NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Bunga Desa

Terjerat Pesona Bunga Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss DK

Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.

Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.

Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.

Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu di Puncak Ubun-Ubun

Tok! Tok! Tok!

"Pak Wicak, Pak Wicak, ayo cepat buka pintu, Pak. Ada masalah besar yang ingin kami bicarakan."

Pak Sewot kebakaran jenggot. Dia mengetuk pintu rumah kepala desa seperti orang kesetanan.

Cemburu buta sudah memenuhi pikirannya, melihat bunga desa kesayangannya terpergok sedang berbuat mesum di lumbung desa. Dengan pria yang ketampanannya di atas rata-rata.

Bertubuh tinggi kekar, kulit putih, hidung mancung. Dan matanya sangat indah.

Entah di mana Pak Sewot pernah melihat mata yang begitu indah itu. Pak Sewot lupa. Sudah berkali-kali Pak Sewot berusaha mengingat-ingat tapi otaknya yang lemot makin susah diajak kerjasama saat terbakar cemburu.

Terdengar suara dari dalam rumah. "Iya, iya, sebentar."

Pintu pun terbuka dari dalam. Pak Wicak dan Bu Wicak muncul dengan terengah-engah. Sepertinya habis berlari dari lantai dua rumahnya ke pintu utama untuk menyambut tamu yang tidak sabaran.

"Ada apa ini? Ramai sekali," tanya Pak Wicak kebingungan. Teras rumahnya penuh orang. Sekitar sepuluh orang. Perkumpulan emak-emak tukang gosip dan bapak-bapak tukang nyolot.

Pantas saja ketukan pintu rumahnya seperti bunyi kentongan tanda kebakaran.

"Begini, Pak. Kami bersepuluh tadi memergoki Lyodra sedang berduaan dengan pria asing di lumbung desa. Pakaian mereka terbuka di mana-mana. Seperti habis gitu-gitu. Ehm... Habis bikin anak tepatnya. Astaga... Mereka berdua harus dihukum, Pak. Kalau perlu arak mereka keliling kampung. Ditelanjangi dan digunduli. Biar semua warga tahu kalau berzina itu perbuatan nista dan hukumannya adalah dipermalukan. Biar tidak ada lagi yang berani berbuat zina di desa kita," jelas Bu Rempong dengan berapi-api.

Pak Wicak dan Bu Wicak tersentak kaget mendengar penjelasan Bu Rempong. Mereka saling berpandang-pandangan tidak percaya.

"Benar, benar. Kami saksinya. Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri kalau Lyodra dan pria asing itu berperilaku tidak senonoh. Pakaian dalam Lyodra juga sampai kelihatan. Ya ampun, benar-benar malu maluin saja," ujar Mbok Rumor tidak mau kalah.

"Iya, benar, benar. Pak Wicak, tolong hukum Lyodra seberat-beratnya biar dia kapok dan gak jadi wanita nakal lagi," tambah Bu Rempong.

Mulut Bu Wicak ternganga lebar.

"Lyodra? Apa Ibu-ibu dan Bapak-bapak yakin? Lyodra itu anak yang baik, mana mungkin dia berbuat seperti itu di lumbung desa?" ucap Bu Wicak tidak percaya.

"Betul, Bu. Saya juga merasa Lyodra pasti punya alasan tersendiri di balik hal ini. Sekarang, dimana Lyodra dan pria asing itu? Kok kalian hanya bersepuluh saja?" tanya Pak Wicak tidak berhasil menemukan Lyodra untuk membela dirinya sendiri.

Warga menoleh ke belakang, mencari-cari Lyodra dan pria asing itu. Namun mereka tidak menemukannya.

"Lho, lho, lho, tadi kan mereka ada di belakang kita. Kenapa sekarang mereka hilang? Apa mereka kembali berbuat mesum di rumah Lyodra?" tanya Pak Sewot makin tersulut emosi.

Bu Wicak geleng-geleng kepala. "Tolong ya, Pak Sewot. Pak Sewot jangan menebak yang bukan-bukan. Kasihan Lyodra kalau Pak Sewot menuduh tanpa bukti."

Pak Sewot mendengus kesal. "Bu Wicak ini gimana sih? Dikasih tahu gak percaya. Lebih baik kita langsung aja dobrak pintu rumah Lyodra. Pasti kita akan menemukan Lyodra sedang bermesraan dengan pria asing itu."

Bu Rempong langsung setuju dan mengompori warga desa yang lain. "Ayo, kita tangkap basah mereka saat sedang berzina. Lalu kita permalukan mereka secepatnya."

Bu Wicak jadi gelagapan. "Tenang, tenang, tenang! Kalian semua jangan main hakim sendiri dong!"

Mbok Gosip angkat bicara. "Gimana kita bisa tenang kalau di desa kita ini ada lagi bunga desa yang berbuat asusila? Apa Bu Wicak sudah lupa kalau 25 tahun yang lalu, ada bunga desa yang berbuat mesum dengan tuan tanah di desa ini?"

Gosip lawas kembali naik ke permukaan.

"Gara-gara kepala desa saat itu tidak tegas, kasus seperti ini jadi terulang lagi sekarang," tambah Mbok Gosip.

Kepala Bu Wicak langsung pusing tujuh keliling. Tubuhnya sedikit oleng hampir terjatuh. Pak Wicak langsung menangkap lengan istrinya.

Dan berkata dengan suara keras, "Saya sebagai kepala desa harus mendengar penjelasan dari dua belah pihak. Saya ingin mendengar sanggahan dari Lyodra tentang masalah ini. Tidak bisa kalau hanya dengar penjelasan dari kalian bersepuluh saja. Lalu membuat keputusan yang tidak adil."

Pak Sewot menggeram kesal. "Pak Wicak jangan membela Lyodra terus ya. Saya tahu sebelum Pak Wicak menikah dengan ibu, Pak Wicak pernah pacaran dengan ibunya Lyodra."

"Astaga! Pak Sewot kok jadi begini sih? Saya tidak sedang membela Lyodra. Tapi sebagai hakim di sini, saya harus berlaku adil dan memberi Lyodra kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi sehingga kita semua tidak salah paham."

Pak Wicak menggenggam erat jemari tangan Bu Wicak. Tubuh Bu Wicak sudah mulai dingin hampir pingsan mendengar ucapan Pak Sewot.

Kisah cinta lama Pak Wicak mulai diungkit-ungkit lagi, membuat hati Bu Wicak tersayat-sayat sedih.

Pak Wicak bersedia menikah dengan Bu Wicak setelah ibu Lyodra meninggal dunia. Jika saja ibu Lyodra masih hidup, mungkin Pak Wicak tetap mempertahankan statusnya sebagai bujang lapuk. Dan Bu Wicak akan mendapat status perawan tua.

"Kalau Pak Wicak tidak mau kami makin menjadi-jadi, segera cari Lyodra dan pria asing itu untuk diadili. Sekarang kita beramai-ramai ke rumah Lyodra," ajak Bu Rempong langsung memprovokasi warga desa untuk menggrebek Lyodra dan pria asing.

"Setuju! Ayo! Ayo!" Warga desa berbalik arah dan segera keluar dari pekarang rumah kepala desa.

"Aduh, gimana ini, Pak? Masalahnya kok jadi makin runyam." Wajah cantik Bu Wicak jadi pucat pasi.

Pak Wicak membelai rambut Bu Wicak dengan lembut. "Sudah, Bu. Ibu jangan banyak pikiran. Nanti ibu tambah sakit." Nada suaranya yang berwibawa membuat hati Bu Wicak bergetar.

"Ibu jangan terlalu khawatir. Ibu di rumah saja jaga kesehatan. Saya akan segera memanggil perangkat desa sekaligus petugas keamanan desa untuk menertibkan emak-emak dan bapak-bapak yang lagi emosi ini," tambah Pak Wicak langsung memanggil Anteng, pesuruh di rumahnya.

"Teng, tolong panggil Pak Sepri (Sekertaris pribadi) dan Bu Ades (Admin desa). Minta mereka membawa petugas keamanan ke rumah Lyodra," titah Pak Wicak sebelum lari mengejar para warga yang sudah menuju ke arah rumah Lyodra.

Anteng mengangguk. Seperti namanya yang berarti diam, Anteng memang tidak banyak bicara. Walaupun teras rumah Pak Wicak ramai orang menyalahkan Lyodra, Anteng juga tetap diam tidak banyak bicara. Padahal Anteng adalah fans berat Lyodra, bunga desa Wonosobo.

Anteng secepat kilat berlari ke rumah Pak Sepri lebih dahulu. Kemudian ke rumah Bu Ades. Dan mengumpulkan petugas keamanan desa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!