seorang. Belum juga menjawab, lagi-lagi mereka mendapat gangguan..
"Dai! Ya ampun, Dai.. Makanya gue bilang juga apa, anteng aja di bengkel! Lha lo siang-siang ngelayap, sakit hati boleh Dai tapi keselamatan tetap harus diutamakan." Sajen berhambur masuk ke dalam ruangan itu dengan nafas megap-megap.
"Njir." balas Dai memalingkan muka saat tahu siapa yang datang ke ruangan itu.
Ada juga Senja dan Ambar yang ikut ke sana. Tampak sekali jika Ambar sangat sedih melihat keadaan anak lelakinya. Senja lebih cerewet dengan terus ngomel tanpa tahu kenapa kakaknya sampai kecelakaan.
"Tau kualat nggak lo? Itu namanya kualat lo sama gue, gue mau ikut lo, lo nya nggak ngebolehin. Coba kalau ada gue, kan pasti--"
"Pasti pecah pala lo. Lo kalau naik motor nggak pernah mau pakai helm. Gue tadi ditabrak dan motor gue jatuhnya ke tengah jalan raya." potong Dai cepat saking kesalnya karena orang satu ini berasa paling bener.
Sajen melongo. Ambar dan Senja juga terkejut oleh penjelasan singkat yang dikatakan Dai tadi. Ruangan itu jadi agak ramai oleh obrolan orang-orang di sana. Sedang seribut itu, Dai sempat-sempatnya menggenggam tangan Kilau yang ada di sampingnya lalu memejamkan mata.
"Dai.." Panggil Kilau pelan.
"Gue ngantuk, Ki.. Elus-elusin tangan gue ya.. Sakit, Ki." Astaga manjanya.
"Ada ibu lo, Dai.. Malu ih." Kilau berkelit dengan rona merah di wajahnya karena malu, tentu saja obrolan mereka berupa bisikan pelan.
"Gue maunya lo, Ki."
"Ya Allah." Kilau turuti saja kemauan balita dua bulan lebih dua puluh tiga tahun itu meski dengan perasaan malu karena kali ini mereka jadi tontonan semua orang yang ada di sana.
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚
jadi gak sabar aku nunggu si areng berubah jadi abu😏