NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23:Geger Jagad Turune Poro Wali

Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat rombongan Faris Arjuna baru saja hendak bergerak, tiba-tiba langit yang tadinya cerah berubah menjadi gelap gulita seolah tertutup tirai raksasa. Angin puyuh bertiup kencang dari segala penjuru, membawa aroma amis darah dan sisik ular yang sangat menyengat.

"Dikmas Faris! Waspada! Langit sedang menangis darah!" teriak Arjuna Hidayat sambil menghunus kerisnya yang memancarkan aura emas.

Dari arah awan hitam, muncul ribuan bayangan ular raksasa yang meluncur turun seperti hujan panah. Itulah pasukan siluman kiriman Ki Ageng Blorong. Mereka tidak lagi menyerang batin, melainkan menyerang raga siapa pun yang menghalangi jalan mereka untuk menguasai negeri ini.

"Brewok! Jono! Jaga setiap jengkal tanah yang kita pijak!" perintah Faris dengan suara menggelegar menembus awan.

"Siap, Mas Faris! Tidak akan saya kasih ampun ular-ular ini mengotori tanah kita!" Brewok berteriak sambil mengayunkan dua pedang cahayanya, menebas setiap bayangan hitam yang mendekat.

Faris Arjuna berdiri tegak, ia memejamkan mata, memanggil kembali kekuatan Satrio Piningit yang telah menyatu dengan ruh bumi Nusantara. Ia merasakan setiap getaran tanah dari Sabang sampai Merauke yang kini sedang terancam.

"Nusantara ini tanah suci, bukan tempat sampah bagi siluman sepertimu!"

(Nusantara iki tanah suci, dudu panggonan sampah kanggo siluman koyo kowe!)

"Kamu datang membawa kehancuran, maka kamu akan pulang membawa kematian."

(Kowe teko nggowo bubrah, mulo kowe bakal mulih nggowo pati.)

Seketika, seekor ular naga hitam raksasa dengan mata merah menyala turun dari langit, mendarat tepat di depan Faris. Itulah Senopati Blorong, tangan kanan Ki Ageng yang paling kejam.

"Faris Arjuna! Berikan kepalamu sebagai tumbal kebangkitan rajaku!" suara naga itu menggetarkan bumi Nusantara.

Faris hanya tersenyum tipis. Ia melangkah maju tanpa rasa takut sedikit pun, memegang gagang kerisnya yang mulai bergetar hebat.

"Kerisku tidak butuh darahmu, tapi cahayaku akan melumatkan seluruh kegelapanmu!"

(Kerisku ora butuh getihmu, nanging cahyoku bakal nglebur kabeh petengmu!)

"Tanah ini milik para Leluhur suci, bukan milik para pencuri nyawa!"

(Tanah iki duweke poro Leluhur suci, dudu duweke poro maling nyowo!)

Faris menghantamkan telapak tangannya ke tanah. Seketika, keluar gelombang api putih yang menjalar cepat membentuk rantai-rantai cahaya yang langsung melilit tubuh naga hitam tersebut.

"Ayo, Paman Jayanegara! Tebas kepalanya sekarang!" teriak Faris.

Raden Jayanegara melompat tinggi ke udara, badannya berputar seperti gasing api, mengincar leher sang naga. Pertempuran besar untuk menyelamatkan harga diri Nusantara pun pecah dengan hebatnya.

Naga hitam Senopati Blorong melengking, suaranya seperti besi berkarat yang beradu. Saat rantai cahaya Faris melilit tubuhnya, naga itu justru memuntahkan cairan hitam pekat yang membakar apa pun yang disentuhnya. Arjuna Hidayat nyaris terkena, namun dengan sigap ia salto di udara sambil melepaskan pukulan

Duar!

Kepala naga itu tersentak, namun ia membalas dengan kibasan ekor raksasanya. Tubuh Faris Arjuna terhempas menghantam pilar beton hingga hancur berkeping-keping. Faris memuntahkan darah segar, membasahi beskapnya.

"Mas Faris!" teriak Brewok histeris. Ia mengamuk, menebas membabi buta ke arah ular-ular siluman yang mengerubunginya. "Jangan sentuh majikanku, setan!"

Faris bangkit dari puing-puing. Wajahnya bersimbah darah, namun matanya menyala merah seperti api neraka yang suci. Ia tidak lagi menggunakan kata-kata lembut. Jiwa ksatria perangnya telah meledak sepenuhnya.

"Kamu ingin darah? Maka telanlah kematian ini!"

(Kowe pengen getih? Mulo untalen patimu iki!)

"Tanah Nusantara ini tidak akan pernah sujud pada kaki siluman spertimu!"

(Tanah Nusantara iki ora bakal nate sujud ing sikile siluman koyo kowe!)

Faris mencabut Keris Kyai Jalak Suro. Seketika, kilat menyambar dari langit yang gelap. Ia berlari dengan kecepatan yang mustahil dilihat mata manusia, menerjang masuk ke dalam mulut naga yang menganga lebar.

"Mati kamu di dalam sini!"

(Mampuso kowe ing njero kene!)

Faris menusukkan kerisnya tepat di langit-langit mulut naga tersebut. Darah hitam kental menyembur keluar seperti air mancur. Naga itu meronta hebat, menghancurkan sekelilingnya dalam keputusasaan. Faris tidak melepaskan tikamannya, ia terus memutar kerisnya hingga terdengar suara tulang yang remuk.

"Paman Jayanegara! Sekarang! Jangan beri dia napas!"

(Paman Jayanegara! Saiki! Ojo wenehi dheweke napas!)

Raden Jayanegara muncul dari balik awan hitam, kerisnya menyala merah membara. Dengan teriakan yang mengguncang jagad, ia menebas leher naga itu dengan sekali tebasan Sastra Jendra.

Srat!

Kepala raksasa itu terpisah dari tubuhnya, jatuh berdentum hingga membuat tanah Nusantara bergetar. Darah naga yang busuk mengalir deras, namun seketika berubah menjadi debu saat terkena aura suci Faris.

Faris Arjuna mendarat di tanah dengan satu lutut, nafasnya memburu, dadanya naik turun menahan perih luka-lukanya. Ia menatap bangkai raksasa yang mulai lenyap itu dengan tatapan dingin.

"Ini baru awalnya... Ki Ageng Blorong, siapkan nyawamu!"

(Iki lagi kawitane... Ki Ageng Blorong, cepakno nyowomu!)

Arjuna Hidayat menghampiri, memapah adiknya yang bersimbah darah. "Dikmas, kamu terluka parah..."

Faris hanya tersenyum getir, mengusap darah di bibirnya. "Luka ini tidak sebanding dengan luka Nusantara selama ini, Mas. Ayo, kita lanjutkan sebelum musuh kembali berkumpul."

Darah masih menetes dari ujung jari Faris Arjuna, namun tiba-tiba ribuan ular siluman yang tadi beringas mendadak diam membeku. Langit yang hitam pekat terbelah oleh sembilan berkas cahaya putih yang turun menghujam bumi Nusantara. Bau amis darah naga seketika sirna, digantikan wangi ribuan bunga melati yang sangat suci.

"Lihat ke atas, Mas Faris! Langit... langitnya terbuka!" teriak Brewok sambil menjatuhkan pedangnya, ia gemetar melihat pemandangan di depannya.

Satu per satu, sosok-sosok berjubah putih dengan sorban yang bersinar muncul di belakang Faris. Aura mereka begitu sejuk namun mematikan bagi segala bentuk angkara murka. Kanjeng Sunan Kalijaga melangkah paling depan, memegang tongkat kayu yang ujungnya memancarkan cahaya setajam pedang.

"Cucuku Faris Arjuna... kamu tidak bertarung sendirian di tanah suci ini."

(Putuku Faris Arjuna... kowe ora perang ijen ing tanah suci iki.)

"Kami para penjaga Nusantara tidak akan membiarkan tanah ini jatuh ke tangan kegelapan!"

(Kita kabeh sing njogo Nusantara ora bakal nate ngejorne tanah iki ceblok ing tangane peteng!)

Faris bangkit berdiri, semua lukanya seketika mengering tertutup cahaya. Kekuatan para Wali kini mengalir deras ke dalam sukmanya. Di sekelilingnya, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Ampel, dan para Wali lainnya membentuk lingkaran perlindungan gaib yang membuat sisa-sisa pasukan Blorong melengking ketakutan hingga hancur menjadi debu.

"Blorong! Lihatlah siapa yang berdiri di belakang ksatria ini!" teriak Raden Jayanegara dengan semangat yang meledak-ledak.

Ki Ageng Blorong muncul di angkasa dalam wujud manusia separuh ular, wajahnya pucat pasi melihat barisan para Suci. "Tidak mungkin! Kenapa kalian ikut campur di zaman yang sudah kotor ini?!"

Kanjeng Sunan Kalijaga tersenyum tenang. "Selama masih ada hati yang menangis karena tobat, kami akan selalu ada."

(Sajrone isih ana ati sing nangis mergo tobat, kita bakal tansah ana.)

"Faris Arjuna, hantamkan kerismu ke langit! Biarkan cahaya suci membersihkan seluruh Nusantara!"

(Faris Arjuna, gebugno kerismu menyang langit! Jarne cahyo suci ngeresi kabeh Nusantara!)

Faris melompat tinggi, dibantu oleh dorongan angin gaib dari para Wali. Ia mengangkat Keris Kyai Jalak Suro setinggi mungkin. Langit meledak! Cahaya putih menyapu seluruh kegelapan dari Sabang sampai Merauke dalam satu hentakan batin yang dahsyat.

"Enyahlah semua kegelapan dari tanah para Leluhur!"

(Sirnoo kabeh peteng soko tanahe poro Leluhur!)

"Nusantara akan bangkit, dan kamu tidak akan punya tempat lagi di sini!"

(Nusantara bakal tangi, lan kowe ora bakal duwe panggonan maneh ing kene!)

Seketika, Ki Ageng Blorong menjerit hancur saat tubuhnya terbakar oleh cahaya sembilan Wali. Nusantara kembali terang, bukan oleh matahari, melainkan oleh cahaya iman dan budaya yang bersatu kembali.

Faris mendarat dengan tenang, diikuti oleh para Wali yang perlahan-lahan kembali menjadi cahaya dan menghilang ke angkasa, meninggalkan pesan kedamaian yang abadi

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!